
Pagi pagi sekali Ica sudah dibingungkan dengan sebuah paper bag dan sekuntum mawar merah di meja kerjanya.
"Ca, ini ada yang simpen ini di meja loe !" ucap Evi.
"Siapa?" tanya Ica.
"Tadi sih ada ob yang naro disini, " jawab Evi, Ica berohria sambil meletakkan tasnya di meja.
Pagi pagi sudah disuguhi ke uwuan yang haqiqi, kalau Jihad..kenapa tidak tadi saja saat sama sama berangkat bekerja.
"Sugar daddy loe kali, " senggol Evi. Ica menarik senyumannya.
"Mungkin, tapi tadi berangkat bareng diem diem aja, dia bukan tipe orang romantis Vi..." jawab Ica, jika mengingat kelakuan Jihad, mengajak menikah tapi sampai sekarang saja ia bahkan tidak mengucapkan kalimat penegas ajakan itu, lebih romantis nobita pada shizuka, meskipun nobita itu bodoh tapi ia rela melakukan hal sepele hanya untuk membuat shizuka bahagia. Jihad lebih pantas disamakan dengan Giant.
Ica yang penasaran, membuka paper bag nya, berisi ponsel baru lagi untuknya, Ica jadi khawatir ini adalah calon korban ponselnya yang ke 3 untuk Ica, apa yang akan terjadi dengan yang ini.
"Ponsel Ca, " decak kagum Evi. Tapi ponsel ini rupanya sudah pernah di buka, itu terlihat dari segel kemasannya yang sudah terbuka.
"Udah pernah dibuka Vi, " Ica menyalakan ponselnya.
"Cie," cicit Evi. Wallpaper yang terpasang adalah wajah Jihad dan Ica saat SMA.
Ica mencoba membuka ponselnya yang tak dipasangi password, saat menscroll nomer kontaknya hanya ada kontaknya saja.
"Apa apaan ini, my soul !" Evi kembali tergelak, tampang sedingin Jihad ternyata tak menutupi jiwa alay nya sang CEO.
"Romantisnya pak Alvian, " Evi mesem mesem sendiri.
"Morning para gadis !!!! wah mawar, kayanya gue punya saingan buat dapetin loe sweety," sapa Tio yang baru saja datang, yang dibalas dengusan oleh Ica.
"Si popok datang, " gumam Ica.
"Sweety, jujur sama gue ! siapa yang ngasih nih mawar sama loe? bilang sama dia, aku tantang dia di ring tinju !" ucap Tio yang menyenderkan pan*tatnya di meja Ica, Ica menoyor kepala Tio.
"Ngomong sono sama tembok !" Evi tersenyum getir melihat Tio yang terang terangan menyukai Ica, padahal selama ini dia menyukai Tio, apa lelaki itu tak menyadarinya.
"Gue ke toilet dulu, " ucap Evi.
"Oh oke, "
*******************
Ica mengetuk pintu ruangan Jihad.
"Masuk, " jawabnya dari dalam.
Ica masuk ke dalam sepaket dengan wajah yang senyum senyum sendiri membuat Jihad mengernyitkan dahinya.
"Udah lama?" tanya Jihad.
"Apanya? diluar, baru aja !"
"Gilanya ?!" kekeh Jihad menutup file. Wajah Ica langsung merengut, memang sampai kapanpun jika Jihad orangnya tak akan pernah bisa akur.
"Ga usah mancing mancing buat ngumpat bee, lagi belajar insyaf !" jawab Ica.
Jihad berdiri dan merengkuh pinggang Ica, "kenapa ?"
"Makasih ya, buat ponselnya sama bunganya ! tapi kalo bisa namanya jangan my soul, geli !!" tawa Ica.
"Ganti aja kalo ga suka, jangan masukkin kontak yang ga jelas, " jawab Jihad.
"Maksudnya ga jelas siapa? ka Raka?" Ica tertawa.
"Salah satunya, " dengus Jihad, Ica mengangkat kedua alisnya, Jijad mulai mirip dengan Milo.
"Ketularan, "
"Ketularan siapa?"
"Ka Milo, "
"Dapet kabar dari si empunya rumah, katanya kalo mau ke rumah silahkan. Pintu rumah selalu terbuka buat keluargamu, " ucap Ica.
"Oke, nanti aku sampein ke mamah sama papah, "
*********************
Setelah saling bertukar kabar. Akhirnya, hari ini keluarga Jihad berencana ke rumah Ica.
"Mamah sudah cantik, " kecupan ringan disarangkan Riza pada istrinya.
"Papah juga masih ganteng, " puji perempuan 2 anak ini.
"Udah saling pujinya, keluarga Ica kayanya udah nunggu, " ucap Jihad di ambang pintu kamar kedua orangtuanya.
"Ga sabar, yang mau ketemu keluarga Ica."
Di jl. Flamboyan
"Buruan elah !!!!" Ica menggedor pintu kamar mandi, yang akan datang adalah kekasih beserta keluarganya, tapi yang justru sibuk adalah orang rumahnya.
"Ini yakin nih ga perlu manggil ncang Yahya, buat manggilin ondel ondel atau marawis, " tanya Galih. Ica dan Riski tergelak,
"Dikira manten sunat ! sue !" jawab Ica masih berkalungkan handuk.
"Astaga sibuknya, anak gue aja sampe pada dipakein baju kondangan !" ujar ka Novi ikut sibuk. Semuanya mencari pakaian terbaiknya.
Nene dan kakenya saja yang terlihat anteng dengan biskuit dan teh manis hangatnya di teras depan.
__ADS_1
"Itu Habibie sama Ainun gimana di depan ?" tanya Riski.
"Dasar cucu durhakim, " tawa Novi.
"Udah biarin aja nene sama kake jadi pager ayu sama pager bagus, " jawab Ica enteng masuk kamar mandi.
"Salah salah, entar malah ga nyambung !" jawab Galih.
Tak ada sofa mahal disini, tak ada pula karpet turki, hanya kursi sofa seadanya, dan karpet biasa tempat mereka biasa duduk melantai. Tak ada makanan mewah, hanya makanan kampung khas anak betawi.
Ica sudah memoleskan liptinnya sebagai sentuhan akhir.
Jarang jarang orang kaya datang ke lingkungan mereka. Ica berjalan melewati pos ronda, seperti biasa disana sudah ada Diki beserta teman temannya.
"Witwiwww ! neng Ica cantik banget, mau kemana?" tanya Diki menghadang Ica. Ica merotasi bola matanya malas. Kenapa Tuhan membiarkan makhluk begini panjang umur. Ingin sekali Ica memasukkannya ke dalam kardus dan mengirimkannya ke gunung berapi.
"Mau jemput keluarga pacar !" jawab Ica sarkas.
"Apa ?! neng Ica mau lamaran ?!" tanya Diki.
"Kenapa ? kepo !!!" Ica berjalan meninggalkan Diki.
"Neng, Neng Ica !!" pekiknya. Dari kejauhan sudah terlihat mobil Jihad. Senyum Jihad merekah, melihat gadis cantik itu berdiri di depan gapura desa. Datangnya keluarga borjuis dengan dandanan dan tampilan berbeda cepat tersebar, melihat sebuah mobil mewah masuk kampung, sontak menjadi tranding topic. Apalagi yang keluar dari mobil adalah wanita paruh baya dengan dress dan tampilan mewah, meskipun sederhana tetap saja bukan daster yang ia pakai. Ketiga pria yang mengelilinginya pun, tampan dan berkelas, beberapa warga yang melihat, melongokkan kepalanya di balik pagar rumahnya masing masing.
"Maaf, jalanannya tak masuk untuk mobil, " Ica menjemput keluarga Jihad dari gapura dekat gang rumahnya. Senyum ramah ditunjukkan orangtua Ica.
"Cantik," gumam Jihad.
Tak terima Ica dilamar, Diki berbuat ulah, ia menghadang keluarga Jihad bersama Ica.
"Neng, kenapa neng Ica tidak menunggu aa Diki ? malah menerima mereka ? apa karena mereka orang kaya?" tanya Diki.
"Siapa sih mereka bang ?" tanya Jian pada Jihad.
"Cuman preman kampung, "
"Maaf, anda siapa?!" tanya ayah Jihad.
"Maaf pak atas gangguannya !" Ica menunduk pada kedua orangtua Jihad.
"Minggat ga loe !" Diki yang berbalik malah mencuri curi ingin menyerang Jihad, Jihad refleks ingin mengelak tapi tiba tiba saja Diki sudah tersungkur jauh ke dalam selokan. Bukan Jihad atau Jian yang melawan tapi Ica.
Gadis itu menendang dan membanting Diki sampai tersungkur.
Jian melongo tak percaya, tampilan sefeminim ini tapi bisa garang juga.
"Maaf tante, om !" ucap Ica. Bukannya ilfeel tante Vivi malah tertawa dan bertepuk tangan.
"Hebat deh buat Ica, tante salut ! sejak kapan bisa bela diri ?" tante Vivi yang asalnya canggung kini mengalungkan tangannya di pundak Ica, berjalan bersama.
"Udah bawaan orok kayanya tante, maklum lah..kalo tinggal di kampung begini apalagi karyawan kaya Ica yang sering pulang malem sendirian, harus bisa jaga diri !" jawab Ica.
"Teh Mira, iket dulu si Momo sama Zakir..biar ga rusuh !" ujar Ica berbisik.
"Borokokok ! dipikir anak teteh kambing, " jawab teh Mira. Pasalnya jika melihat Jihad, sudah dipastikan Ica akan tersingkir. Ica tergelak mendengar umpatan kaka iparnya.
"Galih, itu siapa ?!" tanya seorang tetangga.
"Tamu mamah !" jawab Galih.
Orangtua Jihad beserta kedua putranya masuk disambut orangtua Ica.
"Assalamualaikum, "
"Waalaikumsalam, "
"Daddy Ji !!" pekik Momo. Belum apa apa bocah perempuan ini sudah menyambut Jihad.
"Cih, si Momo so akrab !" Ica menepuk jidatnya.
"Morina !" panggil Riski pada anak perempuannya ini.
"Ga apa apa bang, biar Momo sama Jihad aja, " ibu Jihad tersenyum.
"Silahkan duduk, bu, pak...maaf disini hanya seadanya." ucap ayah Ica.
"Tak apa pak, jangan dibikin repot, kami bukan priyai, " Ayah Jihad dan ibunya duduk.
Saat ini perasaan Ica tak menentu, jangan dibandingkan dengan keadaan rumah Jihad, jelas saja pasti beda jauh. Atapnya saja sudah hampir lapuk dimakan usia. lantainya hanya keramik biasa bukan marmer.
Jihad melihat wajah pucat Ica, terlalu banyak yang ia pikirkan saat ini.
"Silahkan dinikmati sajian seadanya," tawar ibu Ica. Mata tante Vivi berbinar melihat berbagai makanan khas betawi, jarang jarang ia menemukannya. Ia mengambilnya dan merasakannya. Persis seperti dulu bak nostalgia untuknya.
"Enak, apa ini buat sendiri?" tanya tante Vivi, perempuan jika sudah mengobrol tentang memasak pasti bakalan klop.
"Alhamdulillah, tak ada yang bisa disuruh bu, jadi buat sendiri, " jawab ibu Ica.
"Wahh, kapan kapan bisa ajarkan saya, " jawab tante Vivi. Jihad menarik senyumannya mana kala melihat kedua orangtuanya begitu mudah akrab dengan kedua orangtua Ica. Ternyata tidak susah untuk keluarganya dan keluarga Ica berbaur.
Sejauh ini tak ada yang berulah di dalam rumah Ica, aman terkendali. Kedua orangtua Ica dan orangtua Jihad bicara ngaler ngidul, membuat anak anak muda di dalam sini jadi suntuk. Galih keluar dari rumah.
"Bang, tadi si Diki bikin onar di depan !" bisik Ica ikut keluar.
"Wah, cari mati..ngapain dia ?" tanya Galih.
"Masa dia mau nyerang Jihad ! gue rasa dia ga terima, soalnya tadi dia gue jorokin ke selokan !" jawab Ica.
Jian yang sama sama suntuk ikut keluar dari dalam. Jadilah kini ketiganya ada di luar teras.
__ADS_1
"Ka Ica, disini enak ya rame !" ujar pemuda 21 tahun ini.
"Eh iya Ji, saking ramenya sampe ga bisa tidur, kalo lagi suntuk butuh temen kesini aja, " jawab Ica, Jian melirik Galih yang tengah bermain game online.
"Wah, main juga ?! mabar boleh nih ?!" ajak Jian pada Galih.
"Boleh boleh ! disini gue ga ada temen mabar, si Icot ga bisa main, dia mah kampungan !"
"Njir ! gue cewek, wajar kalo ga bisa main, " Ica menoyor kepala Galih.
"Cewek juga banyak yang main, loe nya aja yang oon, "
"Kalo gue oon, gue ga akan kuliah !" jadilah keduanya malah berdebat. Jian tertawa tawa melihat perdebatan kedua adik kaka ini,
Riski yang mendengar suara ribut diluar merasa suara itu telah menyita perhatian para orangtua.
"Nih anak dua emang mesti dipisahin, kalo engga udah kaya tom and jerry," ucap Riski.
"Loe berdua bisa diem ga ?! apa mau gue kasih golok satu satu biar lebih afdol lagi berantemnya ?!" tanya Riski menengahi.
"Bang Galih nih, "
"Si Icot nih !"
"Dua duanya, "
"Apa yang kecolok ?" tanya neneknya baru saja datang dari rumah tetangga dan bergabung ke teras depan. Satu lagi anggota keluarga yang akan membuat malam ini semakin panjang untuk dilewati.
"Nih ne, colok aja mata bang Galih ne, sekalian balsemin aja, biar ga jelalatan sama cewek !" tunjuk Ica seraya membantu tubuh ringkih neneknya masuk ke dalam.
"Nenek masuk udah malem, di luar dingin !" Ica dan Galih begitu perhatian pada neneknya.
"Enak aja, gue jelalatan wajar cowok, single !" ucap Galih jumawa meneruskan perdebatannya.
"Engga wajar lah, mata loe jelalatan itu tandanya mesti di ruqyah !" Robi dan Momo turun dari pangkuan Jihad dan ikut keluar dari rumah.
"Yeee ! ateu Ica sama om Galih belantem, ateu Ica pasti menang !!!" sorak Momo.
"Om Galih lah, om Galih kan suka pelang di hape !!" jawab Robi.
"Bial aja ateu Ica seling lempal sendal ! nanti pedangmya bengkok sama sendalnya ateu Ica !" jawab Momo tertawa.
"Allahu rabbi, " Riski sudah tak enak hati pada keluarga Jihad, namun ekspresi apa yang di dapat oleh ibu Jihad, ia malah tertawa terkikik.
"Kalo gue wajar, kalo bang Riski baru ga wajar !"
"Apaan bawa bawa nama gue, loe berdua yang gue gantung di gantungan burung engkong Rojak, biar bareng si manis di jemur tiap pagi !" jewer Riski di kuping Ica dan Galih.
"Awwww !!!" keduanya mengaduh sambil tertawa.
"Hahaha, ramenya ! saya ko seneng disini ya, " gumam tante Vivi pada ibu Ica. Apalagi melihat Jian yang sudah tertawa tawa melihat perdebatan Ica dan Galih tak jauh seperti dirinya dan Jihad.
Ibu dan ayah Ica hanya menghela nafas lelah dan tersenyum getir.
"Maaf ya, begitulah disini bu, pak ! bukan rame lagi, udah kaya tawuran kalo tiap hari, " jawab ibu Ica.
"Engga..engga...justru rame ! saya jadi ingat keluarga besar saya dulu," keluarga Ica mengingatkan masa lalu indah tante Vivi.
"Kalo memang tak mengganggu syukurlah, "
"Justru suasana ini yang membuat hangat, " jawab ayah Jihad.
.
.
.
"Gimana mah, pah ?" tanya Jihad seraya menyetir.
"Gimana apanya?" tanya tante Vivi.
"Ica dan keluarganya?"
"Kita baru keluar dari rumah Ica, tapi mamah ko rasanya sudah kangen sama rumah Ica ya, pah ?!" ucap tante Vivi.
"Hmm, pantes aja waktu di London pengen cepetan pulang ke Indo, " ledek ibunya.
"Mamah seneng sama Ica, sama keluarga Ica, kapan rencananya kamu menyusul Milo ?" tanya tante Vivi.
"Nyusul gimana mah, Jihad belum lamar Ica, "
"Hah ?!!"
Tante Vivi menepuk bahu anak pertamanya. "Kamu gimana sih, mama kira kamu sudah lamar Ica ?!" Jian menertawakan kakanya itu.
"Papah kira kamu sudah mengajak Ica menikah, merencanakan lamaran !" jawab papahnya.
"Kan menunggu persetujuan dari mamah sama papah dulu, restu mamah sama papah adalah penentu buat hidup Jihad sama Ica, "
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tekan jempol ππ