
Evi menangis tergugu. Hanya penyesalan yang ia rasakan saat ini.
JIKA......
"Dor...dor...dor..."
Pintu kontrakan Evi di gedor seorang laki laki, kemeja biru yang sobek di bagian lengan akibat tarikan yang dipaksa.
"Sayang bisa tolong aku, "
Mencintai laki laki ini memang besar resikonya, hanya saja ia terlanjur jatuh ke dalam lubang dalam dan tak bisa kembali. Sakit hati penolakan Tio, yang sampai saat ini hanya menganggapnya sebagai teman membuatnya frustasi. Sialnya ia malah bertemu dengan casannova bermodalkan nekat bukan harta. Ia memang wanita bo*doh !
Dia lah Bayu, staf divisi keuangan di kantor Alvian Jihad. Ia bukan tidak tau kabar yang beredar, tapi ia pura pura tak peduli. Hingga satu malam saat Tio bertemu dengan kekasihnya membuat Evi semakin dilanda keterpurukan. Dengan segala macam rayuan, Evi jatuh ke dalam pelukan buaya jejadian macam Bayu.
Yang satu haus akan belaian, dan yang satu doyan belai sana sini, sepaket dengan tanam benih. Malam itu Bayu datang ke kontrakannya, meminta Evi membantunya untuk kabur. Tapi naas, pihak Jihad mengetahui segalanya. Membuat Bayu seperti tahanan kota yang siap dieksekusi. Seorang office girl bernama Sari tewas bunuh diri, tepat di meja kerja Bayu, meminta pertanggung jawaban Bayu yang tak kunjung ia dapatkan, hingga kandungannya memasuki usia yang sudah besar bahkan sudah bernyawa. Tak tau pertengkaran apa yang terjadi malam itu, yang jelas ia pun mulai merasakan apa yang Sari alami. Ia mengandung anak Bayu.
Bayu berjanji akan bertanggung jawab, tapi sayang seribu sayang. Esoknya Bayu ditangkap dijatuhi hukuman 7 tahun. Jantung Evi bagai dijatuhi bom atom yang siap meledak kapan saja. Evi memeriksakan kandungannya seorang diri, diketahui jika kandungan Evi lemah, menyebabkan ia sering mengalami berbagai keluhan. Evi sering absen bekerja, perempuan itu melewati semuanya dengan seorang diri tanpa Bayu disisinya.
Stress ? sudah jelas ! pada akhirnya di hari naas, Evi mengalami keguguran. Ia harus rela kehilangan anak yang tengah di kandungnya dan di buinya laki laki yang menjadi ayah dari bayinya. 2 orang dalam sekali waktu, apa ia tak pantas bahagia ? s3tan memang pintar. Membisikkan hal hal terku tuk pada siapapun manusia yang lemah iman,
"Semua ini gara gara pak Alvian, yang sudah melaporkan Bayu, membuat aku kehilangan bayiku !" rutuknya di sela sela guyuran air.
Ia sudah bertekad membuat Jihad merasakan apa yang ia rasakan, tapi disetiap ia melihat Ica, ia tak pernah sanggup, Ica adalah temannya.
Bercerita pada sosok Tio pun ternyata tak menemukan solusi, yang ada lelaki itu semakin membuat amarahnya memuncak, dengan menyudutkannya.
Hari itu adalah hari yang cocok untuknya, disaat Jihad tengah berbahagia menanti kelahiran kedua anak kembarnya, disaat, ia melancarkan aksi balas dendamnya. Tapi Tio selalu menghalangi niatannya, sampai sampai ia harus menahan lelaki itu dengan cara memberinya obat tidur, hingga ia lupa dengan acara 7 bulanan Ica.
"Sorry Ca, sorry pak Alvian..." gumamnya.
Tak ada kata yang terlontar dari mulut Jihad atas pikiran pendek Evi. Yang jelas ia sangat sangat menyayangkan sikap Evi.
"Bakwan, kita pulang ! sekarang jadwal kontrol twins," Ica yang masih memakai perban di lengannya beranjak dari kursi besuk tahanan berbahan kayu.
"Ca, semoga lahirannya lancar, ibu dan bayi selamat," ucapan tulus Evi. Ica tau, Evi adalah gadis yang baik. Ia selalu ingat kebersamaan keduanya, bahkan saat bertiga bersama Tio. Evi tak segan pula menolongnya disaat ia sakit, disaat ia mendengar bahwa pesawat Jihad kecelakaan, tapi kondisi dan nasibnya lah yang membuat gadis baik itu menjadi hilang akal.
__ADS_1
*****************
"Ini gimana mau maternity shot-nya kalo tangan aku di bungkus kaya lemper !"
"Kan ketutup baju Ca, masa iya mau t3l4n jang !" Kara sedang menimang nimang Lendra yang sudah mengantuk. Sudah 2 hari Kara menginap di rumah Ica, papa Braja dan Milo melakukan perjalanan bisnis, dengan alasan takut sendirian di rumah besar Kara membawa Syailendra dna menginap di rumah kedua sahabatnya ini.
"Ntar ka Milo jemput kesini, Ra ?" tanya Ica yang duduk bersantai seraya mengusap perutnya yang sudah semakin turun.
"Iya momy Ica, nanti papih yang jemput Lendra !!" Kara menjepit jepit pipi gembul Lendra yang tengah tertidur, membuat Ica tertawa melihat Lendra yang pasrah saja, sama sekali tak bergeming diusili ibunya.
"Saravvv ! anak loe lagi merem tuh, usil banget jadi emak !" tawa Ica.
"Lucu deh Ca, coba liat muka tanpa dosanya ?! ga kebayang kalo ntar gedenya kaya bapaknya. Pusing sampe gumoh gue !" Ica kembali tertawa mendengar keluh kesah temannya ini, ia tak masalah jika kelakuan anak kembarnya seperti Jihad, toh Jihad is the perfect boy, pada jamannya.
"Gue ga mau nyumpahin atau bully ka Milo ah, ntar takut kena sumpah sama karma, " jawab Ica.
"Ga kebayang Ca, berapa anak cewek yang minta dikawin 'ma Lendra, atau berapa unit Reserse anti narkoba sama Satlantas yang datang ke rumah ?" Kara menepuk jidatnya sendiri dan bergidik membayangkan jika itu terjadi. Ica tertawa lagi melihat Kara yang mencelos.
"Semoga Lendra menganut sifat loe Ra, tapi wajahnya gue rasa cetakan ka Milo banget ini !" Ica meneliti bentukan wajah Lendra.
"Sabar Ra, kali aja ntar anak yang kedua mirip loe," Kara mengangkat alisnya sebelah.
"Hoff, Lendra aja belum gede Ca !"
"Eh, iya jadwal caesar loe kapan Ca ?" tanya Kara.
"Minggu depan Ra, "
"Ha ? dan loe baru mau maternity shot sekarang ?!" Ica mengangguk.
"Bentar lagi Ji pulang, fotografernya datang ntar siang !"
"Udah prepare buat lahiran ?"
"Udah, tinggal berangkat aja !"
__ADS_1
"Syukur deh kalo gitu," Kara menaruh Lendra di baby bouncer-nya.
"Sebenernya gue sih pengennya lahiran normal Ra, kaya loe ! tapi dokter Gina bilang kelahiran kembar itu beresiko, belum lagi track record gue yang pernah Mola.
"Ca, apapun cara lahirannya. Sama aja, sama sama lahirin anak ! sama sama mempertaruhkan hidup dan mati, sama sama mulia !" Kara mengusap punggung Ica sampai ke pinggang.
"Nah itu Ra, enak banget ! dari tadi pinggang gue panas,"
"Panas kenapa ? abis jemur?" tanya Kara.
"Engga, apa karena makan pempek semalam ya, bumbunya pedes sama asem ?!" tanya Ica.
"Ga ngerti gue, mau gue bikinin teh manis panas ngga ?" tanya Kara.
"Boleh Ra, "
"Oke, " Kara melangkah menuju dapur Ica.
"Lendra !!! yuhuuu !!! papih pulang, pulang yuuu !!" tak disangka perjalanan bisnis yang seharusnya 4 hari tapi malah hari 3 ini, Milo sudah kembali.
"Loh, ka Milo ?! bukannya 4 hari ya ?" tanya Ica bangkit dari duduknya sambil sedikit meringis menahan perutnya.
"Gue kebut Ca kerjanya, ga kuat nahan kangen sama Lendra !" jawabnya.
"Kangen Lendra apa ibunya ?" goda Ica.
"Dua duanya Ca, "
"Lebay ahhh !" Kara muncul dari dapur dengan membawa secangkir teh hangat untuk Ica, ia kembali ke dapur membuat kopi untuk Milo.
"Baby, ini Lendra udah dari tadi tidurnya ?!" Milo memandangi Lendra, dari gerak geriknya lelaki ini ingin mengganggu tidur sang anak.
"Jangan diganggu !!!! Lendra baru bobo, " larang Kara dengan pelototannya. Enak saja.
"Kamu berani sentuh, kamu berhadapan sama aku ! capek aku-nya !" gerutu Kara sudah siap menguliti jika sampai Lendra bangun.
__ADS_1
"Emak emak serem ya, kalo anaknya diganggu lagi tidur ?!" gumam Ica terkekeh.