Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Kasih Sayang Tanpa Batas


__ADS_3

"Bunda." Ucap Ikhsan.


Ibu Neta terpaku tak percaya saat Ikhsan memanggilnya dengan sebutan Bunda.


"Kamu tadi panggil apa nak? "Ucap Ibu Neta.


" Bunda. " Ucap Ikhsan kembali.


"Hiks.. hiks..hiks... terima kasih ya Allah, sini nak peluk Bunda. "


Ikhsan mendekat dan langsung memeluk Ibu Neta, Ikhsan mengeluarkan air mata nya dan begitu juga Ibu Neta.


"Maaf kan Bunda nak, maaf kan Bunda. "


"Ikhsan minta maaf Bunda, kalau Ikhsan baru sekarang menerima Bunda. "


"Nggak apa - apa Nak, Bunda mengerti kok. Bunda bahagia sekali akhir nya bisa memeluk kamu. "


Ikhsan dan Ibu Neta saling melepaskan pelukan, Ibu Neta membelai wajah Ikhsan yang masih basah air mata.


"Bunda lega nak, bisa tenang hati ini. "


"Bunda, sekarang harus sehat. Biar bisa berkumpul lagi sama Ayah dan Viola."


"Bunda akan berusaha untuk bisa sembuh dan bisa dekat sama kamu."


Pak Muji mengusap punggung Ikhsan, dan Ikhsan langsung mencium punggung tangan Ayah tiri nya.


"Maaf kan Ikhsan Ayah. "


"Ayah tidak pernah merasakan kamu bersalah, terima kasih nak kamu akhirnya kembali. "


"Bunda, tapi bagaimana juga Ibu Ratih dan Pak Handoko adalah orang tua yang merawat saya hingga besar. Saya tidak akan meninggalkan mereka berdua, bagaimana juga mereka adalah orang tua saya."


"Bunda tidak pernah memutuskan tali kamu sama mereka, kamu boleh sepuas nya seperti hal nya kamu belum tahu siapa Bunda. Seperti ini saja Bunda sudah sangat bahagia."


"Terima kasih Bunda. "


Ibu Neta tersenyum kepada Mawar yang sedang duduk bersama Viola, tangan Ibu Neta melambai ke arah Mawar.


Mawar pun lalu berjalan ke arah Ibu Neta sambil sesekali mengusap perut nya.


"Terima kasih, terima kasih kamu sudah membawa Ikhsan kemari. "


"Sama - sama Bu, bagaimana juga kita ini sama sebagai seorang Ibu. Saya pun ikut merasakan nya bagaimana perasaan Ibu."


"Bunda tahu siapa kamu, kamu adalah bagian masa lalu Ikhsan. Sampai sekarang Bunda tahun perasaan Ikhsan sama kamu bagaimana. "


"Itu hanya sebuah kisah, yang akan saya ingat dan simpan. Ibu cepat sehat, biar bisa berkumpul kembali bersama keluarga."


Ikhsan menghampiri Viola yang sejak tadi duduk di sofa, Ikhsan membelai rambut Viola.


"Kamu nggak menyambut kakak kamu? " Ucap Ikhsan.


"Menyambut apa, dari kemarin kita sering ketemu. "


"Menyambut anggota keluarga baru, kita kan kakak adik sekarang."


Viola tersenyum dan langsung memeluk tubuh Ikhsan, Ikhsan membalas pelukan Viola.


"Kakak."


"Rasanya sekarang berbeda kan? "

__ADS_1


"Ih... kakak. " Ucap Viola mendorong tubuh Ikhsan.


"Jadi gimana, masih suka dan jatuh cinta? " Ledek Ikhsan.


"Nggak lah, yang di depan ini kan, kakak saya."


"Oh.. gitu ya. "


*****


"Terima kasih. " Ucap Ikhsan.


"Untuk apa Mas? " Ucap Mawar.


"Kamu sudah menyatukan Mas sama mereka."


"Seperti apa Mas lakukan, Ibu Neta tetap orang tua Mas. Darah dia mengalir di tubuh Mas. "


"Mawar."


"Iya Mas. "


"Apa kita tidak bisa bersatu juga? "


Mawar terdiam dan memilih untuk melanjutkan langkah nya.


"Mawar, mas katakan ini yang kesekian kalinya."


"Tanah kuburan saja, masih baru belum lama. Walau masa iddah saya sudah habis dan bisa menikah lagi atau menjalin hubungan kembali, saya masih belum bisa lepas Mas. Saya masih terlalu merasakan baru kemarin dan serasa masih ada orang nya di samping saya. "


"Mas paham, dan Mas akan tetap menunggu kamu sampai kamu terima Mas dan siap."


"Lebih baik, Mas jangan menunggu saya. Carilah wanita lain yang benar - benar sayang sama Mas dan tidak seperti saya banyak menyakiti hati Mas."


"Karena Mas tidak mau belajar, coba kalau Mas belajar. "


"Tidak bisa, melepaskan kamu saja hati Mas masih tetap sama kamu."


"Maaf Mas, lebih baik seperti ini. Saya masih merasakan tidak pantas untuk kembali pada pria yang begitu sangat baik dan setia. Cukup kisah kemarin saja, jangan ada kelanjutan nya. "


"Apapun yang kamu katakan, Mas akan terus berusaha untuk mendapatkan kamu."


*****


"Gimana kandungan kamu? " Tanya Ibu Ratih.


"Alhamdulillah baik bu, calon bayi nya laki - laki. " Jawab Mawar.


"Alhamdulillah, pak cucu kita laki - laki." Ucap Ibu Ratih pada Pak Handoko.


"Bapak bahagia, semoga kamu lahir selamat ya nak, sehat dua - dua nya. " Ucap Pak Handoko.


"Amin..!! " Ucap Mawar.


"Ikhsan sudah balik tugas Pak? " Tanya Ibu Ratih.


"Tadi ada Mang Dirman, katanya sudah berangkat pagi - pagi sekali." Jawab Pak Handoko.


"Anak itu sudah terlalu lama ambil cuti." Ucap Ibu Ratih.


"Mawar, Bapak mau istirahat dulu. Bu nanti ada yang mau ambil kain, Ibu bangun kan Bapak. "


"Iya Pak, nanti Ibu bangun kan."

__ADS_1


*****


"Bunda senang, kamu pakai seragam lagi. Bunda senang kamu ada disisi Bunda."


"Bunda harus sehat ya, Bunda juga harus teratur minum obat."


Ibu Neta memegang tangan Ikhsan, Ikhsan pun mengusap punggung tangan Ibu Neta.


"Hubungan kamu sama Mawar bagaimana? "


"Baik Bunda. "


"Kamu masih cinta? "


"Dari dulu saya masih cinta, dan tidak bisa berpaling hati saya tetap sama Mawar."


"Kejar dia. "


"Sedang di lakukan. "


"Terus? "


"Dia malah menyuruh saya cari wanita lain."


"Seperti itu. "


"Ya mungkin ini juga terlalu cepat Bund."


"Kalau jodoh pasti akan kembali."


"Bunda, boleh saya tanya? "


"Tanya apa? "


"Makam Ayah dimana? "


"Makam Ayah kamu ada di sebuah desa terpencil dimana asal dia. Bunda lama tidak mengunjungi makam nya. "


"Apakah Bunda memiliki photo Ayah? "


"Bunda masih menyimpan nya, dia persis seperti kamu saat masih muda."


"Kalau boleh tahu, kenapa Bunda bisa berpisah dengan Ayah? "


"Maut yang memisahkan kita, sebenarnya sebelum menikah sama Ayah kamu memang Bunda sudah di jodoh kan sama Ayah nya Viola. Bunda saat itu tidak suka, Bunda tidak cocok setelah Ayah kamu meninggal dunia, Ayah Muji terus mendekati Bunda ternyata pemikiran Bunda salah dia sangat baik, Ayah Muji menerima kamu tapi tidak dengan kedua orang tua nya dan nenek Buyut kamu. Saat itu Ayah Muji sedang satgas sangat jauh jadi dia tidak bisa membela Bunda, Bunda di ancam akan menghabisi kamu dari pada seperti itu lebih baik Bunda memilih yang kedua membuang kamu." Ucap Ibu Neta menjelaskan.


"Sampai sekarang, kenapa mereka masih tetap tidak mau menerima saya. "


"Perlahan nak, kita coba perlahan. "


"Bunda, dari dulu juga saya ingin tahu bagaimana wajah kedua orang tua saya, ternyata Bunda sangat cantik."


"Nanti kalau Bunda sudah sehat kita ke makam Ayah dan ada rumah nya sampai sekarang masih terawat. " Ucap Ibu Neta.


"Ibu juga sama Ayah tidak pernah menutupi rahasia ini, mereka pun menceritakan secara perlahan. Pertama dengar sama sangat sedih."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2