
Ikhsan duduk bersama Viola dan Murni yang sedang membuka kado dari para Sahabat dan Mantan. Sesekali Ikhsan melirik Mawar yang sedang mengobrol bersama kedua orang tua dan orang tua angkat nya.
Ikhsan hanya diam dan sambil tangan nya membuka bungkus kertas kado.
"Mas Ikhsan, itu jam tangan nanti di pake ya."
"Oh iya makasih ya. "
"Sama - sama. " Ucap Murni.
Terlihat Mawar berdiri dan menyerahkan Satria pada Ibu Neta, Ikhsan terus menatap ke arah Mawar yang menuju ke arah pintu.
"Kakak kenapa sih, lihatin Mba Mawar terus? " Tanya Viola.
"Nggak apa - apa kok." Ucap Ikhsan.
Mawar pun masuk kembali dengan membawa sesuatu di tangan nya , berjalan mendekati Ikhsan yang sedang duduk bersama Murni dan Viola.
"Mas, ini buat Mas. " Ucap Mawar sambil menyerah kan sebuah Paper bag.
Ikhsan menerima paper bag tersebut dan terlihat sebuah kotak kecil yang di bungkus kertas kado.
"Apa ini? " Tanya Ikhsan sambil tersenyum.
"Buka saja. " Jawab Mawar.
Ikhsan berdiri dan dengan segera menarik tangan Mawar berjalan ke arah taman belakang rumah nya.
"Kita buka sama - sama ya. " Ucap Ikhsan sambil duduk di Gazebo bersama Mawar.
Ikhsan membuka kertas kado yang membungkus kotak tersebut dan saat di buka sebuah jam tangan sport anti air.
"Serius, ini buat Mas? Ini mahal loh. "
"Kalau nggak serius mana mungkin saya kasih itu buat Mas. "
"Makasih ya. "
"Sama - sama. " Ucap Mawar.
"Sekarang nggak di katakan mantan lupa lagi kan, nggak di katakan nggak kasih kado."
"Mas nggak pernah berfikir untuk kamu kasih, nggak kasih juga nggak masalah. Buat Mas ada nya kamu sekarang adalah kado spesial di hari ulang tahun nya Mas. "
"Di pake ya Mas. "
"Pasti lah, Mas akan pake. "
"Mas masih simpan kalung dan cincin itu, masih ada di rumah Mawar. "
"Kenapa masih di simpan? "
"Berharap kamu akan memakai nya nanti."
"Mas."
"Kenapa? "
Mawar memeluk tubuh Ikhsan, Ikhsan yang tak siap merasakan sangat kaget. Ikhsan tersenyum dan membalas pelukan Mawar.
"Kenapa? "
"Makasih ya, makasih sudah mencintai Mawar sangat tulus. Makasih walau sudah di sakiti Mas tetap selalu sabar dan setia. Saya malu Mas. "
"Mas kan bilang, kecewa di awal tapi Mas akan terima kamu apa adanya, Mas sayang kamu sampai detik ini. Mas ingin kita seperti dulu, Mas ingin mewujudkan apa yang kita niat kan."
__ADS_1
Mawar melepaskan pelukan Ikhsan dengan menundukkan kepala nya Mawar terisak, Ikhsan mengangkat dagu Mawar dan mengusap air mata nya.
"Mas tanya sekali lagi, apa rasa itu masih ada?"
Mawar diam dan terus menatap lekat kedua mata Ikhsan begitu juga Ikhsan dengan wajahnya yang sangat dekat dengan Mawar.
"Katakan, masih mencintai Mas. " Ucap Ikhsan yang semakin mendekati wajah Mawar sehingga hembusan nafas nya terasa di wajah.
"Diam nya kamu berarti masih mencintai Mas kan. " Ucap Ikhsan hingga hidung mereka saling bersentuhan.
Mawar memejamkan matanya saat merasakan bibir Ikhsan berada di pipi Mawar, dengan merasakan jantung yang sangat berdebar kencang.
"Kamu munafik tidak mengakui nya, Mas yakin cinta kamu itu masih ada. " Ucap Ikhsan dengan berbisik di telinga Mawar.
"Mawar... kita pulang nak. " Teriak Ibu Ratih dari depan pintu dengan segera Ikhsan dan Mawar saling menjauh.
"Iya Bu. " Ucap Mawar langsung berdiri begitu juga Ikhsan mengikuti Mawar.
"Kita pulang nak sudah malam. "Ucap Ibu Ratih.
" Padahal besok saja pulang nya kalian menginap disini." Ucap Pak Muji.
"Sore nya kami harus pergi lagi, pelanggan sudah banyak yang menunggu." Ucap Pak Handoko.
"Orang dagang sih sibuk terus ya, semoga lancar terus. " Ucap Pak Muji.
"Amin." Ucap Pak Handoko dan Ibu Ratih.
"Oma bakal kangen kamu sayang. " Ucap Ibu Neta sambil menyerah kan Satria pada Mawar.
"Nanti main lagi ya nak, ketemu sama oma Opa. " Ucap Mawar.
"Kalau sudah sampai kabari Papi. " Ucap Ikhsan sambil mencium kedua pipi Satria.
"Saya pamit dulu Mas. " Ucap Mawar.
*****
"Kamu bantu saya dong Viola dekati tuh kakak kamu. " Ucap Murni.
"Bantu bagaimana? "Ucap Viola.
"Jomblangin saya sama kakak kamu."
"Nggak akh, usaha aja sendiri. "
"Kamu mah sama saudara begitu. "
"Kamu lihat, kakak saya bagaimana sama Mba Mawar. Dan kamu lihat kado saja kakak saya bukanya sama dia, dan kamu apa nggak lihat di Gazebo tadi mereka pelukan, kakak saya hampir mau ciuman tapi keburu Ibu angkat nya panggil Mba Mawar."
"Saya akan usaha. "
"Semangat, semoga berhasil. " Ucap Viola.
****
"Sudah sampai Mas. " Ucap Mawar melalui ponsel nya.
"Satria sedang apa? " Tanya Ikhsan dari seberang.
"Satria baru saja bangun, tadi di jalan tidur." Jawab Mawar.
"Mas kalau libur, nanti pulang. "
"Nggak capek? "
__ADS_1
"Nggak lah, kan obat capek nya kalian berdua."
"Mulai lagi kan. "
"Serius, kamu yang utama. "
"Udah akh bikin geli saja telinga. "
"Hahahahaha..."
"Malah ketawa, saya ubah panggilan video ya."
Mawar merubah menjadi panggilan Video dan terlihat Ikhsan sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Satria, lihat Papi. "
"Satria, Papi udah kangen lagi sama kamu."
"Nanti ketemu lagi weekend. "
"Ya sudah, gampang di sambung lagi. Dadah... Satria sayang. "
Mawar mematikan panggilan Video call nya dan mengembangkan senyuman nya.
"Satria sayang Papi nggak? Mamah juga sayang sama Papi. "
*****
"Mas Ikhsan mau berangkat ya? " Tanya Murni.
"Iya, mumpung masih pagi banget. " Jawab Ikhsan.
"Murni buatkan susu sama roti bakar, Mas Ikhsan sarapan dulu."
"Makasih Murni. " Ucap Ikhsan langsung menyambar roti bakar dan susu hangat.
"Kayak nya punya suami seperti Mas Ikhsan pasti bahagia dunia akhirat."
"Kamu carilah yang seperti saya."
"Kalau memang Mas Ikhsan, apa Mas Ikhsan menerima saya? "
Ikhsan tersenyum lalu meminum susu hangat dari Murni dan meletakkan di atas meja.
"Hati saya sudah ada yang booking, jadi nggak bisa di chek out. "
"Wanita seperti Mawar. "
"Kenapa memang nya? "
"Apa hebat nya Mas, dia itu wanita jahat."
"Setiap orang punya masa lalu saya terima setiap kesalahan dia. Dia juga sadar dan salah nya lagi dimana, kecuali dia tidak menyadari akan kesalahan nya. Hati saya sudah terkunci, kalau kamu ingin mendapatkan hati saya dengan menjelekkan Mawar itu salah, tidak akan berpengaruh buat saya. "
"Mas itu lelaki bodoh yang mengemis cinta, awas Mas jatuh nanti sakit. "
"Tipe kayak kamu ingin jadi pendamping hidup saya, mau di bawa kemana rumah tangga nya nanti. Yang ada tarik urat terus setiap hari. "
"Kok Mas bilang nya begitu, kan belum tentu."
"Belum tentu bagaimana, kesan nya saja begini di awal. Ngaca dulu sebelum mengatakan orang. "
.
.
__ADS_1
.
.