
Mawar menerima cincin pertunangan dari Akbar, cincin yang di sematkan di jari manis nya. Akbar tersenyum bahagia saat ini Mawar sudah menjadi tunangan nya.
"Alhamdulillah, akhirnya kita besanan juga." Ucap Pak Hadi.
"Benar Hadi, salah satu anak saya akhirnya bisa jadi menantu kamu." Ucap Pak Handoko.
"Tinggal anak satu nya lagi, Mirza adik nya Akbar. Katanya sih tahun depan minta kami melamar seorang wanita, sudah dia tahun mereka pacaran. " Ucap Ibu Ratih.
"Mirza, bukan nya anak kalian hanya satu? " Tanya Pak Hadi.
"Benar, bukan nya maaf Ratih kamu kan tidak bisa hamil lagi." Ucap Ibu Nia.
"Mirza itu anak angkat kami, kami temukan dia di depan toko. Saat itu dia kedinginan hanya berbalut selimut tebal. "Ucap Ibu Ratih.
" Ya Allah, kami tidak tahu kalau kalian mengadopsi anak laki - laki."
"Karena, Mirza di asuh sama Ibu saya. Setelah Ibu meninggal dunia dia umur tujuh belas tahun dia ikut kami."
"Benar, Mirza itu hampir mirip dengan Akbar sekilas kalau orang yang nggak tahu. Dari gaya nya saja cara makan hampir sama. Mungkin karena kecil nya sama - sama." Ucap Pak Handoko.
"Dia juga Tentara, dan kalian harus tahu. Dia menabung mengumpulkan uang untuk membangun rumah dengan taman bunga mawar dan ingin pesta yang mewah.Dia pakai dengan uang nya sendiri, tidak mau di bantu oleh kami. Dan dia juga itu, sama kakak nya selalu pengertian. Entah karena dia sadar bukan anak kandung kami, atau apa. Dia sejak masuk SMP tidak mau merepotkan kami. Dan sedih nya kemarin dia telepon, kalau uang nya berkurang untuk tiket pesawat mendadak menemui kekasih nya." Ucap Ibu Ratih.
"Beruntung sekali kalian memiliki anak angkat seperti dia, dan kalian juga beruntung punya putra kandung yang hebat seperti Akbar." Ucap Ibu Nia.
"Bibir jangan memuji saya seperti itu." Ucap Akbar.
Berlanjut acara makan - makan, Mawar pun membawakan sayur lontong untuk Akbar, dengan senyuman Mawar melayani calon suami nya.
"Terima kasih Yank. "
"Sama - sama Mas. "
"Yank, setelah menikah, kamu ikut sama Mas."
"Baik Mas. "
"Kamu nggak masalah keluar dari pekerjaan kamu? "
"Nggak masalah Mas, tapi kalau ada sebuah tes CPNS boleh ikut kan? "
"Boleh, Mas nggak akan melarang. Tapi kalau kamu kerja nggak apa - apa kalau Mas nanti sering dapat Dinas ke luar daerah? "
"Ehm... hanya sementara waktu kan Mas? "
"Iya, kamu sanggup LDR an? "
"Sama mantan saja sanggup, apalagi sama suami. "
"Terima kasih sayang."
"Namanya juga istri Tentara, harus siap lah Mas. "
"Pintar."
*****
Ikhsan hanya menatap makanan nya di depan meja tanpa menyentuh sedikit pun, Willy hanya bisa menatap sedih.
"Sudahlah Bang, ikhlas kan saja. Mungkin belum jodoh. "
"Begitu mudah sekali dia melupakan saya. Hanya rayuan pria lain dia rela melakukan nya." Ucap Ikhsan.
"Padahal, saya bukan lah pengobral janji. Saya hanya ingin membuat dia bahagia saat hari H itu. Saya pun sudah mewujudkan impian nya tapi apa dia malah meninggal saya. Kalau dia memilih saya, saya terima dia apa adanya dan melupakan kesalahan nya. Tapi dia tetap memilih pria itu. "
__ADS_1
"Jelas dia lah Bang, pria itu yang sudah membuat kalian berpisah. Dia itu yang sudah membuat Mawar hampir merelakan semua nya. Karena pria itu berani tanggung jawab."
"Saya penasaran, pria yang di katakan nya itu berprofesi sama seperti kita. "
"Abang akan cari tahu dia? "
"Iya, tapi saya belum mendapatkan info."
"Menurut saya, sudahlah Bang. Buat apa melakukan hal tak penting."
"Bagi saya penting Willy. "
****
"Sudah makan? " Tanya Akbar dari seberang.
"Sudah Mas, Mas Akbar sudah makan? " Tanya Kembali Mawar.
"Sudah, yank, semua berkas nya sudah siap kan? "
"Sudah Mas, sudah siap."
"Ok sip, Yank kamu ngerasa kayak mimpi nggak nikah sama Mas? "
"Jelas kayak mimpi lah Bang, baru kenal sudah di lamar. "
"Jujur, kamu sebenarnya memiliki rasa sedikit nggak sebelum nya? "
Mawar terdiam sambil menggigit bibir bawah nya dan mengelus dada nya dengan pelan.
"Jujur Mas, ada rasa normal lah. "
"Berarti kamu juga suka sama Mas, jadi kita nikah dan waktu malam itu memang sadar, sama - sama suka sama suka."
"Biarlah mengalir seperti air, sebuah perasaan itu tidak boleh di tahan."
"Iya Mas, terima kasih sudah memilih saya untuk menjadi pendamping hidup."
"Mas juga terima kasih sama kamu, sudah membalas cinta Mas."
******
"Jadi kamu mau resign ikut seperti Nirmala?" Tanya Pak Kepala sekolah.
"Benar Pak, saya akan ikut suami saya." Jawab Mawar.
"Baiklah, saya tidak bisa melarang nya. Semoga menjadi keluarga sakinah, Mawadah dan warohmah. "
"Amin, terima kasih Pak."
******
"Kenapa mendadak pesta dan akad nikah di mempelai pria? " Tanya Mawar.
"Ini keinginan Pak Handoko sama Ibu Ratih, jadi kita tidak bisa menolak." Jawab Ibu Nia.
"Teman - teman saya tidak bisa datang dong?" Ucap Mawar sedikit kecewa.
"Kasih kabar saja, siapa tahu mereka juga datang. Toh hanya dua jam saja perjalanan nya. " Ucap Pak Hadi.
"Tapi Paman, saya itu ingin menikah disini."
"Kamu turuti saja, itu keinginan kedua orang tua nya bukan keinginan Akbar. "Ucap Pak Hadi.
__ADS_1
"Saya akan bilang sama Mas Akbar."
"Jangan Mawar, kamu menurut saja. " Ucap Pak Hadi.
"Benar kata Paman kamu, nikah disini atau disana sama saja." Ucap Ibu Nia.
"Baiklah." Ucap Mawar.
******
" Mas sampai bawa penjahit nya kemari, padahal saya bisa kesana." Ucap Mawar.
"Nggak apa - apa, penjahit nya adik nya Ibu." Ucap Akbar.
"Iya, saya ini Tante nya Akbar. Akbar minta Tante yang buat pakaian pengantin kalian berdua, dengan kualitas terbaik." Ucap Ibu Lastri Tante Akbar.
"Tante sudah sering jahit pakaian pengantin?"
"Tante ini bridal terkenal di kota S, Mirza juga minta buat calon nya untuk Tante yang buat."
"Mirza? " Ucap Mawar.
"Mirza, adiknya Akbar. "
"Oh, iya saya lupa. " Ucap Mawar.
"Tante, nantinya jangan terlalu terbuka ya untuk bagian depan atau belakang." Ucap Akbar.
"Iya tenang saja. "
*****
"Mas, ih geli tahu. Ada Tante Lastri malu. " Ucap Mawar saat berada di dapur Akbar terus saja berusaha menggoda nya.
"Biarin saja, lagian kita kan bakalan menikah." Ucap Akbar memeluk tubuh Mawar dari belakang.
"Tapi Mas, tetap saja malu kalau ketahuan."
"Kiss dulu dong. " Ucap Akbar sambil memonyongkan bibir nya.
"Ih.. kayak bebek tahu jelek. " Ucap Mawar sambil menyingkirkan bibir Akbar yang akan berusaha mencium nya.
"Sedikit aja. "
Mawar menoleh ke kanan dan kiri, dan langsung sekilas mencium bibir Akbar.
*****
Ikhsan menatap sebuah kiriman photo dari seseorang, matanya memerah menahan suatu amarah yang besar.
Aaarrrrrggghhhh
Prang
Ponsel miliknya dia banting hingga hancur, teriakan nya kembali hingga tangis nya pecah.
.
.
.
.
__ADS_1