
Rasa takut akan hal yang sedang Laras alami, membuat dia tidak berani untuk membuka kedua matanya. sekujur tubuhnya menggigil, keringat menetes terus menerus.
..."Laaaras... Laaaras... Laaaras"...
Ditambah suara yang dari setadi memanggil-manggil namanya, membuat dia semakin ketakuat. Rasa takutnya menjadi-jadi ketika sebuah tangan menyentuh bahunya. "Aaaakkkhh... "teriak Laras yang merontak-rontak ketakutan.
"Laras ini Aku, Takim. "ucap Takim sambil memegang wajah Laras.
Berlahan Laras membuka kedua matanya, melihat wajah Takim yang begitu dekat, Laras langsung mendekap tubuh Takim, dengan perasaan sedikit legah, pelukan Laras semakin erat, membuat Takim memasang wajah bodohnya. "Aku takut Kim, tadi ada sosok berbaju putih yang datang menghampiriku. "rintih Laras, dalam pelukan Takim.
Mendengar ucapan Laras, Takim melihat kesekeliling area rel kereta api, bener saja, Takim melihat sosok bayangan putih yang berdiri tegap ditengah rel kereta api.
Namun Takim tidak bergeming sedikitpun, sepertinya sosok itu penunggu wilayah sini, atau mungkin, sosok ini, penyebab kecelakaan kereta kali ini... "ya sudah, ayo kita pulang, kerajaanku sudah selesai. "ucap Takim, membuat Laras sedikit legah.
Merekapun pergi meninggalkan tempat kejadiaan, dengan membawa mayat korban kecelakan itu, Rohman dengan cepat membawa mereka dari stasiun Keduri.
"beginilah Neng, kerjaan kami, mengambil mayat, mengalami kejadian yang aneh-aneh, namun kami sudah terbiasa. "gumam Rohman, yang bermaksud mencairkan suasana.
"karena kita juga pasti mengalami kematian, sama dengan mereka yang sudah mengalaminya terlebih dulu, jadi selama kita masih hidup, perbanyaklah amal kebaikan. "nasihat Rohman, yang membuat Laras termenung.
Tidak berapa lama mereka telah sampai didaerah Pluit, sejenak mereka berhenti untuk membeli makanan, berlahan mereka turun dari mobil, menujuh kearah penjual kue. "mbak, Kue Balok 3 yah. "pesan Rohman kepada penjual Kue Balok, dengan mengankat 3 jarinya.
"Kamu hebat yah, bisa bekerja seperti ini, kalau Aku! hiii... "ucap Laras kepada Takim, sambil bergidik.
Mendengar ucapan Laras, Takim hanya tertawa sekali, dan menceritakan, kenapa dia mengambil pekerjaan yang menakutkan ini. Takim bercerita cukup panjang sampai, seorang penjual kue menghampirinya. "mas iki kue ne, siji kotak lima welas sewu. "ucap penjual dengan bahasa daerahnya.
__ADS_1
Takim segera beranjak dari tempat penjual kue, bergegas menghampiri Rohman yang sudah menunggu didalam mobil, dengan cepat Rohman kembali melajukan mobilnya.
"Pak, Saya turun disini saja, rumah Saya sudah dekat, tinggal masuk gang ini. "ucap Laras dengan menunjuk kearah gang rumahnya.
"Aku antar yah, sampai depan rumah. "ujar Takim menawarkan diri.
"tidak usah, Aku bisa kok, jalan sendiri, lagian Kamu harus mengantar mayat itu. "jawab Laras yang sudah turun dari mobil, sambil membawa sekotak kue.
Sesuai ucapan Laras, Takimpun pergi meninggalkannya sendiri, dengan rasa was-was, Laras berlari masuk kedalam gang, dengan kecepatan maksimal.
Dengan wajah santai Takim bersandar, sambil membayangkan wajah Adiknya Fitri, tidak berapa lama mereka sudah sampai fidepan kantor Pemburu Mayat, segera Takim, mengeluarkan mayat korban kecelakaan, untuk dipindahkan keruang mayat. "setelah ini, Gua mau tidurlah. "gumam hati Takim, dengan kantup mata yang menghitam.
_____________________________________________________
...khuuuk. Khuuukhuuukk.......
Suara ayam jantan mulai berkokok. yang menandakan hari sudah pagi, nampak Takim yang tertidur diatas ranjang, dengan ditemani mayat-mayat yang masih belum diambil oleh keluargannya, berlahan Takim membuka matanya, dengan jelas dia melihat wajah mayat yang menatap kearahnya, dengan replek Takim menyungkurkan kepala simayat.
Seperti biasa Takim segera membasuh muka, berkumur, lanjut mebasahi rambut, memakai seragam dengan terburu-buru, dalam keadaan sibuk dia mendengar suara. "aduh... kebiasaan Kau ini, Takim. "ucap Maria dengan menepuk keningnya.
Takim dan Maria, segera pergi kesekolah dengan menaiki Bajai, suara Bajai yang terdengar merdu, dengan kepulan asap yang bertebaran disepanjang jalan, membuat semua orang mengikuti irama suara Bajai tersebut, terdengan suara batuk orang-orang, yang menghirup segarnya asap Bajai itu.
"Buset, Bang kira-kira aja! itu asap Bajai, apa asap bakar sampah! "ujat semua orang yang terkena dampaknya.
akhirnya mereka sampai tepat pada waktunya, seperti biasa, para murid juga mengikuti irama dari Bajai, dengan suara batuk yang indah, membuat wajah mereka terlihat sangat kesal.
Berlahan Takim melangkahkan kedua kakinya melewati gerbang, dengan wajah yang menoleh kekanan, dan kekiri, melihat Anggota kesiplinan tidak ada ditempatnya, Takim merasa legah dengan santai dia berjalan. tiba-tiba....
__ADS_1
Ayo, mau kemana Kamu! mau coba kabur lagi yah?. "ucap Santi, dengan memegang kerah baju belakang Takim.
Ternyata Anggota kedisiplinan bersembunyi dibalik semak-semak, mereka memang sengaja menunggu Takim. "hei, lepaskan dia Santi, Kamu jangan menyalah gunakan wewenangmu, sebagai ketua kedisiplinan. "ujar Maria yang membela Takim.
Ditengah perdebatan mereka, terlihat seorang pemuda remaja berdiri tegak didepan gerbang, dengan tangan sebelah memegang pinggang, dia berteriak-teriak kepada para siswa SMA Harapan. Ternyata dia Rio yang mencari-cari orang kuat, untuk menjadi lawannya.
"WOI... siapa yang merasa kuat disekolah ini, nih, Gua Rio, menantang Kalian semua. "gumam teriak Rio, dengan menunjuk kearah para siswa.
Melihat ada orang yang membuat onar, para anggota kedisiplinan segera menghampiri Rio. "Hai! apa maksudmu membuat onar disini? lebih baik Kamu pergi dari sini! "seru Santi dengan wajah garang.
"Aku tidak melayani wanita, Aku hanya mencari laki-laki untuk Aku lawan. "saut Rio dengan masih berdiri tegak, sambil melipat kedua tanganya didepan.
Disaat bersamaan, Fitri yang melihat keramaian datang menghampiri, sontak, kedua mata Rio menjadi berbinar-binar, melihat Fitri bersekolah disini. "hai... Kamu gadis penjaga tokokan? pucuk dicinta ulampun tiba, hahaha. "ucap Rio dengan memegang Tangan Fitri.
"Oh... Kamu yang waktu itu yah, tolong jangan bikin masalah disekolah ini. "ujar Fitri dengan senyum menggoda.
Melihat senyum rayu Fitri yang menggoda, Rio mencium tangan Fitri dengan lembut, tanpa disadari emosi Takim meluap-luap, dengan cepat Takim menghantam Rio, membuat tubuhnya terhempas jauh.
"berani-beraninya Kau menyentuh Adikku. "ucap marah Takim, dengan wajah sangar.
Semua murid terheran-heran, dengan kekuatan Takim yang perawakannya kurus, namun mampuh membuat orang terpental.
"Hahahaha.... ini, ini, dia yang Aku cari-cari, Kau sungguh kuat, Aku menantangmu untuk bertarung. "ucap Rio yang menantang Takim.
Takim masih sangat kesal dengan perlakuannya terhadap Fitri, dengan senang hati dia menerima tantangan Rio, namun Fitri menghentikan langkah Takim, sebuah pukulan dilayangkan oleh Fitri kepada Takim, sehingga membuat benjolan dikepalanya.
"Abang mau jadi jagoan disini! mau ngerasain pukulanku lagi!. "ujar garang Fitri yang kesal dengan tingkah Kakaknya.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya?....
"BERSAMBUNG!!!.....