
"Mas."
Akbar memeluk tubuh Mawar dari belakang dengan menciumi kedua bahu nya, saat Mawar sedang mencuci piring.
"Mas."
"Boleh kan? "
"Boleh, tapi nanti ada Ibu."
"Ibu nggak ada, Bapak juga. Mereka kan masih berdagang. " Ucap Akbar semakin liat tangan nya.
"Mas, nanti dulu kenapa? Bantuin nih cucian piring banyak. "
Akbar melepas kan pelukan kan nya dan membantu mencuci piring, sedangkan Mawar membersihkan meja makan yang masih berantakan.
"Yank, kita bulan madu yuk? " Ajak Akbar.
"Bulan madu, memang nya mau bulan madu kemana? "
"Kamu mau kemana yank? "
"Kemana ya Mas, bingung."
"Yang belum pernah kemana? "
"Ya banyak lah Mas, ke luar negeri. " Ucap Mawar.
"Jangan luar negeri, nanti lagi itu. Kalau kesana, kita harus urus ini itu dulu."
"Memang nya kalau ke luar negeri, Mas Akbar mau gitu? "
Akbar mencuci kedua tangan nya hingga bersih lalu menarik Mawar hingga ikut duduk di pangkuan nya.
"Jangan kan keluar negeri, ke bulan saja Mas sanggup kok. "
"Bohong."
Akbar merogo saku celana nya, dan memberikan sebuah ATM pada Mawar.
"Apa ini? "
"Tabungan Mas juga nggak kalah tebal sama Ikhsan, ini punya kamu semua. Mau gunakan apa aja silahkan. "
"Paling isinya di bawah 10 juta. "
"Eits.. enak aja, pin nya sudah Mas ganti jadi tanggal pernikahan kita. "
"Makasih Mas. "
"Sama - sama sayang. " Ucap Akbar sambil mencolek dagu Mawar.
"Ehm... Yank. "
"Apa?? "
"Boleh nggak, kalau Mas minta sekarang?"
"Boleh, kan Mas sudah jadi suami Mawar."
"Benar? "
"Iya benar, dari kemarin juga sudah siap."
"Mas kira kamu belum siap. "
"Sudah lah Mas. "
Akbar menggendong Mawar ala koala, bibir mereka saling menyatu, ciuman yang sama - sama menuntut hingga membawa mereka berdua masuk kedalam kamar.
Akbar melepas kan kaos atas nya, dan langsung menindih Mawar. Tangan Akbar yang berwisata kesana kemari, hingga membuat Mawar untuk menahan setiap de*****han yang akan keluar.
"Keluarkan saja sayang, kamar ini kedap suara. " Bisik Akbar sambil menggigit kecil telinga Mawar.
__ADS_1
Suara de*****han Mawar membuat Akbar semakin memuncak, hingga tak sadar sama - sama tanpa penghalang.
Mawar memejamkan mata nya saat milik Akbar menerobos masuk hingga Mawar menggigit pundak Akbar.
Tak tahan, air mata Mawar keluar. Akbar pun menyesuaikan tempo nya hingga Mawar menguasai setiap gerakan Akbar.
Kedua nya sama - sama terbuai hingga sama - sama mencapai puncak, Akbar dan Mawar tersenyum sebuah ciuman kembali.
"Kamu sekarang milik Mas seutuhnya." Ucap Akbar mencium kening Mawar.
*****
Ikhsan terus menghisap rokok nya, hingga habis beberapa batang.Willy pun langsung merampas rokok yang ada di tangan Ikhsan.
"Apaan sih Wil. " Ucap Ikhsan kesal.
"Sejak kapan Abang perokok, bukan nya Abang nggak pernah merokok? "
"Kayak perempuan ya kamu mulut nya bawel."
"Abang kan nggak pernah merokok, kenapa tiba - tiba merokok."
"Lagi pengen, ternyata enak aja."
"Bang, sudah sih jangan patah hati terus. Sudah satu bulan yang lalu loh Bang. Sekarang saat nya melangkah ke depan bukan melihat kebelakang terus. "
"Semakin saya belajar melupakan, semakin saya merindukan nya. "
"Ingat Bang, dia sekarang istri Bang Akbar. Bagaimana juga dia sekarang kakak ipar Abang."
"Saya tidak bisa melupakan dia. "
*****
Tok... tok...
Mawar segera berlari kecil ke arah pintu depan saat mendengar suara ketukan pintu.
Ceklek
Mawar tersenyum dan mencium bunga Mawar tersebut.
"Silahkan tanda tangan dulu sebagai tanda terima."
Mawar pun menanda tangani bukti penerimaan bunga.
"Terima kasih Pak. "
"Permisi bu. "
Mawar membawa masuk buket bunga Mawar merah dan meletakkan di atas meja tamu.
"Yank, kok wangi Mawar. " Ucap Akbar sambil merapihkan seragam nya.
"Mas, makasih ya bunga nya. "
"Bunga? " Ucap Akbar diam.
"Ini kan? " Ucap Mawar.
"Mas nggak pesan kan kamu buket bunga. " Ucap Akbar.
"Oh... lupa Mas, kemarin saya pesan buket Mawar. Soalnya saya ingin selalu ada Mawar segar di dalam rumah. Boleh kan Mas?"
"Boleh, kalau mau nanti Mas pesan kan atau Mas tanam bunga Mawar di belakang rumah."
"Hem... boleh deh, nanti Mas tanam ya."
"Iya sayang, Mas akan tanam bunga Mawar buat kamu. "
"Mas mau di masakin apa? "
"Mas mau rendang sapi, di kulkas masih ada stok daging. "
__ADS_1
"Ok deh, nanti saya masakin ya. "
"Kalau begitu Mas berangkat dulu."
"Hati - hati. "
Cup
Akbar mencium bibir Mawar, lalu mengusap perut Mawar yang masih rata.
"Cepat hadir sayang, biar Mamah ada teman main nya. "
"Tanam aja baru beberapa kali, sudah mau minta cepat hadir. Kan ada proses nya Mas."
Hahahhaha....
"Mudah - mudahan saja, bulan depan cepat ada isi nya."
"Amin."
"Ya sudah, Mas berangkat. Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
Mawar menatap buket bunga Mawar yang baru dia terima, dan Mawar membuka kartu ucapan tersebut.
Udara pagi menyapa, tak lupa bunga Mawar segar pun menyapa pada sang pemilik hati. Tak lupa juga sang pemilik hati nan jauh disana, selalu menitipkan bunga mawar merah untuk kekasih hati yang telah mematahkan sayap - sayap nya.
Hati ini tak akan pernah lelah untuk mencintai kamu.
Mawar segera membuang bunga Mawar merah itu kedalam tong sampah dan dengan segera menghubungi Ikhsan. Namun nomer Ikhsan tak bisa di hubungi.
"Maksud nya apa sih tuh orang, malah nomer saya kamu blokir Mas. " Ucap Mawar kesal.
****
Ikhsan tersenyum saat dirinya mengirim kan bunga Mawar untuk Mawar, tawa nya tak henti - henti hingga air mata keluar dari kedua sudut kelopak matanya.
"Pasti suami kamu bertanya - tanya, buket Mawar dari siapa? Dan pasti kamu juga tahu dari saya saat tanya sama suami kamu, dan kamu coba menghubungi saya, sedangkan nomer kamu sudah saya blokir. " Ikhsan tertawa lepas hingga sampai menggebrak meja.
*****
"Kamu baru berkunjung sekarang. " Ucap Nirmala pada Mawar.
"Baru sempat. " Ucap Mawar.
"Nir, Mas Ikhsan mengirim buket Mawar. "
"Serius? "
"Iya, kalau Mas Akbar tahu bisa marah."
"Jangan - jangan, Bang Ikhsan oh my god dia pasti masih ingin memiliki kamu."
"Untung dia jauh. "
"Yang jauh ini bahaya, dia kirim bunga Mawar setiap pagi seperti kebiasaan nya dan membuat kalian bertengkar. Dia pasti ingin rumah tangga kalian hancur."
"Saya paham Nir, dia lakukan karena sakit hati. Saya paham, dia tidak bisa melepaskan saya. "
"Sekarang kamu paham kan, percaya kan kalau Bang Ikhsan itu sangat mencintai kamu. Sekali patah, sakit nya tak akan pernah bisa di obati. "
"Apa yang harus saya lakukan? "
"Bicara sama suami kamu."
"Nggak mungkin, saya nggak mungkin jujur untuk sekarang. Hubungan mereka saja renggang itu karena saya, apalagi tahu istri nya di ganggu sama adik nya dia bisa marah besar."
"Siapa yang dulu bermain api, dia yang harus bisa padam kan."
.
.
__ADS_1
.
.