Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Always, forever...


__ADS_3

"Kara sama Lendra mana, sayang ?" Jihad menaruh tas laptopnya di sofa.


"Udah pulang barusan, diseret sama lakinya yang lebay dan pemaksa, kaya kamu !" kenapa para laki laki ini hobby sekali pulang datang dan pergi seenak jidat.


"Dih, ko aku ?" tanya Jihad mengernyitkan dahinya.


"Iya lah kamu, mau ku sebutin lagi siapa yang tiba tiba nyusul ke rumah ?" tanya Ica, Jihad terkekeh.


"Ga inget, " ia lantas naik ke lantai atas.


Ting tong !


"Bu, ada tamu !" ujar bi Denok.


"Suruh masuk aja bi, kayanya kenalan abang, mau foto !"


"Oke bu, "


"Minta tolong siapin minum sama kue yang tadi aku siapin ya bi, "


"Rebes bu, "


"Bang, kayanya itu fotografernya udah datang, " panggil Ica saat Jihad sedang berganti pakaian.


"Oh oke, kamu siap siap dulu deh touch up dulu kek, tapi jangan tebel tebel, ntar aku ga bisa bedain yang mana mochie yang mana momy nya twin !" kekehnya sontak saja dihadiahi cubitan dari Ica.


"Awww ! Bakwan ampun, ibu hamil emang dahsyat, selain hot di ranjang cubitannya juga hot, nyengat kaya kalajengking !" kelakarnya yang langsung pergi dari kamar melihat Ica sudah melotot.


"Hay Gus, om Swastiastu !" Jihad mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Om Swastiastu Ji, lama tak berjumpa bro !" keduanya langsung salam berjabat tangan.


"Iya terakhir saat pernikahanmu," jawab Gusti di sertai senyum temannya yang lain.


"Oh iya kenalkan, ini Kinan...asisten-ku !"


"Kinan !"


"Jihad !"


"Silahkan duduk dulu, ngopi dulu..santai aja lah Gus, soalnya istri juga ga bisa cepet cepet, maklum lah bawa bawa perut," Jihad duduk di sebrang Gusti dan seorang gadis bernama Kinan.


"Thanks ya, selama di Bali udah bantu bantu !"


"Ah, itu bukan apa apa Ji, "


Ica turun dengan pelan pelan, dirasa punggungnya semakin panas dan pegal. Bukan hanya punggung, sekarang merembet ke perut bagian bawahnya.


Ia sedikit meringis, tapi kemudian rasa sakit itu kembali hilang.


"Hay, ini Ica !" tunjuk Gusti, Ica mengangguk.


"Mau langsung aja ?" tanya Gusti.


"Kalo lagi ngopi dulu ga apa apa, santai aja !" jawab Ica mengusap usap perutnya, siapa tau dengan mengusap begini, kedua bayi kembarnya bisa diajak kerja sama. Come on baby...momy pengen foto foto dulu sebelum tempur !!


Peluh keluar dari kening Ica, menahan rasa mulas dan panas yang hilang timbul.

__ADS_1


"Udah ko, ngopi mah gampang lah nanti aja !" untung saja Gusti orangnya mengutamakan pekerjaan sebelum bersantai santai.


"Ka Ica ga apa apa ?" tanya Kinan saat membantu Ica bersiap siap dengan wardrobe-nya.


"Ga apa apa ko, lanjut aja !" jawab Ica.


Begitupun saat pengambilan gambar, Ica tampak kepayahan untuk mengikuti arahan Gusti dan beberapa kali Kinan mengusap peluhnya dsngan tissue.


"Kamu ga apa apa yank ?" tanya Jihad khawatir.


Ica kali ini tak menggeleng, "pinggang aku sakit bang, dari tadi juga perutku mules tapi ilang timbul, " cicitnya.


Baru 2 kostum yang mereka gunakan, masih ada sisa 2 lainnya.


"Iya mas, dari tadi ka Ica nya keringetan terus, ditambah kaya meringis nahan sakit, "


"Ji, lahirannya kapan ? bukannya masih 2 mingguan lagi ?" tanya Gusti memastikan.


"10 hari, itu pun udah booking RS karena mau lewat caesar, " jawab Jihad.


"Setau gue, bini gue aja bisa meleset bro, coba deh loe periksa !"


"Terus fotonya ?" tanya Ica berseru, ia sangat menunggu sesi ini, yang kata teman temannya adalah hal yang paling seru, karena proses mengabadikan kehamilan, sayang jika dilewatkan.


"Ini udah dapet beberapa Ca, sebenernya udah cukup ko, " jawab Gusti, tapi sejurus kemudian mereka dikejutkan dengan lelehan cairan merah dari se lang k4ngan Ica.


"Astagfirullah !" seru Kinan dan Jihad.


"Ji, buruan bawa ke RS aja, biasanya kalo ga ada halangan masih bisa di reservasi ulang, " ucap Gusti yang sudah lebih dahulu mengalami moment hectic begini.


Jihad melesat meraih kunci mobil, dan bergegas memapah Ica, kali ini ia tak kuat jika harus menggendong ibu hamil bayi kembar satu ini,


"Kuat bang, "


"Hati hati bu, pak !" ucap bi Denok khawatir.


"Sorry Gus, malah jadi kaya gini ! gue tinggal dulu ya, "


"No problem Ji, gue sama Kinan juga cabut, tunggu hasil fotonya aja ya !" imbuh Gusti.


"Oke !" pekik Jihad menghilang di halaman, memasukkan Ica ke dalam mobil beserta peralatan melahirkan, demi berjaga jaga takutnya hal yang ditunggu tunggu ternyata dipercepat oleh Allah.


Beberapa kali Ica meremas pegangan di samping atas pintu mobil, menahan sakit.


seketika dress yang ia gunakan pun ikut merembes oleh cairan bening seperti air pipis.


"Bang bajuku basah, tapi bukan da rah, kaya air pipis !"


Jihad semakin khawatir dan panik, pasalnya ia tak tau menau tentang hal begini, yang ia tau cara mengadoni jabang bayi saja.


"Kata dokter apa kalo gitu ?" ia mencoba menjadi orang yang paling kalem, meskipun ia tak tau kepura puraannya tercium oleh Ica atau tidak.


"Ga tau, air... ketu..ban mungkin, " jawab Ica terbata, ia bahkan kepayahan menjawab pertanyaan Jihad.


"Sabar ya sayang, semua bakalan baik baik aja, " tangan yang tadinya menggenggam tangan Ica kini memencet nomor mamah Vivi, saat lampu sedang merah, sementara Ica semakin banjir oleh keringat.


"Mah, "

__ADS_1


(..)


Akhirnya mamah Vivi ikut menyusul dari rumahnya menuju RS tempat tujuan Jihad sekarang.


"Pak Alvian, bu Ica sudah mengalami kontraksi, hanya saja ada sedikit masalah. Air ketuban yang sudah rembes, mengharuskan kita harus segera melakukan tindakan caesar, bu Ica juga mengalami pendarahan, "


"Bukankah seharusnya Ica lahiran 10 hari ke depan dok, "


"Saya sudah pernah berkata, usia kandungan bu Ica memang sudah memasuki usia ideal untuk melahirkan,"


"Oke, apapun itu. Saya setuju, dok !"


Hari ini yang seharusnya adalah hari maternity shot, malah berubah menjadi hari dimana Ica melahirkan. Wow...takdir memang semisteri itu !


Ica masuk ruang tindakan bersama Jihad yang menemani. Sedangkan di luar, keluarga Ica dan Jihad sudah menunggu harap harap cemas. Untung saja kendala yang disebutkan dokter Gina tadi, tidak mengharuskan Ica mendapatkan bius total.


Sepanjang proses kelahiran, tangan Jihad tak lepas menggenggam tangan Ica.


"Bang, "


"Hm, " Jihad menatap sayu pada Ica, ia tak kuasa melihat perempuan kesayangannya kini terbaring dengan bagian perut yang sudah tersayat.


"Maafin aku ya, selama ini aku suka usil..suka galak, suka..."


"Shhhhh, kamu yang terbaik !" Jihad berkali kali mengecup kelopak mata Ica yang sudah meneteskan air mata.


"Kamu sama anak anak pasti selamat dan sehat, katanya mau jadi momy hebat !"


"Baru kali ini aku ngerasa takut bang, selama hidup aku.."


"Jangan ngomong ngaco,"


"Inget ngga dulu waktu pertama kali kita pegangan tangan ? kamu bilang, kamu ga canggung sentuhan sama aku soalnya, kata kamu aku setengah cewek setengah cowok ?!" Ica mengangguk.


Dokter Gina menyela obrolan mereka, "maaf menyela ya pak, bu. Ibu ada ngerasa sesak ?" tanya dokter Gina.


"Sedikit dok, " alis Ica bertaut, kemudian seorang suster membantu memasangkan selang oksigen untuk membantu Ica bernafas.


"Terus aku bilang, kalo aku bukan b4nci ! kamu mau bukti ?! dari situ awal kita selalu berantem, kalo udah gitu selalu ditengahin sama Kara kalo ngga Ayu," Ica menarik senyumannya tipis demi mendengar cerita dulu dirinya dengan Jihad.


"Itu awal kita deket dan jadi sahabat,"


"Sekarang bahkan aku bisa buktiin sama kamu, i'm gentleman.. seorang daddy dari 2 orang bayi yang pastinya lucu lucu, dan itu lagi kamu perjuangkan dengan taruhan nyawa kamu sendiri, sekarang.. " kali ini Ica mengangguk lebih dalam.


"Makasih banyak, kamu sudah mau menunggu...makasih banyak kamu juga sudah hadir di hidupku, dan terimakasih banyak sudah memberikan kebahagiaan buat aku, i love you Humaira Khairunissa..." Jihad mengecup kening Ica lama.


Tepat pukul 13.45 WIB kedua bayi kembar laki laki Ica dan Jihad lahir kedunia dengan selamat, dengan masing masing berat 2,4 kg dan 1,9 kg.


Membuat kursi tunggu ruangan bayi kini berjejer keluarga Ica dan Jihad yang tak sabar ingin melihat bayi kembar mereka. Kedua bayi laki laki itu masuk inkubator karena berat badan yang belum normal.


Jihad menatap Ica yang tertidur lelap di ranjang. Ia menatap jauh ke masa lalu.


Ia tau betul bagaimana perjuangan hidup seorang Ica, ia juga merasa bangga dengan perjuangan keduanya untuk sampai ke tahap bersatu, bukan waktu yang sebentar, dan bukan hal yang mudah. Perjalanan saling memahami yang selalu diwarnai kesalahpahaman dan ego masing masing. Mereka masih sama sama belajar dan sampai kapan pun akan terus belajar. Kehadiran kedua buah hati mereka menjadi awal perjalanan mereka menjadi orangtua, tantangan baru dalam kehidupan berumah tangga. Tapi dengan Ica, ia yakin bisa melewati semuanya, karena Ica adalah seorang teman, teman berbagi...teman mengeluh...teman berdebat...dan teman hidupnya.


Always, forever....


Akhirnya guys...makasih ya udah nemenin perjalanan kisah cinta Ica dan Jihad, mulai dari berantem terus, kaya kocheng oyen dan guguk item...dari yang asalnya nyempil nyempil di tempatnya pacar ng'adopsi sampe dimari...maafkan mimin jika selama penulisan banyak typo ataupun alur yang tidak sesuai ekspektasi..karena memang manusia itu tak ada yang sempurna, terimakasih atas dukungan like, koment, rate, vote dan giftnya entah itu berupa mawar merah, kopi item ataupun capuccino dsb.

__ADS_1


See you di karya remahan mimin selanjutnya guysss !!!!πŸ™πŸ™πŸ˜


__ADS_2