
"Bapak kenapa nggak bangun kan Ibu kalau Ikhsan telepon. "
"Kata Ikhsan jangan di bangun kan. "
"Tapi kan Pak, Ibu kangen sama Ikhsan."
"Ini Ikhsan kasih nomer yang baru, Ibu bisa hubungi dia. "
"Biar Ibu telepon dia. " Ibu Ratih mencoba menghubungi Ikhsan, panggilan menyambung tapi tak di angkat.
"Ikhsan tak angkat Pak. "
"Mungkin Ikhsan itu sedang sibuk Bu, jadi nggak di angkat. "
"Anak itu, Ibu kangen nak. "
"Yang penting Ikhsan baik - baik saja bu, sekarang Ibu lega kan. "
"Iya Pak. "
Mawar berbaring di atas tempat tidur, Akbar terus menunggu istri nya.
"Mas, nggak masuk Dinas? "
"Nggak, mas mau menunggu kamu saja disini ."
"Saya nggak apa - apa Mas di tinggal juga."
"Nggak, Mas nggak mau meninggalkan kamu sendiri. "
"Mas."
"Iya? "
"Mungkin Ibu benar, kalau saya yang tidak memulai hubungan Mas sama Mas Ikhsan masih baik - baik saja. "
"Hubungan Mas baik - baik saja kok, kata siapa nggak baik. "
"Seorang Ibu pasti merasakan rindu pada salah satu anak nya, tetapi anak nya tidak akan pernah mau kemari karena suatu hal yang membuat dia sakit hati. Ibu pantas sekarang membenci Mawar, Ibu pantas marah. "
"Sudah lah, kamu nggak salah kok. Ikhsan seperti itu karena permintaan nya sendiri."
"Mas harus tahu, perpisahan kami begitu sangat sakit. Mas Ikhsan sudah melepaskan nya pada Mas, Mas tolong bujuk Mas Ikhsan pulang ya agar rasa rindu Ibu terobati."
"Mas tidak tahu sekarang tugas dimana, karena Mas tidak ingin cari tahu."
"Carilah tahu pada Bang Haikal, mungkin dia tahu. Suruh dia pulang bertemu Ibu, saya calon seorang Ibu bisa merasakan nya."
"Nanti Mas akan coba, sabar ya. "
"Bawa dia Mas. "
*****
"Dia dimana? "
"Kamu nggak tahu adik kamu sekarang tugas dimana? " Ucap Haikal.
"Tidak tahu. "
"Dia menjadi Ajudan Jenderal Muji, tapi kata dia sekarang dia lebih banyak mengawal anak gadis nya. "
"Jenderal Muji, jadi dia tugas disana? "
"Iya, tugas disana. Kenapa? "
"Ibu ingin sekali bertemu Ikhsan, Ibu berubah sama Mawar karena menurut Ibu semua gara - gara Mawar."
"Kamu ingin menemui adik kamu? "
"Saya akan kesana, menjemput dia pulang."
"Ikhsan tidak akan mau, dia masih belum kuat lihat kamu sama Mawar. "
"Saya nggak peduli, yang penting rasa kangen Ibu terobati. "
__ADS_1
*****
"Ikhsan, ini buat kamu. " Ucap Ibu Neta memberikan beberapa paper bag.
Semua mata saling menatap ke arah Ikhsan, dan Ikhsan merasakan hal yang tidak enak.
"Ini apa ya bu? "
"Saya sengaja memberikan nya untuk kamu, semoga kamu suka. "
Ikhsan membuka paper bag tersebut dan ternyata sebuah jam tangan mahal dan hanya 10 di keluarkan di dunia.
"Saya nggak bisa menerima, ini terlalu berlebihan. " Ucap Ikhsan menolak.
"Ini untuk kamu, saya sengaja membelinya untuk kamu. Kalian jadi saksi ya, saya kasih buat Ikhsan."
"Maaf Bu, saya tidak pantas menerima nya."
"Baiklah, saya akan simpan. Bila kamu ingin mengambil nya tinggal bilang saja."
Ibu Neta akhirnya pergi meninggalkan Ikhsan, sedangkan Ikhsan langsung kembali melanjutkan bermain game.
"Jangan - jangan, ibu Neta ada main sama kamu. " Ucap Anwar.
Ikhsan hanya diam dan fokus pada game perang nya.
"Benar, jangan - jangan Ibu Neta suka sama kamu. Wah bisa bahaya. kalau tahu Pak Muji."
"Jangan pada gosip, kalau lain cerita nya bagaimana? " Ucap Ikhsan.
"Bukan gosip orang fakta ini. "
"Sudahlah jangan ngaco. "
****
"Bunda, saya lihat Bunda dekati Bang Ikhsan juga ya. "
"Kalau iya kenapa? "
"Maksud kamu apa Viola? "
"Bunda suka juga kan sama Bang Ikhsan?"
"Jaga bicara kamu. "
"Benar kan, pantas Bunda melarang saya untuk mendekati Bang Ikhsan. Ternyata Bunda ada main hati sama Bang Ikhsan.Ingat Bunda, ingat umur Bunda. Dan ingat Ayah Bunda, Ayah sangat mencintai Bunda, tidak seperti Bunda yang jahat."
"Tutup mulut kamu Viola, jangan asal bicara kamu. "
"Bukti nya apa, Viola lihat semua nya Bunda."
"Bunda akan cerita bila sudah tepat. "
*****
"Kamu kenapa sayang? " Tanya Pak Muji pada Viola
"Ayah, hiks... hiks... " Jawab Viola terisak.
"Bunda jahat. "
"Maksud kamu? "
"Bunda diam - diam main api. "
"Main api bagaimana? " Tanya Pak Muji.
"Bunda ternyata diam - diam menyukai Bang Ikhsan. " Jawab Viola.
"Ngawur kamu. "
"Ayah nggak percaya, lihat saja di CCTV. Rumah ini kan banyak CCTV nya. "
Akhirnya Pak Muji menuruti apa kata Putri nya, dan Pak Muji pun mengecek satu persatu CCTV di rumah Dinas nya.
__ADS_1
"Tuh kan lihat, Bunda kasih sesuatu sama Bang Ikhsan. " Ucap Viola.
"Tapi di bawa lagi sama Bunda. "
"Coba deh lihat rekaman lain nya. "
Pak Muji memeriksa kembali, dan melihat istrinya sedang berdiri dimana Ikhsan berada. Banyak rekaman memperlihatkan Ibu Neta menatap Ikhsan diam - diam.
"Benar kan, Bunda ternyata diam - diam suka sama Bang Ikhsan. "
Pak Muji tak menjawab, dan lalu meninggalkan ruangan tersebut. Pak Muji mencari Ikhsan, dimana saat itu terlihat Ikhsan tengah bercengkrama dengan teman seprofesi nya.
"Ikhsan saya mau bicara. "Ucap Pak Muji.
" Ada apa Pak? "
"Kamu mulai sekarang tidak bekerja sama saya lagi, tapi kamu saya tempat kan di luar bukan menjadi Ajudan atau pengawal anak saya lagi. "
"Maksud Bapak, saya di pindah kan? "
"Iya, kamu di pindah kan. Saya tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak saya ingin kan."
"Maaf Pak, saya salah nya dimana? "
"Saya akan minta buatkan surat tugas pemindahan yang jauh. Saya akan tugas kan kamu di wilayah paling ujung negara kita."
Ikhsan masih diam dan bingung, atas pemindahan nya secara tiba-tiba.
"Siap Pak, saya siap di pindah tugas kan."
Ikhsan pun lalu pergi menuju ke arah pos dimana Alex tengah duduk di pos jaga.
"Saya tiba - tiba di pindahkan. "
"Hah.. pindah kemana? "
"Jauh, langsung paling jauh. Saya nggak ngerti disini baru beberapa bulan sudah di pindah tugas kan saja. "
"Wah... jangan - jangan. "
"Jangan - jangan apa?"
"Jangan - jangan Pak Muji tahu kelagat istri nya yang suka sama kamu. "
*****
"Besok Ikhsan tidak lagi jadi anak buah saya, tinggal menunggu surat tugas nya turun."
"Maksud kamu apa Mas? " Ucap Ibu Neta.
"Iya, pria yang kamu sukai besok tidak lagi ada di sini. "
"Kamu pindahkan dia kemana? "
"Jadi benar ya, kamu jatuh hati sama anak buah saya. Nggak menyangka saya, pria yang di sukai sama anak kamu sendiri malah kamu rebut dia. "
Plaaaak
"Kamu menampar saya hah...!!! "
"Kamu berani usir dia, berarti kamu menyakiti hati saya. "
"Oh.. jadi kamu lebih membela dia, bagus kalau kamu bela dia sekalian saja kamu saya Tal... "
"Dia anak saya yang saya buang dulu. "
.
.
.
.
.
__ADS_1