
Mawar memeriksa kartu peminjam buku dengan sesekali mengusap perut nya yang sedikit kencang.
"Mawar, kamu seperti nggak nyaman? " Tanya Wanti.
"Iya nih kencang banget. " Jawab Mawar.
"Istirahat saja, ada ruangan buat istirahat. "
"Makasih, biar disini saja. "
"Benar nggak apa - apa? "
"Iya nggak apa - apa, tenang saja. "
"Kalau kenapa - napa atau ada yang dirasakan bilang saja. "
"Terima kasih. "
Ponsel Mawar berdering, terlihat Ikhsan yang menelepon nya.
"Hallo Mas, Assalamu'alaikum. "Sapa Mawar.
" Walaikumsalam, Mas ada di luar antar makan siang buat kamu. " Ucap Ikhsan dari seberang.
"Kenapa Mas repot - repot. "
"Nggak apa - apa, mumpung Mas masih ada disini, kalau Mas sudah kembali tugas nggak mungkin begini. "
"Ya sudah nanti saya keluar."
"Siapa? " Tanya Wanti.
"Ada tamu. " Jawab Mawar sambil mematikan ponsel nya.
"Oh...!! "
Mawar pun keluar dari kantor menuju parkiran dan terlihat Ikhsan yang masih duduk di atas motor nya.
"Nih Mas bawakan nasi Jinggo sama buah, pudding sama minum. "
"Banyak banget Mas, nggak bakal muat ini perut. "
"Bisa berbagi sama teman. "
Mawar mengusap perut nya dan sedikit meringis, lalu langsung bersandar di motor Ikhsan.
"Kenapa? " Tanya Ikhsan panik.
"Perut nya kencang banget, di bawah perut nyeri. " Jawab Mawar.
"Ya sudah, istirahat dimana ini? Atau pulang dulu. "
"Sini aja Mas, soalnya naik turun kendaraan nya. "
"Dimana istirahat nya biar enak."
"Di kantin belakang saja. "
Ikhsan berjalan beriringan dengan Mawar, dan banyak mata yang memperhatikan Mawar bersama Ikhsan.
"Apa nggak masalah teman - teman kamu pada liatin? "
"Itu sih Mas nya, kalau nggak nyaman bisa pulang. "
"Gimana mau pulang, kamu saja sedang begini. "
Mawar minum air mineral botol lalu mencicipi makanan yang di bawa oleh Ikhsan.
"Gimana enak nggak? "
"Enak."
"Nanti sore kita ke dokter kandungan lagi. "
__ADS_1
"Kemarin kan sudah. "
"Perut nya kan kencang. "
"Sudah agak enakan dikit. "
"Jangan begitu lah, Mas khawatir kenapa - napa. "
"Insya Allah tidak."
*****
"Ayah, Bunda ingin ketemu sama Ikhsan. " Ucap Ibu Neta.
"Bagaimana Ayah membujuk nya, Bunda saja baru sekali kan meminta bantuan Mawar." Ucap Pak Muji.
"Ayah tolong datangi Mawar, dia adalah orang masa lalu Ikhsan yang sangat Ikhsan cintai."
"Viola sudah mencoba kemarin, kakak tidak mau kemari. " Ucap Viola.
"Kamu menemui Ikhsan? " Tanya Pak Muji.
"Iya Ayah, saya menemui nya. " Jawab Viola.
"Bunda, lihat sendiri kan? " Ucap Pak Muji.
"Bunda hanya ingin lihat dia, walau hanya sekali saja. Kalau besok Bunda di ambil nyawa nya, Bunda sudah tenang. "
"Bunda jangan bicara begitu, mungkin perlu waktu. " Ucap Pak Muji.
"Bunda, Bunda harus sembuh. " Ucap Viola.
"Bunda hanya ingin Kakak kamu sayang, bunda ingin dia kemari. Walau hanya sekali saja Bunda ingin memeluk tubuh nya."
****
Mawar mendengar bunyi ketukan pintu,lantas langsung menuju ke arah pintu. Mawar terkejut saat melihat Pak Muji sudah berada di depan nya.
"Bapak, mari masuk. " Ucap Mawar.
"Bapak mau minum apa? "
"Nggak usah repot - repot, hanya ingin berbicara sesuatu hal yang penting sama kamu. "
"Apa itu Pak? "
"Apa Bapak bisa minta tolong, bujuk Ikhsan untuk menemui istri saya. Dia sedang sakit dan terbaring lemah di rumah sakit."
"Ibu sudah lama? "
"Sudah mau seminggu. "
"Kalau boleh tahu, Ibu sakit apa?"
"Istri saya sakit jantung, dia terus ingin bertemu sama Ikhsan. "
"Tapi bagaimana saya membujuk nya, Mas Ikhsan saja seperti nya menghindari Ibu sama Bapak. "
"Saya tahu, tapi saya mohon sekali saja, untuk mau bertemu sama Ikhsan.Tolong kamu bawa dia, bagaimana cara nya itu terserah kamu. "
"Insya Allah nanti saya sampai kan, Insya Allah nanti saya akan bawa dia untuk bertemu sama Ibu. "
"Terima kasih Mawar, terima kasih."
*****
"Tolong lah Mas, wanita yang sudah melahirkan Mas itu sedang sakit. Dia ingin minta bertemu sama Mas."
"Mas tidak akan mau, mau dia sakit parah pun." Ucap Ikhsan.
"Mas, jangan bicara seperti itu. Bagaimana pun juga dia wanita yang melahirkan Mas, temui Mas, kabulkan permintaan nya."
"Kamu di bayar berapa sama Pak Muji atau Viola, sampai kamu bicara seperti itu."
__ADS_1
"Mas, saya nggak di bayar. Saya seorang wanita, ikut merasakan bagaimana rasanya sakit hati ini karena ulah sendiri. Bagaimana rasa nya ingin meminta maaf, sedangkan yang di mintai maaf seperti ini."
"Kamu ngerti kan, bagaimana Mas perasaan nya. "
"Saya tahu, saya mengerti. Tapi Mas, kamu itu menurut saya sudah keterlaluan."
"Keterlaluan bagaimana, dia yang keterlaluan."
"Coba kalau Mas ada di posisi nya? " Ucap Mawar.
"Mas pasti merasakan hal yang sama." Ucap Mawar kembali.
Ikhsan hanya diam, dan tetap dengan tatapan ke arah Mawar.
"Kalau Mas, masih punya rasa kemanusiaan, rasa sayang pada sesama. Tolong temui dulu, jangan sampai suatu saat nanti menyesal."
"Baik Mas akan kesana. " Ucap Ikhsan.
*****
Mawar bersama Ikhsan menjenguk Ibu Neta, Mawar tanpa tangan kosong membawa parsel buah.
"Seperti nya itu kamar nya, ada orang yang jaga di luar nya. " Tunjuk Ikhsan.
"Iya, Mas kenal semua nya. " Ucap Ikhsan.
"Di dalam ada siapa? " Tanya Ikhsan.
"Apa kabar, kenapa kamu ini. " Tanya kembali Sultan.
"Tahu lah, pasti tahu. " Jawab Ikhsan.
"Temui, siapa tahu kamu datang sembuh."
"Bang, lama tidak jumpa. " Ucap Anwar.
"Iya ya, tapi nanti saya akan mulai kembali bertugas lagi." Ucap Ikhsan.
"Iyalah masa mangkir terus. "Ucap Anwar.
" Sudah sana masuk. " Ucap Sultan.
Ikhsan membuka pelan pintu kamar rawat Ibu Neta, Mawar menggandeng lengan Ikhsan untuk memberikan rasa tidak karuan nya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Mawar.
"Walaikumsalam." Ucap Pak Muji , Viola dan Ibu Neta dengan suara lemah nya.
Ikhsan berjalan masuk di belakang Mawar, Ikhsan langsung tertuju pada seorang wanita yang sedang terbaring lemah dengan alat medis yang terpasang di tubuh nya.
"Ikhsan." Ucap pelan Ibu Neta.
"Mas, mendekat. " Bisik Mawar.
Ikhsan menuruti apa kata Mawar, Ikhsan berjalan mendekat ke tempat tidur Ibu Neta.
"Terima kasih sudah mau datang." Ucap Ibu Neta.
"Maaf kan Bunda, setelah ini Bunda janji nggak akan meminta kamu kesini lagi untuk. temui Bunda. Bunda pun tak apa, bila kamu tidak ingin memanggilnya dengan sapaan Bunda, nggak masalah. Memang Bunda pantas kamu hukum, Bunda salah Bunda minta maaf sudah menyakiti hati kamu. Bunda salah, telah membuang kamu."
Ikhsan hanya diam dengan mata berkaca - kaca sedangkan tatapan nya dirinya buang ke arah samping.
"Boleh kan Bunda memegang kamu? " Tanya Ibu Neta.
Ikhsan hanya diam, tak menghiraukan apa yang di lakukan oleh Ibu Neta.
"Kalau pun tidak boleh tak apa. "
Ikhsan terdiam dan terasa mulut terkunci hingga air mata Ikhsan keluar saat matanya di pejamkan.
.
.
__ADS_1
.
.