
"Benar - benar nggak menyangka, untuk tugas saya ini. " Ucap Ikhsan kesal.
"Dia cantik loh. "
"Iya cantik, tapi bukan nya saya tambah tertarik tapi tambah gimana gitu. " Ucap Ikhsan bergidik.
"Ingat dia anak atasan kita. "Ucap Alex.
" Iya saya tahu, tapi kalau urusan begini saya tolak. "
"Tapi di luar sana banyak loh yang mengantri."
"Di luar sana, tapi di dalam ini terutama yang ada di depan kamu ini nggak mau."
"Kalau jadi menantu nya kamu bisa di rekomendasi kan loh. "
"Nggak peduli. "
"Serius, anak jenderal loh. "
"Mau anak jenderal atau anak presiden juga kalau saya nggak suka masa di paksa. "
"Tapi kalau saya sih di terima aja. "
"Ya sudah sana kamu saja. "
"Tapi dia nggak suka saya. "
"Buat dia suka sama kamu." Ucap Ikhsan.
******
Mawar menunggu hasil ujian yang akan keluar, bersama suami nya merasakan jantung yang sama - sama berdetak kencang.
Saat hasil nya keluar Mawar menyuruh suami nya untuk melihat, Akbar pun melihat hasil tes nya.
"Yank."
"Gimana Mas, lulus tidak. "
"Kamu lihat sendiri deh. "
"Nggak lulus ya? " Ucap Mawar yang wajah nya sudah terlihat sedih.
"Kamu lihat sendiri aja deh, coba kamu lihat." Ucap Akbar.
Mawar melihat nama dan nomer tes nya dan ternyata di nyatakan lulus, Mawar bersorak senang dan langsung memeluk tubuh Akbar.
"Saya lulus!! "
"Iya kamu lulus. "
"Alhamdulillah." Mawar pun langsung sujud syukur atas apa yang diri nya peroleh. Usaha yang di lakukan tidak sia - sia.
"Selamat sayang. " Akbar mencium kening Mawar.
"Terima kasih Mas. " Ucap Mawar memeluk tubuh suaminya.
"Rejeki si dede. " Ucap Akbar.
"Iya Mas, Alhamdulillah. Rejeki dede. "
*****
"Selamat sayang, akhirnya kamu lolos. " Ucap Ibu Ratih.
"Cita - cita saya kesampaian Bu, Pak. " Ucap Mawar.
"Tiga kali tes, tidak mengecewakan. Itu yang dinamakan usaha. " Ucap Pak Handoko.
"Benar Pak, Alhamdulillah. "
*****
"Hey...!!! "
"Ada mba?" Tanya Ikhsan.
"Bang jangan panggil saya mba dong, panggil Viola saja. " Jawab Viola.
__ADS_1
"Iya ada apa? "
"Tolong dong, Abang cat kuku saya. " Ucap Viola menunjukkan jemari tangan kanan nya.
"Saya? "
"Iya , Abang tolong cat kan kuku saya. "
"Baik, sini. " Ucap Ikhsan.
Viola tersenyum senang, jemari Viola berada di atas paha Ikhsan dengan sedikit canggung, Ikhsan pun mengecat kuku Viola dengan warna merah.
"Ini kuku panjang - panjang, apa nggak susah kalau buat cebok? " Ucap Ikhsan.
"Ya nggak lah, ini nih guna nya selain buat mempercantik tapi juga buat senjata kalau ada orang jahat yang mengganggu saya di luar. "
"Memang nya pernah ya ada yang ganggu? "
"Pernah, waktu itu sempat ada orang yang ingin menculik saya. Saat itu Ayah belum menjabat Jenderal. "
"Terus?" Ucap Ikhsan menghentikan kegiatan nya.
"Semua pasukan Ayah kerahkan, sampai akhir nya saya di temukan saat akan di jual ke luar negeri. "
"Pasti saat itu kamu takut dan menangis. "
"Bukan itu aja Bang, saya pikiran nya sudah mati saja. "
"Alhamdulillah, kamu sekarang masih bisa bersama keluarga. Bagaimana kalau saat itu kamu lolos masuk ke negara sebarang, dan di jual di jajakan ke hidung belang. "
"Abang jangan tinggalkan saya, Abang harus jadi pengawal saya. "
"Ya kalau Abang masih ditugaskan di sini. "
"Bang, saya itu suka sama Abang. "
"Viola, kamu itu baru saja lulus SMA kemarin. Umur kita saja jauh nya 13 tahun sendiri."
"Kenapa, Abang suka yang lebih dewasa. Apa Abang pikir saya tidak pengalaman?"
"Bukan begitu, tapi saya nggak bisa."
"Maaf ya, saya ke dalam dulu. " Ucap Ikhsan langsung meninggalkan Viola yang masih duduk di anak tangga teras depan rumah dinas Ayah nya.
"Ih... itu orang nggak sopan ya, awas saja saya akan menggunakan Ayah supaya Abang ada dalam genggaman tangan saya."
*****
"Lama kamu tidak kasih kabar? " Tanya Haikal.
"Iya Bang, saya juga lama nggak hubungi Abang. " Jawab Ikhsan dari seberang.
"Kamu tugas dimana sekarang?"
"Saya mendapatkan tugas mengawal anak jenderal, tadi nya saya akan mengawal beliau eh ternyata di pindah ke anak nya. "
"Cowok atau cewek?"
"Cewek, Abang istri nya kapan melahirkan? "
"Insya Allah dua bulan lagi."
"Semoga lancar ya Bang. "
"Amin."
Ikhsan yang di seberang sana, mendengar suara orang yang Ikhsan kenal. Ada sedikit rindu pada pemilik suara tersebut namun Ikhsan segera buang jauh - jauh.
"Bang, saya tutup dulu. Kedengaran Abang ada tamu. "
"Tamu nggak di undang itu sih, santai saja."
"Maaf Bang, suara nya menggangu telinga saya. "
"Maksud kamu Mawar? "
"Iya Bang, saya sambung lagi nanti. "
Tut
__ADS_1
"Dasar, main di matikan. "
"Siapa Bang?" Tanya Nirmala.
"Akh nggak apa - apa, ini teman tadi." Jawab Haikal.
"Bang, Mawar lolos tes CPNS. " ucap Nirmala.
"Alhamdulillah, selamat Mawar." Ucap Haikal.
"Terima kasih Bang. " Ucap Mawar.
"Kamu Melamar dimana?"
"Dinas perpusatakaan. "
"Mawar."
"Iya? "
*****
Ikhsan terdiam saat setelah mendengar suara Mawar, wanita yang ingin dirinya hindari dan melupakan seumur hidup takdir berkata lain mempertemukan dengan suara nya.
"Ya Allah, kenapa begitu sangat sulit saya ingin lepas dari semua ini. Kenapa takdir seperti ini, kami sudah tidak berjodoh kenapa harus di pertemukan walau hanya suara. "
Ikhsan menutup kedua matanya dengan telapak tangan nya, dan saat membuka kedua telapak tangan nya Ikhsan kaget saat wajah Viola sudah berada di depan mata nya.
Aaaaaa
"Viola, kamu buat saya jantungan."
"Abang kenapa? "
"Kepo." Ucap Ikhsan kesal lalu beranjak bangun dari duduk nya namun tarikan Viola kalah saing dengan dirinya hingga Ikhsan duduk kembali.
"Nggak sopan main kabur, duduk. "
"Mau apa lagi sih, saya mau masuk dulu."
"Saya ingin jawaban dari Abang. "
"Jawaban apa lagi? "
"Perasaan saya ke Abang, Abang bagaimana?"
"Maaf Viola, saya nggak punya perasaan apa - apa sama kamu. "
"Kok gitu? "
"Terus, harus di paksa iya gitu. "
"Iya dong, harus suka. "
"Kamu pikir saya anak kecil apa, yang seenak nya mau di paksa.Hati itu tidak bisa di paksakan, jadi maaf ya untuk ini."
"Abang sudah punya kekasih ya? "
"Iya, selamanya saya akan mencintai nya. Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi nya. " Ucap Ikhsan langsung masuk kedalam.
"Wanita seperti apa yang bisa meluluhkan hati kamu Bang, saya ini cantik, anak jenderal masih kurang apa saya ini."
*****
Hahahahahah
"Jadi dia nembak kamu? " Ucap Alex.
"Iya, dia nembak saya. Benar - benar nekad itu anak. " Ucap Ikhsan.
"Luar biasa, bagaimana reaksi Ayah nya ya tahu anak gadis nya begitu. "
.
.
.
.
__ADS_1