Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Berusaha Kuat


__ADS_3

"Kamu pulang ya nak, Kakak kamu menikah." Ucap Ibu Ratih dari seberang.


"Insya Allah Bu saya pulang." Ucap Ikhsan.


"Jangan insya Allah, kakak kamu menikah masa nggak datang. "


"Iya Ikhsan usaha kan datang."


"Kabar pacar kamu bagaimana, Ibu sudah nggak sabar ingin bertemu dengan dia."


"Ikhsan putus bu, dia menikah dengan pria lain. "


"Ya Allah Ikhsan, benar yang kamu katakan? "


"Mungkin bukan jodoh nya Ikhsan bu, dia dengan mudah nya berpaling dari Ikhsan."


"Sabar ya nak, wanita bukan hanya dia saja."


"Padahal saya sedang mempersiapkan untuk dia Bu, semua nya sia - sia."


"Sabar ya nak, kamu jangan terlalu sedih."


"Pasti akan sulit bu, sulit buat saya."


Setelah menerima telepon dari Ibu nya, Ikhsan lebih memilih duduk menyendiri. Tatapan matanya penuh dengan kebencian.


"Kenapa yang seperti ini juga saya harus mengalah. " Ucap Ikhsan.


"Kenapa harus orang yang saya kenal."


Ikhsan membuka dompet nya dan menatap photo dirinya bersama Mawar.


"Saya tidak bisa melupakan kamu begitu saja, mungkin saya tidak bisa mencintai wanita lain. Terlalu sakit bagi saya untuk saat ini dan saat nanti, saya tidak sanggup untuk melihat semua nya."


*****


Mawar dan kedua Paman bibi nya sudah berada di kediaman Pak Handoko dan Ibu Ratih.


Semua keluarga telah berkumpul untuk acara pernikahan Akbar dan Mawar. Terlihat Mawar yang tengah di henna, dan Akbar sedang bercengkrama dengan saudara - saudaranya.


"Calon pengantin nya cantik ya. " Ucap Salah satu keluarga.


"Benar cantik, Akbar nya juga tampan." Ucap salah satu keluarga Akbar satunya lagi.


"Nak Mawar, gimana Akbar romantis nggak? Dia itu kalem sama semua orang care."


"Alhamdulillah, apa yang di katakan Ibu benar."


"Ratih, Mirza pulang nggak katanya? " Tanya Ibu Munir saudara dari Pak Handoko.


"Nggak tahu, dia bilang insya Allah." Jawab Ibu Ratih.


"Jadi tahun depan menikah kan Mirza? "


"Nggak jadi, calon nya nikah sama orang lain."


"Ya Allah kasihan, padahal Mirza sudah buatkan rumah segede lapangan bola halaman nya, dia banyak mengeluarkan uang tapi nggak tahu terima kasih itu perempuan."

__ADS_1


"Bukan minta mantan nya, tapi itu keinginan Mirza. Dia rela menabung untuk mempersiapkan segala - gala nya."


Akbar dari jauh terus menatap calon istri nya, sesekali lirikan mata mereka beradu pandang. Senyum Mawar saat kedua nya saling bertatap mata.


****


"Mas mau di bawa kemana? " Ucap Mawar saat tangan nya di tarik oleh Akbar.


Hingga di sebuah ruangan seperti ruang kerja, Mawar di sandar kan di sudut ruangan. Akbar langsung mencium bibir Mawar dengan saling *******.


"Mas." Ucap Mawar sambil mendorong pelan.


"Kamu itu membuat Mas gemas saja dari tadi." Ucap Akbar.


"Apaan sih, saya diam aja kok."


"Diam saja bagaimana, melihat kamu saja Mas berasa ingin memakan kamu."


"Sabar, besok kita sah."


"Mas nggak sabar." Akbar kembali mencium bibir Mawar.


"Mas."


"Hem." Ucap Akbar sambil menciumi leher Mawar.


"Sudah, banyak saudara nanti pada nyariin."


"Biarin."


"Ih.. Mas. "


"Sayang, Jangan pergi tinggal kan Mas. "


"Saya mau pergi kemana Mas, besok sudah jadi istri nya Mas nggak akan kemana - mana."


"Mas hanya minta, apapun yang terjadi esok dan seterusnya jangan pernah meninggal Mas."


"Mas, saya sudah melupakan masa lalu, hanya Mas sekarang di hati. Saya sedang belajar untuk mencintai Mas dan membalas nya. Mas tahu, saya seperti ini sekarang bersama Mas karena saya sudah sedikit mencintai Mas. "


"Terima kasih, terima kasih sayang." Akbar kembali mencium bibir Mawar.


******


"Abang yakin akan hadir di pernikahan mereka? " Tanya Willy.


"Saya yakin, saya akan hadir. Bagaimana juga dia kakak saya. " Jawab Ikhsan.


"Tapi bagaimana dengan perasaan Abang?"


"Perasaan sudah sangat sakit, jadi sudah terlanjur saya merasakan nya."


"Mawar belum tahu kan, Bang Akbar itu siapa?"


"Seperti nya begitu, saya akan datang kasih kejutan sama mereka."


"Bang, Abang harus kuat. Abang harus ikhlas."

__ADS_1


"Mungkin saat ini saya belum ikhlas, tapi jujur saya tidak bisa untuk jatuh cinta lagi."


"Bang, setelah pulang dari sana, belajarlah untuk Move on. Karena melupakan itu penting, Mawar saja bisa dengan mudah melupakan Abang tapi kenapa Abang nggak bisa. Abang harus bisa Bang."


*****


Semua nya telah siap, Mawar telah di rias . Wajah cantik nya semakin terpancar hingga semua orang kagum padanya. Tak luput dari pandangan mata Akbar, calon istri nya dengan anggun berjalan menuruni tangga dengan menuju ke arah nya.


Hati Mawar tak karuan, keringat dingin pun keluar. Saat tepat duduk di samping Akbar, Mawar hanya sesekali mengusap dada nya.


"Kenapa? " Bisik Akbar.


"Gugup." Bisik kembali Mawar.


"Mas juga sama. " Ucap Akbar sambil memegang salah satu tangan Mawar.


"Bagaimana sudah siap Mas Akbar? " Tanya Penghulu.


"Sudah siap Pak. " Jawab Akbar.


"Baik, setelah pemeriksaan administrasi nya sudah lengkap. Saya ingin bertanya dulu pada kedua mempelai. Apakah Mba Mawar sudah siap untuk menjadi istri Mas Akbar? "


"Siap Pak. "


"Mas Akbar sudah siap untuk memberikan nafkah lahir batin? "


"Siap Pak. "


"Pernikahan itu bukan untuk main - main, pernikahan itu membina suatu hubungan yang harmonis dan saling terima suka dan duka. Kalau salah satu marah, satu nya jangan ikut Marah tapi mencoba merendam amarah. Jangan saling meninggikan ego." Ucap Pak penghulu.


"Kalau begitu, mari kita mulai proses akad nikah nya. "


Akbar merasakan kegugupan yang sangat luar biasa, hingga tangan nya gemetar.


"Nak, kamu jangan gemetar begitu. " Bisik Ibu Ratih.


"Iya Bu. " Ucap Akbar.


Akbar pun mengarahkan tangan nya pada Pak penghulu untuk melakukan prosesi ijab kabul.


"Tunggu..!!! "


Semua menoleh ke arah Sumber suara, Ikhsan yang masih lengkap dengan seragam nya berjalan ke arah meja penghulu.


"Saya ingin menjadi saksi di pernikahan kakak saya. "


Mawar menatap tak percaya, Ikhsan hadir di hari pernikahan nya. Akbar pun diam seakan mengunci mulut.


"Selamat Kak, alhamdulillah saya bisa hadir di hari pernikahan kakak." Ucap Ikhsan.


"Bapak senang kamu bisa hadir. " Ucap Pak Handoko.


Ikhsan hanya tersenyum ke arah Mawar dengan tatapan penuh arti, Paman bibi Mawar pun sungguh di buat kaget akan kehadiran Ikhsan.


"Silahkan Pak di lanjutkan. " Ucap Ikhsan dengan mengepalkan kedua tangan nya.


Mawar tak sanggup untuk tetap berada di sana, Mawar terus menatap Ikhsan yang duduk di belakang Pak Handoko.

__ADS_1


Terlihat Ikhsan memejamkan matanya saat Akbar mengucapkan kata Sah, air Mata Ikhsan tak bisa lagi di bendung.


Hingga pandangan Mawar yang tiba - tiba gelap dan tak tahu lagi apa yang terjadi, hanya merasakan tubuh nya melayang.


__ADS_2