
"Anak Papi sembuh ya, jangan sakit lagi. Sudah ya terakhir masuk rumah sakit. " Ucap Ikhsan sambil berbaring di atas tempat tidur sambil mengajak mengobrol Satria.
Mawar hanya duduk di ruang keluarga sambil menatap Ikhsan dan Satria di dalam kamar.
"Mas jam berapa pulang? " Tanya Mawar.
"Kenapa? " Tanya kembali Ikhsan.
"Sebentar lagi Ashar, takut kemalaman." Jawab Mawar.
"Bukan nya kemarin malam bukan datang nya malam ya? "
"Waktu nya istirahat Mas malam sih, mumpung masih siang. "
"Kamu usir Mas? "
"Ya nggak juga, saya hanya mengingatkan."
Ikhsan menaruh Satria di box bayi dan berjalan ke arah Mawar lalu duduk di samping Mawar.
"Mas masih ingin melihat kamu dari dekat." Ucap Ikhsan.
"Sudah puas kan sejak tadi malam. " Ucap Mawar.
"Belum, makan nya Mas masih disini."
"Pulang Mas, besok dinas nanti capek. "
"Kamu ingat masa lalu kita nggak? Kita saling mencintai dan saling kangen. Kamu ingat kan setiap hari bunga Mawar tidak pernah lupa."
"Sekarang sangat berbeda Mas. "
Ikhsan memegang tangan Mawar, namun Mawar dengan segera menjauhkan tangan nya.
"Maaf Mas. "
Ikhsan tersenyum dan sedikit menggeser tubuh nya dari Mawar.
"Apa benar - benar cinta kamu sudah hilang, dan benar - benar sudah di kubur dalam - dalam. "
"Saya bukan yang terbaik, saya sudah banyak menyakiti hati Mas. "
"Mas tahu, tapi sakit nya Mas bisa hilang."
"Saya nggak bisa. "
"Ya sudah, Mas tidak akan meminta untuk menikah sama kamu. Asal kamu tahu, cinta Mas tidak akan pernah hilang. Sampai mata ini menutup cinta ini tak akan pernah hilang."
"Mas, jujur rasa itu tidak pernah hilang tapi saya itu jahat sama Mas. Saya juga banyak salah, sama Mas Ikhsan dan Mas Akbar. Sampai dia meninggal dunia tentang apa yang terakhir kita lakukan rasa salah itu masih tetap ada. "
"Mas juga sama salah. "
"Saya masih belum siap, belum siap untuk semua nya. "
"Jadi? " Ucap Ikhsan.
"Lihat saja nanti. "
"Baik, Mas pamit. "
"Hati - hati Mas. "
"Iya, Mas mau pamit sama Satria. "
Mawar menatap ke arah Ikhsan yang berjalan ke arah kamar tidur Mawar.
"Apakah kamu di kirim Tuhan, sebagai pengganti nya. Mungkin jalan kita seperti ini kah, cara kita untuk bersatu. " Ucap Mawar dalam hati nya.
"Papi pulang ya, jangan buat Mamah menangis, buatlah Mamah selalu tersenyum."
Ikhsan mengecup kening Satria lalu membelai pipi gembul Satria yang sedang menatap nya.
__ADS_1
"Papi akan kangen Satria. " Ucap Ikhsan.
Mawar berjalan ke arah masuk kamar terlihat Ikhsan seolah berat untuk berpisah.
"Kenapa ya serasa berat, padahal Satria bukan anak kandung Mas. "
"Datang lah sesuka hati Mas, kalau memang Mas sayang sama Satria. Saya tidak akan pernah melarang nya. " Ucap Mawar.
"Benar kah? "
"Iya, tapi carilah wanita yang mau menerima Satria yang tahu siapa seluk beluk Mamah nya. "
"Terima kasih Mawar. "
"Sama - sama Mas, mungkin Satria suatu saat akan butuh sosok Ayah. Tapi mohon kasih saya waktu. "
"Mas paham kok, Mas mengerti. Mas akan tunggu waktu yang sangat indah itu."
*****
"Maaf baru tengok Satria, habis dari rumah kakek Nenek nya. Kemarin Bang Haikal cuti karena ada acara nikahan adi nya. " Ucap Nirmala.
"Nggak apa - apa, makasih loh sudah bawakan buah tangan. " Ucap Mawar.
"Hanya bawa oleh - oleh ini saja nggak banyak karena susah bawa nya. Di jalan Manggar selalu rewel dia, sampai mobil berhenti beberapa kali."
"Saya juga kangen kampung halaman lama nggak pulang, tapi nunggu Satria besar dikit baru di ajak kesana."
"Ngomong - ngomong, Bang Ikhsan sering ketemu sama kamu? "
"Baru saja kemarin kemari pulang sore, bahkan komunikasi juga nggak pernah putus."
"Bagus dong, kalian bisa bersatu lagi."
"Nirmala, jujur ya saya itu gimana ya. Dia sing sudah beberapa kali mengajak menikah tapi saya merasa nggak pantas saja buat pria seperti Mas Ikhsan yang baik bahkan terlalu baik buat sama, padahal saya sudah menyakiti nya. "
"Dia tulus mencintai kamu, cinta dia benar - benar sangat luar biasa. "
"Saya bingung untuk membalas nya. "
"Dia sayang banget sama Satria, bahkan Satria juga dekat sama sama dia."
"Nah dari situ kamu bisa baca, dari Satria itu tanda nya apa? "
"Maksud kamu saya sama dia harus bersatu?"
"Sekarang paham kan? "
"Jangan sampai kamu menyesal suatu saat nanti."
*****
"Ibu sama Bapak tumben pulang cepat? " Tanya Mawar.
"Satu mendengar cucu Oma sakit, Om sama Opa nya langsung pulang, kedua. kami berdua di undang sama Ibu Neta ada suatu acara. " Ucap Ibu Ratih.
"Iya, mau makan bersama, kita kan sekarang keluarga dan belum bisa adakan momen spesial bersama. " Ucap Pak Handoko.
"Oh.. kapan? "
"Besok nanti di jemput, kamu juga ikut ya. "
"Nggak akh, Satria masih kecil. Ibu sama Bapak saja, lagian ini acara kalian. Nggak enak Bu Pak. "
"Benar nggak ikut? "
"Benar Pak Bu, nggak apa - apa kok nggak di ajak juga. Masalah nya Satria masih kecil. "
"Baiklah Ibu sama Bapak pergi, tapi benar nggak mau ikut? " Ucap kembali Ibu Ratih.
"Iya lagian juga di mobil, pasti Ibu Neta akan kasih kursi ternyaman buat Satria dan kamu." Ucap Pak Handoko.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak mengganggu acara nya."
"Ya nggak lah, masa keganggu. " Ucap Ibu Ratih.
*****
Ikhsan berjalan sambil membawa beberapa map di tangan nya, Rengganis datang lalu berjalan sejajar dengan Ikhsan.
"Mau kemana? "
"Ke ruangan Komandan kenapa? "
"Oh nggak apa - apa. "
"Mau ikut masuk? "
"Emang boleh? "
"Siapa yang larang, sah - sah aja. "
"Nggak akh. "
"Tunggu di sini, 15 menit saya keluar lagi."
"Lama banget 15 menit. "
"Ya makan nya kenapa kamu ikut kalau ikut tunggu di sini. "
"Ish... dah akh.. bye..!! " Ucap Rengganis sehingga Ikhsan hanya menggeleng kan kepalanya.
*****
"Murni tolong kamu nanti tata buah - buah an nya disana. " Ucap Ibu Neta.
"Baik Bu, ehm.. Bu acaranya kok mendadak sih? "
"Karena saya ingin menjadikan hari yang sangat spesial untuk hari ini. "
"Acaranya Bapak ya, soalnya masak banyak dan ada beberapa kursi. "
"Nanti juga kamu tahu. "
"Bu, ehm... anak Ibu yang Tentara itu datang nggak ya? "
"Ikhsan maksud kamu? "
"Iya."
"Dia pasti datang lah, masa ada acara nggak. datang. "
"Bu, dia masih sendiri kan? "
"Kenapa memang nya? "
"Malu bilang nya. "
"Katakan saja, nggak usah malu. "
"Dari pertama lihat, saya naksir sama Bang Ikhsan. "
"Kamu naksir anak saya, apa kamu bisa taklukkan hati nya? "
"Ibu meremehkan saya ya, lihat saja nanti."
"Yakin, kamu bisa menyingkirkan yang nama nya Mawar dan berganti kamu yang di hati Ikhsan. "
"Kita lihat saja nanti. "
.
.
__ADS_1
.
.