
Ikhsan mendaftarkan Mawar untuk periksa kandungan nya, Mawar menatap para Ibu hamil yang di dampingi para suami nya, bahkan ada yang sedang mengusap perut istri nya, bahkan ada yang rela berdiri demi istri nya duduk karena tak ada lagi kursi yang kosong. Sama hal nya seperti Ikhsan lebih memilih berdiri di samping Mawar.
"Anak ke berapa Mas? "Tanya seorang pria yang berdiri di samping Ikhsan.
" Pertama Mas. " Jawab Ikhsan sambil tersenyum.
"Wah sama Mas, anak pertama itu momen nya jangan sampai di lupakan saat tahu istri hamil rasa nya bahagia banget. "
Ikhsan hanya tersenyum tidak dengan Mawar hanya dengan wajah datar nya, Ikhsan pun terus mengobrol dengan pria yang di samping nya hingga nama Mawar di panggil.
"Silahkan Ibu nya langsung naik ya, Bapak tolong bantu ya untuk menaikkan Ibu ke atas blankar. " Ucap Dokter
Ikhsan pun membantu Mawar untuk naik dan langsung berbaring, sedangkan dokter di bantu suster untuk mempersiapkan alat nya.
"Usia kandungan nya pas ya bu masuk 7 bulan, bayi nya juga sehat. Detak jantung nya juga bagus. "
"Anak saya jenis kelamin nya apa Dok?" Tanya Mawar.
"Laki - laki Bu, sehat tuh belalai nya kelihatan." Jawab Dokter.
"Alhamdulillah, jagoan. " Ucap Ikhsan tampak bahagia melihat calon ponakan nya.
"Nanti bulan depan cek lagi ya bu, sekarang saya tuliskan resep vitamin nya. "
Mawar pun turun dari atas blankar di bantu oleh Ikhsan.
"Selama ini nggak ada keluhan kan Bu? "
"Alhamdulillah nggak ada masalah. " Ucap Mawar.
****
"Mawar, gimana kalau kita pergi buat beli perlengkapan bayi? " Ucap Ikhsan sangat antusias.
"Nggak usah Mas, nanti saja. Saya nggak bawa uang cukup, tadi bawa niat untuk Dokter eh malah Mas yang bayar. "
"Nggak apa - apa, kan sudah niat. Kita belok ke mall ya. "
"Nggak usah Mas, terima kasih. "
"Nggak boleh nolak, Mas akan belikan buat jagoan Mamah. "
Mawar hanya tersenyum kecut sambil mengusap perut nya yang sudah membesar, hingga mobil pun berbelok di sebuah Mall.
Ikhsan berjalan di belakang Mawar, saat sampai di toko perlengkapan bayi Ikhsan langsung antusias memilih tempat tidur, hingga perlengkapan bayi lain nya.
"Mas, kok selera Mas semua. "
"Kenapa nggak suka? "
"Ini anak saya Mas, Mamah nya yang harus memilih. "
"Selera kamu nggak sesuai ya. "
"Bukan begitu, semua nya pilihan Mas. "
"Maaf ya, Mas terlalu senang. "
"Senang, sayang bukan Papah nya. "
"Maaf ya, jangan tersinggung."
"Ya sudah, bayar saja itu. " Ucap Mawar langsung mencari pilihan lain nya.
__ADS_1
Saat Mawar sedang memilih pakaian bayi, terlihat Ikhsan mengobrol dengan seorang wanita dan satu orang wanita yang lebih dewasa. Tampak akrab sekali. "
"Mas." Ucap Mawar.
"Udah dapat baju nya? " Ucap Ikhsan.
"Sudah, nih ada 10 stel. " Ucap Mawar.
"Abang, ini siapa? "
"Mawar, kenal kan ini Rengganis dan ini kakak nya Sekar taji. " Ucap Ikhsan dan lalu Mawar bersalaman dengan kedua nya.
Rengganis dan Sekar taji memandang Mawar dari ujung rambut hingga ujung kepala, dan membuat Mawar pun ikut melihat penampilan nya.
"Ini kakak ipar saya. " Ucap Ikhsan.
"Oh kakak ipar, istri Bang Akbar? " Ucap Rengganis.
"Iya, Almarhum Kak Akbar. "
"Inalilahi WA Inalilahi rojiun, Bang Akbar kenapa? " Tanya Rengganis kaget.
"Dia kecelakaan. " Jawab Ikhsan.
"Saya turut berduka cita, Bang Akbar itu sangat baik sekali. Mau jadi adik ipar nya mah nggak jodoh. " Ucap Rengganis langsung Mawar merasakan sangat terkejut.
"Kamu mantan Mas Ikhsan? " Tanya Mawar.
"Benar, tepat nya 4 atau 5 tahun yang lalu." Jawab Rengganis.
"Iya Mawar, tapi kita putus juga masih tetap temenan. " Ucap Ikhsan.
"Oh gitu ya. "
*****
"Katanya saya itu cinta pertama Mas, ternyata saya cinta kedua Mas. " Ucap Mawar.
"Jujur kamu memang cinta pertama Mas, saat itu sama Rengganis nggak ada rasa tapi gimana ya sedikit asal jalan saja. "
"Berapa tahun? "
"Satu tahun. "
"Satu tahun Mas punya rasa nggak jelas, dasar cowok bisa nya ngegombal. "
"Sumpah Mawar, Mas itu asal jalan saja. Ciuman saja sama kamu, paling pegangan tangan. "
"Tuh kan sama saja, pegangan tangan juga. "
"Ya kan pegangan tangan doang nggak ciuman, Mas sumpah ciuman pertama Mas sama kamu. "
"Dasar tukang tipu. "
"Terserah hanya yang di atas yang tahu."
Hingga akhir nya mobil pun sampai di depan rumah, Ikhsan langsung menurunkan barang belanjaan Mawar.
"Mas nanti saya transfer total semua nya."
"Nggak usah, ini buat ponakan Mas. "
"Tadi habis nya di atas angka 10 juta Mas."
__ADS_1
"Nggak masalah, Mas sudah niat."
"Nomer rekening nya masih yang dulu kan?"
"Kamu kok tahu? "
"Mas kan pernah kasih nomer rekening sama saya dulu waktu pinjam ada yang mau transfer. "
"Kamu masih simpan? "
"Masih lah, saya transfer sekarang." Ucap Mawar langsung memencet ponsel nya dan langsung di ambil oleh Ikhsan.
"Mas nggak pernah minta untuk di kembalikan, Mas sudah janji akan merawat anak kamu sama - sama. "
"Saya sudah bilang, cari wanita lain. Saya sudah banyak menyakiti hati Mas. "
"Kamu ingat, Mas tetap mencintai kamu. Sekarang Mas masih tetap mencintai kamu, walau kemarin kita bilang saling melupakan itu hanya di mulut tapi hati dan pikiran ada sama kamu."
"Saya sudah banyak menyakiti Mas Akbar."
"Kak Akbar pasti mengerti, dia pun sudah memberikan ijin."
"Maaf Mas, cukup sebatas saudara. Terima kasih. "
*****
"Viola."
"Saya menunggu kakak. "
"Dari mana kamu tahu alamat saya? "
"Ayah Bunda pernah kemari, saya ikuti mereka. "
"Ada apa kamu kemari? "
"Bunda sakit, Bunda di rawat. Bund stres banyak pikiran hingga penyakit jantung nya kambuh. "
"Terus? "
"Kakak datang lah ke rumah sakit, mungkin Bunda akan sembuh."
"Obat nya itu kamu dan Ayah kamu bukan saya, pulang lah hari sudah malam."
"Saya tidak mau pulang, tolong lah kak. Bagaimana pun Bunda itu yang melahirkan kakak, memang Bunda salah tapi tolong maafkan kesalahan Bunda."
"Di saat seperti ini membutuhkan saya, lantas dimana saat saya membutuhkan nya. "
"Kak, saya anak kandung nya. Anak yang sama - sama terlahir dari satu wanita yang sekarang sedang tergeletak lemah. Apa kakak tega, apa kakak tidak memiliki rasa kemanusiaan. "
"Kemanusiaan, waktu membuang saya apa dia dinamakan manusia. Sakit hati saya, seorang bayi tidak bersalah di buang begitu saja. Tangisan nya sangat menyayat hati, apakah saat itu ikut merasakan juga. "
"Saya mohon kak, maaf kan Bunda. Tolong sekali saja untuk melihat nya. "
"Pergilah, percuma kamu memohon. Kata maaf sudah tertutup rapat."
.
.
.
.
__ADS_1
.