
"Apa, dia anak kamu yang dulu kamu buang? "
"Iya Mas, dia anak saya. Saya yakin dia anak saya karena saya masih ingat tanda lahir yang ada di punggung nya itu." Ucap Ibu Neta.
Pak Muji langsung duduk di sofa dengan kedua kaki yang lemas, sedangkan Ibu Neta hanya diam berdiri menatap suami nya.
"Kita tes DNA, untuk kebenaran nya."
"Jangan sampai kamu salah orang. "
"Saya yakin, karena tanda lahir itu."
"Saya sudah memberhentikan nya, maafkan saya Neta. "
"Saya tidak ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya Mas. "
"Kejar dia, jangan sampai dia pergi jauh."
Ibu Neta pun berlari ke luar di susul Pak Muji untuk mencari Ikhsan, dan saat tepat berada di depan kamar Ikhsan terlihat Ikhsan tengah memasukan pakaian nya.
"Nak."
Ikhsan menoleh saat melihat Ibu Neta dan juga Pak Muji di belakang nya.
"Ibu ada apa lagi kemari, apa ya Ibu masih kurang melihat saya di mutasi ke tempat yang jauh. " Ucap Ikhsan.
Ibu Neta berjalan maju dengan memegang kedua pipi Ikhsan.
"Bu, apa yang Ibu lakukan di depan Bapak." Ucap Ikhsan berusaha menurun kan kedua tangan Ibu Neta dari pipi nya.
"Kamu anak Bunda yang dulu Bunda buang, hiks.. hiks... "
Ikhsan tertawa dan berjalan mundur menjauh, Ikhsan kembali tertawa terbahak - bahak.
"Ibu ini ada - ada saja, saya mempunyai kedua orang tua. Orang tua saya pedagang, sedangkan Ibu adalah keluarga yang memiliki pangkat. "
"Saya yakin itu kamu, lihat tanda lahir kita saya. " Ibu Neta memperlihatkan punggung nya.
"Ibu salah orang. "
"Nggak saya yakin, kamu anak saya."
"Ikhsan, maaf kan istri saya. Untuk biar jelas kami ingin melakukan tes DNA. "
"Maaf Pak, karena memiliki orang tua kandung. Tidak mungkin saya anak dari Ibu Neta. "
"Tolong lah, biar istri saya itu mendapatkan jawaban yang puas. "
"Maaf Pak, saya harus cari tempat tinggal." Ucap Ikhsan menarik koper nya. Namun Ibu Neta langsung bersujud di kedua kaki Ikhsan.
"Maafkan Bunda, hiks.. hiks... pasti kamu sangat membenci Bunda, hiks... hiks... Bunda terpaksa nak hiks... hiks... Bunda terpaksa membuang kamu di depan toko kain itu. Maafkan Bunda hiks.. hiks... "
Ikhsan berkaca - kaca, kedua tangan nya mengepal menahan emosi, tak menyangka selama tiga puluh tahun lebih Ikhsan akhir nya bertemu dengan seorang wanita yang melahirkan nya.
__ADS_1
"Ibu jangan begini. " Ucap Ikhsan mengangkat tubuh Ibu Neta untuk bangun.
"Saya nggak enak sama Bapak, saya tegas kan lagi. Saya bukan anak Ibu. " Ucap Ikhsan sambil tersenyum.
Ikhsan menarik koper nya dan Pak Muji menahan Ikhsan.
"Ini perintah dari atasan kamu, sekarang kamu kembali jadi anak buah saya. Kamu tetap tinggal di sini. "
Ikhsan berdiri diam sambil memejamkan matanya, dengan berat Ikhsan menurut apa kata atasan nya.
***
"Bunda senang, kamu tidak jadi pergi."
"Saya bukan anak Ibu, kenapa Ibu sangat yakin."
"Tanda lahir itu, Bunda buat agar kita memiliki tanda lahir yang sama. Jadi Bunda sangat yakin itu. "
"Kenapa Ibu membuang nya padahal tidak bersalah. "
"Karena Bunda menikah dengan supir pribadi Bunda, karena kasta kita berbeda. Bunda di jodoh kan dengan Ayah nya Viola, tapi keluarga Bunda dan keluarga Mas Muji tidak menerima kamu, mereka meminta Bunda membuang kamu. Saat itu, Mas Muji bertanya kemana anak Bunda, Bunda menangis dan menjawab Bunda membuang nya. Ayah nya Viola marah besar dia menerima kamu, kami cari bayi itu tapi semua nya tidak ada yang tahu. "
"Lantas, Ayah dari si bayi itu kemana? "
"Meninggal dunia, sehari setelah kamu lahir. "
"Kenapa di buang, kenapa tidak langsung di hilangkan saja dari pada hidup nya menderita."
"Maaf kan Bunda. "
*****
" Saya kakak nya. "
"Bisa tunjukkan identitas nya? "
Akbar menunjukkan identitas nya sedangkan Anggota tersebut menatap Akbar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Tunggu sebentar. "
Akbar menganggukkan kepala nya dan menunggu di luar pagar besi yang tinggi. Sepuluh menit kemudian pintu gerbang terbuka, terlihat Ikhsan membuka pintu gerbang dan langsung menyambut dengan wajah yang kurang mengenakan kan.
"Ada apa Kak kemari? "
"Pulang lah sebentar, Ibu ingin bertemu sama kamu. "
"Saya akan telepon. "
"Tolong lah, sebentar saja. Ibu menyalahkan Mawar, ini karena Mawar menurut Ibu. Mawar pun meminta Kakak untuk menemui kamu, tolong lah demi Ibu. Kakak akan pergi di saat kamu di rumah nanti."
"Saya akan atur waktu nya Kak, sekarang kakak pulang. "
"Ikhsan, apa kamu tidak ingin mengobrol lebih lama dengan kakak kamu? "
__ADS_1
"Maaf kak, saya banyak kerjaan saya sibuk. Nanti saya pulang. "
Akbar tersenyum dan langsung menaiki motor nya , Ikhsan hanya menatap ke arah Kakak nya yang sudah menjalankan mesin motor nya.
"Kakak tunggu, Ibu sangat merindukan kamu."
Ikhsan pun masuk saat motor melaju dan saat baru menutup pintu gerbang terdengar suara benturan keras dan suara orang berteriak.
Ikhsan dan beberapa anak buah Pak Muji pun ikut keluar, Ikhsan berjalan setengah berlari saat melihat orang berkerumun.
Ikhsan berdiri mematung, saat melihat motor yang di kendarai Akbar berada di kolong mobil truk, terlihat darah segar mengalir banyak.
"Kakak... !!! " Teriak Ikhsan.
"Cepat tolong kakak saya, tolong....!!! "
Semua warga berusaha mengeluarkan tubuh Akbar yang tergencet, Ikhsan pun berusaha membantu mengeluarkan tubuh kakak nya.
Tangis Ikhsan pecah saat melihat Akbar terluka penuh darah, Ikhsan terus mencoba membangunkan Akbar.
"Bangun kak, bangun... hiks.. hiks.. bangun kak...!!! "
Suara ambulance membelah jalanan, tangan Ikhsan terus menggenggam tangan Akbar yang sudah terasa dingin.
Ikhsan terus menyadarkan Akbar di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
"Dek."
Mata Akbar terbuka, Ikhsan dengan segera mendekat kan wajah nya.
"Ma - maafkan ka - kak. "
"Ikhsan yang harus minta maaf kak."
"Dek, to - tolong jaga Ma - Mawar. Ka - kak kembalikan sama kamu, maaf kan Kakak yang sudah merebut Mawar. . "
"Nggak kak, kakak akan segera di beri pertolongan,kakak harus kuat. "
"Kak - kak nggak kuat. "
"Ingat Mawar kak, dia sedang hamil anak kakak. "
Genggaman tangan Akbar begitu sangat kuat saat kepalanya menengadah ke atas. Ikhsan dengan berusaha kuat, membisikan dan menuntun Akbar membaca Talqin.
"Laa ilaha illallah. "
Genggaman tangan Akbar yang kuat kini melemah, Ikhsan semakin terisak dan memeluk kuat tubuh Akbar yang sudah terkujur kaku.
Hiks.. hiks.. hiks...
"Kakak....!!! "
*****
__ADS_1
Ibu Ratih berteriak histeris saat datang ke rumah sakit, tubuh Akbar sudah tertutup rapat.
Pak Handoko pun tidak bisa membendung tangis nya, sedangkan Ikhsan dengan seragam nya yang penuh darah hanya diam mematung saat melihat tubuh Akbar tidak lagi bergerak.