
"Bee ! ga buka segel aku kan bee ?!" Ica menarik narik jaket Jihad sampai ke ruangannya. Tapi Jihad malah diam seribu bahasa.
Saking pulasnya Ica sampai tak ingat kejadian apapun sebelum tidur.
"Sebentar lagi kecebongku gede di dalem sana !" Ica semakin melotot dibuatnya.
"Ga mungkin, masa unboxing duluan, belum sah !! ko aku ga ngerasain apa apa, kaya kata Kara ! seingetku kamu cuma nyanyi jelek banget, udah gitu kamu ceritain masa kecil kamu, " Ica meraba raba perut bawahnya. dan setiap inci badannya.
Jihad tertawa menjahili gadis usil ini. Jihad hanya membalas perbuatan Ica semalam yang sudah membuatnya berdiri di depan kulkas saking menahan h4wa panas dalam dirinya yang semakin tak bisa ditahan.
Flashback on
"Ganti bajumu, masa tidur mau pake baju kantor gitu !" ucap Jihad.
"Pake baju siapa?" tanya Ica. Jihad mencari cari t shirtnya di dalam lemari, ia menyerahkannya pada Ica.
"Kamu keluar !" pinta Ica.
"Iya, ga boleh intip sedikit ?" tanya Jihad, Ica menggeleng.
Tak berapa lama Ica sudah berganti pakaiannya, jujur jiwa lelaki normal Jihad meronta ronta dibuatnya, kaus Jihad yang menenggelamkan badan Ica dengan selem*pak atau celana pendek hitam yang ikut tenggelam oleh kaosnya.
Ica naik ke atas ranjang,
"Bee, "
Niat hati hanya ingin mengambil laptop pribadinya untuk memindahkan file dari flashdisk kantor. Ica malah merengek menggelayutinya.
"Ya udah kamu tidur ! aku disini !" jawab Jihad kembali menaruh laptopnya dan ikut naik ke atas ranjang, menyelimuti badan sepinggang Ica sedangkan ia hanya duduk di luar selimut menyenderkan kepala Ica di dadanya dan mengelus kepala Ica lembut.
"Kamu udah cape nangis, sekarang istirahat, " ucap Jihad.
"Ini bukan mimpi kan bee, nanti kalo aku buka mata, kamu tetep ada disini kan ? bareng aku ?" tanya Ica mendongak, masih belum percaya jika Jihad sudah bersamanya.
"Hey, liat aku...sekalipun ini hanya mimpi nikmatilah, jangan takut untuk melewatinya. Dimana pun sampai kapanpun aku bakal ada sama kamu, " jawab Jihad menundukkan kepalanya mengecup lembut bibir kenyal Ica.
Kecupan itu tidak singkat, Jihad sempat melepaskan p4g*ut4nnya, menatap Ica lekat, tapi sejurus kemudian kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Ica, meraup kasih sayang bersama, bukan kissing hanya sekedar memuaskan navfsoe semata.
"Aku takut lepas kontrol yank, " bisik Jihad memundurkan bibirnya, tapi keningnya ia tempelkan di kening Ica.
Ica menyenderkan kepalanya di dada Jihad.
"Nyanyi dong bee, dari SMA aku belum pernah tau suara kamu, bisa nyanyi apa engga, masa suara ka Milo doang taunya," pinta Ica.
"Aku ga bisa nyanyi, " jawab Jihad.
"Nyanyiin nina bobo, kan ga usah pake cengkok, lempeng lempeng aja kaya jalan tol, " jawab Ica.
__ADS_1
"Aku ga bisa nyanyi, astaga !" kekeh Jihad menolak.
"Coba dikit deh..." paksa Ica.
"Oke, tapi kamu tidur setelah ini !" pinta Jihad, tangannya meraih belakang telinga Ica, mengusap usap memberikan kenyamanan, bak ibu pada anaknya, Ica bahkan sampai memejamkan matanya merasai nyaman. Jihad memang gudangnya kenyamanan. Dan tentunya gudang duit juga, Ica tersenyum.
Mata Ica yang sudah hampir setengah watt, otomatis membelalak dan meledakkan tawanya saat suara Jihad menggema di pendengarannya seperti radio rusak.
"Ninaaa...Bo..bo..."
"Bwahahahahaha !" Ica tergelak. Rasa kantuk itu seketika sirna seperti abu yang ditiup angin.
"Astagfirullahaladzim ! " Ica masih tergelak memegangi perutnya yang ngilu, Jihad manyun dan malah menggelitiki Ica.
"Kan, ngeledek !" omel Jihad.
"Engga ihh, suara kamu bagus ko ! saking bagusnya kaya suara engsel pintu karatan !" jawab Ica, Jihad semakin menggelitiki gadis itu yang tertawa semakin kencang dan berontak.
Tokk...tok..tok....
Milo berdiri di depan pintu kamar Jihad.
"Ji, loe berdua lagi ngapain sih ?! berisik oyyy, bini gue tidur ! penganten baru aja kalah berisik, " ucap Milo.
"Suttt !!" Jihad menaruh telunjuknya di depan bibirnya.
"Loe berdua belum sah oyyy !" pekik Milo.
"Dah sono balik, ga usah ganggu !"
Jihad dan Ica kembali ke posisi semula, begitupun Jihad yang sudah mengusap usap rambut dan kepala Ica,
"Bee, cerita aja deh..dongeng apa kek..si kancil kek atau apa, pokonya kamu ngomong aja ! biar aku ngantuk !" pinta Ica.
"Cerita apa ? kaya bocah aja minta di dongengin," ujar Jihad sewot.
Jihad hanya bercerita sebisanya saja, apa yang ada di kepalanya saat itu, bahkan tak segan segan ia bercerita tentang kebiasaanya saat masih kecil, tak berapa lama Ica tertidur pulas di lengan Jihad. Gadis ini manis saat tertidur, siapapun yang melihat Ica, tak akan percaya jika gadis ini bar bar aslinya. Jihad tersenyum merapikan rambut calon istrinya, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga Ica, ia meringkuk seperti anak kecil. Jihad menarik selimut sampai ke pinggang Ica, jujur saja pemandangan itu mengganggu naluri laki lakinya, otak Jihad sampai kacau dibuatnya, hanya melihat pa*ha Ica yang mulus terekspos saja ia sampai oleng, belum lagi bentukan tubuh Ica semakin membuatnya kurang waras.
"Bakwan..bakwan...gue cowok normal, loe sodorin pa*ha gini langsung oleng gue !" Jihad menutup Ica dengan selimut dari mata lelaki jaha*namnya.
Jihad menarik lengannya yang di dekap Ica, lalu turun dari ranjang, menahan sesuatu yang menggebu gebu dan tak tersalurkan ternyata benar benar tersiksa dan menderita. Jihad turun menuju dapur, ia membuka lemari es dan berdiri merasakan dinginnya hawa dari kulkas, ia meraih minuman kaleng yang dingin dan menempelkannya di kepalanya. Milo tertawa dari arah belakang.
"Makanya cepetan married ! kerasa kan loe, kesiksa nahannya ! pake nekat dua duaan di kamar lagi, " ledek Milo.
"Si@*lan loe !" umpat Jihad. Jihad duduk di sofa tengah, dengan minuman kaleng yang masih ia tempelkan di kepala.
"Biar cepet dingin mandi sono !" ucap Milo.
__ADS_1
"Gue udah mandi, masa harus mandi lagi !" jawab Jihad mencebik.
"Loe sendiri ngapain disini ? bukannya ngekepin Kara !" tanya Jihad.
"Kara udah tidur, malam ini gue libur dulu, kasian dia capek.." jawab Milo.
Flashback off.
"Ga apa apa, kan sebentar lagi juga nikah !" dengan entengnya Jihad berujar. Ica melempar buku pada Jihad yang langsung ditangkap lelaki ini.
"Ga mungkin ah, aku ga ngerasain apa apa !" jawab Ica.
"Hebat kan aku, kamu aja sampai dibikin nyaman, ga sakit kan ?!" Jihad tergelak tanpa dosa.
"Boong !!!" Ica kembali melempar buku pada Jihad.
Mendengar suara Jihad dan Ica di dalam, dua orang masuk membuka ruangan itu.
"Astaga !!!! loe berdua ngapain ? ini ruangan kantor udah kaya kapal pecah ?!" ucap Kara yang melongo melihat buku tergeletak dimana mana, bersama Milo di belakangnya.
"Tuh Ra, temen loe ! ngamuk ngamuk semalem gue unboxing ! suruh siapa nyodorin diri sama gue," jawab Jihad.
"Engga Ra, bohong dia, enak aja fitnah Ra !" sanggah Ica.
"Ah yang bener ?!" Kara terkejut dan menghampiri Ica.
"Loe sakit ga Ca, mana coba gue liat ?!" Kara sontak meneliti setiap bagian tubuh Ica, memutar badan Ica, Milo dan Jihad tertawa melihat keabsurdan keduanya.
"Apanya yang sakit sih Ra?" tanya Ica.
"Ya itu nya, punya loe !" sewot Kara.
"Punya gue apanya ?!" tanya Ica tak mengerti dengan bahasa ambigu Kara.
"Ya itunya ! anu loe ! properti loe, Allahu rabbi masa gue harus jelasin !" kesal Kara.
Jihad dan Milo semakin tergelak dengan bahasa alien, itu dan anu dari Kara dan Ica.
"Properti apa ? rumah ?!" tanya Ica.
"Gunung kembar loe ! sama goa loe ! kesel gue lama lama !" pekik Kara.
.
.
.
__ADS_1
.