Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Kelahiran


__ADS_3

Mawar tiba - tiba merasakan mulas di perut nya, kedua mertua nya baru saja pergi berdagang karena atas permintaan Mawar waktu persalinan sekitar dua minggu lagi.


Dengan sambil memegang perut yang sakit dan mulas Mawar mengambil tas pakaian yang berisi perlengkapan bayi dan dirinya yang sudah di persiapkan.


"Pak, tolong antar ke rumah sakit. " Ucap Mawar saat sudah berada di taksi pesanan nya.


Mawar terus berusaha menahan rasa sakit nya hingga menarik perhatian sang supir taksi.


"Maaf mba, apa tidak ada keluarga yang mengantar? "


"Kedua mertua saya baru saja pergi tadi pagi, sedangkan suami saya sudah meninggal dunia. "


"Maaf mba. "


"Nggak apa - apa Pak. "


Ponsel Mawar berdering, terlihat nama Ikhsan yang menelepon.Lalu Mawar pun mengangkat nya.


" Assalamu'alaikum. "


"Walaikumsalam Mas. "


"Kamu lagi dimana? Nanti sore Mas sampai."


"Mas, saya lagi di jalan. Seperti nya mau melahirkan. "


"Melahirkan, sekarang sama siapa? " Ucap Ikhsan panik.


"Nggak sama siapa - siapa, ini saya sedang menuju rumah sakit. "


"Mas akan pulang sekarang. "


Tut


Panggilan pun terputus sepihak dan taksi yang di tumpangi Mawar sampai di depan pintu IGD.


Mawar di bantu oleh dua orang perawat langsung di bawa ke ruang bersalin.


"Bu, suami nya mana? " Tanya seorang suster.


"Suami saya sudah meninggal dunia sus, saya nggak sama siapa - siapa. " Jawab Mawar.


"Nanti Dokter akan memeriksa dulu baru pembukaan berapa nya. "


Dokter pun datang, dan mengecek pembukaan lahir.


"Bu baru pembukaan dua, jadi menunggu saja disini. Kalau bisa hubungi salah satu keluarga jangan sendirian. " Ucap Dokter.


"Iya Dok, tapi mereka jauh kemungkinan besok. "


Mawar sendiri di ruang persalinan yang hanya di sekat tirai pembatas. Terdengar suara seorang wanita yang sedang merasakan hal yang sama seperti Mawar.


Mawar meneteskan air matanya saat merasakan sendirian tanpa di dampingi oleh keluarga, Mawar mencoba menghubungi Paman dan Bibi nya namun tak tersambung. Dan batu ingat Paman dan Bibi nya sedang keluar kota berdagang seperti kedua mertua nya.


"Nak, Mamah bisa, Mamah kuat nggak ada yang dampingi juga. " Ucap Mawar sambil mengusap perut nya.


***

__ADS_1


"Masih di pembukaan tiga, ini termasuk sangat lama dan harus tindakan cesar kalau pembukaan nya tetap seperti ini. " Ucap Dokter.


"Lakukan saja Dok, yang penting anak saya lahir. "


"Masalah nya, yang bertanggung jawab siapa? Kami tidak ingin menanggung resiko."


"Saya coba hubungi lagi. " Ucap Mawar mencoba menghubungi Paman dan Bibi nya namun tak kunjung di angkat.


Saat itu ponsel nya berdering, Ikhsan menghubungi Mawar kembali.


"Mas."


"Kamu rumah sakit mana? Mas satu jam lagi sampai. "


"Rumah sakit Darma Medika, saya harus cesar Mas tapi perlu persetujuan dan tanda tangan keluarga. "


"Ada Dokter nya tidak? "


"Ada Mas, di samping saya. "


"Berikan."


Mawar pun memberikan ponsel nya pada Dokter yang menangani Mawar.


"Hallo Pak, saya Dokter yang menangani Ibu Mawar. "


"Gimana Dok? " Tanya Ikhsan dari seberang.


"Pak, Ibu harus cesar. Karena pembukaan nya tidak bertambah dan tetap saja sudah dua jam an lebih hampir mau tiga jam." Jawab Dokter.


"Maaf sebelumnya Bapak nanti bisa ke rumah sakit? "


"Saya masih perjalanan menuju ke sana, sekitar satu jam lagi. "


"Baik Pak, saya persiapkan semua nya. "


****


Mawar akan dan bawa ke ruang Operasi, dan pembukaan tetap tidak berubah, hingga segera harus di berikan tindakan.


Ikhsan berlari di lorong rumah sakit, saat itu berpapasan dengan Mawar yang akan di bawa ke ruang operasi.


"Mawar."


"Mas."


"Bismillah ya. "


Mawar menganggukkan kepala nya, Ikhsan mengusap pucuk kepala Mawar dan kening Mawar.


Ikhsan menatap Mawar yang masuk ke ruang operasi hingga pintu kamar operasi tertutup.


"Hallo, Bu Mawar melahirkan hari ini." Ucap Ikhsan melalui ponsel nya menghubungi Ibu Ratih.


"Iya nak, Ibu Bapak akan pulang sekarang. " Ucap Ibu Ratih dari seberang.


"Baik Bu, Ikhsan tunggu."

__ADS_1


30 menit sudah, pintu kamar operasi pun terbuka, Dokter langsung menghampiri Ikhsan.


"Bagaimana Dok? " Tanya Ikhsan.


"Alhamdulillah semua nya selamat, dan lahir seorang anak laki-laki. " Jawab Dokter.


"Alhamdulillah." Ucap Ikhsan.


****


Ikhsan mengadzani ponakan pertama nya, Mawar terus menangis saat melihat putra nya yang sedang di gendong oleh Ikhsan.


"Apa nama yang dulu Mas berikan masih berlaku? "


"Hiks.. hiks... saya sedih Mas, disaat seperti ini bukan suami yang mendampingi."


"Mas kan keluarga kamu. "


"Rasanya berbeda Mas antara suami dan keluarga. "


Ikhsan menaruh Baby boy dengan hati - hati, lalu mendekati Mawar yang masih terbaring lemah.


"Sekarang kamu nggak sendiri, ada Mas bukti nya Mas kan menemani kamu."


"Tetap berbeda Mas. "


"Berbeda seperti apa, Mas akan selalu menjadi payung nya kalian berdua. "


Mawar menatap putra nya yang kini sedang tertidur lelap.


"Akbar Satria Prakasa, saya akan selip kan nama Ayah nya. "


"Terima kasih. " Ucap Ikhsan tersenyum.


****


"Wah ganteng nya, persis Papah nya. " Ucap Ibu Nia.


"Mirip banget. " Ucap Ibu Ratih.


"Siapa nama cucu kami? " Tanya Pak Hadi.


"Akbar Satria Prakasa. " Jawab Mawar.


"Nama yang bagus. " Ucap Pak Handoko.


"Akbar nama Papah nya, Satria Prakasa Mas Ikhsan yeng memberikan nya. " Ucap Mawar.


"Biarlah nama pemberian dari saya saling berdampingan dengan nama Papah nya. " Ucap Ikhsan sambil tersenyum.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2