MATA KEMATIAN

MATA KEMATIAN
PERTEMUAN


__ADS_3

"Takim berlari sambil membawa sebuah tali tambang, dengan cepat dia telah berada dibawah pohon.


Pak, bertahanlah. "ucap Takim dengan menatap kearah Rohman, sambil memanjat pohon yang menjadi sarana tempat bunuh diri.


Sedang apa kau Takim, cepat pergi disini sangat berbahaya. "Ucap teriak Rohman, dengan mengibaskan tangan kearah Takim.


"namun Takim tidak memperdulikan ucapan Rohman, dia terus memanjat hingga sampai didahan pohon Rohman berada, dengan cepat Takim mengikat tambang yang dia bawa, kedahan pohon yang menjadi pijakan mereka.


Sedang apa kamu Takim? "ucap Rohman dengan menoleh kearahnya, sambil menarik simayat tersebut.


Maaf pak, kali ini saya akan membantah perintah anda. "ucap Takim yang hampir selesai mengikat tambang pada dahan pohon itu.


"Sejenak Takim memandang kearah simayat, dengan cepat dia mengikat ujung tambang pada tubuhnya, sambil menarik napas dalam-dalam, Takim melompat kedasar sungai, bagian tubuhnya masuk kedalam aliran sungai yang arus saat itu sangat deras, Rohman terkejut melihat Takim terjun kedalam sungai.


Takim apa kamu bodoh. "ucap Rohman yang panik, sambil menjulurkan tangan kanannya.


"Tiba-tiba tubuh simayat terangkat, hingga bagian tubuh simayat tidak lagi menyentuh permukaan sungai, Melihat Takim mengangkat tinggi tubuh simayat, Rohman segera menariknya dengan kuat, sehingga Rohman dapat meraih tubuh simayat, dan membawanya ketepi sungai.

__ADS_1


Takim bertahan aku, akan segera menolongmu, "ucap teriak Rohman yang melihat Takim berusaha memanjat tali tambang.


"dengan derasnya arus sungai, Takim kesulitan memanjat tambang yang mengikatnya, sejenak Takim menemukan ide, Takim melilit tambang dengan pegangan tangannya, mencoba memanjat kembali, kali ini Takim mengangkat kedua kakinya keatas, dan melilitkan tambang dengan kaki kananya, sekuat tenaga Takim meraih dahan pohon yang terdapat ikatan tali yang sedikit longar, saat Takim menjulurkan tanganya sebuah tangan dengan kuat menariknya.


Untung saja aku tepat waktu, dasar anak bodoh, jangan diulangi lagi "ucap Rohman dengan napas tesengah-sengah sambil memukul pelan kepala Takim.


"Misi sukses, terlihat jelas diwajah mereka yang tertawa lepas, Rohman menyuruh Takim membawa mayat tersebut kedalam mobil.


Setelah pulang kamu langsung tidur saja besokkan hari pertama kamu masuk sekolah, jangan sampai telat yah! "ucap Rohman sebelum kembali pulang, dengan sedikit senyuman diwajah Rohman.


"disaat bersamaan Rohman melihat Takim sudah terlelap tidur, melihat kelakuan Takim mengingatkanya dengan Almarhum Udin, rekan kerjanya sebelum Takim.


"Berlahan Takim membuka kedua matanya, sontak dia terkejut.


Maaf pak, saya ketiduran, kalo gitu saya bawa mayatnya masuk dulu yah pak, Hoamzzz... "ucap Takim dengan keadaan masih mengantuk, sambil membuka pintu mobil.


Mau kemana kamu nak? coba lihat jam. "ucap Rohman yang berada diluar mobil, sambil tersenyum melihat tingkah Takim.

__ADS_1


...^07:00WIB^...


"Sontak Takim terkejut melihat jam, yang berada didalam mobil, dengan cepat dia pergi kekamar mandi, dengan menyiram air kewajahnya, Takim bergegas menujuh rumahnya.


Hai, mau kemana, baju seragammu ada disitu "ucap Rohman yang secara diam-diam dia pergi kerumah Takim, untuk mengambilkan baju seragamnya.


Maaf pak, ngerepotin " Takim berasa beruntung bekerja dengan Rohman yang baik.


Takim, saya titip putri saya yah, dia juga akan masuk disekolah yang sama denganmu, namanya Maria. "ucap permintaan Rohman , dengan sedikit senyuman.


"Takim segera berangkat, menuju sekolah barunya, dengan tergesah-gesah, sambil mengigit roti dia terus berlari, tanpa sengaja seorang gadis muncul dari persimpangan, Takim tidak bisa menghentikan langkah larinya, yang dia lakukan hanya berteriak, dengan roti dimulutnya, gadis tersebut menoleh kearah Takim yang berlari sambil menhigit roti dimulutnya, dengan cepat Takim menabrak gadis tersebut, tanpa disadari mereka telah terjatuh dalam posisi, gadis tersebut diatas tubuh Takim, dalam keadaan saling mencium satu sama lain, disaat bersamaan Fitri yang melihat mereka, segera berlari menghampirinya, dalam keadaan kesal.


Dasar abang somplak... "dengan wajah yang begitu kesal, Fitri menarik gadis itu, dari tubuh Takim, sambil mengangkat sebelah kakinya, Takim mendapat sebuah tendangan pinalti, yang cukup keras.


Ampun Fit, abang gak sengaja. "ucap Takim yang kesakitan, mendapat tendangan dari adiknya.


Cerita mereka akan dimulai dari sekarang, dan apa yang akan terjadi selanjutnya?..

__ADS_1


"BERSAMBUNG!!! ...


__ADS_2