
"Mau makan apa? " Tanya Ikhsan.
"Ehm... mau makan apa ya? " Ucap Mawar sambil memilih lauk an di depan nya.
"Kamu kan suka sama Ikan, mau makan sama Ikan? "
"Nggak akh, ribet buang duri nya. "
"Nanti Mas buangin, Bu nasi nya dua sama Ikan emas goreng nya 2 , sambal sama lalaban. " Ucap Ikhsan.
"Sayur asem nya Pak? " Ucap Penjual.
"Boleh, dua mangkok. " Ucap Ikhsan.
Mawar dan Ikhsan duduk di salah satu meja makan, sambil sesekali mengusap perut nya yang merasakan sangat lapar.
"Lapar ya nak, nanti ya. " Ucap Ikhsan sambil menatap perut Mawar.
Makanan yang di pesan pun datang, saat Mawar akan mengambil ikan goreng Ikhsan melarang nya. Ikhsan membantu memisahkan antara duri dan daging nya.
"Makan, sudah Mas pisahkan. "
Mawar pun lalu makan dengan tangan tanpa sendok, Ikhsan melihat Mawar makan dengan sangat lahap.
"Mas nggak makan? "
"Gampang, kamu aja dulu. "
Saat sedang makan ada sepasang suami istri yang sedang duduk tepat di depan Mawar dan Ikhsan, mereka melihat kedekatan antara Ikhsan dan Mawar.
"Bukan nya itu, istri nya Almarhum Akbar dan itu adik nya? " Ucap Wanita tersebut.
"Benar Bu, apa turun ranjang ya? "Ucap si pria.
" Suami belum 100 hari sudah jalan sama pria lain, adik nya pula. Pantas nya wanita 1 tahun baru jalan sama pria lain, ini malah belum 100 hari. "
Ikhsan dan Mawar mendengar percakapan mereka, Mawar langsung menyudahi makan nya.
"Kenapa? " Tanya Ikhsan.
"Nggak selera lagi. " Jawab Mawar.
Ikhsan menatap sekilas orang yang membicarakan nya, orang yang di kenal di lingkungan rumah nya.
"Mas mau kemana? " Tanya Mawar saat Ikhsan akan bangun dari duduk nya.
"Mas mau negur mereka. " Jawab Ikhsan.
"Jangan Mas, memang benar yang di katakan mereka saya yang nggak pantas. "
"Peduli apa mereka, kita saja nggak pernah ikut campur urusan nya. Kita hanya makan bukan berbuat yang melanggar normal agama. "
"Sudah biarkan saja. "
"Sekarang lanjut makan nya, masih banyak."
"Nggak, kenyang Mas. "
"Makan, kalau nggak Mas suapin kamu biar tambah bahan gosip buat tuh orang. "
Akhirnya Mawar pun kembali makan, hingga satu piring habis bahkan nambah.
****
Ikhsan merebahkan tubuh nya di Sofa, sedangkan Mawar masuk kedalam kamar nya untuk berganti pakaian.
"Mas, kok masih di rumah saja? Kapan berangkat lagi. " Tanya Mawar.
__ADS_1
"Mas ingin keluar tidak bisa. "
"Mas mau berhenti? "
"Iya, Mas tadi nya begitu. "
"Kenapa Mas, sayang loh. "
"Kalau Mas berhenti nggak keren lagi ya. "
"Ya nggak gitu, Mas keluar kan pasti ada alasan nya. "
"Mas, ingin tenang, hidup biasa tanpa aturan."
"Apa ada hubungan nya dengan Ibu kandung Mas dan suami nya? "
"Iya."
"Mas, jangan merugikan diri sendiri. Mas ini terlalu emosional, tahan Mas emosi nya jangan terus begini."
"Apa kamu nggak bisa merasakan nya, bagaimana perasaan saya kerja sama orang yang sudah membuang saya. Memutuskan untuk keluar adalah keputusan yang tepat, dari pada tunduk menjadi bawahan mereka."
"Mas, bagaimana pun dia orang tua Mas. "
"Sudah Mawar, jangan rubah mood nya Mas. Mas ingin ketemu sama kamu bukan mengajak untuk ribut ya. "
"Mas kembali Dinas, jangan mangkir terus. "
"Iya, nanti Mas kembali Dinas. "
"Saya nggak mau Mas kehilangan pekerjaan ini. "
"Tenang saja, Mas nggak akan di pecat. Wanita itu pasti memohon pada suami nya."
"Sok tahu. "
"Ya kan alasan nya nggak jelas. "
"Satu itu, kedua Pak Muji melarang Mas keluar. "
"Dari sini bisa mikir kan, mereka itu peduli sama Mas. "
"Sudah jangan bahas mereka, Mas pulang, malas bahas itu terus. "Ucap Ikhsan langsung berdiri.
" Hati - hati di jalan nya. "
"Iya, Mas pamit. Assalamu'alaikum. "
"Walaikumsalam."
*****
"Apa kabar? " Sapa Ibu Neta sambil menenteng beberapa kantong kresek berisi makanan dan buah - buah an.
"Baik Ibu, silahkan masuk. "
"Ibu Bapak masih berdagang ya? "
"Masih bu, sebulan sekali pulang. "
"Oh iya Ibu harus panggil apa ya ke kamu?"
"Panggil saja saya Mawar bu. "
"Mawar, boleh Ibu minta bantuan? "
"Bantuan apa? "
__ADS_1
"Ibu bawa ini buat kamu sama Ikhsan, Ibu nggak tahu dia suka buah apa atau makanan apa. Tolong kamu kasih ke dia. "
"Kenapa harus saya, Ibu bisa datang sendiri ke rumah nya. "
"Kamu tahu sendiri, dia kan belum bisa menerima Ibu. Dan Ibu tahu kamu adalah bagian masa lalu Ikhsan. "
"Bu, maaf sebelumnya. Mas Ikhsan itu kecewa sama Ibu, dia sakit hati sama Ibu. "
"Ibu tahu, Ibu sudah berbagai cara tapi dia tidak mau menerima Ibu. "
"Ibu jangan menyerah ya. "
"Dia keluar dari rumah Dinas, memutuskan untuk keluar tapi saya memohon pada suami saya agar jangan pecat dia atau mengabulkan keinginan nya. Ibu ingin dia tetap jadi Tentara sebelum mengenal kami, Ibu tidak ingin dia memutuskan keluar karena kami. Karena ancaman suami saya keluar dari rumah Dinas kamu saya pecat, dia memilih di pecat atau mengundurkan diri. "
"Insya Allah saya akan coba bantu ya bu."
"Terima kasih Mawar, usia kandungan nya sudah berapa bulan? "
"Mau masuk 7 bulan bu. "
"Sehat - sehat ya nak, semoga lancar sampai persalinan. "
"Amin bu, terima kasih. "
*****
"Banyak amat, ada buah ada kue. " Ucap Ikhsan.
"Takut Mas kelaparan. " Ucap Mawar.
"Saya mampir sebentar, langsung mau cek kandungan. "
"Mas antar. "
"Nggak usah Mas, terima kasih. Saya hanya antar itu saja. "
"Kalau belanja banyak lagi - lagi hubungi Mas nanti Mas antar. "
"Nggak Mas, nanti apa kata orang. "
"Mas sudah janji, akan jadi payung kamu."
"Saya nggak pantas Mas, sudah banyak menyakiti hati Mas. Dan tidak selamanya Mas itu akan selalu ada buat saya. Suatu saat Mas juga akan punya keluarga tidak mungkin akan seperti ini terus. "
"Mas tidak akan pernah untuk berkeluarga selain sama kamu, Mas sudah memutuskan untuk sendiri. Mas akan bahagia dengan cara Mas sendiri. "
"Mas, setelah Mas Akbar pergi. Saya memutuskan untuk tetap menjaga hati saya pun banyak salah pada dia, kita lebih baik seperti ini sebagai saudara Mas. Carilah pendamping hidup. "
"Mas antar kamu sekarang, nanti Mas siap - siap dulu. "
Mawar ingin mencegah namun Ikhsan melangkah masuk kedalam kamar nya, Mawar melihat sekilas dari luar terlihat lukisan besar Mawar dah Ikhsan telah di pajang di dinding.
"Yuk." Ucap Ikhsan yang sudah siap.
"Mas kenapa masih memajang lukisan itu, kemarin sudah di copot sekarang di pasang."
"Masalah, nggak ada kan Mas bukan merebut istri orang. Yuk akh kita jalan, jalanan macet nanti lama lagi. "
.
.
.
.
.
__ADS_1