
"Mah, lipatan paha Satria pada merah? " Tanya Ikhsan saat melihat kedua lipatan paha Satria yang memerah.
"Kena gemuk itu, jadi pada merah. " Jawab Mawar.
"Kasih obat dong, kasihan. Ini juga kena pampers ya? "
"Udah di kasih salep, itu mendingan loh."
"Kasihan loh. "
Satria memegang wajah Ikhsan dan tersenyum, Ikhsan menciumi perut buncit Satria hingga merasakan geli dan tertawa terbahak - bahak.
"Mas, jalan yuk. " Ajak Mawar.
"Jalan kemana? "
"Kemana aja, lama kita nggak jalan. "
"Satria nya? "
"Di ajak dong, Mba Mae kan butuh istirahat."
"Mba Mae suruh pulang aja, Mas kan ada disini. "
"Nggak pulang ke rumah Mawar? "
"Nggak akh mau nginep disini saja."
Mawar menaruh dagu nya di bahu Ikhsan, Satria terus tertawa karena Ikhsan terus menggoda nya.
"Satria mengira Mas itu Papah nya. "
"Kalau sudah besar, katakan saja yang sebenarnya. " Ucap Ikhsan.
"Iya, kalau sudah besar dan mengerti."
"Cium Mamah sayang. " Ucap Ikhsan dan Satria pun mencium pipi Mawar.
"Papi cium dong. " Ucap Ikhsan lantas Satria mencium kedua pipi kanan dan kiri Satria.
Ponsel Ikhsan berdering,tanpa di suruh Mawar langsung mengambil ponsel Ikhsan di saku celana nya.
Mawar menatap kesal saat melihat Murni yang menghubungi Ikhsan.
"Angkat." Ucap Ikhsan saat tahu Murni yang menelepon.
"Mas nggak mau angkat?" Ucap Mawar.
"Angkat, nggak apa - apa. "
Mawar pun menggeser tombol warna hijau dan tak langsung menjawab.
"Mas Ikhsan, apa kabar? "
Dengan malas dan memutar bola matanya nya langsung mulut nya komat kamit.
__ADS_1
"Kabar Mas Ikhsan baik. " Ucap Mawar.
"Hey... ini siapa? " Ucap Murni yang sengaja oleh Mawar ponsel paka mode loudspeaker.
"Saya istri nya Mas Ikhsan, kenapa? "
"Hah.. kapan nikah, jangan ngaku - ngaku deh."
"Kamu nggak percaya, ini ponsel punya suami saya. Dan saya istri nya, kamu paham. Sekarang kamu mau perlu apa sama suami saya, nanti saya sampaikan. "
"Kasihkan dulu sama Mas Ikhsan."
"Maaf, Mas Ikhsan nya capek. Tadi kita habis kulit ketemu kulit, bulu ketemu bulu. "
Ikhsan menoleh ke arah Mawar, dan menatap bingung.
"Kamu paham kan peribahasa itu? "
"Ya sudah, katakan sama dia. Kalau besok rumah sudah mulai di renovasi. Dana nya suruh transfer ke rekening yang kemarin saya kirim."
"Ok, nanti saya sampaikan. Bye..!! " Mawar langsung mematikan secara sepihak, dan menyerah kan ponsel pada pemilik nya.
"Apa tadi maksud nya, kulit ketemu kulit, bulu ketemu bulu. Baru tahu ada peribahasa begitu, perasaan waktu sekolah nggak ada."
"Emang bukan peribahasa, itu hanya kata - kata biasa yang punya arti."
"Tapi apa sih maksud nya? "
"Dah akh jangan di bahas, itu si Murni suka ya hubungi Mas? "
"Apa nggak bisa suruh bunda atau Ayah? "
"Kan pakai uang nya Mas. "
"Ya uang nya Mas, tapi Bunda saja yang urus. Saya nggak suka, kalau Mas yang urus. Bisa - bisa bikin geer dia saja."
"Tenang Mah, cinta Papi nggak akan pernah berpaling dari kamu. Hanya nama Mawar satu di hati. "
"Preeeettt." Ucap Mawar langsung berdiri meninggalkan Ikhsan dan Satria.
****
"Mah, jangan bete terus itu wajah. Katanya mau jalan - jalan, ini kita makan sudah, belanja punya Satria sudah. Mumpung masih di mall, Mamah mau apa, biar Papi yang bayarin."
"Bener ya, ngerayu nya jangan bohong."
"Iya, ini Papi baru gajian loh."
Mawar lalu berbelok masuk ke sebuah toko perhiasan, Mawar memilih satu set perhiasan dengan harga yang nominal fantastis."
"Udah itu saja? "
"Bayarin tuh dari pada uang nya buat Murni, pasti kan kasih lebih. "
"Astagfirullah, kasih lebih juga nggak apa - apa Mah, Murni kan jaga rumah Papi."
__ADS_1
"Nggak ikhlas. "
Ikhsan dengan sambil mendorong stroller, hanya bisa diam dan tidak mau berdebat lagi.
****
"Ada apa Bunda sama Ayah suruh datang kemari? " Tanya Ibu Neta.
"Ayah sampai baru saja selesai pertemuan langsung kemari. " Ucap Pak Muji.
"Nih, Mawar bawaan nya kesal terus sama Ikhsan gara - gara Murni telepon. Padahal dia hanya mau bilang masalah rumah, saya transfer Murni kasih lebih malah bilang nggak Ikhlas. " Ucap Ikhsan memberikan penjelasan.
Pak Muji dan Ibu Neta saling melemparkan senyum, dan Mawar hanya masih diam.
"Jadi mau nya gimana? " Tanya Pak Muji pada Mawar.
"Mau nya masalah renovasi rumah jangan Mas Ikhsan yang sering mengontrol walau lewat ponsel juga. Kalau bisa Bunda atau Ayah. " Jawab Mawar.
"Gimana menurut Bunda? " Tanya Pak Muji.
"Baik kalau begitu, biar Ayah sama Bunda saja." Jawab Ibu Neta.
"Puas kan sekarang? " Ucap Ikhsan.
"Sangat puas. " Ucap Mawar sambil tersenyum.
"Bund, lebih baik kita segera bicarakan saja sama Mas Handoko dan istri nya biar anak. kita segera menikah kan Mawar. Nanti Ayah akan hubungi Mas Hadi dan Mas Handoko, kalau lama nggak di nikahkan pasti sering berantem masalah cemburu begini. " Ucap Pak Muji.
"Benar Ayah, bunda sangat setuju. Ayah segera hubungi mereka agar cepat pulang, dan kamu urus berkas - berkas nikah nya juga." Ucap Ibu Neta.
"Siap Bunda, Ayah. " Ucap Ikhsan.
****
Setelah di hubungi oleh Pak Muji, kini Pak Handoko dan Ibu Ratih, Pak Hadi dan Ibu Nia sudah datang dan berkumpul di rumah Mawar milih Ikhsan.
Acara lamaran yang tanpa rencana pun terjadi, Ikhsan langsung melamar Mawar di depan keluarga nya dengan tanpa cincin atau simbol lain nya.
"Hari ini, di depan orang tua saya dan di depan Paman Bibi kamu, dengan hati tulus dan niat yang sudah mantap, saya Ikhsan melamar untuk menjadi calon istri dan calon ibu dari anak - anak saya. Apakah mau untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi mengarungi deras nya ombak dengan pasang surut naik nya air laut, ibarat itu lah kehidupan ke depan nya. "
"Hari ini, adalah hari bahagia buat saya pribadi dan keluarga saya. Hati ini menerima dengan rasa yang luar biasa, tak percaya sekarang akan menjadi calon suami dan Ayah dari anak - anak saya. Semoga kelak kita akan menua bersama, suka duka kita bersama. Dengan suatu ikatan cinta dan janji suci. Bismillah saya terima Mas menjadi jodoh dunia akhirat saya. "
"Alhamdulillah." Ucap semuanya.
"Mungkin kita memang ditakdirkan dengan cara bersatu nya seperti ini. Alhamdulillah penantian dan harapan itu tidak sia - sia." Ucap Ikhsan.
"Mas Akbar, maaf bila cinta ini harus saya bagi. Tapi percayalah cinta untuk Mas Akbar tidak akan pernah saya lupakan, dan semua kenangan indah kita. Tapi saya akan simpan di dalam hati ini dalam - dalam, cinta Mas Akbar akan tetap ada di hati, walau mungkin dengan cara yang berbeda."
.
.
.
.
__ADS_1
.