
"Mawar, bangun. " Ucap Ikhsan menepuk pelan lengan Mawar.
"Mas Akbar, mas.. Mas Akbar.. " Mawar terus memanggil nama Akbar dengan mata yang terus terpejam.
"Ikhsan, Mawar mengigau demam nya belum juga turu. " Ucap Ibu Nia.
"Mawar, bangun. " Ucap pelan Ikhsan.
"Bibi panggil Dokter sekarang. " Ucap Ibu Nia langsung keluar kamar untuk mencari dokter.
Dokter pun lalu masuk dan memeriksa keadaan Mawar, suhu tubuh nya semakin panas.
"Saya akan suntikan kembali obat demam nya, dua jam yang lalu sudah di kasih obat kan? "
"Sudah Dok. " Ucap Ikhsan.
"Baik, saya pamit dulu. Kalau ada keluhan lagi nanti hubungi suster jaga saja." Ucap Dokter.
"Baik Dok, makasih. "
Setelah Dokter pergi Ibu Nia duduk di samping Ikhsan yang sedang memainkan ponsel nya.
"Ikhsan, setelah 7 hari Bibi sama Paman akan bawa pulang Mawar. "
"Kenapa di bawa pulang?"
"Apa kamu mau menikahi Mawar dan membawa nya dari rumah terkutuk itu. "
"Saya mendapatkan wasiat untuk menjaga Mawar, apa Mawar juga akan mau pulang ke tempat asal nya. "
"Bibi tidak terima atas perlakuan Ibu kamu, mertua macam apa. Kalau Ibu kamu tidak seperti itu mungkin Akbar masih hidup. Dan kamu juga Ikhsan, jadi orang itu sensitif sekali, gara - gara kamu juga yang nggak mau pulang jadi korban nya ponakan Bibi dan suami nya. "
"Maaf kan saya. "
"Persetan dengan wasiat, kami akan bawa Mawar. "
****
Mawar membuka mata nya, sangat terasa berat dan pusing di bagian kepala nya,Mawar melihat Ikhsan yang sedang berbaring di sofa panjang tunggu pasien.
Mawar berusaha bangun namun kepala nya semakin pusing, hingga kembali berbaring. Ikhsan menggeliat dan membuka mata nya, terlihat Mawar sedang memijat kepala nya.
"Pusing kepala nya? " Tanya Ikhsan langsung mendekat.
"Jam berapa Mas? " Tanya Mawar.
"Jam 1 malam, kenapa? "Jawab Ikhsan kembali bertanya.
"Kita hanya berdua? "
"Bibi pulang dulu, karena nggak bawa apa - apa, besok pagi baru kemari."
"Saya ingin pulang, tidur di rumah."
"Nggak, kamu masih belum fit. Kasihan calon anak kamu. "
"Kenapa, nyawa ini tidak di ambil saja. Kenapa saya tidak menyusul suami saya ke alam keabadian. "
"Sssttt nggak boleh begitu, anak kamu masih ingin melihat dunia. "
"Buat apa kami hidup, buat apa kalau tanpa orang yang selalu menjadi pelindung kami."
"Saya akan melindungi kalian, saya akan menjadi payung kalian. "
__ADS_1
"Kenapa, apa Mas meminta saya kembali karena saingan nya Mas sudah meninggal dunia. "
"Kenapa kamu bicara begitu? Kalau pun saya meminta kamu, setelah masa iddah kita menikah. "
"Mas nggak perlu kasihan, saya masih bisa berdiri sendiri. "
"Kak Akbar, saat akan menghembuskan nafas nya dia meminta Mas untuk menjaga kalian bahkan dia bicara mengembalikan kepada saya. "
"Mas Akbar bicara seperti itu? "
"Iya, dia ingin Mas melanjutkan nya dan kembali pada kamu. "
"Ya Allah Mas Akbar, kenapa harus seperti itu."
"Mas menyesal, saat dia ingin bertemu Mas lebih lama lagi. Mas menolak, ternyata itu terakhir kali nya. "
"Mas Akbar, sering mengatakan seperti terasa dekat dengan kematian. Ternyata pamit nya dia ingin menemui Mas adalah pamit untuk selama nya. " Ucap Mawar terisak.
*****
"Ibu Neta. " Ucap Ikhsan saat baru sampai rumah nya.
"Bunda kemari hanya ingin mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya kakak kamu." Ucap Ibu Neta.
"Terima kasih Bu. " Ucap Ikhsan.
"Boleh Bunda masuk? "
"Silahkan."
"Ada tamu ya. " Sapa Ibu Ratih langsung menyalami Ibu Neta.
"Siapa dia? "
"Dia istri dari atasan Ikhsan, istri dari Jenderal Muji. "
"Nggak perlu Bu, terima kasih. " Ucap Ibu Neta.
"Maaf, rumah nya tidak terlalu besar."
"Jangan begitu, rumah saya juga nggak terlalu besar. " Ucap Ibu Neta.
"Bu, boleh saya melihat photo Ikhsan? " Ucap Ibu Neta.
"Oh boleh, nanti saya ambil kan. " Ucap Ibu Ratih.
Ikhsan hanya diam dan terus menundukkan kepalanya, lantas Ibu Ratih datang membawa bingkai photo Ikhsan.
Ibu Neta merasakan getaran, saat melihat Ikhsan saat bayi. Ibu Neta merasakan sangat bahagia ternyata Ikhsan adalah putra nya yang dulu pernah dirinya buang.
"Apa sudah puas menatap photo nya? " Ucap Ikhsan.
Ibu Neta berurai air mata, dan Ibu Ratih tampak bingung.
"Kenapa Bu? " Tanya Ibu Ratih.
"Maafkan sebelum nya Bu, mungkin ini akan membuat Ibu sangat terkejut. " Jawab Ibu Neta.
"Oh iya Bu, Bapak mana? Kita harus ke pemakaman." Ucap Ikhsan memutuskan pembicaraan.
"Iya, Bapak di belakang sedang menerima telepon. "
"Kita siap - siap Bu, keburu panas. " Ucap. Ikhsan dengan wajah datar.
__ADS_1
"Maaf kan saya Bu, kami mau ke pemakaman."
"Oh begitu ya, kalau seperti itu saya pamit. Dan ini hanya sekedar sumbangan dari saya untuk acara 7 hari nanti. " Ucap Ibu Neta sambil menyerah kan amplop warna cokelat.
"Nggak usah Bu, terima kasih. " Ucap Ikhsan langsung menolak amplop yang akan di berikan oleh Ibu Neta.
Ibu Ratih tampak bingung, saat melihat perlakuan Ikhsan pada istri atasan nya.
"Kalau begitu saya pamit. " Ucap Ibu Neta dengan wajah sedikit kecewa.
" Hati - hati di jalan. " Ucap Ikhsan.
***
"Kamu nggak sopan. "
"Ibu kalau tidak tahu apa - apa tidak usah protes. "
"Ada apa sih Bu? " Tanya Pak Handoko.
"Ikhsan, sama istri atasan nya nggak sopan, kalau di pecat bagaimana? Istri jenderal Pak." Jawab Ibu Ratih.
"Ikhsan kamu kenapa seperti itu, kamu bawahan harus tunduk pada atasan. " Ucap Pak Handoko.
"Bapak sama Ibu kalau nggak tahu apa - apa tidak usah protes, ini masalah saya."
"Kamu punya masalah apa? " Tanya Pak Handoko.
"Bukan apa - apa Pak. " Jawab Ikhsan.
****
"Setelah 7 hari, kamu pulang sama paman dan Bibi. " Ucap Ibu Nia.
"Nggak bisa Bisa, saya sedang menunggu SK karena saya di terima sebagai PNS. " Ucap Mawar.
"PNS." Ucap Pak Hadi.
"Alhamdulillah, saya sekarang sudah jadi PNS. Atas doa Paman Bibi cita - cita saya tercapai. "
"Selamat nak. " Ucap Ibu Nia.
"Terima kasih. "
"Tapi, kamu harus keluar dari rumah itu. Carilah tempat tinggal. " Ucap Ibu Nia.
"Benar nak, Paman sakit saat tahu Ratih tiba - tiba membenci kamu. " Ucap Pak Hadi.
"Banyak kenangan disana Paman Bibi. "
"Apa kamu mau disana, dengan keadaan mertua wanita sangat membenci kamu. Paman Bibi akan cari rumah untuk kamu tinggal, asal keluar dari sana. " Ucap Ibu Nia.
"Paman mengerti rasanya jadi kamu, tapi kamu harus ambil tindakan. "
"Tanah kuburan saja masih basah, saya belum bisa meninggalkan kamar itu. "
"Nak, kami ingin kamu bahagia. Kami ingin kamu jauh dari segala masalah. Kami tidak terima kalau kamu di perlakukan seperti itu."
.
.
.
__ADS_1
.
.