
Mawar membuka pintu kamar rawat secara perlahan, terlihat Ikhsan yang sedang berbaring dengan selang infus menancap di punggung tangan nya.
Mawar berdiri di tepi ranjang, sedangkan Ikhsan memunggungi nya. Tangan Mawar ingin menyentuh pundak Ikhsan namun Mawar menarik nya kembali.
"Mawar... Mawar.. kamu kenapa tega. "
Mawar mendengar Ikhsan mengunggah saat itu tubuh Ikhsan terlentang dengan mata masih terpejam namun bibir nya terus mengigau.
"Mas." Ucap Mawar sambil menyentuh pelan punggung tangan Ikhsan.
Terlihat dari sudut kelopak mata Ikhsan keluar air mata, Mawar pun mengusap nya.
"Mas, bangun ini saya Mawar. "
Mata Ikhsan perlahan terbuka, dengan pandangan masih samar Ikhsan menatap ke arah Mawar.
Air mata Ikhsan kembali keluar lalu memunggungi Mawar dengan menyembunyikan isak kan tangis nya.
"Mas, saya minta maaf ya." Ucap Mawar.
"Kamu sama siapa kesini? " Tanya Ikhsan sambil mengusap air matanya.
"Sama Mas Akbar, ada Bang Haikal juga." Jawab Mawar.
"Kamu sudah melihat rumah yang Mas bangun untuk kamu? "
"Belum Mas, saya belum melihat nya. "
"Mas kan sudah kasih kunci nya, kamu terima kan? "
"Justru saya ingin mengembalikan nya. "
"Saya susah payah mengumpulkan nya untuk itu semua, tapi kamu tidak ingin menerima atau melihat nya. "
"Saya bukan lagi calon istri Mas Ikhsan, saya istri Mas Akbar kakak Mas Ikhsan."
"Tolong lihat dulu, kalau kamu ingin mengembalikan nya taruh di kamar utama. Kamu akan lihat disana ada apa saja."
Mawar menyentuh tangan Ikhsan, lalu mencium punggung tangan Ikhsan dengan berkali-kali. Mata Ikhsan terpejam saat merasakan kembali sentuhan bibir milik Mawar.
"Saya bukan lah sebuah Mawar berduri yang bisa melindungi dirinya sendiri, saya tidak bisa memegang janji itu. Kini tidak ada lagi bunga Mawar yang selalu menghiasi di pagi hari. "
"Jadilah bunga Mawar untuk Kak Akbar, jadilah Mawar berduri untuk tetap setia dan menjaga selama menjadi istri Kak Akbar. Dia pria baik, dia akan menjadikan kamu ratu. Semoga kalian menjadi jodoh dunia akhirat."
Mawar menatap ke arah Ikhsan yang terus menundukkan wajah nya saat berusaha bersandar di kepala ranjang.
"Mas."
"Keluar lah, Kak Akbar pasti cemas. Dia pasti mengira kita melakukan hal yang tak sepantas nya. "
__ADS_1
"Apa Mas, tidak akan pernah melihat saya kembali? "
"Apa Mas tidak akan pernah mau untuk hadir diantara keluarga Mas yang selama ini memberikan kehangatan."Ucap Mawar.
" Biarlah, saya bahagia dengan cara saya sendiri, biarlah saya seperti ini. Dan asal kamu tahu, hati saya hanya ada kamu."
Mawar kembali memegang tangan Ikhsan, air mata Mawar menetes begitu juga Ikhsan sesekali mengusap air matanya.
"Maafkan saya, maafkan Kak Akbar. "
Ikhsan mengangguk kan kepalanya, dan semakin terisak.
"Mas begitu sangat cengeng ya, Mas baru sekarang menangis loh, nangis karena wanita." Ucap Ikhsan.
"Mas, saya nggak akan pernah lupa sama Mas. Tapi saya akan simpan rapat - rapat semua kenangan kita. Terima kasih selama dua tahun menemani saya, terima kasih." Ucap Mawar.
"Maaf kalau Mas banyak salah, banyak buat kamu kecewa. Maafkan Mas, sekali lagi Mas minta maaf. "
"Mas, boleh kah untuk terakhir kalinya saya memeluk Mas Ikhsan? " Ucap Mawar.
Ikhsan menatap ke arah Mawar, lalu menganggukkan kepala nya. Mawar pun langsung berhambur memeluk tubuh Ikhsan, tangisan Mawar tak bisa di bendung lagi.
Hiks... hiks.. hiks...
"Mas, maafkan saya. "
Ikhsan memeluk erat tubuh Mawar, berkali - kali Ikhsan menciumi pucuk kepala Mawar.
Dari celah pintu yang terbuka, Akbar mengintip. Haikal mengusap punggung Akbar, yang saat ini hatinya perih melihat sang istri saling berpelukan.
"Kamu lihat, Ikhsan berusaha tegar tapi rapuh hatinya. Ikhsan akan tetap mencintai Mawar, karena cinta Ikhsan untuk Mawar sangat lah besar. " Ucap Haikal.
"Saya yang membuat mereka berpisah, saya yang salah. " Ucap Akbar.
"Jangan saling menyalahkan diri sendiri, introspeksi lah. Dan jadikan ini semua menjadi suatu pelajaran." Ucap Haikal.
Akbar dan Haikal pun masuk, Ikhsan langsung melepaskan pelukan nya. Mawar pun segera mengusap air matanya.
"Dek, maaf kan Kakak. " Ucap Akbar.
"Saya maaf kan kak, tapi tolong jaga Mawar jangan sakiti dia kak. Karena kita mencintai wanita yang sama, kalau kakak menyakiti hati nya saya akan ambil Mawar. " Ucap Ikhsan.
"Untuk itu, kakak tidak akan pernah melepaskan Mawar untuk kembali sama kamu. "
Ikhsan tersenyum sinis dan menatap kedua nya.
"Setelah ini, jangan mengingat saya lagi. Biarkan saya pergi dan bahagia dengan cara saya sendiri. Karena saya masih mencintai istri Kakak. Jadi saya akan pergi jauh, kita tidak punya hubungan darah. Tapi saya tidak akan pernah lupa akan jasa kedua orang tua kakak. "
Akbar pun berkaca - kaca dan langsung memeluk tubuh Ikhsan, Ikhsan tak balas pelukan Akbar dan hanya dengan mata berkaca - kaca.
__ADS_1
"Dimana pun kamu berpijak, saya akan tetap anggap kamu adik. Dimana pun jasad kamu, saya akan mencarinya. "
"Berharap saya mati, dan ingat cinta saya untuk Mawar akan saya bawa sampai mati."
****
Ikhsan menatap jendela kamar nya, hujan rintik - rintik di luar menemani malam dingin sendiri. Hanya alunan musik pelan dari ponsel nya untuk menemani tidur nya.
Namun musik itu beralih dengan rekaman suara dirinya bersama Mawar.
Sayang, kalau Mas jadi bulan kamu jadi apanya?
Kalau Mas jadi bulan, saya jadi bintang nya biar bisa sama - sama saling menyinari.
Sayang, bila kamu punya sayap, kamu ingin terbang kemana?
Kalau punya sayap, Mawar ingin terbang bersama Mas Ikhsan ke surga. Disana Mawar ingin bersama Mas Ikhsan, tidak hanya di dunia tapi di surga nanti Mawar ingin bersama Mas Ikhsan.
I love you Mawar.
I love you too Mas Ikhsan.
Ikhsan hanya tersenyum sambil mengingat semua kenangan bersama Mawar.
"Mawar, sampai kapan pun Mas akan tetap mencintai kamu."
*****
Mawar menatap jendela kamar nya, sedangkan Akbar pergi bersama Haikal. Suara petir menggelegar, Mawar memegang kalung pemberian dari Ikhsan.
"Malam ini saya terakhir datang kemari, terakhir pula saya bertemu dengan kamu Mas. Terima kasih cinta, terima kasih untuk semuanya. "
Mawar mengecup bandul kalung nya lalu melepaskan kalung tersebut dan berjalan ke arah pintu kamar.
Akbar melihat Mawar berjalan keluar Motel, di bawah guyuran hujan Mawar berlari ke arah sebuah taksi online.
Akbar pun segera menyusul dengan kendaraan lain, disaat melihat ke arah jam menunjukkan pukul 12 malam.
"Mau kemana kamu? " Ucap Akbar pelan.
Sedangkan di dalam taksi, Mawar terus menahan dingin karena pakaian nya yang sedikit basah, hingga sampai lah di halaman rumah sakit.
"Kamu mau menemui Ikhsan lagi? " Ucap Akbar.
.
.
.
__ADS_1
.