Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Hanya Kamu Sekarang


__ADS_3

"Ayah, ayolah..!! " Rengek Viola.


"Kamu ini kenapa sih nak, lihat Bund anak gadis kita satu ini kalau sedang ada sesuatu seperti minta permen. " Ucap Muji.


"Kan anak kesayangan Ayah dari pada Bunda." Ucap Ibu Neta.


"Bunda kok bilang begitu? "


"Emang kenyataan nya begitu. "


Viola langsung memeluk Ibu Neta dan mencium kedua pipi Bunda nya.


"Bunda, boleh tanya tidak? "


"Tanya apa? "


"Dulu waktu Bunda nembak Ayah gimana? "


"Kok Bunda yang nembak, Ayah dong yang nembak Bunda. "


"Ayah ya? " Ucap Viola menoleh ke arah Pak Muji.


"Kenapa, kamu suka sama siapa? "


Viola tersenyum sambil memainkan jemari nya dan menoleh ke arah luar jendela.


"Viola suka sama salah satu anak buah Ayah."


"Siapa? " Tanya Pak Muji.


"Itu tuh, yang lagi berdiri. " Jawab Viola.


Ibu Neta dan Pak Muji menatap ke arah luar jendela terlihat deretan beberapa Ajudan Pak Muji.


"Kamu suka sama salah satu Ajudan Ayah? " Ucap Ibu Neta.


"Lebih tepat nya suka sama pengawal pribadi Viola. "


"Siapa, Alex. " Ucap Pak Muji.


"Bukan."


"Ikhsan." Ucap Pak Muji.


"Yup benar. "


"Model kayak kamu mana mau Ikhsan itu. " Ucap Pak Muji.


Ibu Neta terus menatap ke arah Ikhsan yang sedang mengobrol dan sesekali tertawa, Ibu Neta tersenyum saat melihat wajah Ikhsan yang di sukai oleh putri nya.


"Bunda kenapa? " Tanya Viola.


"Bunda hanya melihat pria yang kamu sukai, dia tampan." Jawab Ibu Neta.


"Jelas lah Bund, Viola nggak salah pilih. Bisa bantu Viola kan Ayah? "


"Usaha sendiri, Ayah tidak akan menggunakan jabatan Ayah untuk meminta Ikhsan menerima kamu. " Ucap Pak Muji.


"Ayah, ish.. " Ucap Viola kesal.


*****


Mawar menyiram bunga - bunga Mawar di halaman belakang rumah nya, terlihat bunga Mawar bermekaran sangat indah.


"Wangi nya, ini cantik kalau di petik dan di masukan ke vas bunga. " Ucap Mawar.


"Di rumah Mawar, pasti disana bunga - bunga nya tumbuh indah. Saya lama nggak kesana, sekarang aja ya kesana sambil menengok kesana. " Ucap Mawar langsung beranjak bangun.

__ADS_1


Mawar mengambil tas nya dan berganti pakaian, dengan berjalan hati - hati Mawar menuju garasi menyalakan motor matic nya.


"Mas." Ucap Mawar saat tepat Akbar datang.


"Mau kemana? " Tanya Akbar langsung turun dari motor nya.


"Ehm... anu saya ingin ke rumah Mawar." Jawab Mawar hati - hati.


Akbar hanya diam dan berjalan masuk kedalam rumah. Mawar yang tahu akan perubahan mimik wajah Akbar, lantas ikut menyusul suaminya yang berjalan masuk. kedalam kamar nya.


"Mas."


Akbar membuka seragam nya dengan melemparkan secara kasar ke dalam keranjang baju.


"Saya nggak jadi ke rumah Mawar. " Ucap Mawar meletakkan kembali tas nya. Dan langsung membawa pakaian kotor milik Akbar ke belakang.


"Kamu masak apa hari ini? " Tanya Akbar santai.


"Masak kesukaan Mas, ada acara ikan Mas sama tumis kangkung. " Jawab Mawar.


"Saya ambil kan nasi nya. " Ucap Mawar sambil mengambil piring.


Mawar menemani Akbar makan, sepanjang makan Akbar diam dan hanya menikmati masakan yang di buat istri nya.


"Mas mau nambah? "


"Nggak, Mas kenyang. " Akbar menyudahi makan nya dan langsung pergi meninggalkan Mawar.


Mawar yang merasa dirinya bersalah langsung mengikuti Akbar yang menuju ke ruang keluarga, Mawar langsung memeluk tubuh Akbar yang sedang menyalakan televisi.


"Yank, lepas Mas masih kenyang. " Ucap Akbar saat Mawar memeluk tubuh nya.


"Maaf kan Mawar Mas. "


"Maaf buat apa? "


"Sudah lupakan ya, Mas lagi ingin istirahat."


"Mas marah kan, Mawar sudah minta maaf Mas. Mawar janji nggak akan pernah datang ke rumah Mawar lagi, Mawar juga baru kesana lagi tadi kalau Mas Akbar belum pulang. Maaf ya Mas, janji nggak akan kesana lagi. "


Akbar hanya diam dan fokus pada layar televisi yang menyiarkan acara favorit nya.


****


"Kamu nya lagi, hubungan sudah baik - baik menyinggung perasaan Bang Akbar. Sudah tahu bagaimana watak suami kamu, istri nya nggak peka. " Ucap Nirmala dari seberang.


"Iya saya salah. " Ucap Mawar.


"Katanya Move on, masih ingat rumah Mawar."


"Saya hanya ingin lihat tanaman Mawar nya nggak punya niat lain nya. "


"Sama saja Mawar, udah deh jangan injak kedua kaki kamu di rumah Mawar. Lagian Bang Ikhsan juga tidak pernah tanya tentang kamu. "


"Iya, saya nggak akan kesana lagi. "


*****


"Mas kopi. "


Akbar langsung mematikan puntung rokok nya dan langsung bergeser menjauh dari Mawar.


"Mas kok duduk nya jauhin Mawar."


"Mas bau rokok Yank, kamu kesini Mas kan sedang merokok. "


"Lagian waktu pacaran Mas nggak merokok lagi, udah nikah mulai merokok lagi."

__ADS_1


"Iya, Mas insaf nggak merokok lagi. "


"Janji palsu. "


Akbar tersenyum lalu bergeser kembali duduk nya hingga mendekati tubuh Mawar.


"Maaf kan Mas ya."


"Mawar yang harus minta maaf. "


"Mas seharusnya nggak seperti ini, kamu mau ke rumah Mawar? "


"Nggak Mas, sudah nggak mau."


"Kalau Mau, Mas antar sekarang. "


"Nggak Mas, Mawar sudah janji nggak akan kesana lagi. "


"Kenapa? "


"Karena Mawar harus menjaga hati."


Akbar tersenyum dan mengecup pucuk kepala Mawar, Akbar menarik tubuh Mawar kedalam dekapan nya.


"Mas itu sudah jahat, Mas seharusnya tidak merebut sebuah kebahagiaan. Andai waktu itu bisa di putar dan di rubah mungkin itu yang Mas ingin kan. "


"Maksudnya Mas apa? "


"Andai takdir memisahkan kita sekarang, Mas ikhlas untuk di cabut nyawanya sekarang. Mas akan kembali kan semuanya. "


"Mas kok bicara nya seperti itu, Mas mau meninggalkan Mawar. Mas nggak lihat ini perut besar ada anak nya Mas. Hanya Mas yang saya punya sekarang, hanya Mas pria yang melindungi saya sekarang bukan pria lain. "


"Kalau Mas bukan orang yang tepat walau Mas menikah sama kamu gimana? "


"Cukup Mas, ngaco kamu bicaranya. " Ucap Mawar langsung pergi meninggalkan Akbar yang masih duduk menatap ke arah Mawar yang pergi meninggalkan nya.


Akbar lalu menyusul Mawar yang sedang terisak, Akbar langsung memeluk tubuh Mawar sangat erat.


"Maaf ya, Mas nggak maksud apa - apa."


"Jangan bicara seperti itu lagi Mas, saya benci Mas bilang begitu."


"Maaf kan Mas. "


Mawar membalas pelukan Akbar, dengan semakin erat memeluk tubuh Akbar.


"Saya nggak mau kehilangan untuk kedua kalinya, saya sangat mencintai Mas. "


"Iya, Mas nggak akan pergi meninggalkan kamu."


******


Ibu Neta keluar dari dalam kamar nya tengah malam, dan melihat Ikhsan yang sedang berolah raga malam di halaman belakang rumah dinas.


Ibu Neta menatap punggung Ikhsan yang penuh keringat, namun mata Ibu Neta tertuju pada suatu tanda di punggung Ikhsan.


Ibu Neta pun langsung berkaca, punggung nya pun menyamakan sebuah tandan lahir dirinya dengan Ikhsan.


"Apakah itu kamu? "


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2