Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Calon Buah Hati


__ADS_3

Mawar menunggu hasil testpack nya, rasa campur aduk dan berdoa di dalam hati agar hasil nya sesuai yang di harapkan.


Mawar dengan sedikit perlahan melirik ke alat tersebut, dan ternyata hasilnya sesuai yang di harapkan dua tanda garis merah.


"Alhamdulillah, positif. " Ucap Mawar yang dengan segera berjalan ke arah meja rias untuk mengambil ponsel nya.


Mawar mengirim kan hasil testpack nya pada Ikhsan, dan centang biru terlihat. Ikhsan langsung menelepon Mawar dan dengan hati sangat bahagia Mawar mengangkat nya.


"Mas, saya hamil. "


"Alhamdulillah, makasih Ya Allah." Ucap Ikhsan dari seberang.


"Satria bakal ada teman nya. "


"Alhamdulillah Mah, semoga sehat semuanya. Papi sangat bahagia dengar nya, ini kado terindah di tahun ini Mah, Papi benar - benar bahagia mendengar kabar ini."


"Mami juga merasakan sama Pap. "


"Maaf ya, kalau Papi nggak di samping Mamah, nggak bisa menuruti ngidam nya Mamah, tapi Papi sedang berusaha anak kedua lahir Papi akan ada disana dan setiap hari bersama, kita kumpul. "


"Mamah juga nggak masalah kan itu, asal komunikasi lancar saja Pap. "


"Jaga baik - baik calon anak kita, jangan capek - capek. "


"Iya Pap, Mamah nggak akan capek - capek, semoga nggak rewel ngidam nya. "


*****


"Pak, kita mau punya cucu lagi. " Ucap Ibu Ratih.


"Alhamdulillah, cucu kita nambah ya bu. " Ucap Pak Handoko.


"Selamat ya nak, kabar ini pasti Paman bibi kamu senang. " Ucap Ibu Ratih.


"Saya akan kasih kejutan Bu, rencana mau pulang kesana. Sejak Satria lahir kami belum kesana lagi, kebetulan Satria kan sudah besar." Ucap Mawar.


"Apa kamu yakin, usia kehamilan kamu masih sangat muda, mau perjalanan jauh."


"Insya Allah kuat Bu. "


"Kapan rencana kesana? " Tanya Pak Handoko.


"Nanti Pak, kalau pulang lagi. Kemarin baru saja pulang, kasihan kalau setiap minggu bolak balik, walau hanya 3 jam an perjalanan kan kasihan." Jawab Mawar.


*****


"Jadi Mawar hamil Ikhsan? " Ucap Ibu Neta.


"Alhamdulillah Bunda, tapi nggak tahu usia berapa, soalnya belum ke dokter katanya nanti nunggu saya pulang. " Ucap Ikhsan.


"Ikhsan, menurut kamu Alex gimana orang nya? " Tanya Pak Muji.

__ADS_1


"Baik,itu menurut saya. Karena kan kenal dia juga disini Yah. Kenapa memang nya? " Jawab Ikhsan kembali bertanya.


"Ayah lihat mereka sangat intim, Ayah khawatir apa yang ada di pikiran Ayah."


"Ayah tenang saja ya, jangan kejauhan." Ucap Ikhsan.


"Benar apa yang di katakan Ikhsan. " Ucap Ibu Neta.


*****


"Kak."


"Ya, Kakak mau balik, kenapa? "


"Katanya, mba Mawar hamil ya? "


"Iya, Kakak belum tahu masuk berapa bulan."


"Waktu mba Mawar hamil, rewel atau mual nggak? "


"Kakak nggak terlalu tahu banget, tapi nggak begitu rewel. Kenapa? "


"Nanya aja sih, wanita hamil itu seperti apa."


"Nanti kalau udah menikah kamu rasakan."


*****


"Iya."


"Masuk usia berapa bulan? "


"Belum saya cek ke dokter, nunggu Mas Ikhsan. "


"Selamat ya. "


"Terima kasih."


"Eh.. lihat itu istri Pak Jefri. "


Seorang wanita anggun datang menghampiri Mawar dan wanti, dengan senyuman manis nya menyapa kedua nya.


"Ibu mau ketemu sama Bapak? " Tanya Mawar.


"Iya, Bapak ada kan? Soalnya tadi di telepon nggak di angkat. " Jawab Shiren wanita yang di ketahui nama nya.


"Wanti, Pak Jefri sudah selesai belum sama Pak Salim? " Tanya Mawar.


"Di lihat Pak Salim belum keluar, tapi Ibu masuk saja nggak apa - apa. " Jawab Wanti.


"Nanti lah disini saja, takut ganggu. "

__ADS_1


Shiren menatap Mawar yang sedang memakan manisan mangga, sambil sesekali mencolet sambal.


"Itu mangga muda. "Ucap Shiren.


" Benar Bu, mau Bu. " Ucap Mawar sambil menawarkan pada Shiren.


"Nggak mau, asam. Kamu sedang isi? "


"Alhamdulillah Bu. "


"Syukurlah, kalau saya tidak mau punya anak. Karena saya takut pernikahan ini nggak lama, nanti kalau punya anak resiko besar, mending Ayah nya masih menanggung biaya, kalau sudah nikah lagi mana mungkin menanggung, benar nggak? "


Mawar dan Wanti saling melirik dan melemparkan senyum pada Shiren.


"Saya pernah janda Bu, malah janda mati. Uang peninggalan suami lumayan lah tapi saya juga harus putar otak, alhamdulillah rejeki anak saya di angkat PNS, dan kini saya menikah lagi dan alhamdulillah sayang sama anak saya. "


"Beda cerita nya. "


"Sama Bu, kalau masalah di anak tiri kan, anak saya anak tiri nya, bahkan sekarang saya hamil sama suami yang baru, kasih sayang nya nggak luntur. "


"Anak nya belum lahir, coba kalau sudah lahir. Kalau saya jadi kamu, nggak mau punya anak."


****


"Kamu kenapa tanya begitu? "


"Mas jujur, kalau anak ini lahir masih sayang kan sama Satria? " Ucap Mawar dari seberang.


"Ya Allah, masih sayang dong masa nggak sayang. Dari mana kamu punya pikiran seperti itu, Mas nggak akan membeda - bedakan. "


"Saya takut saja Mas, takut semua nya berubah. "


"Nggak lah sayang, Satria adalah anak Mas, dan tidak mungkin Mas membedakan nya. Anak kita lahir, Satria tetap menjadi anak Mas. Percaya sama Mas, buang pikiran seperti itu."


"Maaf ya Mas, maaf kan Mawar. "


"Iya nggak apa - apa, Mas ngerti kok. "


Ikhsan tersenyum setelah menerima telepon dari Mawar, sambil menatap wallpaper ponsel nya photo mereka bertiga.


"Mas sayang kalian, sayang Satria. Dia ponakan sekaligus anak sambung Mas. Cinta Mas tidak akan pernah berubah pada kalian."


.


.


.


.


Yang belum mampir karya baru, mampir yuk....

__ADS_1


__ADS_2