
Di perjalanan Ikhsan dan Viola terus bercanda hingga di dalam mobil sangat ramai dengan kejahilan mereka berdua.
Alex yang sedang menyetir mobil sesekali melirik ke arah Viola yang sedang menjahili kakak nya. Sedangkan Pak Muji dan Ibu Neta berada di mobil paling depan.
"Lex, dari tadi saya perhatikan kamu lihatin Viola terus, kamu naksir? " Ucap Ikhsan.
"Apa boleh, saksi nya kamu Bimo. " Ucap Alex.
"Hahahaha di depan kakak nya langsung, coba sama Pak Muji langsung kamu berani tidak? " Ucap Bimo.
"Kalau saya nggak masalah, tapi nih yang di sebelah bagaimana? " Ucap Ikhsan pada Viola.
"Apaan? " Tanya Viola.
Eeheemm
Alex berdehem dengan membenarkan posisi duduk nya menatap lurus.
"Biasa aja kali Lex. " Ucap Bimo.
"Apaan sih kak? "
"Mana Kakak tahu. "
Mobil pun sampai pada sebuah desa dengan jalanan yang masih bebatuan kecil dan terjal. Udara yang segar dan masih asri membuat suasana desa tampak tenang dan belum tercemar oleh udara kotor.
"Ini kampung Ayah kamu. " Ucap Ibu Neta.
"Ayah baru sekali kemari, itu dulu ternyata masih banyak yang belum berubah. " Ucap Pak Muji.
"Kita naik ke atas. " Ajak Ibu Neta.
"Mobil aman? " Tanya Ikhsan.
"Tenang saja aman. " Jawab Ibu Neta yang mulai menaiki anak tangga.
Terlihat suasana rumah di tengah perkebunan bambu tampak keluar seorang wanita muda menyambut kedatangan keluarga Ibu Neta.
"Ibu, apa kabar. " Ucap nya lalu mencium punggung tangan Ibu Neta dan Pak Muji.
"Baik Murni, kamu makin cantik saja. " Ucap Ibu Neta.
"Ibu bisa saja. " Ucap Murni.
"Oh iya ini kenalkan, anak Ibu sama Mas Ramli. " Ucap Ibu Neta.
"Ini anak dari Pakde Ramli. "
"Iya Murni, anak Ibu, kakak nya Viola."
Murni menatap lekat Ikhsan yang sedang tersenyum ke arah nya.
"Wajahnya persis bu seperti yang di photo. "
"Photo nya mana? " Tanya Ikhsan.
"Mari ikut saya. "
Ikhsan, Ibu Neta, Pak. Muji dan Viola berjalan mengikuti langkah Ikhsan yang mengikuti langkah Murni.
__ADS_1
"Ini photo almarhum Pakde Ramli saat masih muda. " Ucap Murni.
Ikhsan menatap photo Ayah nya saat masih muda, tangan nya meraba photo tersebut . Ibu Neta mengusap punggung Ikhsan.
"Satu minggu kamu lahir, dia pergi meninggalkan kita untuk selama nya. Wajah nya sama persis seperti kamu dan lihat tidak ada yang terbuang. "
"Ayah, saya hanya bisa melihat kamu dari photo ini. " Ucap Ikhsan.
"Bunda masih ingat saat kamu lahir ke dunia ini, bahagia nya tak bisa di katakan dengan sebuah ungkapan kata - kata. Masih ingat, dia menggendong kamu d saat malam terakhir itu, kamu menangis sangat keras, seolah tahu saat tubuh kamu di tidurkan kamu menangis dan di angkat nya kembali kamu berhenti menangis. "
"Ayah berarti sempat memeluk tubuh saya."
"Benar."
"Ayah sekarang sebagai suami Bunda kamu, tidak pernah merasakan cemburu sama almarhum, bukan berarti karena sudah meninggal dunia. Tapi itu bagian masa lalu Bunda, dan Ayah pun sadar bagaimana cara Ayah itu hadir di kehidupan Bunda kamu." Ucap Pak Muji.
"Terima kasih, Ayah sudah menerima saya. "
"Bertahun - tahun Ayah cari kamu nak, akhirnya doa Ayah terkabul."
*****
"Kamu tambah cantik, pasti perawatan terus." Ucap Murni pada Viola.
"Kamu juga sama. " Ucap Viola.
"Tapi saya nggak pakai apa - apa, masih alami. "
"Saya juga sama, kan mewarisi kecantikan dari Bunda. "
Murni menatap ke arah Ikhsan yang sedang menelepon, Murni sambil tersenyum dan terus menatap Ikhsan dari jauh."
"Ganteng ya, Pakde Ramli pasti dulu nya seperti dia. "
"Photo copy nya. "
"Iya benar. "
Ikhsan bersandar di dibawah pohon mangga sambil mendengarkan ocehan Mawar, Ikhsan hanya menimpali dengan senyuman.
"Sudah ngomong nya? "
"Janji, jangan kirim lagi barang - barang buat anak saya. "
"Itu belum seberapa, nanti datang lagi. "
"Mas, saya kembalikan semua nya. " Ancam Mawar dari seberang.
"Iya, nggak deh. Mas stop dulu. "
Ponsel pun langsung di matikan sepihak, Ikhsan hanya senyum - senyum sendiri, dan saat menatap ke samping terlihat Murni sedang tersenyum ke arah Ikhsan dan Ikhsan lantas membalas senyuman nya.
****
Ikhsan menatap pusara Ayah nya, sebuah doa Ikhsan panjat kan, ada sedikit butiran air mata yang keluar dari kedua sudut mata Ikhsan.
"Ayah, akhir nya saya bisa melihat makam Ayah. Ikhsan senang bisa bertemu dengan Ayah walau hanya makam nya saja. Ayah, semoga kita kelak nanti bisa bertemu di kehidupan selanjutnya."
Ibu Neta memeluk erat Ikhsan dari belakang, Ikhsan mengusap tangan Bunda nya yang melingkar di perut nya.
__ADS_1
"Bagaimana perasaannya? " Tanya Ibu Neta.
"Senang dan sedih, senang bisa melihat wajahnya Ayah sedih bertemu bukan fisik nya melainkan kuburan nya. " Jawab Ikhsan.
"Ayah pasti mendengar doa kamu yang tadi kirim kan untuk nya, Insya Allah Ayah mendapatkan tempat terindah. "
*****
"Murni itu siapa nya Ayah? " Tanya Ikhsan.
"Murni itu, anak yatim piatu. Kedua orang tua nya teman masa kecil Ayah kamu. " Jawab Pak Muji.
"Dia hidup di rumah ini sendirian? " Tanya Ikhsan kembali.
"Tadi nya dengan Ibu nya tapi Ibu nya meninggal dunia. Jadi Bunda sama Ayah menjamin hidup nya hingga SMA, dia tinggal di rumah ini sekaligus merawat peninggalan Ayah kamu. Ini adalah rumah kamu, rumah ini di wariskan untuk kamu. Datang lah kemari sesekali, Bunda sudah lama baru kemari hanya lewat telepon saja sama Murni kadang dia liburan sekolah kesana. "
"Ayah tidak pernah keberatan untuk semua nya? " Ucap Ikhsan.
"Justru ini permintaan Ayah Muji. " Ucap Ibu Neta.
"Ayah, tidak akan pernah memaksa Bunda kamu untuk melupakan masa lalu nya." Ucap Pak Muji.
"Terima kasih. "
****
Murni melihat ponsel Ikhsan berdering, saat ponsel nya mati Murni melihat sebuah wallpaper seorang wanita sedang mencium bunga Mawar.
"Apa pacar nya ya? "
"Hey, hayo mau ngapain ponsel kakak saya. " Ucap Viola yang datang tiba - tiba.
"Ponsel nya bunyi. "
Viola dengan berani mengambil ponsel milik Ikhsan terlihat sebuah panggilan dari nama My Rose.
"Siapa My Rose? " Tanya Murni.
"Pacar nya kali, yang sedang hamil. " Jawab Viola.
"Pacar ny sedang hamil? "
"Ya kakak saya sedang dekat dengan seorang wanita namanya Mawar sedang hamil dan bentar lagi mau melahirkan."
"Yah, saya telat deh. Kirain jomblo. Tapi tunggu kok cewek nya hamil? "
"Kata Bunda, si cewek mantan nya dulu. Sedang hamil suaminya meninggal dunia. Kak Ikhsan sedang mendekati nya kembali."
"Apa nggak ada wanita lain selain dia, sebegitu kah cinta nya hingga tak bisa berpaling. "
"Saya juga tidak mengerti, padahal si wanita nya itu sudah menyakiti hati nya. Entah disini Kakak saya yang bodoh atau sudah habis stok perempuan di mata nya."
.
.
.
.
__ADS_1
.