MATA KEMATIAN

MATA KEMATIAN
AMARAH


__ADS_3

"pertarungan mereka akan segera dimulai, terlihat siluman tanpa wajah berlahan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, semua penonton yang menyaksikan mulai meresakan ketegangan, pandangan mereka terpaku kepada dua siluman yang akan segera bertarung, nampak Takim dengan wujud siluman Babi, mengeluarkan keringat yang berlahan menetes jatuh kearena, disaat bersamaan jatunya tetesan keringat Takim, disaat itupula siluman tanpa wajah dengan cepat menurunkan tangannya.


...MULAI......


"nampak Salamender bergerak terlebih dahulu, dengan segenap hati dia menyerang Takim, Salamender mencoba menabrakan tubuhnya kepadanya, namun dengan cepat Takim dapat menghindari serangan Salamender.


hebat juga Kau siluman Babi, dapat menghindari tubrukanku. tapi rasakan yang ini,


...PELURUH UDARA......


"Dengan mengacungkan jari telunjuk, seperti memegang pistol, Salamender mengeluarkan elemen Angin dari jari telunjuk, yang diarahkan kepada Takim, dalam sekejap tubuh Takim terpental, akibat Ajian Salamender, nampak Takim kesakitan akibat serangan Salamender, yang secara tiba-tiba.


Sial, Ajian apa barusan? Aku tidak bisa melihatnya, kalau begini terus sudah dipastikan Aku akan kalah dalam duel ini. Baiklah kalau itu maumu Salamendar. Hiaaaa!...


"Takim menyerang balik kearah Salamender, Takim meningkatkan kecepatannya berkali-kali lipat, dengan sekejap dia memukul Salamender.


Haaa... kecepatan macam apa itu, terakhir Aku melihat saat Raja Alexo melawan para Iblis, bagaimana siluman Babi itu, mempunyai kemampuan seperti Raja Alexo? tidak!! siluman Babi ini lebih cepat darinya "gumam Sintia yang melihat pertarungan itu.


"Peluruh Angin Salamender tidak mampu mengimbangi kecepatan Takim, semakin lama pergerakan Takim menjadi tidak terlihat, dengan secepat kilat Takim terus menyerang Salamender, hinggah membuat Salamender tejatuh dari pertarungan, Takim menghela napas seolah-olah pertandingan sudah usai, tidak berapa lama tubuh Salamender mengeluarkan uap bewarna ungu, lama ke lamaan uap tersebut semakin banyak, bersamaan dengan bangkit Salamender.


Dasar siluman Babi sialan!! Kau membuatku marah, Aku sudah tidak perduli dengan pertarungan ini, Aku akan membunuhmu. Aaaahhkkkk!!... matilah Kau siluman Babi....


"kemarahan Salamender membuat sebagian arena pertarungan hancur, dalam sekejap Salamender berada dihadapan wajah Takim, nampak wajah Takim yang terkejut dengan kecepatan Salamender, Takim segera menghindar dari area serang Salamender, Takim tidak dapat mempredisi gerakan Salamender.


sial, kecepatannya melebihi kecepatanku, siluman apa sebenarnya dia ini? Haaaa....


"Salamender berada tepat diatas Takim, sambil mengayunkan pukulan kearahnya, dalam jarak seperti itu, Takim tidak dapat menghindari pukulan Salamender.


...Bruaaakkk.......

__ADS_1


...Aaaahhhkkkk........


"tubuh Takim terhempas kedalam arena, membuat sekitar arena hancur bagaikan terkena rudal, tidak hanya begitu saja Salamender segera melancarkan serangannya kembali, dalam sekejap dia menghantamkan pukulan keras ketubuh Takim, sehinggah membuat seluruh arena hancur menjadi sebuah danau.


Dah lho, mati dah tuh, siluman Babi, gara-gara Kau nih Sintia, Aku gak ikut-ikutan aaahhh... untung saja Kau tidak melawannya, kalau sampai terjadi. ngak tahu dah, Aku. "gumam Ari, kepada Sintia.


"berlahan Salamender menghampiri Takim, memastikan apa dia sudah mati, apa belum, Salamender terkejut melihat aura merah keluar dari tubuh siluman Babi, berlahan aura itu, menyebar keseluruh tubuh Takim, dalam wujud siluman Babi.


hai Sintia, lihat tubuh siluman Babi itu, aura macam apa itu? terasa sangat mengerikan, sepertinya akan lebih menarik nih. "gumam Ari, denga mata yang berbinar-binar.


siapa siluman Babi ini, kenapa dia bisa mengeluarkan aura seperti ini, terasa pernah Aku rasakan, tapi dimana ya? "berpikir, dengan mengingat-ngingat.


"berlahan Takim mulai mengerakan tubuhnya, dengan keadaan sangat marah, Takim melesat cepat, melayangkan pukulan kewajah Salamender.


...Bleeddaakkk......


Gawat Sintia, kalau seperti ini kerajaan siluman bisa hancu lebur, kekuatan siluman Babi benar-benar sangat besar, kita harus menghentikannya. "seruan Ari, dalam keadaan panik.


"sejenak Sintia mengingat, kejadian saat melawan para Iblis. "Sang Ratu sudah selesai belum? waktuku hampir habis didunia ini... Saat pertempuran itu, keadaan Sintia cukup memperhatinkan, dalam keadaan terluka parah, dia melihat seorang pria dengan blangko, berpakaian seperti dukun sedang bertarung melawan Angel. kekuatannya sama besar dengan kekuatan Angel.


Apa siluman Babi orang yang melawan Angel? tapi sepenglihatanku, orang itu berwujud manusia, bukan Babi, tapi benar apa yang dikatakan Ari, kalau dibiarkan kerajaan ini, akan hancur lebur. "gumam Sintia dengan tatap serius.


"sementara suasana dikerajaan cukup mengerikan, para penduduk terlihat berlarian mencari tempat berlindung, suara petir yang mengelegar membuat mereka semakin ketakutan.


...TOLONG.... tolong.......


"teriak panik penduduk siluman yang berlarian, didalam penginapan membuat Fitri dan Tari terbangun dari tidurnya, mereka segera beranjak keluar penginapan, perasaan mereka yang melihat kekacauan dikerajaan siluman, membuat Fitri menjadi khawatir dengan keadaan Takim, mereka bergegas mencari sumber kekuatan yang menyebabkan suasana mengerikan itu.


Fit, lihat enegi itu, sepertinya kekuatannya berasal dari sana, cepat kita harus segera kesana, sebelum terlambat. "ucap Tari, sambil menunjuk kearah Bar.

__ADS_1


khem... "saut Fitri dengan menganguk.


"mereka segera berlari menuju kearah Bar tersebut, terlihat Takim dengan kekuatannya, bersiap melemparkan energi yang telah terkumpul kearah Salamender.


...BERHENTI.......


"teriakan Fitri, memecah ketegangan didalam Bar itu, semua pandangan siluman tertujuh kearah Fitri yang berteriak keras.


Hentikan Bang, apa ingin menghancurkan dunia ini? apa Abang ingin membunuh seluruh penghuni disini? Aku tidak akan memaafkanmu Bang!!!....


"sejenak Takim mendengar suara Fitri, dalam sesaat amarahnya mulai meredah, bersamaan dengan kekuatannya, Takim berlahan turun dari udara dengan wajah terpundung menyesal, dia melihat Salamander terbaring tidak berdaya, dengan keadaan terpuruk Takim segera beranjak pergi dari arena pertarungan, nampak para siluman menghindar dari arah jalan Takim.


Abang Kau baik-baik saja? " ucap risau Fitri dengan keadaan Kakaknya.


Ayo, kita segera tinggalkan tempat ini. "ujar Takim dalam keadaan terpuruk.


"mereka akhirnya pergi dari Bar itu, mencoba mencari tempat yang siluman tidak tahu dengan insiden mengerikan itu, mereka terus maju berjalan tanpa sepata katapun, sebelumnya mereka mengganti jubahnya terlebih dahulu.


hai lihat, ada sebuah keramaian. "ujar Tari, dengan menunjuk kearah keramaian tersebut.


"ucapan Tari, mencairkan suasana canggung diantara mereka.


Hai, Bang kita lihat kesana yuk. "ucap Fitri dengan memberi senyum kepada Takim.


"sejenak wajah Takim mulai kembali ceria, berlahan langkah kaki mereka bergerak kearah keramaian yang berada tidak jauh dari tempat mereka berpijak.


"apa yang akan terjadi kepada mereka? mampukah mereka bertemu dengan Raja Siluman?...


"BERSAMBUNG!!!....

__ADS_1


__ADS_2