Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara

Mawar Untuk Mawar ( Titipan) Mas Tentara
Tetap Sayang


__ADS_3

"Kamu kenapa nggak bilang sama Ibu Bapak kalau mau pulang? " Ucap Ibu Ratih


"Kejutan, Ibu sama Bapak kan mau pergi lagi kan? Biasa di rumah hanya satu bulan." Ucap Ikhsan.


"Ikhsan, Bapak sama Ibu ya memang begini. Kerjaan nya ya keliling kota. Entah kalau Ayah sama Ibu meninggal dunia mungkin usaha kami tidak ada yang meneruskan." Ucap Pak Handoko.


"Benar, apalagi mau di turunkan sama kamu eh kamu nya nggak memiliki jiwa dagang. " Ucap Ibu Ratih.


"Ehm... Pak Bu, saya ingin mengatakan sesuatu sama Ibu dan Bapak." Ucap Ikhsan.


"Kamu mau mengatakan apa? " Tanya Ibu Ratih.


"Saya kan bukan anak kandung Ibu sama Bapak. " Jawab Ikhsan.


"Terus kenapa Ikhsan, dari dulu Bapak sama Ibu tetap sayang sama kamu." Ucap Pak Handoko.


"Sebenarnya, orang tua yang membuang saya waktu dulu sudah saya temukan. " Ucap Ikhsan.


"Kamu bertemu dimana dan apakah kamu yakin itu orang tua kamu? "Ucap Pak Handoko.


" Dari cerita dan bukti yang dia punya."


"Siapa dia Nak, kenapa dia tega sama kamu." Ucap Ibu Ratih.


"Wanita itu pernah datang kemari, dia adalah istri dari atasan saya, Ibu Neta istri dari Pak Jenderal Muji."


"Dia Ibu kandung kamu, sungguh tega sekali dia. Wanita macam apa dia. " Ucap Ibu Ratih kesal.


"Jadi kamu anak orang berpangkat." Ucap Pak Handoko.


"Pak Muji itu adalah Ayah tiri saya, sedang kan Ayah kandung saya sudah meninggal dunia. " Ucap Ikhsan.


"Lantas kamu maafkan dia, setelah apa yang sudah di lakukan nya. " Ibu Ratih yang sudah tampak kesal.


"Awal nya begitu, tapi saya maaf kan dia Bu. "


"Jadi setelah kamu tahu orang tua kamu, setelah ini kamu tinggalkan kami? "Ucap Pak Handoko.


"Tidak Bapak, Ibu Ikhsan tidak akan pernah meninggal kalian. Karena bagi saya tetap kalian adalah orang tua kandung Ikhsan. Orang tua yang sudah membesarkan dan mendidik Ikhsan jadi seperti sekarang ini." Ucap Ikhsan sambil memegang kedua tangan Pak Handoko dan Ibu Ratih.


"Dia melakukan nya bukan atas kehendak dia sendiri, karena keadaan yang menyuruh nya. Karena kasta yang berbeda jauh sehingga membuat dia harus memilih untuk meninggalkan saya di suatu tempat. Dia pun menyesal apa yang telah di lakukan nya."


"Ikhsan, hanya kamu yang kami punya untuk teman hari tua, ada Mawar dia hanya sebatas menantu dan kami pun sadar dia tidak akan terus menjanda. " Ucap Pak Handoko.


"Ikhsan sudah bilang, tidak akan pernah meninggal kan kalian. Karena bagaimana pun kalian orang yang sudah membesarkan Ikhsan dengan penuh kasih sayang."


Ibu Ratih memeluk erat tubuh putra angkat nya, Ikhsan mengusap punggung wanita yang paruh bayah yang wajah nya tampak sedikit lelah .


"Cinta saya tidak akan pernah hilang atau pergi meninggalkan Ibu dan Bapak, Ikhsan akan menemani hari - hari tua bersama kalian."


"Terima kasih nak. " Ucap Ibu Ratih.


*****


"Loh Mas datang kapan? " Tanya Mawar saat Ikhsan menjemput nya.


"Tadi pagi, yuk pulang. " Jawab Ikhsan sambil mengajak Mawar untuk pulang.


Mawar masuk kedalam mobil yang pintu nya di tutup kan oleh Ikhsan.


"Mau kemana dulu, atau langsung pulang? " Tanya Ikhsan.

__ADS_1


"Pulang saja Mas, sudah ingin cepat rebahan." Jawab Mawar.


"Ya sudah, kita pulang. "


"Mas, sudah cerita sama Ibu dan Bapak? "


"Sudah."


"Terus? "


"Kaget pasti nya dan mereka takut Mas akan meninggalkan mereka berdua. "


"Tapi Mas nggak ada niat meninggalkan Ibu sama Bapak kan? "


"Ya nggak ada lah, bagaimana juga mereka yang sudah membesarkan Mas. "


"Syukurlah, saya pun takut Mas akan kembali ke pelukan Ibu Neta. "


"Bunda Neta memang orang tua kandung Mas, tapi Ibu Ratih dan Pak Handoko juga tetap menjadi orang tua kandung Mas. Saat ini Mas menyayangi mereka semua sampai ujung usia. "


"Alhamdulillah, saya ikut senang dengar nya. "


*****


Ikhsan menepikan mobil nya saat melihat seseorang yang dia kenal, si pemilik mobil tersenyum saat melihat siapa yang turun dari mobil.


"Kenapa? " Tanya Ikhsan sambil memeriksa mobil Rengganis.


"Mogok Bang. " Jawab Rengganis.


Ikhsan memeriksa mobil Rengganis dengan teliti dan mencoba memperbaiki dengan alat yang sudah berserakan di bawah.


"Abang hanya bisa betulkan ini, tapi nggak jamin sampai rumah takut nya tengah jalan mogok lagi. "


"Kamu telepon derek, nanti saya antar kamu pulang. "


"Nggak apa - apa nih? "


"Ya nggak apa - apa lah. "


Rengganis menelepon mobil derek untuk di bawa ke bengkel, sedang kan Ikhsan membereskan semua alat - alat yang sudah berserakan di tanah.


"Gaya nya semua model obeng, kunci kamu keluarkan. Kalau nggak tahu masalah mobil jangan sok utak atik. "


"Ya namanya juga usaha. "


Setelah menunggu hampir 30 menit mobil derek pun datang, lantas Rengganis masuk kedalam mobil Ikhsan.


"Abang dari mana? "


"Habis pulang, kamu dari mana? "


"Habis dari rumah mba Sekar."


"Bang boleh tanya nggak? "


"Tanya apa? "


"Yang kemarin istri Almarhum kenapa akrab sama Abang, jangan - jangan setelah melahirkan nikah sama Abang? "


"Mau nya, kalau dia mau. "

__ADS_1


"Hah.. turun ranjang..!!! "


"Kenapa, kamu kaget? "


"Nggak sama saya, Abang dapat janda. "


"Kenapa dengan status janda, dia sama saja kayak perawan. "


"Abang suka sama dia? "


"Cinta Abang sama dia tetap ada, walau takdir berkata lain. "


"Nggak salah mencintai istri dari kakak sendiri, jangan - jangan kalian ada main di belakang? "


"Dia mantan, setelah kamu pacaran sama dia selama 2 tahun, takdir berkata lain dia menikah sama kakak saya. Awal nya di jodohkan dan panjang cerita nya. Saya tidak mau menceritakan itu semua. "


"Berarti cinta Abang sangat besar dari pada saya, satu tahun dan dua tahun. "


"Dia cinta pertama saya. "


"Lantas saya kemarin apa Bang? "


"Kita kan hanya sebatas jalani saja, ternyata kita nggak cocok. "


"Benar apa yang di katakan Abang, Bang Herman juga memilih menikah sama wanita lain juga berkata seperti itu."


"Rumah kamu dimana? "


"Lurus aja Bang, nanti ada tikungan dan gapura besar turun kan saja saya di situ. "


"Ok, nggak di antar sampai depan rumah? "


"Ya tempat tinggal saya itu samping gapura."


*****


"Nak, besok mau ke makam Ayah? " Ucap Ibu Neta.


"Besok? "


"Iya, nanti sama Ayah dan Viola juga ikut. "


"Boleh, jam berapa Bunda kita berangkat?"


"Pagi - pagi kita berangkat, karena jauh dan masuk ke pelosok desa. "


"Bunda, Oma Opa bagaimana? "


"Jangan pikirkan mereka, biarlah waktu yang menyadarkan nya. "


"Saya tidak sabar melihat wajahnya Ayah Bunda, kata Bunda disana masih ada rumah pasti ada photo dan peninggalan lain nya."


"Iya, disana nanti kamu akan melihat nya."


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2