Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Hancur Sudah


__ADS_3

Ikhsan hanya diam menatap ke arah Akbar yang sibuk menyadarkan Mawar, hanya tatapan kecewa dan marah melihat kedua nya. Sedangkan Pak Hadi dan Ibu Nia menatap Ikhsan dengan bingung.


"Maaf mungkin kedatangan saya membuat pengantin wanita nya pingsan." Ucap Ikhsan.


"Kalian pasti belum tahu, siapa wanita yang sekarang bersanding dengan kakak saya, dan siapa yang Bapak Ibu jodoh kan untuk Kak Akbar. Dia Mawar, kekasih saya yang selama dua tahun saya pacari, dan berniat untuk menikahi nya. Dan buat Pak Hadi dan Ibu Nia, kalian wajar menuduh saya hanya ucapan yang tak pasti, memberikan harapan yang tak jelas. Iya salah saya disitu, tapi itu semua ada alasan nya. " Ucap Ikhsan.


"Maksud kamu, Mawar ini kekasih kamu? " Tanya Pak Handoko.


"Mirza itu Ikhsan? " Ucap Pak Hadi.


"Kalian pasti mendengar cerita dari Ibu Bapak nama Mirza, nama saya Ikhsan Mirza Kamaluddin. Mungkin Mawar kira Mirza orang lain, karena saya di panggil Ikhsan, sedangkan disini Mirza. Kenapa kakak tega, mengambil apa yang jadi milik saya, kenapa harus orang yang saya cintai kakak ambil." Ucap Ikhsan emosi.


"Dek, kakak sumpah demi Allah tidak tahu Mawar itu calon istri kamu. Kakak baru tahu saat kejadian itu, melihat photo kamu bersama Mawar. " Ucap Akbar.


"Lantas, kenapa kakak lanjutkan?? "


"Karena, kami berdua tidak ingin membohongi kamu atau menyakiti kamu. Lebih baik kami lakukan sekarang, dari pada nanti." Ucap Ikhsan.


"Kakak tahu kan, berapa besar biaya dan pengorbanan saya. Saya jatuh bangun selama satu tahun untuk mewujudkan semua nya, kenapa saya lakukan pada Mawar, karena saya anak terbuang tidak pernah mendapatkan kasih sayang atau kebahagiaan materi dari orang yang benar - benar membuat saya ada di dunia ini. Saya tidak ingin Mawar merasakan bagaimana tidak mendapatkan kasih sayang dan cinta. Bagi saya cinta Bapak Ibu sangat tulus, tapi tetap ada rasa berbeda. Saya sadar diri siapa saya, maka nya saya selalu berusaha sendiri dan selalu mengalah pada kakak, tapi kenapa kakak tidak mengalah malah mengambil nya."


Suasana pesta menjadi ricuh karena Ikhsan terus berbicara kerasa hingga kue pernikahan pun Ikhsan hancur kan.


"Stop nak, stop. Kamu jangan rusak pesta kakak kamu, ini hari spesial nya. Dia tidak tahu nak, Mawar itu kekasih kamu. Walau kamu anak angkat kami tidak pernah membedakan kamu. Tolong jangan rusak pesta nya. " Ucap Ibu Ratih menangis.


"Saya mencintai nya Bu, saya cinta sama dia." Ucap Ikhsan.


"Saya juga mencintai nya, dari pertemuan pertama itu. Dan Mawar pun mencintai saya buktinya dia merelakan semua nya. Jadi jangan harap kamu rebut Mawar, dia sekarang kakak ipar kamu."


"Kakak tahu kan, sifat saya. Tapi ingat, semua nya jadi saksi. Bagaimana rasa kecewa saja saat ini, jaga Mawar. Jangan sakiti dia, bahagia kan dia. " Ucap Ikhsan lalu pergi dengan raut wajah yang kacau.


Mawar terbangun dengan kepala yang sangat pusing, terlihat suami nya kini sedang menemani nya.


"Mas Ikhsan mana? " Tanya Mawar segera menyingkap selimut nya namun di tahan oleh Akbar.


"Kamu itu sekarang istri saya bukan pacar nya lagi. " Jawab Akbar.


"Mas tahu siapa dia? "


"Mas tahu dia itu adalah pacar kamu kan?"


"Jadi Mirza itu Ikhsan? "


"Benar."


"Jahat kamu Mas, kamu tega memisahkan kami."


"Jahat, lantas perasaan kamu itu pada saya bukan nya jahat juga. "

__ADS_1


"Kenapa kamu diam saja kalau saya itu pacar nya. "


"Karena saya, kami semua tidak tahu kalau kamu pacar Ikhsan. Mas tahu saat setelah kejadian itu melihat photo kamu bersama Ikhsan. "


"Tapi kenapa Mas lanjutkan, kakak macam apa kamu ini." Bentak Mawar.


"Apa kamu akan menyakiti Ikhsan , menyimpan semua apa yang kita lakukan." Ucap Akbar.


"Kamu tahu, lebih begini dari pada nanti. Akan lebih sakit buat Ikhsan."


*****


Ikhsan bersandar di dinding kaca, rumah yang besar dengan sekeliling taman bunga Mawar merah, Ikhsan terus menatap ke arah sebuah lukisan yang baru saja dirinya buka.


"Nak."


Ikhsan menoleh ke arah Ibu Ratih sambil membawa kotak nasi.


"Kenapa Ibu kemari, bukan nya acara masih berlangsung. " Ucap Ikhsan.


"Maaf kan Ibu sama Bapak ya."


"Nggak ada yang salah, saya yang salah. Coba kalau dari awal saya menuruti keinginan nya pasti saya masih sama Mawar."


"Sekarang Mawar Kakak ipar kamu, lupakan dia."


"Semua orang dengan mudah nya bilang untuk lupakan dia, sedangkan cinta saya sama dia besar bu. "


"Tapi kenyataan tetap bu, tetap saya yang harus mundur."


Ibu Ratih memeluk Ikhsan, tangisan seorang Ibu membuat Ikhsan mengusap kedua mata Ibu angkat nya.


"Ibu jangan menangis, ini kan hari bahagia Kak Akbar. Saya akan belajar kuat."


"Nak, hidup kamu kenapa seperti ini? Bagaimana cara Ibu sama Bapak agar kamu bahagia. "


"Tidak perlu cara bu, biar Ikhsan bahagia dengan sendirinya. Dan Bu, maaf kan semua kesalahan Ikhsan. Dan Ikhsan minta maaf sama Ibu dan Bapak. Dan Ikhsan sangat berterima kasih sama Ibu dan Bapak yang sudah mendidik Ikhsan seperti sekarang."


"Jangan pergi tinggalkan Ibu sama Bapak Nak, hiks.. hiks... hiks... jangan pergi. "


"Saya akan selalu komunikasi sama Ibu, tapi jujur saya nggak sanggup untuk berada di sekitar kalian. "


Hiks.. hiks..hiks..


"Ibu mohon nak. "


"Bu, ini kunci rumah tolong Ibu kasih pada Mawar dan satu set perhiasan ini. Terserah ini semua mau di apakan, Ikhsan sudah berniat kasih untuk dia."

__ADS_1


"Apa Akbar akan mengijinkan? "


"Urusan itu nanti, yang penting Mawar tahu. Selama ini dia harus sabar kenapa."


"Ibu jaga diri, salam buat Bapak. Maaf Ikhsan nggak bisa lama - lama disini."


Hiks..hiks.. hiks...


"Jaga diri kamu nak."


******


Acara telah selesai, Mawar lebih memilih untuk segera tidur. Akbar yang melihat istri nya telah terlelap lebih memilih keluar kamar.


Mata Mawar terbuka, ada cairan bening keluar dari sudut kedua matanya.


"Maaf kan saya Mas, karena saya kalian seperti ini sekarang." Ucap Mawar pelan.


Sedangkan Akbar lebih memilih duduk di kursi taman sambil menikmati terang nya bulan. Tatapan matanya kosong menatap ke atas.


"Akbar."


"Ibu."


"Kenapa kamu tidak tidur, sekarang sudah jam dua dini hari."


"Ibu sendiri kenapa tidak tidur? "


"Ibu tidak bisa tidur, hati seorang Ibu akan terganggu bila salah satu anak Ibu pergi. "


"Maksud Ibu Ikhsan? "


"Saat tahu Mawar kekasih Ikhsan kenapa kamu lanjutkan? "


"Karena malam itu, kami harus menikah."


"Hampir kan?"


"Apa Ibu tidak berpikir, hampir itu kedua saudara pernah saling melihat."


"Seharusnya kamu tidak lakukan itu, walau dia bukan pacar adik kamu."


"Saya juga mencintai nya, dan saya juga bertanggung jawab bu."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2