Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Hati Tetap Satu Rasa


__ADS_3

"Terima kasih Bu Pak Sudah menengok kami." Ucap Mawar pada Ibu Neta dan Pak Muji.


"Sama - sama Mawar. "


Ikhsan terus menatap Satria, baby boy yang gemuk dan lucu dengan pipi yang masih memerah.


"Kamu kenapa Ikhsan? " Tanya Pak Muji.


"Gemes banget lihat nya. " Jawab Ikhsan.


"Makan nya cepat punya pendamping hidup biar punya yang beginian." Ucap Pak Muji.


Saat itu Ibu Ratih dan Pak Handoko masuk, mereka menatap Ibu Neta dan Pak Muji.


"Bu Ratih. " Sapa Neta dengan senyuman.


Pak Muji bersalaman dengan Pak Handoko dan Ibu Ratih.


"Dari tadi? " Tanya Pak Handoko.


"Tidak juga, tadi datang sekitar pukul 10 an. " Jawab Pak Muji.


Ibu Neta duduk di samping Ibu Ratih yang hanya terus diam.


"Mba Ratih, terima kasih sudah merawat Ikhsan. "


"Sama - sama. " Ucap Ibu Ratih.


"Mba tenang saja, saya tidak akan memisahkan mba sama Ikhsan. Dia tetap akan menjadi anak mba. " Ucap Ibu Neta.


Ibu Ratih lantas menatap ke arah Ibu Neta yang sedang menatap nya juga.


"Terima kasih, Ikhsan bagi kami sudah di anggap anak sendiri sejak kami menemukan nya." Ucap Ibu Ratih.


"Saya juga tidak akan merebut Ikhsan dari kalian, kita bisa menyayangi nya bersama."Ucap Ibu Neta.


****


Mawar merasakan nyeri di bagian jahitan cesar nya dan Ikhsan segera menghampiri Mawar.


" Kenapa, sakit? " Tanya Ikhsan.


"Iya masih terasa bekas nya. " Jawab Mawar.


"Nanti juga lama - lama hilang nyeri nya, kan udah di kasih obat. "


"Masih kerasa. "


"Ya sabar, kan dikit - dikit. "


"Mas, Satria mana? "


"Satria di bawa sama Suster. "


"Oh, Ibu sama Bunda nya Mas sudah pulang?"


"Sudah, tadi Paman sama Bibi sedang di jalan mau kemari. "


"Hallo....!! " Sapa Nirmala bersama Haikal datang membawa sebuah kado yang sangat besar.


"Apa kabar? " Sapa Haikal pada Ikhsan sambil berjabat tangan.


"Alhamdulillah Bang sehat, sekarang tambah gendut saja Bang. " Ucap Ikhsan.

__ADS_1


"Masa, banyak loh yang bilang begitu. " Ucap Haikal.


"Biarin gendut, biar nggak ada yang naksir. " Ucap Nirmala.


"Wah... jangan - Jangan..? " Ucap Ikhsan.


"Biasa nakal nya pria. " Ucap Haikal.


"Bang Haikal begitu Nirmala? " Tanya Mawar.


"Sempat di goda sama pembantu." Jawab Nirmala.


"Abang seperti itu? " Ucap Mawar.


"Nggak Mawar, masa Abang begitu. Kamu juga hati - hati Ikhsan juga masih muda bisa saja di gebet cewek lain. "


"Lah kalau di gebet sama cewek lain apa urusan nya sama saya. " Ucap Santai Mawar.


Ikhsan hanya tersenyum kecut dan langsung makan buah yang ada di atas nakas untuk mengalihkan sikap nya atas ucapan Mawar.


"Yakin, kamu baik - baik saja? " Ucap Nirmala.


"Yakin, emang nya kenapa? " Ucap Mawar.


"Sudah - sudah dari pada mikirin perasaan ini tamu nggak di kasih minum atau makanan? " Ucap Haikal.


******


"Ganteng nya cucu Oma, lihat Pak mirip siapa? " Tanya Ibu Nia.


"Jelas mirip Almarhum Bapak nya. " Ucap Pak Hadi langsung dapat tatapan dari Ibu Nia.


"Mawar, setelah anak ini lahir kamu mau apa?" Tanya Ibu Nia.


"Apa kamu tidak ingin mencari pendamping hidup? " Tanya Ibu Nia kembali.


"Benar apa yang di katakan Bibi kamu. " Ucap Pak Hadi.


"Belum kepikiran sampai situ. "Ucap Mawar.


"Lantas Ikhsan itu bagaimana? " Ucap Pak Hadi.


"Saya nggak mikir kesana sama Mas Ikhsan, sebenarnya dia ingin menikah sama saya tapi saya ingin dia menikah sama wanita lain saja karena saya banyak menyakiti hati nya."


"Benar kata kamu Mawar, lebih baik menolak karena kamu pun sudah menyakiti hati nya. Bibi sama Paman nggak setuju kamu kembali sama Ikhsan. " Ucap Ibu Nia.


"Benar, jangan membuat orang yang kamu sakiti malah kamu sekarang jatuh ke pelukan nya lagi. " Ucap Pak Hadi.


*****


Baby Satria pun telah pulang dari rumah sakit, Mawar di bantu Ibu Ratih menidurkan Baby Satria di atas tempat tidur.


"Satria anteng nggak rewel, jadi ingat waktu bayi nya Akbar. " Ucap Ibu Ratih.


"Satria sekarang ibarat pengganti Mas Akbar disini, semoga kelak kamu bisa melindungi Mamah nak pengganti Almarhum Papah kamu."


"Ibu akan suruh orang jaga kamu sama Satria, bila Ibu sama Bapak nanti dagang. " Ucap Ibu Ratih.


"Benar Mawar, apa yang di katakan sama mertua kamu, kalau kamu kerja Satria butuh ada yang jaga. " Ucap Ibu Nia.


"Ibu atur saja, Ibu cari yang menurut Ibu sangat percaya. Karena saya kan belum kenal semua dengan orang di sekitar sini."


"Nanti Ibu akan cari. "

__ADS_1


*****


"Ikhsan, bisa Paman bicara? " Ucap Pak Hadi.


"Silahkan Paman. " Ucap Ikhsan.


"Paman minta kamu jauhi Mawar. "


"Kenapa? "


"Apa kamu tidak memiliki rasa sakit hati pada dia, kamu tidak pantas memilki Mawar. Dia sudah banyak menyakiti kamu, cari lah wanita lain. "


"Beribu kali bahkan berjuta kali dia menyakiti hati saya, hati ini tetap tidak akan berubah. Kak Akbar pun menyuruh saya untuk menjaga nya. Biar saya menjadi payung untuk nya."


"Bukan berarti kamu harus menikahi nya kan, bukan berarti kamu ulang kisah kasih itu kan."


"Kalau itu saya tidak bisa jamin,Mawar pun menyuruh saya untuk mencari pendamping hidup. "


"Karena keponakan kami sudah banyak menyakiti hati kamu, tolong jauhi Mawar. "


"Saya sudah memaafkan Mawar dari dulu, itu keputusan saya. "


"Hentikan rasa cinta kamu, buang jauh - jauh. Kamu tidak pantas mencintai wanita yang telah menyakiti kamu." Ucap Pak Hadi langsung pergi meninggalkan Ikhsan.


"Paman." Panggil Ikhsan dan membuat Pak Hadi berhenti melangkah.


"Saya ikhlas di perlakukan oleh Mawar seperti ini, tapi biar kan saya melanjutkan nya. "


*****


"Satria."


"Sssstttt, baru saja tidur. Suara Mas pelan kan." Ucap Mawar.


"Mas besok harus kembali, Mas akan merindukan Satria. Apa boleh Mas sering menghubungi kamu demi dengar suara Satria atau photo nya. "


"Boleh Mas, hanya untuk Satria. "


"Kalau ada apa - apa, hubungi Mas. "


"Terima kasih Mas, mungkin saya tidak akan meminta bantuan sama Mas, saya akan melakukan nya sendiri. "


"Menikah lah dengan Mas, apa kamu akan membesarkan sendiri? "


"Mas, carilah wanita lain. Saya nggak pantas, saya sudah menyakiti Mas. Apa Paman belum bicara sama Mas? "


"Sudah, Paman sudah bicara. "


"Itulah jawaban dan alasan nya. "


"Walau kamu telah merobek hati ini, cinta ini tidak akan pernah pudar. "


"Mas, banyak wanita di luar sana yang lebih dari saya, tidak seperti saya. Tidak bisa setia, kita memang tidak akan pernah bisa bersatu. Mas boleh menjadi payung seperti apa Mas Akbar minta bukan berarti memiliki saya seutuhnya. Kamu terlalu baik Mas, kamu terlalu baik untuk kami sehingga saya tidak pantas bila harus bersanding sama kamu."


"Apa bila ada pria lain, kamu akan menerima nya? "


"Saya tidak akan munafik, karena mungkin hati bisa berubah. "


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2