
"Jadi, di - dia anak nya Neta yang di buang itu? " Ucap Ibu Fatmah.
"Dia anak saya Bu, jujur saya menyesal menuruti kata orang tua. " Ucap Ibu Neta.
"Kenapa kamu nggak buang jauh saat itu, kenapa anak itu akhir nya kembali."
"Bu, dia anak saya. Naluri kebatinan kita menyatu, saya jujur saya menyesal. "
"Bunda, kita salah sama Ikhsan. Kita dekati dia, kita rangkul dia. " Ucap Pak Muji.
"Kami tidak setuju, cucu kami hanya Viola." Ucap Pak Ridwan.
"Benar, cucu kami hanya Viola. " Ucap Ibu Fatmah.
"Ikhsan juga anak saya, dari dulu saya menerima nya tapi karena saya terlambat Neta sudah membuang nya, saat kami cari dia sudah ada yang ambil. " Ucap Pak Muji.
"Muji, kamu ini nggak punya otak apa. Ikhsan anak dari seorang supir, anak yang lahir tanpa restu dari keluarga Neta. Status kita berbeda, kasta kita jauh. " Ucap Ibu Fatmah.
"Tapi dia lahir dari rahim Neta, wanita berpendidikan, keluarga terpandang. Salah nya di mana? Apa karena dia masih keturunan anak supir. "
"Muji, keluarga nya saja malu. Melihat anak perempuan nya diam - diam menikah dengan supir dan kamu masih beruntung Muji masih menerima kamu. "
"Karena saya mencintai Neta. "
"Bagaimana pun kami masih tidak terima, singkirkan anak itu dari sini." Ucap Pak Ridwan.
****
"Jadi desas desus itu benar, kamu anak nya Ibu Neta. " Ucap Alex.
"Saya tetap bukan anak nya, saya anak Ibu Ratih dan Pak Handoko penjual kain. " Ucap Ikhsan membereskan semua barang - barang nya.
"Terus kamu mau keluar? "
"Iya, saya mengajukan untuk pindah tugas."
"Kalau tidak Acc? "
"Saya akan berusaha sendiri, asal saya keluar dari sini."
"Tapi kamu nggak bisa pergi begitu saja, ada aturan. "
"Masa bodoh sama aturan, mau saya di pecat karena melanggar tugas silahkan." Ucap Ikhsan langsung menarik koper nya keluar dari kamar nya.
"Kak." Panggil Viola.
"Saya bukan Kakak kamu. "
"Kakak jangan pergi, Ayah Bunda ingin tetap Kakak disini. "
"Mereka mau memungut sampah yang sudah di buang, apa masih pantas. Kamu terlahir dari orang tua yang sempurna, tidak seperti orang di depan kamu. "
"Kak, Viola menerima Kakak. Tolong jangan pergi, Viola nggak menyangka kalau Kak Ikhsan yang saya sukai adalah Kakak nya Viola. "
"Sampai kapan pun, kamu bukan adik saya. Dan Bunda kamu bukan Bunda saya. "
Ikhsan pergi begitu saja, saat berjalan melewati ruang keluarga terlihat Ibu Fatmah dan Pak Ridwan tengah menatap sinis. Ibu Neta berlari mengejar Ikhsan yang menaruh koper nya masuk kedalam taksi.
Para Anggota lain melihat nya, dan terdengar bisik - bisik tentang Ikhsan dan Ibu Neta.
"Bunda mohon, jangan pergi. " Ucap Ibu Neta memegang lengan Ikhsan namun Ikhsan segera melepaskan tangan Ibu Neta.
__ADS_1
"Saya bukan anak Ibu, maaf terlalu sakit. "
"Kamu pergi, saya pecat kamu. " Ucap Pak Muji.
"Pecat saja saya Pak, saya tidak mau bekerja dengan orang yang sudah membuang saya dan menganggap saya sampah."
Ikhsan menyerahkan beberapa benda milik nya berupa senjata dan lain nya.
"Mulai sekarang saya berhenti, saya sekarang warga sipil, untuk surat pengunduran diri saya akan menyusul."
"Ikhsan, nak Bunda mohon hiks.. hiks.. hiks.. "
Ibu Neta menangis di pelukan Pak Muji, hingga mobil yang membawa Ikhsan pergi jauh.
"Ayah, apa kamu tega akan memecat anak saya? "
******
Ikhsan berdiri di depan rumah Mawar, Mang Dirman langsung menyambut majikan nya.
"Mas, biar saya yang bawa. " Ucap Mang Dirman langsung membawa koper milik Ikhsan.
"Mang, boleh saya sendiri dulu. Mamang boleh istirahat dulu. " Ucap Ikhsan.
"Kenapa Mas? "
"Saya ingin sendiri. "
"Baik Mas, saya bantu masukan ini dulu."
Ikhsan berjalan masuk kedalam rumah nya, dan langsung duduk dengan bersandar di kepala sofa.
"Mang, saya akan tempati rumah ini."
"Iya Mang, saya ingin menyendiri. "
*****
Mawar menyiapkan makanan di atas meja makan setelah acara doa bersama selesai. Pak Handoko tersenyum saat melihat makan malam sudah tertata rapih.
"Kamu sudah makan? " Tanya Pak Handoko.
"Belum, saya menunggu Bapak sama Ibu. " Jawab Mawar.
"Makan dulu, kamu baru sembuh dari sakit."
"Ibu mana Pak? "
"Ibu disini, kamu urus badan kamu jangan urus badan orang. " Ucap Ibu Ratih.
"Ibu juga harus saya perhatikan, masa saya memperhatikan badan sendiri." Ucap Mawar.
"Apa kamu akan tinggalkan kami? " Ucap Ibu Ratih.
"Saya mungkin tidak akan disini terus Bu, Mas Akbar kan sudah tidak ada. " Ucap Mawar.
"Tinggallah disini, kami kan sering keluar kota. Rumah ini nanti akan kosong. "
"Mawar juga nggak akan pernah pergi, karena rumah ini penuh kenangan Mas Akbar."
Ibu Ratih memeluk tubuh Mawar, Mawar pun membalas pelukan Ibu Mertua nya.
__ADS_1
"Jangan pergi Mawar, maaf kan Ibu. Hanya kamu kenangan dari Akbar. "
"Ada Mas Ikhsan Bu, Mas Ikhsan akan tetap jadi anak Ibu walau bukan terlahir dari rahim Ibu. "
*****
"Hiks... hiks... kenapa kedua orang tua Mas masih seperti dulu. Kenapa Mas mereka tega." Ucap Ibu Neta.
"Mas tidak akan pernah memberhentikan Ikhsan, Mas akan biarkan dia pergi untuk sementara. Biarkan Ikhsan tenang, dia juga baru kehilangan saudara nya. " Ucap Pak Muji.
"Saya memang salah, saya pantas mendapatkan hukuman dari Ikhsan. Saya pantas dia membenci saya, tapi saya tidak ingin kehilangan dia lagi. "
******
Ikhsan menatap langit yang mendung, tampak terasa rintik - rintik hujan turun. Ikhsan berbaring di kursi malas di tengah taman bunga mawar nya.
Hujan turun deras, Ikhsan masih berbaring di di kursi malas nya, teriakan Ikhsan di iringi suara petir yang menggelegar.
"Tuhan..... apakah saya di takdir kan seperti ini, apakah saya tidak pantas untuk bahagia. "
Aaaaaaaaaa....
"Tuhan, apakah cinta itu tak pantas untuk saya, apakah memang saya harus hidup tanpa cinta. "
Hiks..hiks...
"Saya ikhlas, bila memang hidup saya harus seperti ini. "
****
"Mas, apa kabar? " Ucap Mawar sambil menatap pusara Akbar.
"Hari ini tepat 7 hari kamu pergi meninggalkan kami semua, Mas saya sudah ikhlas karena bagaimana pun saya harus bisa menerima takdir. Tapi kamu tetap ada di hati saya Mas, cinta kamu akan saya simpan di hati, kenangan kamu akan saya simpan juga.Mas, terima kasih untuk cinta yang kamu berikan buat saya. Sampai bertemu nanti di keabadian. "
Mawar mencium nisan Akbar, di usap nya nisan tersebut dan di kecup nya kembali.
"Mba Mawar. "
"Mang Dirman. "
"Mamang senang bisa bertemu langsung, saat kemarin melayat Mamang ingin bertemu Mba Mawar nggak bisa karena Mba Mawar juga sedang bersedih. "
"Makasih Mang, sudah memberikan doa buat Almarhum. "
"Sama - sama Mba, oh iya Mba. Mas Ikhsan ada di rumah Mawar, dia nggak mau di ganggu. Mamang saja di suruh pergi dulu, menurut Mamang, Mba Mawar kesana lihat Mas Ikhsan. Mang Dirman merasa khawatir saat datang wajah nya seperti banyak masalah. "
"Datang kapan? "
"Sudah 3 hari yang lalu, apa Mas Ikhsan tidak datang di acara 7 hari Mas Akbar? "
"Tidak, kami kira dia ada di tempat tugas nya."
"Mba Mawar coba kesana, Mamang takut ada apa - apa. "
"Baik Mang, nanti saya coba mampir. "
.
.
.
__ADS_1
.
.