Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Sedang tidak percaya diri


__ADS_3

Setelah kejadian semalam, Jihad tak membiarkan Ica untuk pulang sendirian. Padahal sejak dulu pun ia sudah survive, Jihad lupa kalau Ica adalah gadis yang hidup di dalam lingkungan yang jauh dari kata kalem.


Pagi ini para ibu tak menyiapkan, mengharuskan semua penghuni rumah membeli sarapan di luar.


Ica sudah siap dengan mangkuknya. Ia berencana sarapan bubur.


"Cot ! loe mau nyabu kan ? titip punya gue 10 ribu pake sate ati ga pake sate ampelanya !" ucap Galih.


"Pantesan jomblo, makannya ati sih tiap saat, " kekeh Ica.


"Pake sambel, sepedes omongan tetangga !" pekik Galih masuk ke dalam kamar mandi melakukan ritual paginya.


Ica berjalan ke depan dimana teras depan sudah ada penghuni tetapnya sang nene dan kakenya, yang menua bersama. Uwunya mereka. Ica mengantri bersama tetangga lainnya untuk 2 mangkuk bubur miliknya dan Galih.


Ternyata teh Mira sudah mengantri duluan. Sedangkan ka Novi mengantri di tukang nasi uduk.


Mengantri jadi tak terasa dengan suguhan forum ghibah tentang kejadian semalam yang mencuat jadi viral. Terselip disana sosok Ica dan Jihad yang terjebak di dalam tawuran antar pemuda yang sedang memperebutkan biduan dangdut.


Sampai pagi ini saja Diki masih ditahan di kantor polisi, sudah beberapa kali pemuda itu keluar masuk rumah tahanan itu hampir karena kejadian serupa.


"Neng Ica, ga mau di kenalin calonnya sama tetangga ?" tanya seorang ibu berkerudung.


Ica hanya tersenyum, "cowok gue bukan barang dagangan yang mesti di pajang pajang ke tetangga, " benaknya, ia baru ingat jika hari ini sekertaris baru akan datang. Mendadak rasa percaya dirinya menciut dan jatuh hingga dasar jurang. Bayangan sekertaris yang modis dan cantik berputar di otak Ica.


Ica merasa kerdil, ia bahkan sudah berulang kali bercermin tanda kepercayadiriannya mulai luntur.


"Kalo Jihad kepincut sama sekertaris barunya gimana? kalo dia ternyata lebih cantik dari gue gimana ? mereka bakalan sering bareng bareng !" gumam Ica, pagi ini Ica yang biasanya tanpa riasan membubuhkan sedikit riasan di wajahnya. Tak terkesan menor tapi tak pucat juga.


**************


"Ji, hari ini sekertaris baru datang ya ?" tanya Ica, Jihad mengangguk.


"Iya, kenapa?" ia menyunggingkan senyuman berharap Ica bilang tak suka ataupun cemburu.


"Ga apa apa, " jawab Ica.


"Oke, " gumam Jihad tertawa.


"Ngapain ketawa ? kaya ngeledek !" sarkas Ica memicingkan matanya.


"Engga apa apa, ga boleh ketawa?" tanya Jihad.


"Ga, ketawa loe tuh kaya ngeledek !" jawab Ica.


"Emang, " jawabnya. Ica sontak memukul mukul bahu Jihad yang tengah menyetir.


"Aduhh..aduhhh..oy Ca..ini lagi nyetir, nanti nabrak ! bar bar nya ya Allah, pacar orang !" omel Jihad. Jihad meminggirkan mobilnya .


"Ngapain berenti ?" tanya Ica. Jihad melepas seatbeltnya dan memajukan badannya, memojokan..mengungkung tubuh Ica ke sandaran jok.


"Loe cemburu Ca ?" tanya nya.


"Gue cemburu ? ntar lebaran gajah !" jawab Ica balas menatap Jihad.


"Tinggal bilang iya aja susah banget, keliatan tuh di jidat loe ! kalo loe cemburu !" ucap Jihad. Pandangan keduanya bertemu, sejenak s3tan melintas diantara keduanya. Ica menggigit bibir bawahnya, membuat pria yang mulai dewasa itu tergoda.

__ADS_1


"Cup !" Ica membelalakkan matanya, bibirnya bertemu dengan bibir lembab milik Jihad. Sentuhan lembut bibir Jihad mampu membuat jantung Ica terhenti seketika.


"Lain kali jangan gigit bibir bawah loe kaya gitu lagi, apalagi kalo di depan cowok lain !" Ica masih membeku di tempatnya. Mungkin saat ini jantungnya sudah melompat dari tempatnya. Padahal Jihad sudah kembali ke tempatnya dan memasang kembali seatbeltnya.


"Loe kalo cemburu tuh keliatan.. jadi kaya orang oon, walaupun sebenernya loe emang oon !" kekeh Jihad.


"Ga usah ngehina juga ! oon oon gini tapi loe kejar kejar selama 6 tahun !" jawab Ica memalingkan wajahnya menatap jalanan ke luar jendela. Ia tak bisa menutupi merona di pipinya, wajahnya menghangat untuk saat ini. Pagi pagi sudah terkena serangan fajar.


"Loe pasti bakalan suka sama sekertarisnya,"


"Dia cantik?" tanya Ica. Jihad mengangguk.


"Masih muda?" kembali Jihad mengangguk.


"Modis?" Jihad mengiyakan. Makin ditekuk saja wajah Ica.


Ica menyetop aga sedikit jauh dari kantor, mulai hari ini ia akan selalu turun di sini.


"Gue turun sini aja, takut udah banyak karyawan yang datang !"


"Tapi ini kejauhan, "


"Elah, deket Ji. Cuma tinggal jalan 5 menit juga nyampe !"


"Ya udah gue liatin loe dari sini, nanti kalo loe udah masuk kantor, gue jalan !" ucap Jihad, Uca mengangguk.


"Hati hati, " ucap Jihad.


"Iya, "


"Ga usah ngelunjak, yang barusan apa ?" jawab Ica. Ica keluar dari dalam mobil.


"Udah kaya cabe cabean ditinggal di tengah jalan aja gue, " dumelnya.


Ica berjalan, mata Jihad memicing saat baru saja beberapa langkah, teman teman satu tim ob nya secara tiba tiba datang menawarkan tebengan pada Ica. Belum lagi Asep yang dengan tanpa ijinnya mengalungkan tangannya di pundak Ica.


Ica tampak membaur dengan mereka.


"Sep, ga usah so rangkul rangkul gini ! tangan loe abis pegang apaan ?!" kelakar Ica menepiskan tangan Asep, padahal ia sedang membuat Asep menurunkan tangannya. Pasalnya di belakang ada mata elang yang memperhatikannya.


"Enak aja ! tangan gue abis gue cuci lah Ca, " jawabnya.


"Yu masuk !" ajak Budi yang berada di atas motor bebeknya.


Ting !


Sebuah pesan masuk di ponsel Ica, ia membukanya.


"I'm watch it !"


Ica berbalik ke belakang, tersenyum meringis.


**************


"Kembali ke asal. Kenapa ? bos ga respon ya ! kasian, " ucapan bak silet yang baru, kata kata itu keluar dari mulut Sari saat Ica masuk.

__ADS_1


Ica dan yang lain sudah tak aneh dengan wanita ini, memang modelannya tukang sindir begini, cocok jadi presenter gosip. Tapi lama kelamaan kata katanya membuat kuping Ica serasa si taruh diatas kompor yang membara.


"Kalo emang ga menarik, mau godain kaya apa juga tetep dibuang, ga akan di respon. Sadar diri aja !" Ica berdiri dari posisi duduknya yang sedang membenarkan simpul tali sepatunya.


"Mbak Sari ngomong sama siapa? " tanya Ica, Setyani dan Budi sudah beranjak, siap siap jika Ica dan Sari akan bertengkar.


"Ya kamu lah ! siapa lagi ?"


"Wahhh, minta dikirim ke RS nih kuda zebra !" jawab Ica.


"Ko kuda zebra, Ca ?!" tanya Budi.


"Noh, bedaknya belang sebatas leher ! kaya kuda zebra, item putih !" jawab Ica.


"Apa kamu bilang ?!" Mbak Sari ditahan Asep.


"Udah mbak, mbak Sari mendingan diem deh...ga usah marah kan emang kenyataan, lagian sesama tim jangan saling sindir gitu kenapa sih mbak !" ucap Setyani.


"Dia yang udah rebut posisi saya, harusnya saya yang gantiin posisi bersiin ruangan pak Alvian ! dia cuma karyawan baru disini, " bentak Sari.


"Kenapa ? biar bisa tebar pesona sama godain pak Alvian? jangan pikir gue ga tau ya mbak, kalo loe sering ngintipin pak Alvian lewat. Loe milih makan di cafe pun karena pengen liatin pak Alvian kan ? terus sekarang siapa yang harus sadar diri ?!" tanya Ica.


"Mengagumi wajar, saya cukup sadar diri ko, " jawabnya tak terima, melipat kedua tangannya di dada angkuh. Yang seperti ini yang disebut udah miskin ga tau diri.


" Ya udah kan cuma mengagumi, mengagumi memang wajar mbak, tapi ga harus sampai sindir sindir gue juga, ga usah senggol senggol gue juga !" jawab Ica.


"Lagian kalo saya sama pak Alvian ada apa apanya, kenapa? kan mbak Sari cuma sebatas mengagumi kan ?" kembali lanjut Ica. Sari tak bisa menjawab, ia malah menepiskan tangan Asep kasar dan keluar dari ruangan.


"Aneh !" sarkas Ica.


"Emang ada hubungan apa Ca, antara loe sama pak Alvian?" tanya Setyani, termasuk yang lain yang sudah menatap Ica penuh penasaran.


"Ga ada apa apa, " jawab Ica.


"Udah ahh, gue mau kerja ! yang ada tuh big boss ngomel ngomel lagi !" Ica berlalu. Ditambah ia sangat penasaran dengan sekertaris baru Jihad.


Terlihat dari belakang saja seorang perempuan yang tengah mengobrol dengan Jihad dan pak Muni sudah seperti gitar spanyol. Rambutnya panjang sebatas punggung, modis pula.


Jihad tampak akrab mengobrol dengannya.


"Laki laki mah dimana mana sama aja, ga bisa liat bening dikit langsung akrab !" gerutunya.


"Misi misi, gue mau lewat !!" ujar Ica mendorong roda peralatannya, sepaket dengan pipi bapau dan bibir mengerucutnya.


Jihad mengulum bibirnya, saat si sekertaris baru menoleh.


"Ica !!"


"Ka Juwita !!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2