
Buuuggghhh
Buuuggghhh
Plaaakkk
Plaaakkk
"Kamu seperti nggak punya akhlak Akbar...!! "
Haikal terus memukuli Akbar, hingga tersungkur dan terluka di bagian sudut bibir nya, punggung Akbar Haikal injak hingga tak berdaya.
"Seperti ini kan Ikhsan di hajar...!! "
Buuuggghhh
Arrrggghhh
"Sudah cukup Bang. " Teriak Nirmala yang sedang hamil.
"Sudah cukup Bang, jangan Abang kotori untuk menghabisi orang tak manusiawi. Sekarang Abang lihat kan, karena ulah Abang Mawar pergi. Sekarang apakah Abang menyesal? " Ucap Nirmala.
"Bagaimana tidak, pria lain mencoba merebut Mawar dari saya. Apa saya salah mempertahankan istri saya? " Ucap Akbar.
"Dan, apakah Abang benar telah merebut kekasih adik Abang? " Ucap Nirmala.
"Kalau Abang tidak terus maju, pasti mereka sangat bahagia. Abang asal tahu, Ikhsan itu berhati besar, seperti ini saja cinta dia tidak akan pernah pudar. " Ucap Nirmala.
"Sekarang kamu cari Mawar, jangan sampai ada kabar hal buruk menimpa dia. Kalau sampai itu terjadi saya tidak akan pernah maaf kan kamu." Ucap Haikal
"Saya harus cari kemana lagi ? " Ucap Akbar.
"Pakai otak kamu, seperti kamu menyuruh orang kepercayaan kamu disana untuk menghajar Ikhsan. "
"Saya salah, saya mengaku salah. "
"Masih untung kamu saya tidak laporkan ke atasan kamu, ingat bila saya dengar Ikhsan terjadi sesuatu lagi yang saya tembak duluan itu adalah kamu. "
"Ingat Bang, Mawar dan Ikhsan saling mencintai. Yang jadi orang ketiga itu Abang sehingga membuat Mawar berpaling, tapi Bang Ikhsan sungguh tak pernah luntur cinta nya. " Ucap Nirmala.
******
"Saya pulang kapan Mas? "
"Nanti kalau sudah agak baikan."
"Mas."
"Iya."
"Terima kasih. "
"Sama - sama. "
"Mas."
"Iya."
"Hati kamu itu terbuat dari apa Mas? "
Ikhsan tersenyum ke arah Mawar, dan memegang tangan mantan kekasih nya.
"Hati Mas ini seperti manusia lain, nggak ada yang berbeda. "
"Mas, maafkan saya. "
"Sudahlah jangan minta maaf terus, kamu ingin makan apa? Nanti Mas belikan."
"Nggak usah Mas, saya hanya ingin bersama Mas saja mungkin momen seperti ini tidak akan terjadi lagi."
__ADS_1
Ikhsan tersenyum dan mencium punggung tangan Mawar, lalu menatap mantan kekasih nya.
"Mas janji, setelah kamu pulang nanti Mas tidak akan pernah muncul di depan kamu lagi. Tapi Mas ingin kita menjalani hubungan terlarang untuk sesaat, apa kamu mau? Hanya untuk terakhir kalinya. Mas akan lepaskan kamu dengan ikhlas sekarang."
Mawar tersenyum dan menganggukkan kepala nya serta di sambut Ikhsan memeluk tubuh Mawar.
"Terima kasih sayang." Ucap Ikhsan memeluk erat tubuh Mawar.
****
Di atas tempat tidur rumah sakit, Ikhsan dan Mawar satu selimut. Mawar bersandar di dada Ikhsan, sedangkan Ikhsan terus mengusap perut Mawar.
"Nanti kalau sudah lahir, jaga Mamah sayang. Jangan buat Mamah sedih, dan sayangi papah kamu. "
Mawar tersenyum sambil mengusap tangan yang melingkar di perut nya, sesekali Ikhsan mencium pucuk kepala Mawar.
"Mas, menikahlah setelah ini. Carilah wanita yang benar - benar sayang sama Mas. " Ucap Mawar.
"Mas memutuskan akan sendiri selamanya, Mas ingin membahagiakan diri sendiri dengan cara Mas. "
"Mas, akan hampa suatu saat."
"Biarlah kehampaan ini nanti nya akan membawa Mas sampai ke abadi an."
"Cinta Mas tak akan pernah saya lupakan sampai mata ini tertutup, selamanya akan selalu saya ingat dan simpan." Ucap Mawar.
Ikhsan mencium pipi Mawar, dan memeluk tubuh Mawar semakin erat dan terasa menghangatkan tubuh nya.
******
"Parah, parah kamu Bang. " Ucap Willy.
"Biar tambah dosa saya. " Ucap Ikhsan.
"Bagaimana kalau saudara Abang tahu, pasti kebakaran jenggot."
"Biarlah Will, ini terakhir nya setelah itu saya lepaskan dia dengan ikhlas."
"Inilah yang di namakan cinta pertama dan cinta sejati, selamanya tidak akan pernah mati."
"Bang, semoga Abang mendapatkan yang lebih. "
"Saya sudah menutup hati ini."
"Maksud nya? "
"Sampai mata ini tertutup."
******
Ikhsan dan Mawar tersenyum saat berada di taman rumah sakit, untuk menghirup udara bebas.
"Mas, apa Mas tidak ingin kita berphoto untuk kenang - kenangan? " Ucap Mawar.
"Nggak, Mas nggak ingin biar di ingat di otak kita saja dan di simpan paling dalam."
"Tapi Mas tidak memiliki nya. "
"Kata siapa, di dompet masih."
"Mas, boleh minta sesuatu tidak? "
"Apa? "
"Mas buatkan nama untuk anak saya? "
"Kan ada Bapak nya masa Mas, Mas kan bukan Bapak nya. "
"Ih.. saya ingin nya Mas, yang tahu pertama kan Mas. "
__ADS_1
"Kamu itu ngaco, yang buat nya siapa?"
Mawar cemberut dengan memalingkan wajahnya, Ikhsan pun tersenyum lalu berjongkok di depan Mawar.
"Mentari Jingga, seperti namanya agar selalu bersinar. Satria Prakasa, selalu kuat tak pantang menyerah bagai seorang ksatria. "
"Terima kasih Mas, terima kasih. "
Ikhsan mencium kening laku turun ke bibir, dan menatap lekat kedua mata Mawar.
"Tinggal hitungan jam, kita manfaatkan waktu kita sayang. "
*****
"Sudah boleh pulang, nanti jangan lupa sering kontrol. " Ucap Dokter.
"Siap Dok, terima kasih. "
Ikhsan pun setelah mengurus administrasi dan obat langsung mendorong kursi roda menuju ke arah mobil.
"Mawar, kamu sudah bisa pulang hari ini? " Tanya Maya.
"Iya Maya, terima kasih kemarin sudah memberikan pertolongan pertama buat saya." Jawab Mawar.
"Sama - sama, ingat jangan stress dan capek."
"Iya." Ucap Mawar tersenyum.
"Saya pamit dulu, nanti saya kembalikan ke klinik. " Ucap Ikhsan.
"Santai saja, saya bisa pulang pakai taksi online. " Ucap Maya.
Di perjalanan, tangan Ikhsan selalu di genggam oleh Mawar, sesekali punggung tangan nya Mawar ciumi.
"Mas, saya nggak langsung di pulang kan? "
Ikhsan tersenyum dan tetap fokus menyetir mobil nya.
"Nggak, nunggu kamu sembuh total
Minggu depan saja nanti Mas antar kamu pulang. "
Mawar diam dan menatap lurus ke arah depan, genggaman tangan nya semakin erat Ikhsan pun menepikan mobil nya.
Tubuh Ikhsan di dekat kan pada tubuh Mawar, tengkuk leher nya dia tarik dan langsung mendekat kan bibir nya. Mawar menikmati ciuman Ikhsan, hingga tak terasa Ikhsan melepaskan ciuman nya.
"Kita masih memiliki waktu satu minggu lagi, setelah itu kita tidak lagi bertemu." Ucap Ikhsan sambil mengusap bibir Mawar.
Mata Mawar berkaca - kaca, Ikhsan langsung mencium kedua mata Mawar.
"Saat nanti kita berpisah, Mas pergi kamu jangan menangis.Mas juga nggak akan menangis, kita kan sudah janji harus sama - sama saling melepaskan dan ikhlas. "
"Iya Mas, saya janji nggak akan menangis. "
"Pintar, itu baru namanya kesayangan Mas."
******
Mawar tertidur pulas di pelukan Ikhsan, dengan hati - hati Ikhsan bangun dan menyelimuti tubuh Mawar.
Di kecup nya kening Mawar dan bergegas untuk kembali ke Batalyon.
"Mas pergi dulu. " Ucap pelan Ikhsan.
Ceklek
Sreeeeetttt
Ikhsan memegang perut nya saat merasakan sebuah benda tajam mengenai perut nya hingga darah segar keluar.
__ADS_1
"Seharusnya kemarin saya habisi saja sekalian."
Sebuah hantaman pisau berkali-kali menusuk ke perut Ikhsan hingga tersungkur dan tak sadarkan diri.