Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Cinta Itu Selalu Ada


__ADS_3

Mawar membuka pintu gerbang rumah Mawar, aroma khas bunga Mawar tercium semerbak di hidung.


Mawar mencium setiap bunga yang ada di depan nya, tampak segar dan terawat. Mawar melihat lampu rumah yang masih menyala. Mawar membuka pintu rumah, terlihat bekas minum dan makan tergeletak di lantai dan sampah - sampah berserakan.


Mawar membuka setiap jendela hingga udara segar pun masuk, Mawar pun lalu menuju ke kamar utama yang masih gelap dan tertutup hordeng.


Mawar membuka hordeng tersebut, dan terlihat Ikhsan yang masih berbaring berbalut selimut tebal.


"Mas, bangun Mas. " Ucap Mawar.


Ikhsan bergerak namun masih memejamkan mata nya dan lebih memilih menarik selimut hingga menutup kepalanya.


"Mas, bangun. Ini ada saya Mawar. "


Ikhsan diam hanya terlihat tubuh nya menggigil, Mawar memaksa membuka selimut nya dan terasa sangat panas.


"Mas sakit? " Ucap Mawar.


"Kita ke Dokter ya? " Ucap Mawar.


"Nggak usah, Mas sudah minum obat. Itu di atas meja . "


Mawar memeriksa obat tersebut dan langsung ke luar kamar untuk menuju dapur. Mawar membersihkan semua sampah yang berserakan, dengan menyapu dan mengepel. Beberapa kali, Mawar mengusap keringat di dahi nya.


Setelah selesai menyapu dan mengepel, Mawar membuat kan bubur untuk Ikhsan. Dan membuat beberapa cemilan dengan bahan yang ada.


Ikhsan keluar dari kamar nya, terlihat semua nya sudah bersih dan melihat meja makan yang sudah penuh terisi.


Ikhsan mencari Mawar ke setiap sudut ruangan, saat sedang mencari Mawar masuk sambil membawa seikat bunga Mawar yang dia masukan ke dalam vas bunga.


"Mas sudah baikan? " Tanya Mawar.


"Kamu yang melakukan semua nya? " Tanya Ikhsan.


"Iya , tadi kelihatan kotor. Dan saya masakan bubur buat Mas. " Jawab Mawar.


Seharusnya jangan kamu lakukan, nanti juga Mas bereskan sendiri. "


"Nggak apa - apa, Mas makan ya. "


"Kamu tahu dari siapa Mas ada disini?"


"Tadi saat di kuburan bertemu sana Mang Dirman yang mau berziarah ke makam Mas Akbar. "


"Terus dia bilang apa? "


"Menyuruh saya kesini, melihat keadaan Mas."


"Mas baik - baik saja kok. "


"Baik apanya, Mas sakit. "


"Maaf, Mas sampai lupa 7 hari kak Akbar. Mas benar - benar pusing hari itu dan tidur dari pagi sampai malam."


"Mas, apa punya masalah? "


"Sok tahu. "


"Benar kata Mang Dirman Mas pasti memiliki sesuatu masalah. "


"Pulang lah, nggak baik seorang janda main ke rumah seorang pria."

__ADS_1


"Baik, saya pulang. Semoga cepat sembuh. "


Mawar bangun dari duduk nya dan mengambil tas yang berada di meja bar.


"Wanita yang melahirkan Mas, ternyata masih hidup. "


Mawar menoleh ke arah Ikhsan yang sedang mengaduk bubur nya.


"Maksud nya Mas, Ibu kandung Mas? "


"Benar, dia istri dari atasan Mas. Sekarang Mas sudah tahu kenapa Mas di buang, bahkan orang yang membenci Mas untuk lahir ke dunia sampai sekarang masih tak suka. "


Mawar kembali mendekat dan duduk di samping Ikhsan.


"Mas benci dia, Mas benci mereka. Apa Mas nggak pantas untuk di cintai dan mendapatkan kasih sayang. "


"Saya paham perasaan Mas, apa Mas akan terus membenci wanita yang melahirkan Mas? "


"Iya, dia itu bukan Ibu yang baik. Kalau ibu yang baik, dia akan selalu melindungi Mas. "


"Mas, ini semua cobaan hidup. Mas yang kuat, mana Mas Ikhsan yang dulu katanya kuat. "


"Sekuat nya orang pasti akan rapuh, semua terasa nggak adil buat Mas."


"Masih ada cinta Mas, hidup Mas masih ada cinta yang pasti Mas rasakan. Cinta dari Ibu Bapak, Mas lupa mereka yang membesarkan Mas. "


"Iya Mas akan selalu ingat. "


"Kalau begitu saya pamit, jangan lupa minum obat. "


*****


Mawar mengusap perut nya, sambil menaikan kedua kaki nya di kursi, setelah 7 hari kedua mertua nya pergi kembali berdagang, sedangkan di rumah hanya ada Mawar sendiri.


"Malam." Sapa seorang wanita dengan seorang pria dan beberapa orang yang berdiri di depan mobil nya.


"Malam, mau cari siapa? " Ucap Mawar.


"Kami ingin bertemu Ikhsan. " Ucapan wanita tersebut.


"Siapa ya? "


"Saya Pak Muji dan ini istri saya Ibu Neta, saya ini atasan Ikhsan, dan Ikhsan itu adalah anak buah saya. Tapi dia menjadi pengawal anak saya. "


"Maaf Pak Bu, mari masuk. " Ajak Mawar.


"Rumah nya kok sepi? " Tanya Pak Muji.


"Ibu sama Bapak sudah kembali berdagang, saya sendirian di rumah. " Jawab Mawar.


"Kamu istri dari Kakak nya Ikhsan? " Tanya Ibu Neta.


"Benar Bu, oh iya sampai lupa saya buatkan minum dulu. "


"Jangan nggak usah, kami kemarin mau cari Ikhsan.' Ucap Pak Muji.


" Mas Ikhsan tidak ada disini. " Ucap Mawar.


"Kemana dia? " Tanya Ibu Neta.


"Di rumah nya sendiri. " Jawab Mawar.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu alamat nya dimana? " Ucap Pak Muji.


"Dari sini hanya 10 menit, jalan Palem no 10." Ucap Mawar.


"Terima kasih, kalau begitu kami pamit. Permisi. " Ucap Pak Muji.


"Salam buat kedua mertua kamu. " Ucap Ibu Neta.


"Walaikumsalam, nanti saya sampai kan."


****


Ikhsan menatap kedua orang yang ada di depan nya, Ibu Neta dan Pak Muji berdiri di depan pintu sedangkan Ikhsan diam tak bergeming.


"Boleh kami masuk? " Tanya Pak Muji.


"Masuk Pak. " Jawab Ikhsan.


"Ada apa kalian kemari? " Tanya Ikhsan.


"Bunda rindu kamu nak, tidak hanya Bunda Ayah juga rindu. " Jawab Ibu Neta.


"Saya bilang, saya bukan anak Ibu. Dan kenapa kalian datang jauh - jauh membuang waktu, saya malas untuk menemui kalian." Ucap Ikhsan.


"Ikhsan, kamu boleh caci maki kami. Kamu. boleh marah atau kesal, tapi hargai kami untuk datang menemui kamu. " Ucap Pak Muji.


"Hargai, Ibu saja tega membuang saya. Kenapa harus di hargai. "


"Bunda, minta maaf. "


"Terlambat Bu, baru sekarang Ibu minta maaf dan mengejar saya. Kenapa tidak dari dulu Ibu mencari , padahal Ibu bisa bertanya - tanya tentang penemuan bayi, kenapa Ibu diam kalau memang Ibu menyesal dan ingin melindungi saya. Kenapa baru sekarang, buat Pak Muji terima kasih kalau bapak menerima hadir nya saya, tapi maaf semua nya sudah terlambat. Apalagi kedua orang tua Bapak masih tidak menyukai saya, Bapak kan pernah bilang akan memecat saya karena saya keluar dan tidak bertanggung jawab melaksanakan tugas. Saya tunggu surat pemecatan secara tidak hormat nya. "


"Nak, Bunda mohon maaf. "


"Benar Ikhsan, maaf kan ayah juga. "


"Maaf saya belum bisa. "


****


"Mas, ada apa tengah malam kemari? " Tanya Mawar dengan wajah bantal nya.


"Kamu kasih alamat pada mereka? " Tanya Ikhsan.


"Siapa? " Ucap Mawar.


"Seorang pria dan wanita. "


"Oh yang katanya atasan Mas, iya saya kasih tahu alamat nya. "


"Lancang kamu, lancang ya kamu kasih alamat saya ke mereka. "


"Lancang bagaimana, mereka datang baik - baik dan ingin bertemu sama Mas. "


"Aaarrrrggghh." Ikhsan kesal hingga memukul daun pintu sangat keras yang membuat Mawar kaget.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2