
"Pelan - pelan Willy. " Ucap Ikhsan saat Willy sedang mengurut pinggang Ikhsan.
"Abang habis apa sih, pulang - pulang dari sana minta di urut pinggang nya. "
"Udah jangan berisik kamu urut yang benar."
"Iya, nih sudah di urut dengan benar. Kalau tubuh udah merasa tua itu jangan sok jadi muda lah Bang, kasihan tubuh nya."
"Udah kamu ceramahin saya nya? "
"Sudah Bang. "
Alex tertawa terbahak - bahak saat melihat calon kakak ipar nya yang sedang di urut oleh Willy.
"Berapa ronde kamu main sama Mawar? "
"Kamu juga nanti merasakan sendiri sama Viola, di jamin encok. " Ucap Ikhsan.
Hahahahahah
"Saya masih kuat bro. " Ucap Alex.
"Kamu pikir saya begini sudah tua apa, tenaga dalam saya masih ok, tenaga luar masih ok." Ucap Ikhsan.
"Iya.. ya.. percaya kok percaya. "
****
" Bunda kenapa malam - malam kemari, semua pada panik istri Pak jenderal kemari karena nggak ada penyambutan." Ucap Ikhsan pada Ibu Neta.
"Sudah, jangan berlebihan. Bunda hanya mau kasih ini buat kamu, kita makan sama - sama nak. " Ucap Ibu Neta membuka satu persatu tutup rantang nya.
"Nggak enak sama yang lain Bunda, kita makan sendiri. "
"Nggak apa - apa tenang saja, Mamah sudah bawakan buat mereka. "
"Kirain."
"Mawar, bagaimana sudah ada tanda - tanda belum? "
"Bunda ini, nikah saja baru satu bulan lebih."
"Tapi kamu kan sering pulang seminggu sekali walau jauh juga. "
"Jauh nya masih bisa di jangkau."
"Tapi setor terus kan? "
"Apa sih Bund, ih tanya begitu, malu tahu."
Ibu Neta tersenyum dan langsung menyuapi Ikhsan satu suapan nasi.
"Bunda belum pernah menyuapi kamu." Ucap Ibu Neta dengan mata berkaca - kaca.
"Giliran bertemu kamu sudah besar."
"Bunda, saya juga ingin berdua seperti ini. Makasih Bunda sudah main kesini. "
"Bunda suapin kamu lagi ya. "
Ikhsan menganggukkan kepala nya dan menerima setiap suapan dari Ibu Neta.
__ADS_1
****
Mawar saat merapikan isi lemari nya, menemukan sebuah kotak jam tangan milik Akbar dan sepatu baru yang masih ada dalam kotak.
Mawar membuka nya, jam tangan yang masih baru pula belum di pakai.
"Mas, ternyata barang - barang kamu masih ada, kalau begini saya jadi kangen sama kamu. Tapi maaf ya Mas, mungkin saya akan simpan barang - barang milik kamu Mas dan nanti kalau Satria sudah besar biar dia yang menyimpan nya. "
Mawar memisahkan barang milik Akbar dengan barang - barang peninggalan yang lain nya. Dan Mawar memasukan sisa pakaian yang tertinggal di dalam lemari memasukan dalam sebuah tas sedang.
"Mas, semua barang milik kamu ada dalam satu lemari, nanti kalau Satria sudah besar akan di lihat kan pada dia. "
Mawar berjalan ke arah Ibu Ratih yang sedang duduk bersama Satria , Satria tersenyum saat melihat Mamah nya datang menghampiri nya.
"Nggak kerasa kamu sudah besar. " Ucap Mawar.
"Iya, cepetan punya adik. " Ucap Ibu Ratih.
"Sedang berusaha Bu, minta doa nya saja." Ucap Mawar.
"Ibu dan Bapak selalu berdoa untuk kalian, agar hidup bahagia dan banyak anak. "
"Amin Bu, amin..!!! "
****
"Eh.. ada gosip, katanya Pak Jefri udah nikah." Ucap Wanti.
"Loh kok nggak undang - undang kita sih. " Ucap Mawar.
"Katanya sih nikah agama, nggak tahu kenapa nggak nikah secara hukum negara saja. " Ucap Wanti kembali.
"Mantan istri muda nya anggota Dewan, kamu tahu padahal sama loh ASN, tapi entah kenapa nggak mau istri nya itu di daftar kan secara hukum. Gosip nya sih katanya trauma sama mantan suami nya yang dulu. "
"Mungkin itu sebab nya. "
"Iya betul, pasti itu sebab nya."
*****
"Mba Mae, Satria mana? " Tanya Mawar saat baru pulang kerja.
"Satria di bawa Bapak Bu katanya mau beli mainan. " Jawab Maesaroh.
"Bapak pulang jam berapa? "
"Baru saja, terus langsung pakai mobil bawa Satria. Katanya beli mainan, soalnya tadi Satria rewel. "
"Ya sudah, Mba Mae masak ya buat Bapak barang. "
"Baik Bu, nanti saya siapkan."
Setelah dua jam menunggu, Ikhsan datang bersama Satria sambil mendekap boneka bola. Ikhsan melambaikan tangan Satria pada Mawar yang menyambut nya di depan pintu.
"Duh jalan - jalan sama Papi nggak ngajak Mamah. " Ucap Mawar.
"Maaf Mamah, tadi kan belum pulang Mamah nya. " Ucap Ikhsan dengan suara seperti anak kecil.
"Mah, ini gantian gendong. Papi ambil belanjaan dulu. "
Mawar lalu mengambil Satria dari gendongan Ikhsan, beberapa mainan hingga mobil listrik dan motor listrik Ikhsan beli.
__ADS_1
"Ya Allah Papi, kenapa beli itu sih. Dua sekaligus lagi." Ucap Mawar melihat begitu banyak barang yang di beli Ikhsan.
"Ini semua nya kan belum punya. "
"Tapi kan nggak langsung banyak juga Mas, sayang kan uang nya. "
"Buat anak nggak akan perhitungan sama buat Mamah juga. Lihat Satria senang loh sama Mainan nya. "
"Makan dulu ya Pap. "
"Boleh Mah, tapi Papi mandi dulu. "
****
"Mah, Satria kok nggak tidur - tidur mainan boneka bola terus. "
"Biasa Pap, malam dia kalau tidur."
"Jam berapa, keburu ngantuk. "
"Papi kalau mau tidur ya tidur saja apa susah nya sih. "
"Mah, besok Pagi papi harus balik lagi, masa pulang nggak di kasih jatah. "
"Anak nya saja masih melek begini."
"Satria bobo dong kak, gantian sama Papi."
Satria seperti merespon ucapan Ikhsan yang belum dia mengerti langsung memukul wajah Papi nya dengan tangan mungil nya.
"Kok Papi di pukul, nih Papi gigit nih tangan nya. " Ucap Ikhsan sambil menciumi tangan Satria hingga tertawa terbahak - bahak Satria.
"Sudah Pap, katanya anak nya suruh bobo. Malah di ajak main."
"Satria bobo ya, Papi sama Mami juga sudah mengantuk. " Ucap Ikhsan.
Hingga pukul 12 malam, Satria masih membuka matanya lebar, sedangkan Mawar sudah tidur terlelap hanya Ikhsan yang masih terjaga.
"Nak, bobo dong. Sudah malam, atau kangen sama Papi ya mau mainan sama Papi. "
Satria memiringkan tubuh nya ke arah Ikhsan, mata nya mulai mengantuk, dengan pelan Ikhsan menepuk - tepuk pantat Satria hingga lama - lama mata Satria menutup dan tertidur.
"Mah... Ssssstt... Mah...!! " Panggil Ikhsan pelan.
Namun Mawar tak bergeming dan hanya menarik selimut nya sampai sebatas bahu.
"Mah Satria sudah bobo, sekarang giliran Papi nih. "
Mawar tidak merespon dan sudah berada jauh di alam mimpi, Ikhsan hanya menghela nafas panjang saat yang di tunggu gagal total.
"Nasib - nasib, pulang ingin di cas malah boro - boro di cas, bagian bawah sudah lowbat malah tambah lowbat. Nasib - nasib, pasangan LDR sekali pulang langsung colok sekarang malah di tinggal tidur. "
.
.
.
.
.
__ADS_1