
"Kamu ga apa apa kan ditinggal sendirian ?" Jihad masih berusaha mengancingkan baju kemejanya.
"Ga apa apa, lagian kan udah biasa," Ica masih mengemasi pakaian Jihad dalam koper, hanya beberapa tak banyak.
"Apa ga sebaiknya kamu ikut aja ?" Ica langsung mendelik.
"Apa ga sebaiknya aku ikutan dikemas juga, " tapi lagi lagi itu hanya berani ia kemukakan di dalam hati saja.
Perjalanan dari Jakarta ke Bogor saja, resah kaya perjalanan dari Sabang ke Merauke. Lalu apa kabar dulu ia yang meninggalkannya ke London selama 4 tahun ? anteng anteng saja, tak sekalipun menghubunginya.
Beberapa kali Juwita sampai mengirimkan notif pada Ica.
"Bapak CEO resah bini ga ikut, Ca ! baru juga nyampe hotel, udah pengen balik aja, "
Ica meloloskan nafas lelah dan berat. Jihadnya kenapa ? tak tau mungkin karena ia yang terlalu stress atau lelah. Lelah ?? yang benar saja, jika Jihad di rumah ia selalu di kurung bak burung merpati dalam sangkar emas.
"Kenapa Ca ?" tanya Kara.
"Cape Ra, ga tau kenapa.. suntuk, cape banget ! padahal kerjaan cuma diem doang di rumah. Paling bolak balik sini doang !" jawabnya, Kara mengangkat alisnya, demi apa ? Ica sudah menghabiskan keripik kentang untuk pack ke 4.
This is Ica yang dulu !!! rakus.
"Aus gue !" seperti biasa Ica sudah menganggap rumah Kara seperti rumah keduanya, ia melengos ke arah dapur, membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral.
"Loe jadi ambil semester 2 Ca ?" tanya Kara memakaikan popok sekali pakai pada Lendra.
"Jadi kayanya, soalnya di rumah juga ga ada kerjaan Ra !"
"Udah dapet acc dari Ji ?" Ica mengangguk.
"Ko bisa ? bukannya kemaren ga boleh ?"
"Bisa lah ! godaan ranjang mana kuat dia, " kekeh Ica.
"Uwowwww ! kasih tepuk tangan buat mami Ica, pawang daddy Ji !" seru Kara bertepuk tangan.
"No sayang !" Lendra yang meraih raih rambut Kara dan mulai menarik nariknya.
***************
Ica sudah daftar ulang dan bersiap untuk melanjutkan kuliahnya lagi. Sebelum benar benar pulang ke rumah, ia menyempatkan diri untuk bertandang ke rumahnya, sudah lama ia tak mengunjungi keluarga besarnya.
Gang depan tetap tak bisa dimasuki mobil, terpaksa Ica menyuruh pak Mulya untuk berhenti di depan gang dekat gapura.
"Pak, kalo mau pulang, pulang aja ! saya disini aga lama, nanti kalo mau pulang saya telfon deh !" pinta Ica pada pak Mulya.
"Iya bu, kalo gitu saya pamit bu ! " Pak Mulya memutar balikkan mobilnya saat Ica sudah turun.
drrrttt....drrttt.....ddrrtttt....
Ponsel Ica bergetar,
"Hallo bang, "
"Dimana bakwan ?"
"Otewe rumah susun !" tawanya.
"Rumah mamah ?" Ica mengiyakan.
"Nginep ?"
"Engga kayanya bang, "
"Oke sayang, salam buat mamah, ayah sama yang lain. Hati hati ya.."
"Iya, kamu juga !"
Sepanjang jalannya Ica seperti flashback bertualang ke masa dulu. masa masa ia masih berjuang mendapatkan pundi pundi rupiah untuk mengisi perutnya. Sama sama menapaki jalan yang sama namun dengan keadaan yang berbeda. Jalanan ini adalah saksi dimana ia berjuang untuk hidupnya. Siang malam melewati jalanan gang berukuran 2 kali motor, dengan sepatu flatshoes murahnya yang hampir tak pernah ia ganti sebelum benar benar rusak atau bolong.
Tapi lihatlah sekarang, ia berjalan dengan segambreng kemewahan yang melekat dari ujung rambut hingga ujung kaki, kontras dengan kehidupannya yang dulu.
__ADS_1
"Hey sultan ! masa sultan jalan kaki !" pekik seorang perempuan. Ica menoleh, senyumnya terkembang, dasar emak emak bar bar level dewa.
"Mak !!!" Ica melambaikan tangannya.
"Sultan sudah jadi rakyat jelata rupanya !" seperti biasa jam segini ia akan ngangon anaknya si Ovi, seperti si Merry dan domba kecilnya.
"Hahahahaha ! gue emang cuma rakyat jelata namun jelita mak ! yang sultan mah laki !" jawab Ica seperti biasa, ia berjalan sedikit cepat menghampiri dan duduk di pinggiran pagar milik rumah mak Ovi.
"Mana duo macan ?" tanyanya pada dua yang lain.
"Si Eni lagi ngantar anaknya mengaji, biar ga blangsak kaya emak bapaknya kagak bisa bacain yassin buat engkongnya !"
"Si Warsih lagi ke rumah mertuanya, takut dicoret dari ahli waris tanah mertuanya !"
Jawaban perempuan yang lebih tua 13 tahun darinya ini selalu lolos dengan lancar jaya dari mulutnya yang tanpa saringan.
"Terus mak ? masih disini sini aja ? ga bosen jadi kuncen rumah ? rumah ga akan ada yang gendong mak !" seloroh Ica.
"Gua anak rantau Ca, mertua jauh di Jawa, si Ovi ngajinya ntar abis maghrib, "
"Anak ? umur segini masih disebut anak ? tuanya segimana ?"
"Si*@lan loe !" decih mak Ovi, keduanya tertawa, Ica masih betah duduk disana, hingga beberapa pedagang kaki lima sempat ia berhentikan sebagai selingan pengganjal lapar menemani obrolan mereka. Ica serasa sedang bernostalgia, jajan jajan recehan begini. Sebelum akhirnya Ica memutuskan untuk ke rumah ibunya.
"Makasih ya Ca, sering sering lah kesini ! biar gua kenyang !" pekiknya, Ica tertawa mengiyakan.
"Do'ain biar rejeki Ica lancar mak, biar bisa jajanin terus !"
"Aamiin, gue do'ain !"
*****
"Assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam, "
"Nih anak ilang baru inget pulang !!" seru Galih menaikkan kakinya di tembok pembatas teras samping pot pot bunga lidah mertua milik mamah Ica.
"Ateu Ica !!!" Momo yang sedang disisiri teh Mira di kursi teras celingukan, sudah wangi minyak telon bercampur minyak sereh itu tandanya Momo baru saja mandi, mukanya saja putih putih udah kaya kesemek.
"Ateu ga sama daddy Ji ?" tanya nya.
"Daddy lagi kerja, " jawab Ica mendudukkan diri di samping Momo.
"Tumben nih kemari ?!" Riski ikut keluar, semua ada disini itu tandanya hari ini para kaum lelaki di rumah ini shift pagi. Mengingat hari sudah sore.
"Ko sore banget Ca ?" tanya teh Mira.
"Iya teh, barusan nongkrong dulu sama mak Ovi tuh di depan sambil jajan !" jawab Ica, ia melengos masuk ke dalam rumah mengambil minum, ia memeriksa kulkas, matanya berbinar melihat satu tuperware berisi asinan.
"Eh, ada asinan ! punya siapa nih ?!" Ica mengambilnya dan memakannya.
"Makan aja, mamah yang bikin kemaren !" jawab ibunya.
"Ca, loe gendutan sekarang !" ujar ka Novi.
"Masa sih ?"
"Balik lagi ke alam ka, sekali se mox ya se mox !" seloroh Galih.
"Emang dulu gue gendut ?!"
"Senang dia sekarang, mau apa pun tinggal beli !" jawab Galih mengepulkan asap putih di udara.
"Loe kalo rokok jangan disini bang ! ada anak kecil nih ! bau tau nggak !" Ica menepis nepis asap rokok di udara, sementara Galih nyengir saat kakinya ditendang Riski yang setuju dengan Ica.
Tiba tiba saja tak ada angin tak ada hujan, saat dengan sengaja Galih duduk di samping Ica, Ica merasakan mual.
"Idih ! loe pake parfum apa sih bang, bau minyak buat orang meninggoy tau ngga !" Ica mencebik dan menjepit hidungnya.
"Enak aja kalo ngomong ! sembarangan, ini parfum mahal !!" sewot Galih.
__ADS_1
"Dih, selera loe ! jadi kaya bau cabe cabean pasar minggu !" masih protes Ica. Pemandangan inilah yang akan terjadi jika Galih dan Ica disatukan dalam satu atap satu kursi. Riski bukannya menengahi tapi malah tertawa, semenjak Ica menikah rumah memang terasa sepi. Jadi saat saat Ica berkunjung adalah saat paling dirindukan.
Ica benar benar tak suka dengan aroma parfum Galih, ia sampai muntah muntah menuju kamar mandi.
"Itu beneran si Ica ga suka ? kirain cuma becanda ?!" tanya Riski, teh Mira, ka Novi dan mamah saling melirik dan menggidikkan bahu, lalu mamah melihat Ica, membantunya memijit tengkuk Ica dan memegangi rambut sepanjang punggung milik Ica, selalu halus dan hitam, tanda anaknya terurus dengan baik.
"Masih mual Ca ?" tanya mamah.
"Udah mendingan mah, " jawab Ica membasuh mulut dan wajahnya.
"Mamah bikinin teh manis panas ya ?!" tidak menunggu lama, mamah Ica langsung menuju dapur, kondisi dapur sudah pernah di renovasi berkat uang patungan tentu uang Jihad lah yang paling berperan disini.
"Ca, masih mual ?!" tanya teh Mira memijit pundak Ica yang duduk di meja makan.
"Galih sampe ganti baju, " kekehnya lagi.
"Masih teh, ga tau kenapa. Biasanya juga ga kaya gini !" Ica masih parno dengan kejadian hamil anggur kemarin, pasalnya mual yang dirasakan hampir sama, apa mungkin kadar hCG nya masih ada dan tinggi, bukankah sudah sebulan lebih ia dinyatakan sudah kembali normal ? Sudah pukul 8 malam, tapi rasa mual itu belum juga hilang, malahan Ica sudah muntah untuk yang ke 2 kalinya. Badannya juga cukup lemas dibuatnya.
"Kayanya mendingan nginep aja dulu disini deh Ca, buat malam ini !" ibu Ica mengusapkan minyak kayu putih di punggung dan perut Ica, dengan kepala Ica yang berada di pah*anya, hangat...menenangkan seperti saat dulu.
"Iya mah, Ica males juga buat pulang, sepi cuman ada bi Denok, satpam sama supir. Itupun pak Mulya cuma sampe jam 10 malem,"
Ica memutuskan mengabari Jihad,
"Bang, aku nginep di rumah mamah."
"Itu ayah mah ?" seru Ica mendengar suara laki laki yang sangat ia hafal, suara laki laki pertama yang ia dengar di muka bumi ini, lewat suara adzannya di telinga Ica kecil.
"Iya kayanya, baru pulang !" jawab mamah. Ica segera beranjak untuk menemui ayahnya.
"Ica, kapan kesini nak ?" tanya Ayah yang baru saja menanggalkan sepatunya dan melihat putri bungsunya sudah menyambut di ambang pintu.
"Tadi sore yah, ayah baru pulang ? ko malem banget yah ?!" tanya Ica.
"Iya, barusan ngopi dulu bareng pak Wawan sama pak Rt di depan !" jawab ayahnya.
"Nih ! gue sampe ganti baju, ga tega liat loe muntah muntah !" dumel Galih. Ica tertawa melihat wajah masam Galih. Tapi disaat tawanya membahana diselingi selorohan Riski yang sudah bersiap untuk pergi futsal.
"Ayah, Momo ikut !" rengek bocah yang sudah mulai masuk playgroup itu.
"Ayah mau main bola, main bola kan cowok semua, jadi Momo ga boleh ikut !" rayu ayahnya agar bocah perempuan itu tidak ikut.
"Tapi Momo mau ikut ayah !" rengeknya hampir memecahkan air matanya.
"Kan ada bunda, ada om Galih, ada ateu Ica !" jawab ayahnya merapikan simpul tali sepatunya.
"Ateu Ica nginep sini ?" tanya Momo.
"Iya, Mo !" jawab Ica.
"Momo bobo bareng ateu ya !"
"Boleh Mo !! malam ini bobo bareng ateu Ica aja, " seru Riski gerak cepat.
"Hilih !!! bilang aja loe mau ngungsiin Momo, biar tengah malem ga keganggu !" sewot Ica, Galih tertawa puas, kali ini ada Ica yang satu suara dengannya. Tapi di tengah tawa mereka, tiba tiba datang seseorang.
"Assalamualaikum, "
"Waalaikumsalam, "
"Abang ?!"
Jihad dengan koper yang diseretnya sudah ada di ambang pintu.
"Yah, Momo ga jadi ngungsi dong ?!" ledek Galih kembali tertawa.
.
.
.
__ADS_1
.
.