
"Saya terima nikah nya Mawar Indah Lestari Binti Kamaluddin dengan Mas kawin berupa uang tunai tiga puluh juta dan logam mulia seberat lima puluh gram serta seperangkat alat sholat di bayar tunai. "
SAH
"Alhamdulillah."
Ikhsan merasakan detak jantung yang berdebar sangat kencang saat dirinya kini telah resmi menjadi suami dari Mawar.
Mawar mencium punggung tangan Ikhsan, dan Ikhsan membalas nya dengan mencium kening Mawar.
Ucapan selamat banyak di terima oleh Mawar dan Ikhsan. Terlihat raut wajah bahagia kedua nya saat menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
"Selamat, akhirnya. " Ucap Haikal.
"Terima kasih Bang, Abang telah menjadi saksi hidup bagaimana perjalanan cinta kami." Ucap Ikhsan.
"Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah."
"Amin."
"Mawar, bagaimana perasaannya? " Tanya Nirmala.
"Bahagia pastinya. " Jawab Mawar sambil memeluk Nirmala.
Pak Handoko dan Ibu Ratih menghampiri kedua mempelai yang sedang berbahagia.
"Selamat Ikhsan, selamat Mawar." Ucap Ibu Ratih dengan menciumi kedua pipi kanan dan kiri Mawar serta Ikhsan.
"Terima kasih Bu. " Ucap Ikhsan.
"Semoga menjadi keluarga yang berbahagia, dunia akhirat."
"Amin makasih Ayah. " Ucap Ikhsan.
"Mawar, terima kasih nak.Kamu masih tetap menjadi bagian dari keluarga kami." Ucap Pak Handoko.
"Saya yang seharusnya berterima kasih sama Ayah dan Ibu, karena saya masih di terima jadi bagian keluarga Bapak sama Ibu. "
"Satria, adalah flashback nya Akbar. Dia memang sangat mirip dengan Akbar, Ayah sama Ibu sangat takut saat itu kamu akan pergi membawa sejuta kenangan Akbar. Tapi ternyata tidak, jodoh berpihak di sekitar kami."
Mawar memegang kedua tangan Pak Handoko, dengan mata berkaca - kaca.
"Walau seandainya saya tidak berjodoh dengan Mas Ikhsan, Satria tidak akan pernah saya jauhkan. Karena bagaimana juga Ayah sama Ibu adalah kakek nenek nya. "
Mawar memegang tangan Ibu Ratih dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipi nya.
"Bu, Mas Ikhsan tidak akan pernah menyingkirkan posisi Mas Akbar untuk Satria. Mas Ikhsan akan mengenalkan sosok Papah kandung Satria bila sudah dewasa nanti. Mas Ikhsan pun tidak akan pernah meninggalkan kalian, benar kan Mas? " Ucap Mawar.
__ADS_1
"Benar apa kata Mawar, walau orang tua kandung telah hadir saya tidak akan pernah melupakan kalian, karena bagaimana juga Bapak sama Ibu tetap orang tua Ikhsan, sama hal nya Satria, Kak Akbar tetap Papah nya. "
Teman - teman Ikhsan dan Mawar memberikan ucapan selamat termasuk Rengganis.
"Selamat Bang, selamat Mawar. "
"Makasih Rengganis, makasih sudah datang." Ucap Ikhsan.
"Sama - sama Bang. " Ucap Rengganis yang terus menatap Mawar yang terus memeluk erat lengan Ikhsan.
"Tenang saja Mawar, saya bukan tipe wanita yang merebut suami orang." Ucap Rengganis.
"Bagus lah kalau sadar. " Ucap Mawar sambil melebarkan senyum nya.
****
"Tamu undangan telah pulang, kini tinggal hanya pengantin baru yang terlihat tampak lelah.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Mawar dan Ikhsan membuka kado satu persatu. Tawa kedua nya terlihat saat membaca berbagai ragam ucapan selamat dari para teman - teman nya yang lucu dan sedikit menyimpang.
" Lucu - lucu Mas, jadi pengen ketawa terus."
"Parah semua nya, parah. " Ucap Ikhsan melemparkan beberapa alat pengaman.
"Ini dari siapa? "
"Emang Mas mau pakai ini? "
"Nggak lah, buat apa pakai ini. Mas kan ingin kamu cepat hamil anak nya Mas. " Ucap Ikhsan yang tangan nya sudah berada di atas paha Mawar dengan tangan yang sudah naik ke atas.
"Mau kan, sudah siap kan punya anak dari Mas. " Ucap Ikhsan dengan suara yang sudah sedikit berat.
Mawar memejamkan matanya saat kedua tangan Ikhsan kini berwisata ke setiap blok, dengan menahan de*****han Mawar menggigit bibir bawah nya.
Satu persatu ciuman Ikhsan darat kan di setiap celah, hingga ciuman panas kedua nya terjadi.
Mawar menikmati setiap sentuhan dan permainan nya, hingga suara yang di keluar kan Mawar membuat Ikhsan semakin menggebu.
Tanpa sadar kedua nya kini tanpa sehelai apapun, hingga senjata Ikhsan yang sudah tegak mengacung siap arah kan pada titik kenikmatan.
Hentakan pelan hingga cepat untuk memberikan kepuasan kedua nya kini saling bekerja sama memberikan suatu rasa hingga terbang ke atas langit ke 7.
Sampai akhir nya, sari cinta pun di tumpahkan berkali - kali, kedua nya sama - sama dengan nafas yang naik turun, dan satu kecupan di kening Ikhsan darat kan.
"Mas bahagia sayang, Mas bahagia kamu milik Mas seutuhnya sekarang."
"Terima kasih Mas. "
__ADS_1
***
"Mas, stop dong. Ini sudah ketiga kali nya loh." Ucap Mawar yang kini sedang duduk di kedua paha Ikhsan.
Kedua tangan Mawar di kalung kan di leher Ikhsan dengan tangan Ikhsan yang berada di balik pakaian dinas Mawar yang membuat senjata milik suami nya selalu berdiri tegak.
"Kamu itu harus bertanggung jawab, kalau suami kamu ini sekarang nggak bisa diam."
"Tapi kan Mas, kita hari ini saja sudah berapa kali, malam saja sampai shubuh."
Ikhsan tak menghiraukan kata - kata Mawar, kini tubuh nya yang bertelanjang dada masih terlihat jelas beberapa stempel yang Mawar berikan tadi malam.
"Mas." Pekik Mawar saat bagian sensitif nya Ikhsan mainkan.
"Suka kan? " Ucap Ikhsan.
"Stop Mas. " Mawar memejamkan mata nya saat sesuatu berputar di bawah.
Ikhsan mengangkat tubuh Mawar dengan menggendong ala koala, dan di dalam kamar terjadi kembali pertempuran panas yang tidak henti - henti.
*****
"Maaf Bunda, Satria sama Bunda dan Ayah." Ucap Mawar langsung menggendong Satria.
"Nggak apa - apa, kalau Satria sama kalian kan nggak bisa malam pertama." Ucap Pak Muji.
"Ayah bisa aja. " Ucap Ikhsan tersipu malu.
"Itu wajah kamu kenapa? " Tanya Ibu Neta yang melihat wajah Ikhsan memerah.
"Jangan bicara malam pertama. " Jawab Ikhsan.
Pak muji tertawa terbahak - bahak sampai Ibu Neta tidak bisa menahan tawa hingga ikut tertawa juga.
"Suami kamu ganas ya? " Bisik Ibu Neta pada Mawar.
"Ih.. Bunda, masa Mawar harus cerita." Ucap Mawar menahan malu.
"Bunda juga pernah mengalami."
.
.
.
.
__ADS_1
.