
"Jangan warna kuning ! kaya t@! aja !" debat Ica.
"Astaga, cerah bakwan..kuningnya pun bukan warna pepaya, aku telen juga nih ! kalo gitu ijo," jawab Jihad.
"Jangan ijo juga, dikira pengikut ratu kidul, "
"Ya udah pilih sendiri kalo gitu, suka suka kamu aja, timbang warna tirai doang, ga akan mengurangi kesakralan acara," Jihad mengalah demi kesehatan jiwanya, jangan sampai mood nya rusak jika ia masih ingin bernafas malam ini untuk mengerjakan setumpuk pekerjaannya yang belum selesai.
Jihad sudah menggertakan giginya bingung apa maunya Ica, katanya terserah tapi semua pilihan warnanya ia komplain, jika ada senjata Jihad mungkin sudah menembak kepalanya sendiri. Ruli tertawa melihat Jihad, baru kali ini ia melihat CEO muda ini geram, kesal oleh ulah calon istrinya sendiri.
"Loe berdua tuh mesra banget, gue suka gaya romantis kalian berdua " aku Ruli, Ica dan Jihad menoleh pada Ruli, apa lelaki ini sudah tidak waras, dimana bagian romantisnya.
"Makan dulu deh bee, aku laper ! nyariin kamu tuh kaya nyariin buronan !" jawab Ica.
"Makanya jangan ngilang ngilang, kaya tuyul !"
"Aku liatin tas tadi, kamu maen nyelonong aja, ga kerasa apa gandengannya ketinggalan ?!"
Akhirnya Jihad memanggil pelayan dan memesan beberapa menu makanan.
"Kebiasaan, kalo makan tuh kaya orang ga makan setaun, ga akan ada yang minta !" Jihad membersihkan saus dari sudut bibir Ica, pemandangan itu tak luput dari pengamatan Ruli.
Perbincangan terjadi begitu alot, karena Ica dan Jihad yang terus berdebat, sampai sampai Ruli bingung, keduanya ini mau menikah atau mau tanding tinju dan debat.
"Oke, gue percaya sama loe Rul, " ucap Jihad berjabat tangan, ia mentransferkan sejumlah uang pada rekening Ruli sebagai dp.
"Beres, jadi sekarang tinggal tunggu tanggal main aja, " ucap Jihad menyeringai.
"Tadi kamu liat tas dimana ?" tanya Jihad.
"Tadi di toko yang awal kita masuk,"
"Yu, kesana !" ajak Jihad.
"Kemana?"
"Toko tas, bukannya kamu suka?"
"Beneran ?" tanya Ica dengan mata yang berbinar, tapi sedetik kemudian ia menyipitkan matanya.
"Tapi ga ada embel embel apapun kan ? ikhlas kan?" tanya nya penuh interogasi.
Jihad tertawa, "emang paling tau calon bini, besok aku keluar kota sayang...baik baik di sini, sebelum aku pergi kita belanja dulu !" jawab Jihad.
"Oke kuyyyy !!!! belanja ! tapi ini kamu yang nawarin loh ya, bukan aku yang minta, jadi ga ada utang piutang loh, gaji aku jangan dipotong, " cerocos Ica meninggalkan Jihad di belakang.
"Buruan bee, lama ihhh !" Jihad tertawa menghampiri.
"Ijo bener dari dulu sama gratisan !" dorongnya pelan di jidat Ica.
"Yang gratis itu lebih enak bee, coba deh !"
"Apanya yang dicoba? kamu ? gratis?"
__ADS_1
"Ck !! otaknya udah nyangkut disitu aja ! sapuin tuh otak, " jawab Ica.
"Kenapa?"
"Ngeresss !!!!"
"Haaaa !!! Ica mengatupkan mulutnya melihat price tag yang menggantung, gajinya 2 bulan baru cukup membeli satu buah tas sebesar buku tulis anak sd itu. Ia menyimpannya kembali, Jihad melihatnya.
"Kenapa ga diambil ? kamu suka kan ?" tanya Jihad.
"Suka, tapi ga suka harganya, " jujur Ica.
"Dipikir pasar senen, " Jihad meraihnya lalu memberikannya pada Ica.
"Lain kali kalo mau ambil aja, coba kalo kamu udah dipegang pegang terus ga tanggung jawab, gimana ?" tanya Jihad. Ica langsung menyilangkan tangannya di dada.
"Ya ngga bisa disamain sama aku lah ! kan kalo tas harus dirasain dulu bahannya, diliat takut ada yang lecet !" jawab Ica.
"Ya udah berarti sesuai kan, ada harga untuk sebuah kepuasan, kaya kamu...kamu mahal karena sesuai sama apa yang kudapatkan nanti. Ga usah mikir harga, itu harga yang harus kubayar buat dapetin kamu..." jelas Jihad.
"Huwaaaa ! sejak kapan kamu bisa bijak, biasanya kan pelit, itungan !" Ica berseru.
"Dulu aku pelit karena kamu cuma sebatas teman, uang ku kumpulkan untuk nanti calon istriku, sekarang kamu tanggung jawabku, apapun yang kamu pakai akan jadi bahan penilaian orang, " jawab Jihad lagi.
"Siap bos !" jawab Ica.
"Kalo gitu, siap siap aja dompet kamu jebol !" Ica mengangguk anggukan kepalanya senang.
****************
Jihad sudah bersiap dengan kopernya bersama Juwita dan pak Muni. Ica melongo dibuatnya.
"Ko bawa koper ?" tanya nya.
"Emang loe ga ngomong Ji?" tanya Juwita.
"Bakwan sayangnya gue...semalem kan aku udah ngomong mau ke luar kota, "
"Tapi kamu ga ngomong mau nginep," Ica yang biasanya tegar dan urakan jika masalah hati, kini berubah manja. Rasanya kurang pantas saja. Entah karena pernah ditinggal lama, atau karena sudah ketergantungan setiap hari melihat Jihad berada di ruangannya.
"Aku ke Jogja, 4 hari..." jawabnya.
Ica merengut, ia mendekat ke arah Jihad dan memeluknya.
"Hati hati, jangan terlalu capek !" ucapnya, Juwita dan pak Muni keluar dari ruangan memberikan kedua sejoli ini ruang.
"Bayi gede daddy manja ?" ledeknya.
"Engga juga, emang ga boleh manja sama calon suami sendiri ?" tanya Ica mendongak.
"Boleh, tapi sejak kapan seorang Ica jadi manja gini ?" tanya Jihad.
"Sejak...hari ini !" jawab Ica.
__ADS_1
Di ruang divisi umum.
"Ica mana Vi ?"tanya Tio.
"Dipanggil ke ruangan pak Alvian, " jawab Evi.
Tio yang biasanya ceria dan penuh canda, terdengar tak suka.
"Ada hubungan apa antara pak Alvian sama Ica, ko Ica sering banget dipanggil ke ruangannya ?" tanya Tio.
"Kenapa emangnya mas ?" tanya Evi penuh selidik.
"Ya engga, kan pak Alvian udah mau nikah kan ? apa jadinya kalo dia sama Ica sering bareng ? apa ga akan jadi masalah tuh ?!" jawab Tio bertele tele.
"Bilang aja mas Tio suka kan sama Ica?" tebak Evi tepat sasaran.
Tio yang gelagapan mengakuinya pada Evi. Evi tersentak, meskipun sudah tau, tapi tetap saja, sakit rasanya jika tau dari orangnya sendiri.
"Sebaiknya mas Tio kubur rasa itu dalam dalam, Ica dah punya pacar !" jawab Evi.
"Baru pacar kan belum nikah, gue pantang mundur Vi, " jawab Tio tidak menyerah.
Brakkk !!! Evi menggebrak meja.
"Mas, kenapa sih mas ga bisa liat ? perempuan kan bukan cuma Ica, Ica udah punya cowok mas, " Evi berlalu dari sana. Tapi langkahnya terhenti saat Ica dan Jihad berada di ambang pintu divisi umum, mendengar obrolan keduanya.
Ica melongo dibuatnya, sedangkan Jihad menahan amarahnya, ia mengepalkan tangannya kuat.
Kepalang basah, Tio yang ikut menyadari kehadiran semuanya akhirnya menghampiri Ica.
"Ca, loe denger ya ?! sorry ya. Gue emang suka sama loe, sejak pertama loe masuk divisi umum !" ucap Tio.
"Tapi yo, gue..." Tio meraih tangan Ica, sontak saja Ica terkejut dan berusaha menarik tangannya, begitupun Jihad yang langsung menepis tangan Tio.
"Jaga tanganmu, jangan sekali kali lagi berani berani menyentuh Ica !!!" ucap Jihad sudah menatap tajam pada Tio. Seakan ingin menelan Tio dalam sekali lahap.
"Bapak juga harusnya jaga sikap, bapak sudah memiliki calon istri, jangan sampai calon istri bapak melihat bapak selalu bersama perempuan lain, bapak juga menyukai Ica kan ?" ucap Tio meninggikan suaranya.
"Iya saya menyukai Ica, " jawab Jihad memancing.
"Bee, udah bee..."
"Saya tidak menyangka seorang pak Alvian..."
"Saya menyukai Ica, saya menyayangi Ica, karena ICA CALON ISTRI SAYA, catat ! Ica calon istri saya !" jawab Jihad memotong ucapan Tio, membuat Tio menganga. Bukan hanya mereka saja tapi beberapa orang di ruang divisi umum mendengarnya.
.
.
.
.
__ADS_1