
Mawar memasukan beberapa pakaian nya ke dalam koper, dan perlengkapan bayi yang akan di bawa lusa bersama Ikhsan. Satu persatu mainan Satria pun di bawa nya dengan di bantu oleh Maesaroh.
"Bu, semua nya sudah di packing, apa ada lagi? " Tanya Maesaroh.
"Cukup lah nanti nggak akan muat di mobil. Lagian seperti Mba Mae nggak tahu saya, Bapak pasti beli di sana. " Jawab Mawar.
"Benar bu, apa yang di katakan ibu. Pasti Bapak beli di sana, dan yang jelas seisi toko di beli. "
"Betul itu. "
Satria berjalan lalu memeluk Mamah nya dari belakang, salah satu tangan Mawar pun meraih kepala Satria sambil mengusap nya.
"Anak Mamah lagi manja gini. "
"Ma- ma. " Oceh Satria sambil berjalan memutari tubuh Mawar yang sedang duduk.
"Pusing sayang, jangan berputar - putar gitu."
Satria akhirnya karena capek duduk di pangkuan Mawar, sedangkan Maesaroh memindahkan koper - koper di depan kamar.
"Mba Mae, nggak packing - packing? "
"Saya hanya bawa satu koper Bu, malam juga sempat kok. "
"Kirain belum ada persiapan, kan masih ada waktu. "
"Santai Bu, bapak aja baru pulang besok pagi."
"Oh Iya, besok jangan masak lagi beli saja ya biar nggak ada piring dan alat dapur kotor, nanti Mang Darman beli masakan jadi saja. "
"Sudah ada Bu stok di kulkas itu masih, saya juga sudah kasih tahu. "
"Ya sudah kalau begitu, urusan perdapuran kamu yang atur. "
"Iya Bu, pokok nya Ibu mah tahu beres. "
*****
"Loh kok sudah pulang? " Tanya Mawar saat hujan deras Ikhsan pulang.
"Tadinya mau besok, sekarang saja. " Jawab Ikhsan sambil mengerikan pakaian nya dengan handuk yang dia ambil dari dalam tas.
"Mau langsung mandi atau buat kopi? "
"Mandi dulu, tadi pulang dinas langsung on the way. "
"Mamah siapkan air hangat ya. "
"Nggak usah nanti papi saja. "
__ADS_1
"Nggak apa - apa, Mamah siapkan dulu. "
Mawar dengan membawa perut besar nya berjalan masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Ikhsan masih mengeringkan pakaian nya.
"Papi....!!! "
Ikhsan segera berlari setelah mendengar suara jeritan Mawar memanggil nama nya, Maesaroh yang sedang bermain bersama Satria pun ikut berlari.
"Ya Allah Ibu. " Ucap Maesaroh saat melihat Mawar memercing kesakitan memegang perut nya dengan tubuh terduduk di lantai.
"Astagfirullah, Mah. " Ucap Ikhsan panik langsung mengangkat tubuh Mawar.
"Sakit... Pap, sakit...!! " Teriak Mawar sambil meremas perut nya.
"Mba Mae, hubungi Bapak sama Ibu, saya ke rumah sakit sekarang. " Ucap Ikhsan.
"Baik Pak. "
Ikhsan mengendong tubuh Mawar dengan darah yang keluar mengalir di kaki nya, dengan panik Ikhsan pun langsung tancap gas menuju rumah sakit.
"Papi, sakit...!!! " Ucap Mawar sambil memegang perut nya.
"Iya, ini Papi sudah dengan cepat mengemudi nya. " Ucap Ikhsan.
"Aaaaaaa Papi....!!! "
Mobil pun sampai di rumah sakit, tepat berhenti di ruang UGD. Dua perawat langsung menyambut dengan membawa brankar, Mawar dengan darah yang keluar banyak tak henti merintih kesakitan.
"Mas, sakit...!!! "
"Iya sayang, Dokter agar segera menangani. "
Ikhsan pun duduk di kursi pasien, terlihat Ibu Ratih dan Pak Handoko datang dan langsung menghampiri Ikhsan.
"Bagaimana Mawar? "Tanya Pak Handoko.
"Mawar sedang di tangani. " Jawab Ikhsan.
Dokter pun keluar dan menghampiri Ikhsan serta kedua orang orang tua nya.
"Pak, istri anda harus di operasi cesar karena tidak mungkin untuk normal. Anak nya pun harus di lahir kan. "
"Belum saat nya Dok, bahkan masih dua minggu an lagi. " Ucap Ikhsan.
"Kondisi bayi nya harus segera di lahir kan karena terjatuh nya tadi sangat keras, sehingga harus di keluarkan bayi nya sekarang. "
"Tapi istri saya dengan anak saya nggak apa - apa kan Dok? "
"Bayi nya tiba - tiba detak jantung nya lemah, kita hanya bisa berdoa semoga di beri keajaiban. "
__ADS_1
"Ya Allah, lakukan yang terbaik Dok, selamatkan kedua nya. "
"Ibu mengalami banyak pendarahan, kami juga memerlukan stok darah yang banyak."
Ikhsan merasakan sangat lemas di kedua kaki nya hingga butiran bening keluar dari kedua sudut kelopak mata nya.
"Kalau begitu, kami siapkan operasi nya. "
Hiks.. hiks...
"Ibu Bapak, saya ingin kedua nya selamat." Ucap Ikhsan.
"Kita sama - sama berdoa ya nak. " Ucap Ibu Ratih.
****
30 menit sudah, operasi cesar Mawar selesai. Dokter pun langsung menghampiri Ikhsan dan keluarga nya setelah pasca operasi.
Terdengar suara tangis bayi namun tidak begitu sangat keras, Ikhsan melihat kedua perawat membawa putri nya langsung ke ruang khusus.
"Itu anak saya Dok? " Tanya Ikhsan saat kedua perawat melintas sambil mendorong box bay.
"Benar Pak, kami harus menangani anak. "
"Lantas istri saya bagaimana Dok? "
"Pak, rahim nya harus di angkat, akibat jatuh nya tadi. Tapi Ibu mengalami pendarahan hebat, dan sekarang kondisi nya semakin menurun. "
"Ya Allah, kenapa jadi begini. " Ucap Ikhsan, Ibu Ratih mengusap punggung putra nya untuk agar tenang.
"Kalau itu yang terbaik, lakukan Dok." Ucap Pak Handoko, karena Ikhsan tidak bisa berkata apa - apa lagi.
"Nak, kalau itu jalan yang terbaik buat istri kamu lakukan lah. "
"Mawar pasti sedih Pak, sudah kondisi putri kami lemah, Mawar harus di angkat rahim nya. Ya Allah bagaimana saya nanti katakan sama Mawar. "
"Insya Allah Mawar akan ikhlas nak, Mawar akan mengerti. " Ucap Ibu Ratih.
Ikhsan memejamkan kedua matanya, sambil merasakan sangat pedih apa yang di alami Mawar.
"Baik Dok, lakukan operasi itu. Saya akan tanda tangani Operasi pengangkatan rahim nya. "
.
.
.
.
__ADS_1