
"Bubble, nanti aku jemput jam 7," ujar Jihad.
"Iya bee, " jawab Ica singkat.
Ica turun dari mobil itu, ia berjalan masuk ke dalam gang. Sorot mentari belum tergelincir menuju senja. Meskipun sudah tak terlalu panas.
Ica berjalan layaknya di gurun sahara, ingin segera sampai di rumah dan menempelkan tubuhnya di kulkas sekalian, kota Jakarta makin hari makin gerah saja, selain karena cuaca, karena pemanasan globalnya, juga karena orang orangnya makin nyinyir seperti mbak Sari. Moodnya hari ini rusak, semoga apel nanti malam bisa membuat moodnya kembali baik.
"Assalamualaikum, panasnya !"
"Waalaikumsalam, " suara parau yang sudah renta menjawab, ia memberikan punggung tangannya pada Ica untuk di salami sang cucu, rambut yang pernah ia cat pirang ini, kini hanya menyisakan bekas kejayaannya sebagai kembang desa, berganti cucunya ini. Sebenarnya Ica cukup cantik dan manis, hanya saja tertutup oleh sikap nyeleneh bin sengkleknya. Mungkin pengaruh hidup di lingkungan yang bukanlah kalangan model papan atas, ia lebih dekat dengan Galih dan Riski ketimbang dengan ka Novi, membuat sikapnya seperti ini.
"Baru pulang kerja ?" tanya nene nya.
"Bukan ne, baru pulang nyangkul, " kekeh Ica usil. Ia tau neneknya hanya mengangguk saja tapi tak paham, karena pendengarannya yang kurang.
"Ya iyalah ne baru pulang kerja, masa iya abis pengajian, " ia berlalu masuk ke kamar setelah mengcup punggung tangan yang sudah keriput itu. Merebahkan badannya di ranjang yang tak terlalu empuk setidaknya bisa meringankan beratnya beban hidup dan lelah seharian bekerja. Ia menoleh ke samping, ke arah lemari. Kemudian bangkit dan membukanya. Tak banyak yang tau jika Ica seorang gadis yang feminim. Ica memang bar bar, lebih terkesan sering memakai celana jeans dan t shirt dan dirangkap kemeja atau sekedar memakai blouse. Padahal koleksi dress di lemarinya cukup banyak. Jika Ica sudah mengeluarkan gaya anggunya beuhhhh, selena gomes pake kebaya saja kalah emejing, Rose yang memakai gaun malam saat berdansa dengan Jack saja kalah anggun. Ica juga pandai merias diri, jangan tanya dari siapa, dulu ibunya adalah mantan pegawai salon, pernah mengikuti kursus merias, namun tak diteruskan karena keterbatasan biaya. Alhasil cita citanya jadi make up artis harus kandas, berubah jadi ibu rumah tangga dan ibu ibu kader di lingkungannya.
Pukul 5 sore Ica sudah keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang masih melilit di rambutnya, ia duduk di kursi tengah. Keluarganya tengah berkumpul layaknya peserta demo panci.
"Tumben mandi, ga hujan angin ?" tanya Galih dengan mata fokus menatap layar pipihnya.
"Kill, co !!" pekiknya berseru.
"Tumben ga telfonan, ceweknya udah pada sadar ya ?!" tanya Ica balik.
Galih menatap Ica sekilas, "Ck, sombong ! mentang mentang dah ada pacar, "
"Emang, " setuju Ica.
"Cot, ga usah debat sama jomblo !" timpal Riski.
"Awas ya loe berdua, besok gue pacaran sama artis jangan sirik, " Ica dan Riski makin tergelak mendengar pernyataan Galih yang jelas jelas impossible.
"Artis mana ? artis kampung ?!" ledek Ica.
"Assalamualaikum, "
"Waalalikumsalam, ayah !" ibunya menyambut ayahnya pulang, dengan salim, membuat Ica, Galih dan Riski mengerutkan dahinya.
"Tumbenan salim pake senyum mesem mesem, " ledek ketiganya pada ibunya.
"Biasanya aroma aroma ayah gajian kalo mode manja gini, " jawab Ica, ketiga adik kaka ini tertawa.
"Perempuan mah gitu, ada uang abang sayang, ga ada uang abang ditendang !" keluh Riski.
"Curhat pak ?! termasuk teh Mira ?!" jawab Galih.
__ADS_1
"Apa ??! bawa bawa teteh ?!" teh Mira datang dari arah dapur.
"Eh yank, tuh Galih sama Icot yank !" tuduh Riski.
"Apaan, cuci tangan !" seru keduanya.
"Ibu engga gitu ahhh, enak aja !" jawab ibunya tak terima.
"Wajar perempuan kaya gitu, soalnya ke salon sama beli bedak, lipstik ga bisa pake bpjs !" bela ayahnya.
"Tuh bener kata ayah !" Novi ikut bergabung.
"Loe berdua ntar ngerasain kalo dah nikah !" lanjutnya.
"Wahhh, bener nih berarti.. ayah baru gajihan ! " Ica dan Galih sudah menyerbu ayahnya.
"Ayah, ayah butuh dipijit ? biar Ica pijitin, Ica bikinin kopi ya ?!" Ica menggandeng lengan ayahnya.
"Ayah, Galih bukain sepatunya sekalian Galih masakin air buat mandi ya?!" dan Galih di sebelah kirinya.
"Saravvv ! anak anak ga ada akhlak tuh yang kaya gini ! kalian jangan gitu ya Mo, Zakir. Jangan ngikutin tante Icot sama om Galih, " decak Riski pada adik adiknya seraya mengusap lembut punggung putra putrinya. Ayah dan ibunya tertawa.
"Hahaha apalagi kaya bapaknya !" ledek Ica dan Galih, yang langsung kabur karena Riski yang mengejar keduanya.
**************
"Jihad mau ngapel Ca?" tanya Galih.
"Iya, kenapa? ga usah macem macem ya, gue gantung loe bang !"
"Iya, suruh datang saja ke rumah, " jawab ayahnya.
"Kalo bisa suruh bawa martabak sama roti bakar Ca, buat luluhin ayah ! kali aja udah itu langsung di nikahin, " seru Galih.
"Itu mah maunya loe ! jangankan martabak, gunung aja bakalan dia kasih, sama pohon pohon sama uletnya sekalian buat loe !" jawab Ica sewot.
"Jadi anak ayah tuh sudah punya pacar?" tanya ayahnya.
"Jihad yah, temen waktu SMA, " jawab Ica.
"Itu loh yah ! yang dulu sering anter Ica ke rumah kalo pulang sekolah ! baru pulang beresin S2 nya dari luar negri, " jelas ibunya.
"Ohhh jadi clbk ?" tanya ayah tak kalah update.
"Hahaha, ayah tau clbk ?" tanya Ica.
"Cinta lama belom kelar !" jawab ayahnya. Ica merengut saat diledek ayahnya, meskipun Ica tau ayahnya hanya berkelakar tapi memang itulah kenyataannya, ia menggantung Jihad selama itu, dan ia merasa bersalah.
__ADS_1
*****************
Ica sudah duduk di depan meja riasnya, dress berwarna hijau botol dipilihnya sebagai baju nge datenya hari ini. Tangannya telaten memoleskan mulai dari bedak, liptin, hingga eyeliner dan maskara. Malam ini Ica benar benar membuat dirinya seanggun mungkin, meskipun untuk urusan alas kaki ia lebih memilih flatshoes sebagai pelengkapnya. Tapi padu padannya tak kalah cantik.
Sebuah pesan sudah masuk ke dalam ponselnya, mengatakan jika Jihad sudah berada di depan gang dan sedang menuju ke rumahnya.
Terdengar suara ketukan di rumah sederhana Ica.
"Iya bentar, " Ica membuka pintunya. Ia dan Jihad sama sama melongo, tak ada jas hitam dan kemeja putih seperti biasanya, Jihad tampak tampan walau hanya dengan t shirt berbalut kemeja kotak kotak, kesan CEO ia tanggalkan di rumah. Waktu 6 tahun ternyata membuat keduanya sama sama telah dewasa, walaupun Jihad memang sudah seperti ini sejak dulu.
"Hay bubble, "
"Masuk bee, " Jihad tersenyum melihat tampilan Ica, benar benar bikin pangling, biasanya Ica hanya terlihat dengan seragam og nya, dan rambut yang terikat, tapi malam ini Ica terlihat begitu cantik.
"Kenapa? menor ya? malu maluin ?" ringis Ica.
"Gue ga bakat, ganti deh !" ucap Ica, Jihad menahan tangan Ica yang hendak masuk kembali ke kamarnya.
"Cantik, gue spechless liat loe !" jawab Jihad.
"6 tahun ga ketemu, banyak yang berubah sama loe, bubble !" jawabnya mengusap rambut Ica. Bila biasanya Jihad akan mengacak rambutnya, kali ini karena tampilan Ica yang sudah berdandan dan takut merusaknya, Jihad mengusapnya. Lelaki ini sangat menahan diri untuk tidak mengecup Ica disini.
"Assalamualaikum, " ucap Jihad melihat ayah Ica dari belakang gadis itu.
"Waalaikumsalam, oh jadi ini yang namanya Jihad."
"Iya pak, saya Jihad..."
"Saya mau minta ijin pak, ngajak anak bapak keluar malam ini, " Jihad duduk di sebrang ayah Ica, meminta ijinnya pada ayah Ica, songkok hitam dan sarung hijau menandakan lelaki paruh baya yang mulai beruban ini baru saja selesai menunaikan shalat isya.
Inilah yang ia maksud, lelaki yang benar benar gentle akan meminta ijin padanya langsung, bukan hanya mengajak keluar dan menurunkannya di pinggir jalan.
Suasana begitu canggung pada awalnya, tapi sejurus kemudian ayah Ica menyunggingkan senyumnya, "ayah hargai sikap gentle mu, ayah ijinkan..tapi bawa Ica kembali tanpa kurang suatu apapun, jaga Ica maka ijin dan restu ayah akan mengalir, bahkan mungkin sampai ke jenjang berikutnya, " Ica melongo mendengar ucapan ayahnya.
"Dih, gampang banget ! ayah ga mau ngasih syarat gitu, seribu candi kek, kapal pesiar kek !" ucap Ica, Jihad tertawa melihat protes yang dilayangkan Ica.
"Udah ga jaman seribu candi, sekarang jamannya investasi !" ayahnya melipat kaki santai, rupanya ayah Ica bukan orang yang galak seperti di film film.
"Kalo ayah ga mau kasih syarat biar Riski yang kasih syarat, ga sembarangan cowok bisa bawa Ica, " ucap Riski ikut bergabung. Ica mengangkat alisnya sebelah, begitupun Jihad yang menoleh pada Riski. Wajah Riski terbilang tak terlalu bersahabat kali ini, jika dalam urusan serius begini, Riski akan menjadi garda terdepan untuk Ica. Riski bukan tidak tau Jihad, lelaki di depannya ini adalah Alvian Jihad, CEO muda lulusan London...
.
.
.
.
__ADS_1