Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Tak Pantas Untuk Kamu


__ADS_3

"Mas...!! " Mawar mendorong tubuh Akbar yang menindih nya dengan segera Mawar memakai pakaian nya yang sempurna tak tertutup.


Akbar menjauh dengan mengusap kasar wajah nya, setelah apa yang dia lakukan pada Mawar.


"Maaf, Mas salah. "


"Saya sudah mengkhianati dia Mas. "


"Saya tahu, saya akan bertanggung jawab. "


"Saya akan rahasiakan ini, karena kita hanya hampir saja melakukan nya. "


"Tapi tubuh kamu sudah Mas lihat sempurna tanpa penghalang. "


"Biar ini jadi rahasia saya. "


"Nggak, saya akan bertanggung jawab. Cukup tubuh kamu hanya Mas yang lihat, pria lain tak boleh terutama kekasih kamu."


"Saya tidak mencintai Mas. "


"Lantas tadi itu apa, kalau kamu tidak cinta. Apa sebagai pelampiasan? "


"Saya akan meminta Ibu dan Bapak melamar kamu secepatnya , Saya harus berani berbuat dan berani bertanggung jawab. "


"Nggak Mas, saya akan menunggu dia."


"Mas mencintai kamu. "


"Saya tidak mencintai Mas. "


"Lalu itu apa, rela melakukan sama Mas? "


Mawar hanya diam, dan memeluk kedua lutut nya dengan terisak.


"Apakah kamu rindu sama dia, hingga kamu lampiaskan sama Mas? "


"Entah, saya terbawa suasana."


"Mas akan bertanggung jawab. "


Lampu pun menyala tepat Adzan Shubuh berkumandang, mata Akbar melihat figura yang pecah.


Akbar mendekat dan mengambil photo tersebut, tubuh nya terasa sangat begitu lemas lantas melemparkan photo tersebut sembarang.


Mawar terus berada di dalam kamar nya, sedangkan Akbar sudah rapih dan akan kembali pulang.


"Mawar, Mas minta maaf. Kalau Mas sudah memisahkan kalian. Tapi Mas akan bertanggung jawab, walau kita hampir tapi saya tidak mau kamu membawa cerita ini sampai kamu menikah dengan nya lebih baik sekarang dari pada nanti. "


Mawar hanya diam, hingga Akbar pergi dan terdengar mobil nya pun menjauh.


Hiks.. hiks... hiks...


"Maaf kan saya Mas. "


Suara dering ponsel terus berdering namun Mawar tak merespon nya hingga beberapa kali.


Sedangkan di tempat lain, Ikhsan merasakan sangat khawatir pada Mawar, sudah seratus panggilan namun tak kunjung di angkat.


"Kamu kemana sih, jangan buat Mas khawatir."


****


Ceklek


"Mba ini saya antar kan bunga Mawar untuk mba, dan ada pesan dari Bang Ikhsan untuk angkat telepon nya. "


"Terima kasih Ucup. "

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit. "


"Iya Cup makasih."


Mawar mengganti bunga Mawar tersebut dengan yang baru, air mata nya keluar begitu saja hingga merasakan sesak di dada.


"Maaf kan saya Mas."


Hiks.. hiks.. hiks..


Mawar lihat beberapa panggilan hingga chat dari Ikhsan, Mawar pun mengabaikan panggilan dari Ikhsan.


*****


"Kenapa Bang? " Tanya Willy.


"Mawar kenapa ya, sejak semalam nggak di angkat. Tapi kata Ucup dia ada malah menerima bunga mawar dari saya. " Jawab Ikhsan.


"Apa kalian ada masalah? "


"Nggak ada masalah, saya khawatir. Saya masih kepikiran mimpi tadi malam."


"Mimpi apa? "


"Mawar pergi dengan pria lain."


"Hanya mimpi Bang, hanya bunga tidur."


"Tapi hati saya kok nggak enak ya. "


"Santai Bang, mungkin perasaan Abang saja."


"Iya kali ya. "


*****


"Kamu pulang - pulang minta melamar Mawar?" Tanya Ibu Sari.


"Bapak akan hubungi Hadi dulu nak, jangan sembrono dan walau kalian di jodohkan juga dan kamu setuju sama - sama mau ya harus di bicarakan dulu. " Ucap Pak Joko.


"Baik Pak, saya ikut apa kata Bapak saja. Tapi saya harus menikah dengan Mawar. " Ucap Ikhsan.


*****


"Alhamdulillah, kamu akhirnya jawab juga telepon Mas. Kamu tahu Mas sangat khawatir, kamu tidak menghubungi Mas." Ucap Ikhsan dari seberang.


"Mas."


"Iya sayang. "


"Maaf kan saya. "


"Maaf kenapa? "


"Maaf kalau saya menyakiti Mas. "


"Kamu nggak menyakiti hati Mas kok, malah Mas yang buat kamu kecewa terus. "


"Mas, jangan hubungi saya lagi. "


"Maksud nya apa Yank? "


"Saya itu bukan wanita yang selama ini Mas anggap setia, saya bukan wanita baik - baik untuk Mas. Saya sudah menyakiti hati Mas."


"Mas nggak ngerti deh, kamu jangan ngaco."


"Kita putus Mas, saya nggak pantas dengan Mas. " Ucap Mawar langsung menutup panggilan telepon nya.

__ADS_1


Hiks.. hiks.. hiks...


"Maaf kan saya Mas, saya nggak pantas buat Mas, saya sudah memperlihatkan semua nya untuk pria lain bukan untuk Mas. Maaf kan saya Mas, mungkin saya murah di mata Mas. Maaf kan saya Mas hiks... hiks.. hiks.. "


Ikhsan terdiam hingga ponsel nya terjatuh, kedua kaki nya begitu sangat lemas.


"Kamu pasti bercanda Mawar, kamu hancurkan semua hasil kerja keras saya."


Ikhsan menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya, tak terasa air mata lolos dari kedua sudut kelopak matanya. Dengan segera Ikhsan mengusap nya.


"Pasti kamu bercanda. "


*****


"Ada apa Mas? "


"Mas ingin bicara." Ucap Akbar.


"Silakan duduk." Ucap Mawar.


"Mas sudah meminta Bapak Ibu untuk melamar kamu, bagaimana pun kita harus menikah. Belum tentu kekasih kamu akan menerima kamu, bagaimana pun kamu sudah tersentuh oleh saya. Dan milik kita saling bersentuhan dan hampir masuk. Kita sudah menyimpang, Mas bertanggung jawab. Mas mencintai kamu, mari kita buat suatu keluarga kecil. " Ucap Akbar.


"Kita menikah, saya sudah putuskan kita menikah. " Ucap Mawar.


Akbar tersenyum dan langsung memegang kedua tangan Mawar.


"Terima kasih, kamu sudah menerima Mas."


"Tapi tolong, beri saya waktu agar bisa mencintai Mas dengan tulus."


"Iya, kita sambil jalan."


Mawar tersenyum terpaksa saat Akbar menatap nya dengan tatapan teduh.


*****


"Saya terima perjodohan itu. "


"Alhamdulillah, akhirnya kamu mau menerima nya. Kamu pintar Mawar, buat apa kamu buang kesempatan ini, dan buat apa kamu harapkan pada Ikhsan kalau ada yang minta serius dan dia pun suka sama kamu. Dia keluarga nya sangat jelas, sedangkan Ikhsan kamu saja belum di kenal kan sama keluarga nya dan belum tentu dia baik." Ucap Pak Hadi.


Mawar hanya diam, hati nya pun sakit saat telah mengambil keputusan yang begitu sangat cepat.


"Maafkan saya Mas. "


*****


"Cup, kamu jangan kirim mawar lagu pada saya. " Ucap Mawar.


"Kenapa Mba? "


"Kita tidak ada lagi cerita. "


"Tapi Mba, ini Bang Ikhsan tadi pagi minta kirim seperti biasanya. "


"Nggak usah Ucup, katakan sama dia. Jangan kirim Mawar merah lagi."


"Baik Mba, saya akan sampai kan."


"Terima kasih Ucup. "


"Sama - sama Mba. "


Mawar menatap bunganya Mawar kemarin yang masih sedikit segar, dengan memegang kalung pemberian dari Ikhsan Mawar kembali menangis.


"Maafkan saya Mas. "


Mawar segera masuk kedalam rumah nya dan menutup pintu.

__ADS_1


Akbar menatap dari Jauh Mawar yang masuk kedalam rumah nya kembali.


"Maaf kan saya, Maaf kan Kakak Mirza kalau Kakak memisahkan kalian. Kakak juga jatuh cinta pada nya, maaf kakak tidak tahu kalau Mawar itu kekasih kamu."


__ADS_2