Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Ica oh Ica...


__ADS_3

Ica dibawa ke RS,


Dokter umum melakukan medical check up untuk Ica atas permintaan Jihad, tapi yang direkomendasikan dokter justru sebuah nama yang tak asing untuk Jihad.


Dr. Gina Aisyah, Sp.OG


Ia menelan salivanya sulit. Bayangan Ica yang mengalami Mola masih menghantuinya.


"Bang, " Ica menatap lemas Jihad yang tersenyum memaksa.


"Ga apa apa, kamu di infus biar ga dehidrasi, kata dokter," jawabnya mengusap kemudian mengecup kening Ica lama.


"Sudah sadar pak ? silahkan dokter Gina sudah menunggu, " setelah nomor antrian yang sebelumnya dipanggil, Jihad mendorong kursi roda Ica.


"Ngapain kita ke ruang dokter Gina, bang ? aku kenapa ?" tanya Ica dengan mata yang sudah pasti menyiratkan kekhawatiran.


"Siang ibu Ica, ketemu lagi. Kalo sekarang apa keluhannya ?" tanya dokter dengan senyuman khasnya yang ramah.


"Masih sama dok, tadi sempat pingsan. Dok, bukankah hampir 3 bulan yang lalu kadar hCG saya sudah normal ?" tanya Ica menautkan alisnya.


"Coba kita lihat dan cek, " dokter Gina memberikan sebuah wadah kecil untuk urine Ica. Kini Ica menghembuskan nafas lelah.


Jihad membantu Ica untuk masuk ke dalam toilet. Tak berapa lama, Ica keluar dengan sample urine miliknya.


Debaran jantung pasangan muda ini harap harap cemas, demi melihat hasil. Saat dokter Gina mencelupkan alat tespeck ke dalam wadah berisi air urine Ica.


"Kemungkinan sih hasilnya garis 2, tapi kita lihat saja !" seru dokter Gina. Dan ternyata memang benar, hasilnya adalah garis 2 di batang pipih itu.


"Jangan dulu pesimis bu, pak. Mari kita lihat dan cek di alat USG (ultrasonografi) semoga kabar bahagialah yang didapat !"


"Aamiin, "


"Kapan hari pertaman haid terakhir bu ?" tanya dokter Gina.


"Kapan ya ? soalnya kan haid saya belum teratur dok, jadi lupa !" jawab Ica, dokter Gina mengangguk angguk.


"Mari bu, naik ke ranjang !" pinta dokter Gina. Ica beberapa kali meloloskan nafas kasar.


"It's oke aku disini !" bisik Jihad mengecup pucuk kepala Ica saat melihat ketakutan di mata Ica.


Ica dibantu Jihad sudah berbaring, dokter Gina duduk di samping Ica menghadap ke depan layar monitor. Ia mengoleskan gel di bagian perut bawah Ica.


"Bismillah, " dokter Gina menggerakan alat berbentuk panjang dengan sensor di ujungnya ke kanan dan kiri dengan sesekali mengolesi gel ke arah pergerakan alat.


"Hm, itu kantung rahim," dokter Gina mengarahkan kursor pada bulatan yang lebih besar.


"Dan itu yang berbentuk seperti kacang merah adalah baby nya, " demi apapun, ucapan dokter Gina yang terakhir itu membuat rasa haru menyeruak di rongga dada.


"Baby dok ?" tanya Jihad.


Dokter Gina mengangguk, "iya, dan Woww...well, well, well...say hallo to baby twin ! hay twins, mamah papah lagi nengokin nih ! "


"Hah ?!" Ica bahkan tak bisa berkata kata mendengar kata twin.


"Ini jelas, kantung rahim ada 2, baby nya pun 2, detak jantung yang bersahutan. Sehat, air ketubannya banyak. Kita lihat usianya dari tinggi fundusnya !" dokter Gina sangat serius menggerak gerakkan alat ke kiri dan kanan. begitu pun Jihad yang tak lepas dari senyum berbinarnya.


"Menurut perkiraan usia kandungan 11 minggu 4 hari, " tunjuk dokter Gina di ujung layar monitor, sepasang calon ayah dan ibu itu mengangguk saja mendengar penjelasan dokter Gina.


"Harus dilakukan skrining tes ya bu, pak. Melingkupi PAPP-A (untuk mengetahui protein dan hormon yang dihasilkan oleh plasenta di awal kehamilan, jika hasilnya tidak normal maka ada peningkatan resiko kelainan kromosom) dan TORCH (untuk mengetahui apakah ada panyakit menular pada bayi)."


"Bisa sekarang ?" tanya Jihad,


"Boleh, kita siapkan dulu kalau begitu."


Setelah memakan waktu hampir satu jam, keluarlah hasil skrining tes, dan hasilnya kandungan dan ibu hamil dalam keadaan sshat dan baik baik saja.


"Karena ibu Ica mengalami HEG (hiperemesis gravidarum) mabuk kehamilan yang parah dengan gejala mual yang parah dan perasaan pingsan atau pusing saat berdiri, kita sarankan ibu sebaiknya untuk mengurangi kegiatan yang bersifat berat dan lebih banyak istirahat, karena jika muntah muntah berlanjut bisa menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), saya sarankan gizi seimbang dan tercukupi, banyak minum air putih ya bu, "


Demi apa ?! kini di tangan Ica selembar foto usg didapatnya dengan hati senang dan penuh rasa syukur. 11w4d itu artinya 11 minggu 4 hari usia kandungannya.


Hidup memang tak selamanya akan mendung. Allah selalu memberikan sesuatu yang indah setelah menguji hambanya.

__ADS_1


"Besok aku masuk kampus bang, "


Naluri ke- daddy an Jihad mulai bekerja, sebagai calon calon suami dan ayah siaga, ia tidak mau jika istri dan kedua calon buah hatinya kenapa napa.


"Ada kegiatan Maba yang bikin nguras tenaga ngga ? kalau ada bikin kartu keterangan pengecualian buat mahasiswa yang hamil sama pihak kampus," ucap Jihad, ia tidak melarang larang lagi seperti tempo hari. Demi membuat Ica tak stress ia akan meminimalisir semua tindakan atau sikapnya yang membuat Ica tak nyaman, meskipun harus mengeraskan rahang berkali kali.


"Ada kepengen sesuatu ?" tanya Jihad sudah keluar dari ruang dokter Gina dan sedang menunggu obat dari apotek.


"Engga, " jawab Ica masih tersenyum senyum melihat foto usg yang masih berbentuk bulat bulat, meskipun tak tau yang mana nanti wajahnya ataupun tangan dan kakinya. Ica sampai menciumi foto itu.


"Mau ku pajang ah !" serunya.


"Hebatnya kecebong ku ! bisa langsung kembar sayang !" ucap Jihad menangkup kedua pipi Ica dan mengecupinya gemas, Ica melirik ke sekitarnya saat ucapan itu lolos tak tersaring dengan volume yang sedikit keras membuat para pasien dan pengunjung di sekeliling mereka, melirik ke arah Jihad dan Ica sambil mengulum bibirnya.


Sontak Ica mencubit pinggang Jihad keras. "Mau dikatain gila apa ?!" pelototnya.


"Ga apa apa lah, toh mereka juga diem diem aja, orang ganteng mah bebas, " kekehnya.


"Ny. Humaira Khairunisa!" apoteker memberikan sejumlah vitamin dan obat penambah darah.


"Mulai sekarang kamu ga usah banyak ngerjain tugas rumah dulu yank, denger apa kata dokter kan ?"


Ica mengangguk paham. "kuliah udah cukup nguras tenaga, kalo kaka tingkat masih bikin kamu cape capean, ngomong sama aku ! sekarang kamu harus mikirin kesehatan si kembar juga, " kursi roda di dorong sampai ke parkiran lalu seterusnya ia digendong Jihad masuk ke dalam mobil.


"Paham bos !" jawab Ica, membuat Jihad menjiwir hidungnya.


"Ini sebenernya hamil apa sakit patah tulang ? sampe harus di gendong gendong," Ica menggelengkan kepalanya.


"Takut baby twin cape, momy !" ujar Jihad, Ica merotasi bola matanya.


"Kita langsung pulang ke rumah ?" tanya Jihad.


"Iya, aku cape pengen istirahat, besok masih harus siap siap buat kuliah, " Ica menyenderkan kepalanya di kursi malas, mengusap perutnya yang masih rata.


"Sehat sehat ya twin !" gumamnya.


"Momy nya juga, " tambah Jihad.


Tapi saat Jihad akan melajukan mobilnya, ponsel Jihad bergetar.


(..)


"Oke, Ji ke rumah, "


"Siapa bang ?" tanya Ica.


"Mamah, katanya ada temen dari LN nyariin, " Ica mengangguk angguk dan berohria.


"Mau ngapain ?" tanya nya.


Jihad menggidikkan bahunya tak mengerti, pasalnya tak ada siapapun yang menghubunginya belakangan ini selain madalah pekerjaan.


*************


Baru saja Jihad turun dari mobil, dan hendak masuk ke dalam rumah tanpa diduga, seseorang keluar dari arah rumah mamah Vivi dan menghambur memeluk Jihad.


Ica yang baru saja turun dari mobil sontak terkejut melihatnya, sampai specchless dibuatnya. Membuat otaknya tak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi, yang jelas kini sekujur tubuhnya seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi dan menimbulkan rasa sakit di ulu hati.


"Alvian ! how are you ?! miss you like crazy !" ucapnya.


Jihad segera melepaskan pelukannya.


"What the f*uck !!"


" Apa yang kamu lakukan !!" Tatapan Jihad sengit pada perempuan berwajah bule dengan pakaian minim itu.


"Sorry, sorry, refleks tadi !" jawabnya merasa tak enak hati.


Jihad berbalik ke arah Ica tapi perempuan itu kini sudah berjalan dengan tergesa masuk ke dalam rumah.


"Ca !!"

__ADS_1


"Kamu !!" meskipun tak begitu paham dengan bahasa Indonesia, tapi wanita itu setidaknya tau dari raut wajah dan bahasa tubuh jika Jihad tengah marah padanya kali ini.


"Ca !!" Jihad mengejar Ica yang sudah masuk ke dalam.


"Eh, sayang !" bersamaan dengan mamah Vivi yang baru ingin keluar.


"Assalamualaikum mah, "


"Waalaikumsalam, "


"Ca, maaf itu ga kaya yang dilihat !" maksud hati memegang tangan Ica, tapi Ica menepis tangan Jihad dari lengannya.


"Eh, kenapa ini ?" tanya mamah Vivi membeo.


"Mah, Ica ikut istirahat bentar ya ?" tapi Ica bukan sedang meminta jawaban mamah Vivi, karena sekarang ia sudah benar benar melengos masuk dan naik ke kamar atas. Rupanya ini rasanya cemburu, ko sakit ya ? pikirnya.


Belum sempat Jihad menjelaskan Ica keburu masuk dan menutup pintu kamar.


"Sayang dengerin dulu, " Jihad mengetuk ngetuk pintu, meminta Ica membuka pintunya.


"Ngalamin juga gue hal receh beginian, kaya di sinetron tau ngga !" tawanya sumbang. Meskipun terkesan kekanakan tapi lumayan menyentil ulu hati. Dan Ica hanya ingin meredakan rasa ngilu nya saja dulu saat ini.


"Beresin aja dulu masalahnya sama cewek bule tadi, aku ga akan ikutan."


"Katanya dia kangen kamu kan ? aku tau lah kalo cuma miss doang mah, sering denger !" pekik Ica.


"Tapi denger dulu, jangan dulu marah dan ambil kesimpulan sendiri !" Jihad masih mengetuk pintu kamarnya yang dimasuki Ica.


"Ga ada istri yang ga negative thinking kalo ngeliat suaminya dipeluk cewek lain sambil bilang kangen, pasti sakit.... kangennya sampe kaya orang gila pula. Berarti saking dia kangennya sama kamu," jawaban Ica menyentil hati Jihad.


"Aku mau selesain masalahnya sama dia, tapi aku mau jelasin dulu sama kamu. Makanya bukan dulu pintunya ! kita ke depan sama sama, " Jihad mencoba membuka buka handle pintu tapi nihil, Ica menguncinya dari dalam.


Gue ? ke depan, cih ! ogah..! yang ada nih bayi kembar gue pengen muntah !


"Ini ada apa Ji ?" tanya mamah Vivi mendekati Jihad.


"Catherine meluk meluk Ji mah, di depan Ica sambil bilang miss you so much, " mamah Vivi mengangkat kedua alisnya tak percaya.


"Astaga !! ck, main nyosor laki orang, budaya barat apa emang gitu kalo kangen bang ? main sosor aja tanpa nanya dulu ?" tanya mamah Vivi, Jihad menggidikkan bahunya.


"Catherine kayanya belum tau Ji udah nikah mah, " jawabnya.


"Bakwan kalo ga dibuka, ku dobrak pintunya ya !" pekik Jihad.


Dobrak aja ! paling rusak, disuruh gantiin sama mamah, papah.


"Mah kunci duplikat kamar Ji, mana ?"


"Ada, sebentar !" manah Vivi membawa kunci cadangan, tapi sayang Ica masih menggantungkan kunci di lubang kuncinya, hingga Jihad tak dapat memasukkan kunci dari luar.


"Sayang, buka dulu ! ini udah siang..kamu belum makan, kasian jagoan jagoan kecil aku !" Jihad mencoba merayu Ica.


"Hah ?! jagoan kecil apa bang ?" tanya mamah Vivi.


"Ica hamil mah, kembar !" jawabnya berseru.


"Alhamdulillah !!" seru mamah Vivi tak kalah senangnya.


"Ica, nak ! makan dulu yuk ! biar mamah siapin, Ica mau makan sama apa, atau Ica kepengen apa, biar dibeliin ?" tanya mamah Vivi.


Mendengar suara mamah Vivi, akhirnya Ica mau memutar gagang kunci dan membuka pintu. Dengan wajah keruhnya, ia hanya melewati Jihad tanpa mau berkata ataupun menatapnya.


"Ica lapar mah, mamah masak apa ? tapi Ica ga mau deket deket abang !" tunjuknya pada Jihad. Akhirnya Jihad merasakan apa yang Milo rasakan dulu.


"Iya iya...yu sama mamah aja, biar bang Ji suruh di luar !" mamah Vivi merangkul bahu menantunya itu.


"Sayang, " tapi Ica malah memelototi Jihad membuat mamah Vivi melarang Jihad untuk dekat dekat dengan Ica dulu.


Jihad membuang nafas kasar, ia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Catherine. Gadis itu sudah sejak kuliah di London selalu mengejarnya, tapi Jihad tak pernah tau jika Catherine akan senekat ini dan mengejarnya sampai ke Indonesia. Berulang kali Catherine mendekat, berulang kali Jihad menolak. Tapi sepertinya Catherine masih penasaran.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2