Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Melepaskan Untuk Selamanya


__ADS_3

Dengan tubuh yang lemas, Mawar lengan nya di pegang Nirmala dan Haikal, mobil Ambulance tepat berhenti di depan rumah, air mata Mawar tak bisa di bendung lagi saat melihat kedua mertua nya turun dari mobil Ambulance dengan isak tangis, dan apalagi melihat Ikhsan yang masih penuh darah yang sudah mengering mengering ikut mengangkat peti Jenazah.


"Mas Akbar....!!! "


Hiks... hiks.. hiks..


"Mas Akbar...!! "


Mawar berlari memeluk peti jenazah suami nya, tangis nya sangat begitu histeris saat tubuh suami nya yang kini berbaring di dalam peti tersebut.


"Mas kenapa kamu pulang sudah tidak bernyawa, kamu pamit untuk menemui adik kamu hiks.. hiks.. kenapa kamu pulang sudah keadaan begini Mas hiks.. hiks... "


"Sabar Mawar, sabar ya. " Ucap Nirmala mengusap punggung Mawar.


"Mas... seharusnya saya tidak menyuruh kamu kesana hiks.. hiks... kalau saya tidak menyuruh menemui adik kamu demi Ibu pasti kamu masih hidup Mas hiks.. hiks.. "


"Apa, Akbar menemui Ikhsan hanya untuk Ibu?" Ucap Ibu Ratih.


"Iya, karena Ibu marah pada saya. Ibu Marah karena Mas Ikhsan tidak mau menginjakkan kaki nya kesini lagi karena saya, benar bu saya orang yang menyebabkan kedua anak Ibu renggang, dan lihat karena saya juga Mas Albar meninggal dunia. Hukum saja saya bu hiks... hiks... hukum saja saya, kalau saya ini adalah pembawa sial. " Ucap Mawar lantang.


"Mas Akbar.... hiks... hiks..!! "


Mawar yang tak kuat lagi menompang lagi tubuh nya tak sadarkan diri, dengan segera Haikal mengangkat tubuh Mawar.


Para Takjiah pun datang berbondong - bondong, mulai dari tetangga, saudara bahkan teman - teman dari kesatuan nya.


Ikhsan yang sudah berganti pakaian langsung menerima tamu dan sedang bersiap - siap menuju ke pemakaman.


Terdengar tangisan Mawar saat paman dan bibi nya datang, Ikhsan hanya diam mengingat saat terakhir Akbar meminta untuk berbicara lebih lama lagi.


"Kita berangkat sekarang ke masjid untuk di shalat kan. " Ucap Haikal.


"Bagaimana dengan Mawar, dia juga kan harus tahu Jenazah nya akan di makam kan." Ucap Ikhsan.


"Pergilah ke dalam, kamu dekati dia. Mungkin kamu bisa menenangkan tangisan nya. "


Ikhsan masuk kedalam kamar Akbar, terlihat photo pernikahan Mawar dan Akbar. Mawar yang terus menerus menangis sambil memeluk tubuh Ibu Nia.


"Mawar." Ucap Ikhsan pelan sambil berjongkok di depan nya.


"Jenazah nya mau di shalat kan, terus langsung di bawa ke pemakaman. Untuk terakhir kalinya kamu antar sampai depan pintu rumah saja. " Ucap Ikhsan.


Mawar hanya diam dengan mata yang sangat sembab, Ikhsan memberanikan diri memegang tangan nya.


"Kami akan tetap berangkat, walau kamu tidak mengantarnya. Lebih cepat lebih baik. "


Mawar melepaskan pelukan nya pada Ibu Nia, dengan masih sedikit lemas Mawar berusaha berjalan.


Nirmala yang selalu setia menemani akhirnya memapah Mawar menuju ke ruang depan.


*****

__ADS_1


Mawar melihat tubuh Akbar kini di masukan kedalam liang kubur, air mata Mawar serasa sudah kering dan hanya diam menatap hingga tertutup tanah.


Mawar menaburkan bunga dan lalu mencium nisan yang bertulisan nama Akbar.


"Selamat jalan Mas, mungkin kamu kemarin - kemarin sudah memiliki firasat bahwa kematian akan datang. Mas katakan kita tidak mungkin akan terus bersama, mas terus berkata seolah sudah tahu kematian akan menghampiri Mas. Kini Mas sudah pergi untuk selama - lamanya. I love you Mas." Ucap Mawar mencium kembali nisan nya.


*****


"Bu maafkan Ikhsan ya, bukan Ikhsan yang nggak ingat sama Ibu. "


"Ibu nggak tahu, kalau ternyata Akbar kecelakaan setelah menemui kamu. "


"Saya menyesal bu, saat Kak Akbar meminta saya untuk lebih lama mengobrol, saya menyesal bu saat itu sikap saya acuh. Ikhsan nggak tahu kalau ternyata pertemuan nya adalah yang terakhir. "


"Nak, kamu jangan tinggalkan Ibu sama Bapak, Akbar pergi saja kami sangat merasakan kehilangan. "


"Bu, kata Mas Akbar ibu marah sama Mawar. Jangan salah kan Mawar, dan kematian Kak Akbar pun bukan salah Mawar. "


*****


Mawar mengusap bantal yang biasa di tiduri Akbar, Mawar memeluk erat bantal tersebut dan sesekali mencium nya.


"Mas, baru beberapa jam kamu pergi. Saya sudah merasakan kangen, saya berharap ini hanya mimpi tapi nyatanya ini bukan mimpi."


"Mas Akbar. " Ucap Mawar lalu memejamkan mata nya hingga tertidur.


*****


"Bi, Mawar mana? " Tanya Ikhsan.


"Mawar sejak pulang dari kuburan belum keluar kamar. " Jawab Ibu Nia.


"Mawar belum makan apa - apa , semua nya nggak ingat sama Mawar ya apalagi sedang hamil. "


"Bukan nya tidak ingat, pintu kamar nya terkunci. "


Ikhsan langsung menuju ke kamar Mawar, di coba nya pintu terkunci dari dalam.


"Mawar, buka pintu nya. " Ucap Ikhsan mengetuk pintu kamar nya.


"Mawar masih belum membukakan pintu kamar nya? " Ucap Pak Hadi.


"Saya dobrak saja. "


Ikhsan mencoba mendobrak pintu kamar nya dengan sekali dobrak pintu terbuka, terlihat Mawar masih berbaring di atas tempat tidur.


"Mawar bangun. " Ucap Ikhsan sambil menyentuh lengan Mawar yang terasa sangat panas.


Ikhsan langsung mengangkat tubuh Mawar keluar dari kamar nya.


"Mawar kenapa? " Tanya Ibu Nia.

__ADS_1


"Mawar demam. " Jawab Ikhsan.


Ibu Ratih langsung mendekati Ibu Nia yang sedang membukakan pintu mobil.


"Mawar kenapa Ikhsan? "


"Mawar demam, ini Mawar pingsan. "


"Kamu Ratih nggak usah sok peduli sama menantu kamu, gara - gara kamu membuat Akbar pergi untuk selamanya. Enak saja mengatakan gara - gara ponakan saya, seharusnya kamu pikir siapa yang salah disini. Bukan Mawar saja, tapi semuanya salah. " Ucap Ibu Nia dengan nada kesal.


****


"Sebaiknya Ibu di rawat, karena kondisi nya yang lemah dan janin nya juga. Kalau tidak segera di larikan kemari bisa kehilangan calon bayi nya. " Ucap Dokter.


"Tolong Dok, selamat kan semua nya. " Ucap Ikhsan.


"Kami akan usahakan semaksimal mungkin."


Ikhsan menatap tubuh Mawar yang semakin lemah, dengan selang Infus yang menancap di lengan nya.


"Saya janji kak, sesuai wasiat Kakak saya akan jaga mereka berdua. Bagaimana caranya, biar waktu yang akan menentukan nya. "


Dalam gelap Mawar berdiri diam di tempat, hanya semilir angin dan kabut menutupi semua pandangan Mawar.


Sebuah tangan menyentuh namun tak terlihat siapa yang menyentuh.


"Siapa kamu? "


Tiba - tiba datang sebuah tangan yang memegang tangan kanan nya, sedangkan yang menyentuh tangan kiri terlepas.


"Siapa kalian. "


"Ikut lah dengan seseorang yang menggenggam tangan kamu . " Bisik seseorang di telinga Mawar.


"Mas Akbar, kamu dimana Mas? Saya tidak bisa melihat kamu. "


Kabut pun tiba - tiba menghilang, Ikhsan sesudah berada di samping Mawar yang sedang menggenggam tangan nya.


"Mas Ikhsan, Mas Akbar mana? "


Ikhsan hanya diam dan tersenyum, sedangkan Mawar terus mencari Akbar.


"Mas Akbar.... kamu dimana? "


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2