MATA KEMATIAN

MATA KEMATIAN
KEHIDUPAN NORMAL


__ADS_3

Takim yang khawatir dengan keadaan Ibunya, segera membawanya ketempat dokter terdekat, dia berlari mengendong tubuh Ibunya, dengan rasa cemas, Dia selalu menatap wajah Ibunya, yang dalam keadaan tidak sadarkan diri. "bertahan Bu, kalau begitu lebih baik Aku gunakan kekuatanku, Aku tidak perduli orang tahu, tentang kekuatanku. "gumam Takim, dalam hati, yang mengendong Ibunya, sambil berlari.


Disaat bersamaan muncul sebuah mobil yang berhenti dihadapan Takim. "Haaa, Takim. cepat masuk kemobil. "Seru Rohman, yang mengemudi mobil tersebut.


...*...


...*...


Rohman membawa mereka kesebuah Klinik terdekat yang berada disimpang 3 jln.Kopi, yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat mereka sekarang, tidak beberapa lama Rohman menghentikan laju kendaraannya, ditempat parkir klinik Sari Kasih, Rohman segera turun untuk membukakan Takim pintu, dengan cepat Rohman menemui dokter. "dokter, dokter... cepat tolong keluarga Saya. "teriak cemas Rohman, memanggil-manggil dokter.


Nampak seorang dokter keluar dari ruangannya, yang mendengar teriakan Rohman. "tenang Pak, ada apa? "tanya dokter dengan santai dan tenang.


Ini Pak, kerabat Saya tiba-tiba, tidak sadarkan diri. "saut Rohman dengan keadaan panik.


Cepat bawa masuk kedalam ruangan "ucap sang dokter, dengan menunjukan jalan menuju ruang perawatan.


Takim segera mengikuti langkah dokter yang berjalan menuju ruang perawatan, berlahan Takim membaringkan tubuh Ibunya, disebuah tempat tidur yang disediakan Klinik tersebut, dokter segera menangani pasiennya, memeriksa keadaan Ibu Takim dan Fitri, yang tidak sadarkan diri.


"bagaimana keadaan Ibu Saya dok? "tanya Takim, dalam keadaan begitu panik, sehingga tubuhnya sedikit gemetar.


"begini Nak, Ibumu hanya kelelahan Saja, cukup dengan beristirahan sebentar, maka Ibumu akan segera sembuh. "ucap dokter, dengan memberi kabar baik tentang keadaan Ibunya.


Takim merasa legah mendengar ucapan dokter klinik tersebut, walau begitu, Takim tidak berhenti menitiskan air matanya. "Takim... Fitri... temani Ibu Kalian biar Saya yang mengurus semuanya. "ucap Rohman, dengan lembut, yang mendapatkan pelukan hangat dari Takim fan Fitri.


Berkat bantuan Rohman, Takim dan Fitri beranjak pergi menuju ruangan, tempat Ibunya dirawat, mereka memandangi wajah Ibunya, yang tertidur lelap dikasur pasien. "Fit, Kamu jaga Ibu yah, Abang mau menemui Pak Rohman diluar. "ucap Takim, sambil membelai rambut Ibunya.


Takim segera keluar untuk menemui Rohman, yang duduk diruang tunggu Klinik, berlahan Takim menghampiri Rohman yang sedang menatap layar hendponnya. "Pak Rohman... Saya ucapkan banyak terimakasih atas pertolongan Anda. "ucap Takim, dengan nada sedikit bersedih, dan nampak kedua matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


Rohman menatap wajah Takim, yang sekian lama tidak bertemu dengannya, dengan sedikit mewek Rohmam memeluk tubuh Takim yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.


"lama sekali Kamu kembalinya Nak, Saya sungguh khawatir memikirkan keadaanmu, Kau Saya anggap sebagai anakku sendiri. "ucap Rohman, dengan menitiskan air mata, sambil memeluk tubuh Takim.


Takimpun menjadi terharu dengan keadaannya sekarang, dia bersukur bisa bertemu dengan orang sebaik Rohman. "terimakasih Pak, saya sangat bersukur telah dipertemukan dengan Pak Rohman, Anda juga sudah Saya anggap sebagai orang tua Saya, berkat bimbingan dan dukungan Anda, Kami sekeluarga bisa hidup seperti ini. "saut Takim, dalam pelukan Rohman, sambil menangis terseduh-seduh.


Siti yang sudah sadar segera menghampiri mereka berdua, melihat kedekatan mereka membuat Siti, ikut menitiskan air mata. melihat keadaan Ibu Takim sudah sedikit membaik, Rohmanpun mengantarkan mereka pulang kerumah.


________________________________________________________


...Kota Tasikmalaya...


Nampak seorang gadis remaja berjalan sendiri dipinggir jalan, dengan pakaian yang kumal, jauh dari kata bersih, terlihat memasang wajah yang amat kesal, ternyata dia Tari, yang berpisah ditengah perjalanan, denganTakim dan Fitri "ah, Takim bodoh, Takim jelek, Takim gak peka. harusnya dia antar Aku dulu pulang, jadinya Aku harus jalan kaki nih. "ujat Tari, dengan rasa kesal pada Takim, yang tidak mengerti perasaannya.


Dalam keadaan marah seorang gadis yang berusia sama seperti Tari, datang menghampirinya. hai Tari, kemana wae maneh? eta kumaha bajuna? kotor pisan euy. "ucap gadis yang sepertinya kenal dengan Tari.


Sejenak Kokom memperhatikan pakaian Tari, yang begitu lusuh dan kotor, dalam hati dia bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Tari. "engeus atu lamun rek numpang mah, sok diuk dibelakang. "ucap Kokom, sambil menghidupkan mesin motornya.


*


*


Tidak berapa lama mereka sampa didesa Rawa Lumbung, kec. Ciamis, Kokom mengantar Tari sampai depan gang saja, nampak sepertinya dia sedang terburu-buru. "Tari didie wae nya, Abdi aya perlu penting iye, nuhun nya nte bisa nganter sampai imah, sekali dei nuhun nya....


Taripun paham dengan keadaan Kokom yang harus kembali bekerja, untuk membiayayai sekolah adik-adiknya, karena kedua orang tua Kokom, sudah meninggal 2 tahun lalu akibat kecelakaan bus antar kota, Tari melanjutkan perjalanannya kembali, hanya tinggal menempuh jarak 3km lagi, baru dia tiba dirumahnya.


___________________________________________________________________

__ADS_1


...Menyambut kepulangan Takim dan Fitri....


Rohman berencana membuat acara penyambutan untuk Takim dan Fitri, tentunya dengan mengundang beberapa orang yang dekat dengannya, Rohman membuka layar handponnya, mencari kontak telpon. "Hallo... Maria cepat Kau datang kerumah Bu Siti. ujar Rohman, yang menelepon putrinya Maria.


Rohman sedikit tersenyum dengan memikirkan rencananya, yang pasti akan sukses besar. Rohman mengajak Takim dan Fitri pergi untuk membeli sesuatu, yang akan mereka perlukan diacara nanti. "Pak, kita mau kemana? "ucap Takim, yang penasaran dengan ajakan Rohman.


pokoknya ada dech. "saut Rohman dengan mengedipkan mata kirinya.


Mereka bertiga pergi kesuatu tempat, untuk membeli alat-alat keperluan acara penyambutan. Siti terlihat sangat senang dengan kedekatan mereka, dia berharap tidak ada hal lebih buruk lagi yang akan menimpah keluarganya.


*


*


...Disisi lain. Dunia Iblis....


Felix, beserta para pengikut Raja Iblis yang lain, mencoba untuk membangkitkan Raja Iblis kembali. sebuah matra bergumam dari setiap pengikut yang hadir dalam ruangan tersebut, lantunan matra membuat tubuh mereka diselimuti oleh cahaya merah, salah satu pelayan Raja Iblis membawa sebuah cauan besar, yang ternyata didalam terdapat darah Jendral Ifrit, sesuai tanda dari Felik, penjaga tersebut menuangan Cauan itu kelantai Altar, dengan sendirinya darah mengalir mengikuti pola pada lantai Altar.


"sebentar lagi, sedikit lagi, Baginda Raja Iblis, akan segera bangkit kembali. Haaa, ha ha ha... Haaa, ha ha ha. "gumam Felix, dalam hati, dengan wajah jahatnya.


Takim dan Fitri memulai kehidupan seharinya dengan keadaan normal, namun sampai kapan mereka bisa hidup dengan normal kembali...


disisi lain sebuah ancaman besar, mulai telihat dari para Iblis yang akan membangkitkan Raja Iblis, beserta para keluarganya, yang nampak berkekuatan besar.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?....


"BERSAMBUNG!!!.....

__ADS_1


__ADS_2