
"Wanita itu adalah orang tua saya, seharusnya kamu tidak kasih tahu alamat saya sama dia."
"Maaf kan saya Mas, saya tidak tahu. Karena dia bilang atasan Mas, jadi saya kasih tahu." Ucap Mawar.
"Mas kan kalau nggak salah pernah cerita, apa kamu lupa hah...?? "
"Maaf Mas. "
"Sudahlah, saya pulang dulu. " Ucap Ikhsan langsung berjalan menuju ke arah motor nya.
"Mas." Panggil Mawar.
"Iya." Ucap Ikhsan.
"Hati - hati. "
"Kamu tidur lagi, maaf malam - malam mengganggu. "
Mawar masih berdiri di depan pintu sampai Ikhsan berlalu, lantas Mawar pun masuk kedalam rumah dan mengunci pintu.
****
Hari yang di tunggu telah tiba, SK pun telah turun. Sumpah janji jabatan pun telah di ucap, Mawar memeluk tubuh Ibu Nia dan Pak Hadi.
"Alhamdulillah, akhirnya sudah turun juga." Ucap Ibu Nia.
"Alhamdulillah Bi, cita - cita saya ternyata tercapai. " Ucap Mawar.
"Paman ucapkan selamat nak. "
"Terima kasih paman. "Ucap Mawar.
" Mas Akbar pasti sangat bahagia, ini kado untuk dia. Karena dia sangat mendukung selama ini." Ucap Mawar.
"Akbar pasti senang melihat nya. " Ucap Ibu Nia.
"Saya persembahkan untuk Mas Akbar. "
****
"Mas, hari ini SK nya sudah turun. Saya kemari menunjukkan secarik kertas ini, saya persembahkan untuk Mas. Terima kasih Mas, selama ini Mas telah mendukung saya. Karena doa Mas juga akhirnya saya bisa seperti ini."
Mawar mengusap nisan Akbar, tanpa terasa air matanya menetes. Mawar pun lalu mencium nisan tersenyum.
"Mas, saya kangen sama Mas. Mungkin kalau Mas masih ada, di hari bahagia ini Mas akan memeluk saya, memberikan selamat, mencium kening. Pasti Mas akan bilang, kita rayakan. Tapi di hari bahagia ini, nggak menyangka Mas sudah pergi dahulu. Saya kangen Mas, selamanya cinta ini akan selalu ada untuk Mas Akbar. "
*****
"Selamat." Ucap Ikhsan memberikan seikat bungan Mawar segar.
"Terima kasih Mas. " Ucap Mawar menerima pemberian dari Ikhsan.
"Mas senang kamu berhasil. "
"Sekali lagi terima kasih Mas, saya tidak khawatir lagi untuk kehidupan ke depan nya. Saya bisa memenuhi kebutuhan kami berdua dan tidak bergantung dari uang peninggalan suami saja "
"Ehm.. Mas, mau saya buatkan teh manis? " Ucap Mawar.
"Boleh." Ucap Ikhsan.
Mawar membuat kan minuman untuk Ikhsan, sedangkan Ikhsan berjalan menuju ke arah teras belakang.
"Kamu tahu Mawar, dulu kami berdua suka sekali main di bawah pohon mangga. Kadang Kak Akbar yang sering memanjat pohon, kalau Ayah dan Ibu berdagang kami tinggal bersama pembantu. Setelah pembantu kami meninggal dunia, Ayah Ibu memutuskan berdagang disini. Tapi setelah kami dewasa mereka berdagang keliling luar kota."
Mawar memberikan secangkir teh hangat pada Ikhsan yang sedang berdiri dengan bersandar di daun pintu.
"Mas, maaf sebelumnya. "
"Mau tanya apa? "
"Apa Mas tidak ingin mencoba membuka pintu maaf dan hati Mas untuk Ibu kandung Mas? "
"Buat apa membuka hati untuk wanita kejam seperti dia. "
"Mas, Rasulullah juga pemaaf, apa Mas tidak mau memaafkan nya. Dia melakukan itu karena paksaan, tapi hati nya tidak ingin melakukan. "
__ADS_1
"Kenapa tidak mempertahankan saya, kenapa malah membuang seperti sampah. "
"Mas, dia pasti menyesal. Dia pasti sedih, Mas apa tidak sedikit terketuk hati Mas. "
"Saya hidup tidak pantas mendapatkan cinta, mungkin saya di takdir kan untuk hampa. "
"Kata siapa tak ada cinta, kedua orang tua Mas sayang sama Mas. "
"Terus, kasih sayang kamu juga nggak ada."
"Mas lupa, kalau itu buat Mas Akbar. Kasih sayang saya sudah berubah tidak seperti dulu lagi. "
"Mas butuh seseorang, saat seperti ini Mas butuh seseorang. "
"Saya bisa jadi teman curhat Mas, kita kan saudara. "
"Terima kasih, kamu masih mau dengar kan Mas. "
*****
"Jadi Ikhsan itu dulu memiliki kekasih dan sekarang jadi kakak ipar nya? " Ucap Ibu Neta pada orang suruhan nya.
"Benar Bu, bahkan rumah Mawar yang dia bangun itu adalah untuk kekasih nya. "
"Kamu dapat info dari mana? "
"Kebetulan, orang yang desain rumah nya adalah orang terdekat saya. "
"Jadi melalui dia, pasti bisa membantu meluluhkan hati nya. "
*****
"Surat kamu kami tolak. "
"Kenapa saya tidak bisa mengundurkan diri? "
"Alsan yang tak tepat. "
"Tidak tepat bagaimana, saya hanya ingin mengundurkan diri bukan pensiun dini. "
"Pak Muji sudah memberikan ultimatum bahwa kamu tidak bisa mengundurkan diri."
"Bang Ikhsan. "
"Rengganis, apa kabar? " Tanya Ikhsan.
"Baik, apa sedang apa disini? " Tanya kembali Rengganis.
"Ada urusan saja, kamu sedang apa? "
"Saya kan sedang Main saja. "
"Oh iya, tugas di mana? "
"Saya tugas di Batalyon Y 14."
"Oh disitu. "
"Bang, saya senang bisa bertemu lagi sama Abang. "
"Lama ya berapa tahun kita tidak ketemu?" Ucap Ikhsan.
"Sekitar 4 tahun setelah kita putus. "
"Kamu masih ingat, kirain sudah lupa sama peristiwa itu. "
"Abang sudah menikah? "
"Belum, masih sendiri. Mungkin akan sendiri."
"Sama Bang, saya sendiri. "
"Katanya setelah putus kamu pacaran sama komandan kamu sendiri. "
"Kita nggak cocok Bang. "
__ADS_1
"Sama ya seperti kita nggak pernah cocok."
"Satu tahun Ya Bang, ternyata ego kita sama - sama besar. "
"Sudah akh, jangan bahas masalah itu. Saya pergi dulu. "
"Hati - hati Bang. "
"Hi Rengganis. " Sapa seorang pria dengan tersenyum.
"Bang, senyum nya makin mempesona aja." Ucap Rengganis.
"Kamu kenal sama Ikhsan? "
"Dia mantan saya Bang. "
"Mantan setelah sama Herman? "
"Sebelum sama Bang Herman. "
"Bukan main, ternyata selera kamu tinggi."
"Tapi sayang kita nggak jodoh. "
"Kamu kejar kembali Ikhsan, dia belum menikah. Kalau Herman sudah punya anak dua."
"Tahu, jangan bahas dia lagi. "
"Ya... ya mantan. "
****
"Bu Mawar, tolong minta data pengunjung perpustakaan hari ini. " Ucap Kepala Perpustakaan.
"Baik Pak, nanti saya print. " Ucap Mawar.
"Oh iya, nanti untuk setiap akhir pekan ada penambahan waktu dua jam, dan nanti akan di masukan lembur. "
"Siap Pak, apakah petugas nya akan rolling?"
"Benar di rolling. "
Ikhsan tersenyum saat datang ke perpustakaan, melihat yang penjaga perpustakaan nya adalah Mawar.
"Kalau kamu yang jaga, Mas bisa sering datang kesini. "
"Kalau saya yang jaga, kadang sayang ke belakang menginput buku - buka baru. "
"Sebentar lagi makan siang, mau makan siang sama Mas nggak? "
"Masih 15 menit lagi. "
"Mas tunggu sambil baca - baca buku."
"Boleh, silahkan. "
Ikhsan pun lalu memilih buku bacaan yang dirinya sukai, sedangkan. Mawar kembali bekerja.
"Siapa dia? " Tanya salah satu teman Mawar.
"Dia adik ipar saya. " Jawab Mawar.
"Single? "
"Kenapa? "
"Kalau singel, kenal kan dong sama saya."
"Kenalan saja sendiri, tuh orang nya sedang baca buku. "
"Nggak akh malu. "
.
.
__ADS_1
.
.