
"Keadaan Satria bagaimana Bund? " Tanya Ikhsan saat makan malam bersama.
"Satria sudah mendingan, tambah gemuk ya tuh anak. Sakit juga tetap gemuk. " Jawab Ibu Neta.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Ikhsan kangen Satria hanya lewat telepon saja. " Ucap Ikhsan.
"Apa yang bisa Ayah bantu untuk kamu? " Tanya Pak Muji.
"Maksud Ayah? "
"Ya Maksud Ayah, tentang kamu sama Mawar."
"Oh itu, biar waktu yang merubah. "
"Waktu tidak ada usaha ya sulit. "
"Harus nya bagaimana Yah, saya sedang dekat malah menyuruh saya cari wanita lain."
"Cinta kamu sangat besar ya? " Ucap Ibu Neta.
"Sangat besar, setiap hari sangat merindukan nya. "
"Apa kamu tidak capek? " Tanya Pak Muji.
"Tidak ada kata lelah. " Jawab Ikhsan.
Ikhsan duduk di teras depan rumah nya sambil menikmati malam, Viola duduk di samping kakak nya sambil menyeruput es jeruk nya dan menawari sang kakak.
Ikhsan lalu ikut menyeruput es jeruk yang sangat asam, dan menyerah kan kembali pada Viola.
"Nggak pake gula apa? "
"He... pake tapi dikit. "
"Ngelamun aja. "
"Kakak kan besok libur, apa pulang bentar aja ya perjalanan kan tiga jam an naik motor nanti besok balik lagi. "
"Memang ada apa sih pulang? Bukan nya Ibu sama Bapak lagi berdagang. "
"Ada rindu yang menggebu. "
"Mba Mawar? "
"Iya, kakak kangen dia sama Satria. Apalagi Satria sedang sakit sekarang. "
"Kakak itu sebagai pria nggak ada harga diri sama sekali. "
"Maksud nya? "
"Si perempuan nya saja diam dan cuek dan nggak balas apa - apa, malah di kejar terus. Ingat kak jangan sampai suatu saat jatuh sakit pula. "
"Beribu di tolak, beribu di sakiti Kakak tetap mencintai nya. "
"Kakak yang aneh. " Ucap Viola.
****
Dengan modal nekad, tengah malam Ikhsan mengendarai motor nya menerjang dingin nya malam, bahkan hujan mengguyur sangat deras. Ikhsan terus menerobos untuk demi rasa rindu nya bertemu dua orang yang sangat Ikhsan sayangi.
Tepat pukul dua malam, Ikhsan sampai rumah sakit dengan segera melepaskan jas hujan nya. Hujan masih setia mengguyur Bumi, Ikhsan langsung berjalan menuju kamar rawat Satria yang sebelumnya menanyakan pada Bunda nya.
Di buka pelan, terlihat Mawar terhibur di samping Satria dan terlihat seorang wanita tengah tertidur di sofa.
Ikhsan tersenyum saat melihat kedua nya tertidur, mata Satria membuka, bayi lucu itu langsung tersenyum seakan mengenal wajah siapa yang datang.
"Sayang nya Papi bangun, tahu ya Papi datang." Ucap pelan Ikhsan.
__ADS_1
Rengekan Satria ingin di gendong langsung Ikhsan angkat, Satria pun langsung diam dan mulai memejamkan mata nya kembali.
Mawar terbangun saat merasakan Satria tidak ada di samping nya dan terkejut saat melihat Ikhsan tengah menggendong Satria.
"Mas, kapan datang? " Tanya Mawar.
"Sssttt pelan suara nya, Satria mulai tidur lagi." Jawab Ikhsan yang masih menggendong Satria.
Mawar merapikan rambut nya dengan di ikat dan segera turun dari atas tempat tidur.
"Mas kangen, kangen kamu sama Satria."
"Bisa lewat video call, lagian Mas sering ijin."
"Besok Mas lepas, ada waktu. Sore juga Mas pulang kok. "
"Apa nggak capek di jalan. "
"Demi kalian Mas nggak capek. "
" Sini Mas, biar saya tidur kan." Ucap Mawar.
"Biar Mas aja. " Ucap Ikhsan langsung menaruh pelan Satria di atas tempat tidur dan membetulkan kembali selang infus nya.
"Kapan bisa boleh pulang? " Tanya Ikhsan.
"Kalau tidak besok lusa bisa pulang, lihat perkembangan nya. " Jawab Mawar.
Ikhsan lalu duduk di sisi tempat tidur sambil memegang tangan Satria.
"Sejak dia lahir, Mas selalu kangen sama Satria. Dia ini membuat Mas semangat. "
"Mas mau saya buatkan minuman hangat? "
"Nggak usah, kembali tidur saja."
"Sudah jangan ambil pusing, kamu tidur lagi. Masih malam. "
"Nggak bisa tidur. "
"Kenapa? "
"Ya ada Mas Ikhsan. "
"Ganggu ya. "
"Iyalah jelas ganggu orang tidur. "
Ikhsan tersenyum dengan menatap kedua mata Mawar sangat lekat.
"Kenapa lihatin saya seperti itu? " Ucap Mawar.
"Kita menikah saja, setelah selesai masa nifas kita menikah. "
"Mas."
"Stop, jangan teruskan. Mas sudah tahu jawaban nya. " Ucap Ikhsan sambil tersenyum.
****
Mawar dan Ikhsan tertidur satu ranjang dengan Satria di tengah nya, Maesaroh terbelalak kaget saat melihat seorang pria tertidur di atas tempat tidur yang sama.
Maesaroh dengan memberanikan diri membangun kan majikan nya.
"Bu." Panggil Maesaroh pelan.
Mawar terbangun dan mengucek matanya saat merasakan ada yang membangun kan nya.
__ADS_1
"Bu, kok Pak Ikhsan ada disini? "
"Iya datang tadi malam, sekarang jam berapa?"
"Jam 5 pagi. "
"Nanti jam 6 Mba Mae pulang saja dulu sambil bawa baju kotor, Bapak kayak nya nggak akan pulang ke rumah. "
"Ya sudah bu, nanti saya keluar cari sarapan buat Ibu sama Bapak. "
"Iya, nih uang nya. " Ucap Mawar sambil membuka dompet nya.
Ikhsan masih tertidur lelap sambil memeluk Satria, terlihat Satria pun sangat nyaman di dalam pelukan Ikhsan.
pukul 7 pagi Ikhsan terbangun saat ada visit Dokter yang akan memeriksa Satria yang masih tertidur.
"Maaf ya Pak mengganggu. " Ucap Dokter.
"Nggak Dok, saking nyenyak nya. " Ucap Ikhsan.
"Bagaimana Dok? " Tanya Mawar.
"Boleh pulang hari ini, karena perkembangan nya sudah cukup bagus. " Jawab Dokter anak.
"Alhamdulillah, terima kasih Dok. " Ucap Mawar.
"Nanti saya tulis resep nya buat di rumah, nanti ambil di apotek ya bu atau Bapak nya. "
"Biar saya saja. " Ucap Ikhsan.
"Kalau begitu, permisi. "
"Terima kasih Dok. " Ucap Ikhsan.
"Biar Mas yang urus semua nya. " Ucap Ikhsan.
Saat Ikhsan akan keluar Satria bangun dan menangis Mawar langsung mendekati Satria.
"Mamah disini sayang, sudah bangun ya. "
Satria menunjukan wajah sedih nya lalu Ikhsan mendekati Satria dan seketika wajah sedih Satria berubah.
"Lihat, ponakan saya ternyata nggak mau jauh sama Papi ya. "
"Papi keluar dulu ya nak, mau mengurus administrasi sama obat. " Ucap Mawar.
Satria kembali menangis seakan mengerti ucapan Mamah nya.
"Kamu tahu artinya apa, bayi yang belum genap satu bulan mengerti akan keadaan dan mengerti tentang hati. "Ucap Ikhsan.
" Menikahlah sama Mas, demi Satria. " Ucap Ikhsan kembali.
"Mas, Satria belum mengerti. Mungkin di kira Mas itu Papah nya, saat dia besar nanti tahu kalau Papah nya sudah meninggal dunia."
"Satria akan paham nanti, Satria pasti membutuhkan sosok seorang Papi, Mas sudah mendapatkan ijin dari Almarhum untuk menjaga kalian, Mas ingin melanjutkan nya."
"Saya belum bisa kasih jawaban Mas. "
"Mas akan tunggu, sampai rambut Mas memutih juga Mas akan tetap menunggu."
"Tolong beri saya waktu, jangan memaksakan hati. "
.
.
.
__ADS_1
.