
"Sudah siap, sudah bisa pulang sekarang." Ucap Ikhsan.
"Iya Mas, sudah. " Ucap Mawar.
"Bibi sama Paman sudah mendapatkan rumah buat kamu. " Ucap Ibu Nia.
"Benar nak, sekarang kamu tinggal disana. Rumah nya juga enak, halaman nya luas. Sirkulasi udara nya juga cocok buat Ibu hamil." Ucap Pak Hadi.
"Paman, bibi saya minta tolong beri saya waktu. Karena hati saya masih seperti ini, dan pikiran saya masih ke rumah kalau suami saya masih ada. "
"Nak, apa kamu masih tetap bertahan setelah apa yang Ibu Mertua kamu lakukan.Kamu nggak sakit hati? "
"Seandainya saya yang tidak memulai mungkin Mas Akbar dan Mas Ikhsan masih bersama seperti saudara, tapi gara - gara saya dan benar apa yang di katakan Ibu. "
"Stop Mawar, jangan kamu menyalahkan diri sendiri. Sekarang kamu ikut apa kata paman dan Bibi. " Ucap Ibu Nia.
"Maaf, Paman Bibi lebih baik biar Mawar disana dulu. " Ucap Ikhsan.
"Apa kamu jamin, Ibu kamu itu tidak terus menyalahkan ponakan kami? " Ucap Ibu Nia.
"Saya akan bicara sama Ibu. "
"Sudah stop, jangan membuat saya stres. Saya baru di tinggal suami, jangan ributkan perkara tempat tinggal. Nanti saya akan menentukan sendiri. " Ucap Mawar.
"Mas Ikhsan, mulai sekarang tolong nggak usah peduli sama saya, walau saya janda saya masih bisa memayungi diri saya sendiri."
****
"Ratih, awas ya kalau kamu menyudutkan ponakan saya. "
"Maafkan saya Nia, saya tidak maksud apa - apa. "
"Tidak maksud apa - apa, Handoko ajari istri kamu. Yang membuat anak kalian pergi itu kalian, coba kalau istri kamu nggak seperti itu dia pasti masih hidup. Dan kamu Ikhsan kamu juga ikut salah menghilangkan nyawa kakak kamu sendiri, karena ke egois an kalian."
"Stop Bi, sebenarnya saya disini yang merasakan terluka. Saya ikhlas kan Mawar pada Almarhum, saya lepas kan dia. Tapi apa takdir berkata lain, almarhum menitipkan kembali pada saya. Kalian bisa rasakan hati saya yang sakit masih belum sembuh harus menerima kenyataan yang sekarang. Saya memang bukan pria bersungguh-sungguh di mata kalian, tapi niat hati saya. Kalau mau jujur saya masih mencintai Mawar, sekarang semua pada saling menyalahkan. "Ucap Ikhsan.
Mawar lebih memilih masuk kedalam kamar nya, sedangkan di ruang tamu semua memasang wajah kesal.
" Saya pamit pulang, tolong jaga Mawar. Dia sedang hamil. " Ucap Ikhsan lalu beranjak bangun dan masuk kedalam kamar nya.
"Saya pamit, saya akan pulang bila hati saya sudah tenang. " Ucap Ikhsan langsung pergi .
"Ibu puas, sekarang puas. " Bentak Pak Handoko.
"Kenapa Ibu yang di salah kan. " Ucap Ibu Ratih.
"Coba kalau sikap Ibu tidak seperti ini."
****
Mawar memeluk bantal yang biasa di tiduri Akbar, Mawar melihat paper bag terlihat seragam terakhir yang di pakai Akbar.
Tangisan Mawar pecah, saat seragam terakhir yang penuh darah yang mengering.
__ADS_1
Hiks.. hiks.. hiks..
"Saya kangen kamu Mas, hiks.. hiks.. hiks.. "
Mawar memeluk erat seragam nya, darah kering dan bau darah yang masih melekat di seragam nya.
"Mas, hiks.. hiks.. saya kangen kamu. "
****
Ikhsan menatap pusara Akbar, mata nya memerah menahan tangis.
"Kak, walau kamu bukan kakak kandung saya tapi jujur saya sangat kehilangan. Kak, jujur saya menyesal untuk permintaan kamu terakhir, maaf kan saya. "
Ikhsan mengusap nisan Akbar, di raba nya tulisan nama Akbar.
"Sekarang kakak sudah tenang disana, saya janji akan menjaga Mawar dan anak kakak walau dari jauh. Untuk rasa memiliki, saya tidak akan memaksa karena saya tahu hati dia untuk siapa. Anak kakak akan saya anggap sebagai anak kandung kakak, bukan untuk melanjutkan tapi saya akan menjadi payung mereka. "
****
"Nggak mungkin, nggak mungkin Bang Ikhsan kakak saya. " Ucap Viola.
"Tapi itu fakta Viola, Bunda sudah melihat photo Ikhsan waktu bayi, lihat photo bayi ini sapa dengan photo bayi di rumah nya. " Ucap Ibu Neta.
"Bunda bohong, pasti Bunda ingin memiliki Bang Ikhsan. "
"Benar, Bunda ingin memiliki nya lagi. Karena Ikhsan anak kandung Bunda. "
"Viola, yang di katakan Bunda kamu itu benar. Ikhsan adalah kakak kamu, anak. tiri Ayah. " Ucap Pak Muji.
"Ini pasti bohong. " Ucap Viola pergi meninggalkan Ibu Neta dan Pak Muji.
Viola berlari sambil menangis, saat tepat Ikhsan datang. Mata mereka saling beradu pandang.
"Apakah itu benar Bang? " Ucap Viola.
"Saya tidak tahu. " Ucap Ikhsan langsung berjalan masuk.
"Kalau benar, berati Abang adalah kakak saya."
Ikhsan diam mematung tak melanjutkan lagi langkah kaki nya.
"Bang, boleh saya panggil kakak."
"Saya bukan kakak kamu. " Ucap Ikhsan langsung pergi meninggalkan Viola.
*****
Rumah Pak Muji kedatangan tamu, kedua orang tua Pak Muji. Terlihat Viola di sayang oleh kedua kakek nenek nya.
Ikhsan yang melihat nya tersenyum kecut, dan terus menatap dari jauh.
"Jadi kalian berdua yang menolak hadir nya saya, setelah keluarga dari Ibu Neta. Sebegitu rendah nya kah Ayah kandung saya, dan sebegitu tak ada belas kasih nya saya sampai di tolak oleh kalian."
__ADS_1
Saat Ibu Fatmah menatap ke luar terlihat Ikhsan terus menatap nya, hingga mencolek suaminya Pak Ridwan.
"Lihat nggak sopan dia, anak buah Muji. Harus di kasih tindakan disiplin."
"Muji, kamu kasih teguran pada anak buah kamu yang sedang melihat kita. " Ucap Pak Ridwan.
"Maaf kan Ikhsan. '
" Oh.. namanya Ikhsan, kasih teguran dia. "
"Nanti saya akan kasih teguran. "
Ibu Neta hanya diam, sedangkan Ikhsan berjalan mendekat dan membuat Pak Muji dan Ibu Neta sangat terkejut atas keberanian Ikhsan mendekat.
"Muji, dia anak buah kamu kan? " Ucap Pak Ridwan.
"Benar Ayah, Ikhsan ada apa? " Ucap Pak Muji.
"Saya hanya kenal sama kedua orang tua di depan saya. "
"Ikhsan, kamu ikut Bunda. " Ibu Neta.
"Siapa dia? " Tanya Ibu Fatma.
"Jadi ini Bu, mereka yang menolak saya. Orang tua Pak Muji. Kalian nggak punya hati, nggak punya otak. Bu, saya di temukan dalam keadaan kedinginan, karena mereka Ibu menurut. Hati kalian ini terbuat dari apa, saya bayi yang di buang 31 tahun yang lalu di depan sebuah toko. Wanita yang di depan saya ini yang melahirkan saya, karena paksaan dia membuang saya. Untung saya dirawat oleh pasangan suami istri yang mendidik saya hingga saya menjadi seorang Tentara. "
"Jangan bilang ini anak kamu Neta. " Ucap Ibu Fatmah.
"Dia anak saya Bu, saya sudah memeriksa identitas nya. " Ucap Ibu Neta.
"Kalau iya kenapa? Kalian ingin melenyapkan saya, silahkan ini pistol di tangan saya kalau kalian tidak ingin hadir nya saya. Saya jujur kadang ingin tahu siapa wanita yang melahirkan saya, siapa orang yang menyuruh membuang saya. Pria di depan kalian ini, saya bukan sampah. Sekarang Ibu mencari saya, kenapa baru sekarang kenapa tidak dari dulu cari saya. Kalian berikan kasih sayang untuk Viola, saya tidak pernah merasakan kasih sayang dari Ibu dan Ayah saya pun tidak tahu seperti apa. Sekarang saya adalah anak yang kalian tolak, kalian lihat saya bukan lah orang yang lemah. Saya putuskan mengundurkan diri dari sini. "
"Jangan pergi Ikhsan, Bunda mohon. " Ucap Ibu Neta.
"Ikhsan, saya jelas menerima kamu. Tapi semuanya terlambat. Ayah mohon kamu jangan pergi tinggal kan Bunda lagi. "
"Tolong, lepaskan saya. Kabulkan perpindahan tugas saya Pak Jenderal. "
"Ayah, Ibu tolong jangan biarkan anak saya pergi lagi. " Ucap Ibu Neta sambil bersujud di kedua kaki mertua nya.
"Ayah Ibu, itu cerita masa lalu. Dia sekarang sudah dewasa. " Ucap Pak Muji.
"Kami tidak akan pernah menerima anak dari Neta. " Ucap Pak Ridwan.
.
.
.
.
.
__ADS_1