Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
open house


__ADS_3

Save the date


Ica ❤ Jihad


Sunday, February 2022


at Grand Starsky Hotel, Bali


Begitulah yang tertera di undangan berwarna biru dongker berpitakan silver. Undangan yang sudah dikirim bersama tiket pesawat kelas bisnis pada beberapa kerabat. Termasuk beberapa teman semasa SMA mereka.


Ica yang beberapa hari ini sudah tak bisa tidur nyenyak, semakin sibuk dengan persiapan pernikahannya bersama Jihad, ia bahkan minta cuti dari aktivitas kuliahnya untuk seminggu. Mungkin nanti ia akan mendapatkan sp ataupun beruntungnya harus mengejar materi kuliah yang sudah pasti banyak tertinggal.


Ica keluar dari ruang pas, tante Vivi yang menunggunya di sofa berbentuk bulat seraya asyik menscroll ponselnya begitu terpukau melihat calon menantunya keluar, kebaya modern yang membalut tubuh Ica, menampakkan lekukan tubuh gadia berusia 23 tahun, wanita yang tengah ranum ranumnya. Kebaya putih yang menampakkan punggung semulus pualam dan bahu seputih susu milik Ica sudah pasti akan membuat Ica menjadi sorotan utama.


"Udah cocok, cantik !" jawab tante Vivi setengah bergumam demi menelan salivanya.


"Udah pasti ini mah, pasti klepek klepek bang Ji, " tawa tante Vivi membayangkan wajah anak sulungnya yang akan melongo melihat Ica.


Ica menarik senyuman lebarnya, jujur saja wajahnya sudah memerah, sebenarnya ia malu, tak terbiasa memakai pakaian yang terbuka di bagian punggung dan bahunya, belum lagi lekukan tubuhnya yang terlihat seperti sedang menggoda, belum lagi heels yang dipilihkan oleh tante Vivi membuat Ica harus memijir betisnya setelah acara, selera calon mertuanya ini memang tak main main, mungkin karena sering melanglangbuana ke luar negri, ia juga memiliki usaha butik. Ica melihat ke arah cermin, ia menangkap sosok perempuan kampung yang berubah jadi cinderella, dengan kebaya lengkap dengan kain samping namun yang sudah dimodifikasi dengan belahan di kaki kanannya hingga dibawah lutut, sudah pasti menampakkan kakinya yang jenjang. Berharap saja ia tidak melakukan kesalahan, ataupun jatuh saat berjalan.


"Undangan sudah, fitting baju sudah..catering, tempat sudah. Hanya tinggal menunggu hari H nya saja, " gumam tante Vivi mengingat semua list apa apa saja yang harus dipersiapkan dalam note ponselnya. Saking excitednya sampai dibuatkan list, maklum lah mungkin karena pernikahan anak pertamanya.


Keduanya berjalan dan sesekali singgah di toko untuk sekedar cuci mata dan beristirahat, sebagai calon mertua, calon menantu, Tentunya Ica dan tante Vivi harus sering mengakrabkan diri. Tante Vivi tak pernah berhenti bicara begitupun Ica yang menimpali calon mertuanya ini bicara, terlebih lagi saat membicarakan Jihad saat masih kecil.


"Iya dulu tuh dia apa apa penakut, jadi pernah dulu tuh dia sampe ken cing di celana karena takut sama ular. Papahnya langsung ngambil tongkat buat buang ular kecil yang ga berbisa, " ucap tante Vivi, Ica tertawa mendengar calon lelaki yang selalu ia sebut nyi Blorong ternyata takut dengan ular, berbanding terbalik dengan julukan yang ia berikan. Membayangkan Jihad kecil yang hampir apa apa takut terasa geli, apalagi jika membandingkan dengan Jihad yang sekarang, impossible.


"Kamu dimana ? masih fitting baju sama mamah ? ko lama ?"


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ica.


"Siapa Ca ? Ji, ya ?" tanya tante Vivi mengernyit.


"Iya tante," jawab Ica mengangguk membenarkan lalu memasukkan ponselnya ke dalam sling bag nya.


"Kenapa ? nyuruh pulang ?" tanya tante Vivi kembali, seakan bicara hahh... itu anak kaya fitting baju lama aja.


"Ya udah, kalo dia udah nanya nanya yuk pulang sekarang aja ?! jangan nunggu dia ngubek ngubek ini mall, " terlihat raut wajah pasrah, sepertinya sang calon mertua masih ingin berlama lama berada di mall, Ica hanya meringis melihatnya.


Tante Vivi mengantarkan Ica sampai ke depan gang rumah Ica.


"Jangan lupa istirahat, jangan kemana mana dulu. Anak nakal itu bilang dia sudah kasih cuti bekerja kan ? jangan sampai dikasih masuk kalo dia datang kesini !" kedua tangan Ica digenggam dan sesekali ditepuk tepuk oleh tante Vivi, memastikan Ica mendengar setiap perkataan dari mulutnya.

__ADS_1


"Iya tante, " imbuh Ica tersenyum.


"Mulai sekarang jangan panggil tante lagi, panggil aja mamah..sama kaya bang Ji, " senyum yang tak pernah pudar dari tante Vivi menjalarkan ketenangan pada Ica, jika semuanya akan baik baik saja, dan berjalan dengan lancar.


"Ya udah, kalo kata orangtua dulu calon manten jangan keluyuran, jangan begadang, mamah pulang dulu !" lirihnya pamit.


Ica mengangguk.


Satu minggu entah satu bulan, kabar Ica yang menikah dengan seorang CEO muda di Bali akan menjadi hot news di Kampung Duren jl. Flamboyan. Dengan Ica sebagai tokoh utamanya, kebanyakan komentar mereka menyebutkan jika Ica beruntung, entah dapet lotre, tak tau karena penggoda kelas kakap. Selalu ada pro dan kontra, tapi Ica tak peduli.


Ica menyusuri jalanan di kampungnya sore hari, pos ronda yang tampak begitu sepi, tidak biasanya. Padahal biasanya jam segini Diki dan pemuda kampung lainnya akan berkumpul untuk bersiap siap main gapleh seraya main gitar.


Ica melewati gang masih dengan hiruk pikuk sore harinya, para emak yang sedang menyuapi anaknya sambil ngerubutin tukang siomay dan odading.


"Ca ! baru pulang ?!" tanya mak Ovi salah satu tetangganya, ia memang biasa nongkrong jam segini untuk mengawasi anaknya yang sepedaan, terlihat dari anaknya si Ovi yang baru keluar dengan sepeda roda tiganya merek Famil*y, wajah putih oleh bedak tabur, dan bau minyak telon plus minyak sereh yang khas bisa dipastikan Ovi baru saja mandi.


"Iya mak, " jawab Ica mendekat padanya dan beberapa ibu ibu lainnya.


"Besok mamahmu open house undangan mentahan Ca, kapan kamu nikah, benar di Bali ?" tanya nya mengunyah kue bantal alias odading di sebelah kanan, karena gigi geraham sebelah kirinya sudah bolong.


"Iya mak, do'ain aja ya mak."


Mak Ovi menyodorkan keresek yang berisi beberapa odading, dan Ica mencomotnya satu, gadis itu duduk di tembok pembatas rumah mak Ovi yang bisa ia jangkau. Ica memang biasa mengedar seperti mamang tukang kredit panci di kampung Duren ini, pantas hampir semua tau siapa Ica.


"Uhukkk ! mak ih ?!" protes Ica mengerutkan dahinya.


"Heheheh, maaf maaf Ca, " kekeh mak Ovi, namun sedetik kemudian ia meneriaki anaknya seperti biasanya,


"Ovi ! jangan jauh jauh ! itu banyak motor lewat ! nanti kamu ketabrak entok, koid !" pekiknya, Ica tertawa. Memang seperti itu watak emak emak satu ini.


"Mak, hati hati...ucapan ibu adalah do'a !" ucap Ica terkikik.


"Amit amit Ca, "


"Makanya, kalo ngomong jangan sembaranga mak ih ?!"


"Refleks Ca, ah...keceplosan ! abisnya kesel tuh anak suka ngeyel, bikin pusing, bikin jengkel !" curhatnya.


"Jangan keluyuran Ca, udah mau kawin masih keluyuran aja !" ucapan dilayangkan oleh ibu lainnya.


"Iya bu, ini juga hari terakhir keluar. Sebelum besok udah ga boleh keluar, dipingit suruh bertelor !" jawab Ica.

__ADS_1


Jika benar Ica akan pindah, maka ia akan kehilangan moment nongkrong dan malakin mak Ovi odading setiap sore.


"Yah, mak seneng dong !" mak Ovi mengerutkan dahinya mendengar ucapan Ica yang terkesan merengut.


"Ikut seneng lah loe kawin, " jawabnya yakin.


"Seneng, ga ada yang malakin odading tiap sore," jawab Ica lagi.


"Kalo loe mau ntar gue kirim ke rumah loe Ca, calon laki kaya juga masih mikirin odading bijian, gratisan pula !" seloroh mak Ovi. Ica tergelak mendengar seloroh mak Ovi yang terkesan seperti menggerutu menyindirnya.


Setelah hampir 1 jam bersenda gurau dengan mak Ovi dan ibu lainnya di rt 4, kini ia sudah berada di rumahnya rt 5. Hanya beda satu rt saja. Rumah Ica sudah bau bau seperti rumah yang sedang mengadakan hajat, karpet permadani digelarkan di tengah rumah untuk menyambut para tetangga, karena pernikahan Ica diadakan di Bali, maka untuk menghargai para tetangga, mamah Ica melakukan silaturahmi dan open house di rumahnya seadanya.


Kamar Ica sudah penuh oleh paper bag, yang berisi bingkisan untuk para tetangga yang datang bersilaturahmi.


Ica melirik salah satu paper bag berwarna senada dengan warna kartu undangannya. Terselip di setiap paper bag, secarik kertas love


*Thank you*


with love, wedding day


*Ica & Jihad*



*February 2022*


Mamah, Teh Mira, ka Novi juga tengah sibuk menghitung dan mengabsen hidangan untuk esok menjamu para tamu. Ditambah dengan ke hectic an keponakan keponakan kecilnya.


Tok...tok...tok....


"Ca !"


Ica mendongak saat ayahnya masuk, karena pintu tak di tutup.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2