Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Cinta Tak Seindah Di Rasakan


__ADS_3

Mawar memegang perut bagian bawah nya yang terasa sangat sakit, efek kejadian kemarin Akbar tak henti - henti nya terus menghujam Mawar.


Tubuh nya terasa sangat remuk, hingga tak kuat untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Yank, Mas berangkat.Hari ini Mas pulang malam, jangan masak lagi ya. " Ucap Akbar sambil mengusap kepala Mawar.


"Mas, tolong nanti pulang dinas belikan obat anti nyeri ya. "


"Kamu kenapa sayang? "


"Kamu belikan saja, nyeri banget. "


"Iya, nanti Mas belikan. " Ucap Akbar mencium kening Mawar.


"Mas berangkat dulu. "


"Hati - hati. " Ucap Mawar sambil mencium punggung tangan Akbar.


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam."


Mawar pun mengambil ponsel nya lalu menghubungi seseorang.


"Hallo, Nir kamu dimana? " Tanya Mawar.


"Saya di rumah say. " Jawab Nirmala dari seberang.


"Boleh saya ke rumah kamu?"


"Kesini aja, saya lagi bete juga nih. "


"30 menit lagi saya kesana. "


"Ok saya tunggu. "


Mawar pun langsung bersiap - siap untuk pergi ke rumah Nirmala, dengan menahan rasa nyeri Mawar paksakan untuk pergi.


****


"Tumben kamu kesini? " Tanya Nirmala.


"Saya lagi butuh teman curhat. " Jawab Mawar.


"Eh tunggu, pergelangan tangan kamu kenapa merah begini? " Tanya Mawar terkejut.


"Bukan kenapa - napa, ingin gatalan."


"Gatalan apaan, ini bukan gatalan. Ini semacam KDRT. "


Hiks... hiks.. hiks..


"Hey, kenapa kamu menangis. Coba kamu ceritakan sama saya. "


"Kemarin,Mas Akbar menyiksa saya dengan melakukan hubungan suami istri dengan kasar, hingga perut saya sakit. Dia lakukan secara berkali - kali. "


"Apa suami kamu memiliki kelainan?"


"Tidak, dia lakukan itu karena saya marah. Dia telah menyuruh orang untuk memukuli Mas Ikhsan disana. Saya dapat kiriman photo dari Willy, saya marah, saya tampar dia. "

__ADS_1


"Ya Allah, ternyata Bang Akbar jahat. "


"Saya paham dia cemburu, dia kesal pada adik nya. Tapi jangan dengan cara kasar seperti ini, kalau seperti ini membuat saya takut sendiri. "


"Seharusnya, dia tidak seperti itu. Apa tidak bisa di bicarakan baik - baik. "


"Semua nya memang saya yang mulai, saya yang salah. Mas Ikhsan pasti sakit hati, Mas Ikhsan pasti rapuh. Di tambah Mas Akbar memukuli nya. "


"Kamu tinggalkan suami macam dia, buat apa pertahankan rumah tangga seperti ini."


"Saya tidak bisa tinggal kan dia, karena dia itu pilihan saya. Jadi saya harus menanggung resiko nya. "


"Tapi apa kamu tidak lihat, apa yang di perlakuan sama dia pada kamu dan Ikhsan. Pria macam apa dia, pasti Bang Ikhsan sekarang sedang kesakitan, mungkin sakit nya tidak seberapa dari pada sakit hatinya. Dia berani menanggung resiko karena dia pantas seperti itu, karena dia sangat mencintai kamu. "


"Iya saya salah, saya yang mulai. Tapi kami juga tidak tahu kalau Mas Akbar masih saudara Mas Ikhsan. "


"Boleh saya lihat photo nya? " Ucap Nirmala.


Mawar memperlihatkan photo punggung Ikhsan sehingga membuat Nirmala shock.


"Ini ulah suami kamu? "


"Iya, dia menyuruh orang. Mas Ikhsan tidak melawan karena dia tahu siapa yang menyuruh mereka. "


"Benar - benar tidak punya hati, setelah kejadian seperti ini saya merasakan takut sendiri. Ternyata dia kalau marah melebihi singa lapar, Mas Ikhsan tidak pernah kasar sedikit pun pada saya. "


"Jadi kamu menyesal? "


"Tidak, saya tidak menyesal. Karena ini adalah keputusan saya, tapi saya kecewa."


"Kalau kamu tidak menyesal, lebih baik kamu. cuek saja, dan terima takdir suami seperti Bang Akbar. "


******


Dengan langkah tergesa - gesa Mawar langsung berlari menuju ke arah pagar, dan dengan segera menyetop mobil.


Dengan masih terasa nyeri, Mawar tahan dan hanya bisa terisak. Mawar memegang pergelangan tangan nya masih terasa sangat perih hingga sang supir berkali - kali melirik ke arah Mawar.


"Mba, kita mau kemana? " Tanya Supir taksi.


"Antar saya ke bandara Pak. " Jawab Mawar.


"Baik mba. " Ucap supir, langsung menancapkan gas nya.


Akbar pun pulang, terlihat Mawar tidak menyambut nya. Akbar langsung berjalan masuk.


"Pasti Mawar masih marah. " Ucap Akbar.


Akbar membuka pintu rumah nya namun tak ada siapa - siapa.


"Assalamu'alaikum, Yank Mas pulang. " Ucap Akbar.


"Yank, kamu sudah tidur ya. Biasanya kamu selalu menunggu Mas. Ini Mas belikan pesanan kamu, Mas taruh di meja makan ya. "


Akbar berjalan menuju ke arah kamar nya, terlihat kosong. Akbar pun mencari ke setiap ruangan.


"Yank, kamu dimana yank? " Akbar mencoba menghubungi Mawar namun ponsel Mawar terdengar di ruang tengah tergeletak di atas sofa.


"Sial, kamu kemana sih Mawar? Kamu buat suami kamu naik darah terus. " Ucap Akbar geram.

__ADS_1


Akbar mengusap wajah nya dengan kasar dan sesekali mengumpat, dan sesekali berteriak.


"Kamu marah, kamu boleh marah sekarang. Tapi kamu jangan pergi begini Mawar. "


Akbar pun segera berganti pakaian, dan mengambil jaket nya langsung masuk kedalam mobil nya untuk mencari Mawar.


******


"Nah, begitu dong. Traktir saya, kita kan lama nggak jalan berdua. " Ucap Maya.


"Iya, kamu pasti senang. Bisa ngedate bareng sama orang ganteng. "Ucap Ikhsan.


" Wuek, ganteng di lihat dari sedotan."


Hahahahhaa


"Sudah ngaku saja, jangan munafik. "


"Saya suka sama kamu. "


Hahahahaha


"Saya juga suka sama kamu. "


"Saya serius, saya suka sama kamu."


"Maaf May, bagi saya kamu saya anggap sebagai sahabat. "


"Apa hati kamu, masih ada Mawar? "


"Iya, walau dia milik orang lain. "


"Apakah sangat besar cinta kamu, sehingga kamu tidak bisa lepas untuk melupakan nya. Padahal jelas - jelas dia menyakiti kamu."


"Sulit, sangat sulit. Tanpa angin tanpa hujan berakhir begitu saja. "


"Saudara angkat kamu pun jahat, sudah tahu punya adik angkat nya malah di ambil."


"Dia nggak salah, dia nggak tahu. "


"Tapi dia tahu juga kan akhir nya, dan Mawar begitu murah nya sampai merelakan tubuh nya untuk pria yang baru saja di kenal. Dan pria itu adalah yang di jodoh kan sama Paman bibi nya. "


"Semua nya salah, kalau kamu siapa yang salah. Saya juga salah, mengganggu rumah tangga Kak Akbar, pantas dia marah. Karena ini beda cerita. "


"Dia tega memukuli kamu kan, apa dia nggak malu. Dia juga merebut pacar kamu, kakak seperti itu masih saja di bela. Saya nggak habis pikir hati kamu itu seluas apa. "


"Saya tidak bisa mencintai wanita lain, maaf bila saya tolak kamu, saat seperti ini kamu hadir. "


"Nggak masalah, saya pun sadar. Karena saya juga bukan tipe kamu. "


"Lebih indah seperti ini May, saya tidak mau hubungan kita hancur karena cinta. "


"Jujur Ikhsan, saya dari dulu suka sama kamu."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2