Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Grup gonjreng


__ADS_3

"Daddyyy !!!" pekik Momo, mengucek matanya yang sudah berair.


"Hay Momo, ko nangis ?" tanya Jihad berjongkok menyamakan tinggi dengan Momo. Jika ada Jihad maka Riski terlupakan oleh anak gadisnya sendiri.


"Mau itut ayah, tapi ga boleh daddy,"


"Loh, Ji ! kirain kata Ica kamu ke Bogor ?" tanya mamah.


"Iya mah, memang tadinya lagi di Bogor, tapi karena sudah selesai, jadi langsung pulang aja, " jawabnya.


"Minum dulu deh, " Ica menyibak gorden pintu dapur yang langsung terhubung dengan ruang tengah.


Ica menaruh gelas kopi di depan meja.


"Ji, gue tinggal dulu deh ! mau bakar lemak !" tunjuknya memijit kulit perutnya sendiri.


"Iya bang, yang banyak bakarnya biar tetep six pack !" jawab Jihad.


"Udah tua mah susah Ji, mau six pack malah balik lagi jadi one pack, yang isinya luber sampe lipet lipet !" imbuh teh Mira.


Galih yang fokus pada layar hape tertawa tanpa melihat, mendengar curahan hati istri.


"Si*@lan loe ketawa !" Riski melemparkan sendal jepit dari ambang pintu ke arah Galih.


"Sekalian nginep aja disini, kamar Ica masih suka kosong. Ga ada yang nempatin," pinta ayah.


"Iya sudah malam juga,"


"Ca, masih mual ?" tanya mamah.


"Minum susu jahe coba Ca, " usul ka Novi.


"Masih mah, dikit. Iya ka ntar deh..males beli nya !" jawab Ica bermalas malasan.


"Ko kamar ga dipake Ara ?" tanya Ica.


"Kalo siang suka dipake Ara, tapi kalo malem katanya masih belum berani tidur sendiri, " jawab ka Novi.


"Kamu kenapa, sakit ?" tanya Jihad, Ica menggeleng.


"Ga tau bang, dari sore mual ga sembuh sembuh ! gara gara itu tuh ! anak gadis, pake parfum wanginya kaya biduan dangdut !" sungutnya.


"Sembarangan ! masa wangi maskulin dibilang parfum biduan, loe nya aja idungnya yang gesrek !" jawab Galih.


Dan sekali lagi, Ica kembali muntah untuk yang ke 3 kalinya, malam ini.


"Kamu sakit ? ke dokter aja yu !" ajak Jihad, tapi Ica menggeleng. Jihad menuntun Ica masuk ke dalam kamar. Kamar yang jauh dari kata besar, jauh dari ukuran kamar mereka di rumah. Saksi bisu dimana Ica bertumbuh menjadi gadis cantik nan bar bar.


Jihad mengedarkan pandangannya, seumur mengenal Ica, ia baru tau kamar Ica seperti apa. Begitu banyak tempelan aktor dari negri ginseng, idola Ica.


"Astaga ! ini tempelan, dari jaman kapan ?" saat matanya meneliti satu persatu poster aktor Korea.


"Ga tau lupa, kayanya waktu jaman jaman smp, mau ku copot tapi sayang, biarin lah buat kenang kenangan, ada rekam jejaknya kalo aku seorang k popers, " Ica menggidikkan bahunya. Ica terbilang gadis yang rapi, barang barang yang ia tinggalkan disini masih tersusun rapi, walaupun tak terlalu banyak barang dan space di kamar ini, meskipun di pojokan hanya ada koper milik Jihad, tapi jadi terlihat penuh karena kamarnya memang tak terlalu besar, malah terkesan sempit. Tak ada AC, hanya ada kipas angin di atas langit langit kamar.


"Selama kenal kamu, baru sekarang aku tau kamar kamu !" Jihad merebahkan Ica di ranjang kayu berukuran kasur no 3. Ranjang sudah pernah diganti jadi masih empuk, meskipun tak seempuk ranjang di rumah.


"Rebahan deh sayang, aku pijitin mau ?" tawar Jihad yang sudah mengganti kemejanya dengan t- shirt, Ica mengangguk.


"Mijitnya jangan kemana mana ! kenapa udah pulang, ga percaya kalo urusannya udah selesai ?!" Ica menyipitkan matanya. Tangan Jihad memijit mijit lengan, hingga ke pundak Ica.


"Kebetulan tadi kliennya datang awal, aku minta meeting dimajukan. Sisanya cuma tinggal nemenin klien sama jelasin doang isi perjanjian biar jadi urusan pak Muni sama Juwita, " kini Jihad malah ikut rebahan bersama Ica, ranjang Ica yang sudah tua menghasilkan suara berderit saat yang berada di atasnya bergerak.


"Krekeekkk..."

__ADS_1


"Dreeettt...."


Jihad memeluk Ica dari samping memperhatikan wajah Ica yang semakin chubby, dan glowing. Ica tertawa mendengarnya, setiap kali ada gerakan sudah dipastikan ranjangnya selalu ikut berbunyi.


"Ukuran kasurmu mendukung bakwan, " Ica menoleh, hingga sekarang mereka tengah berhadapan, jarak keduanya hanya beberapa cm saja.


"Kamu ga bisa macem macem disini, ranjangnya bunyi kalo kamu gerak, " Ica tertawa.


"Kata siapa ?" Jihad tersenyum miring.


"Mau semua orang tau kalo kita lagi ngapa ngapain ?"


"Bukan di ranjang kita ngelakuinnya !" Ica mencubit pinggang Jihad, lalu membalikkan badan hingga keduanya berhadapan. Tak ada ruang besar sebagai jarak diantara mereka.


Keduanya hanyut di dalam pandangan masing masing. Perlahan namun pasti, Jihad memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya. Terbuai dengan suasana, hingga keduanya sama sama dikejutkan dengan suara ketokan pintu.


"Ateu !!! daddy !! Momo mau bobo disini," gadis kecil yang memeluk boneka elsanya ini, sudah berdiri di depan pintu kamar Ica.


Ica tertawa melihat wajah memelas Jihad dan des ahan lelah yang keluar dari mulut Jihad.


"Masa gagal mencatat sejarah di kamar kamu, " keluhnya.


"Momo !! ga boleh gangguin ateu Ica sama daddy nya dong !" teh Mira menarik narik tangan anaknya yang menangis dan merengek.


Terdengar pula suara tawa Galih seakan puas, "gangguin Mo, jangan kasih kendor ! orang ketiga mulai beraksi nih !"


Jihad membuka pintu kamarnya.


"Momo mau bobo bareng ateu sama daddy ?" tanya nya.


"Jangan Ji, nanti malah ganggu !" jawab teh Mira masih menarik narik tangan Momo yang semakin kencang menangis. Tau saja si Momo kalau Jihad dan Ica akan bersenang senang.


Ica ikut keluar dari ambang pintu.


"Ga apa apa teh, biarin Momo nginep disini aja, "


"Yeee nginep nginep !!!" bocah perempuan itu melompat lompat kegirangan.


Ica mengerutkan dahinya, "mau tidur dimana bang ?"


Jihad memposisikan Momo di pinggir sedangkan ia dan Ica benar benar menempel tak berjarak, bahkan Ica tidur benar benar dalam dekapan Jihad.


"Ini mah maunya kamu, bang !" Jihad tertawa.


Sepanjang malam Momo berbicara panjang lebar memetakan di udara ucapannya, tentang teman, film hingga lambat laun mulutnya hanya tinggal komat kamit dan berhenti bicara, pertanda Momo sudah masuk ke alam mimpinya dengan tangan Ica yang mengusap usap kening gadis itu.


"Aku ga dikelonin yank ?" tanya Jihad tepat di telinga Ica, menguarkan hawa panas di tengkuk Ica.


"Geli bang, ih !" Jihad menempelkan telunjuknya di depan bibir. Sesuatu yang keras dan liat terasa menantang menempel di pan * ta tnya.


Masih sempat sempatnya di saat darurat begini si entong malah bangun dari tidurnya.


Jihad membangunkan Ica, "mau coba sesuatu yang baru ?" menaik turunkan alisnya.


"Ih, " Ica ingin meledakkan tawanya namun ia ingat jika berisik pasti akan membangunkan seisi rumah, hingga ia membekap mulutnya sendiri.


Jihad mengangkat badan Ica untuk duduk di atas meja belajarnya, dan memulai petualangan cinta disana, Ica hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara suara yang bisa membuat bulu kuduk para penghuni rumah meremang sepertinya dulu. Mencengkram pundak Jihad sebagai pegangan untuknya. Sesekali Jihad harus membungkam mulut Ica dengan bibirnya. Sesuatu yang baru dalam kondisi yang darurat. Ica memang temannya belajar dari dulu. Teman belajar dalam artian sebenarnya.


**************


Huwekkkk....huwekkkk....


Keadaan Ica semakin membuat Jihad khawatir. Keduanya masih sama sama parno dengan kejadian yang lalu.

__ADS_1


"Kita periksa ya !"


"No debat, no nolak !" pinta Jihad, Ica mengangguk pasrah, ia kemudian mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


"Masih muntah Ca ?" tanya mamah. Jihad yang mengekor ikut duduk di sebelahnya.


"Masih, " jawabnya lesu, seakan tenaganya sudah habis terkuras, setelah sebelumnya mencoba hal yang baru bersama Jihad dan baru tertidur pukul 1 malam.


"Ke dokter aja Ji, takutnya sakit.." sambut ka Novi yang sudah di sana untuk menyiapkan sarapan.


"Iya ka, udah sarapan mau ke RS, " ibu Ica mengangsurkan gelas teh manis hangat untuk anak dan menantunya. Bang Riski seperti biasa akan rebutan toilet dengan Galih. Dengan hape dan rokok di tangannya sebagai teman mengawali hari, handuk merahnya yang dilingkarkan di leher, Galih duduk di bangku kayu depan kamar mandi.


"Di sebelah oyyy !!" pekik Riski.


"Ada ayah !" jawab Galih.


"Ayah tumben berangkat pagi ?" tanya Ica.


"Iya sekarang kerjanya non shift," jawab mamah. Jihad tertawa tanpa suara melihat keramaian pagi di rumah Ica.


"Momo masih tidur Ca ?" tanya teh Mira.


"Masih teh, tidurnya pules banget !"


"Itu gimana ceritanya, kalian cukup bertiga ? kasur Ica kan kecil ?" tanya mamah. Ica dan Jihad saling melirik, pasalnya mereka meneruskan tidur mereka di kasur palembang yang tipis di bawah, sekaligus meneruskan kegiatan panas mereka.


"Di cukup cukup aja teh, " pungkas Ica.


"Buruan elah bang ! gue ada inspeksi dadakan dari supervisor !!" Galih menggedor gedor pintu kamar mandi.


"Lamain aja bang, palingan jemput cewek dia mah ! ga usah ghosting terus napa bang, seriusin ! anak orang loe php in !" Ica menyeruput teh manis di depannya.


"Ga usah sibuk loe ! gue lagi cari yang tepat, belum nemu aja !" jawab Galih.


"Maksud loe belum nemu yang mau nerima keadaan kantong loe ?" tawa Ica diikuti tawa Riski dari dalam kamar mandi.


"Ga usah tawa loe bang, apa kabar tuh janda kampung sebelah ?!" kekeh Galih.


"Apaan loe ! jangan fitnah ! gue mah setia !" sarkas Riski.


"Astaga !!! ck ck ck ! teh Mira, pancung aja teh pancung !" balas Ica.


"Serame ini ya mah kalo pagi ?" tanya Jihad tertawa.


"Biasa ini Ji, grup gonjreng kalo dah nyatu ya gitu !" jawab teh Mira datang dari arah ruang tengah.


"Dulu tuh yang sering duduk nunggu di bangku itu Ica, " tunjuk mamah pada bangku yang diduduki Galih.


Ica memegang kening dan perutnya, rasa mual itu datang lagi. Saat Riski baru saja keluar, Ica segera berlari menyerobot masuk dan muntah disana.


"Allahuakbar !!! Icot ! diserobot pula !"


"Ca, "


"Huwekkk !!!"


"Loe ga apa apa Ca ?" Galih mematikan game online dan rokoknya dan membantu adiknya begitupun Jihad yang mendekat. Ica berjalan keluar setelah selesai. Tapi saat baru saja di ambang pintu kamar mandi, tubuhnya terasa semakin berat dan pandangannya kabur. Seperti ada sengatan kecil yang membuat tubuhnya lemas seketika. Dan semuanya menjadi gelap.


"Ica !!!!"


Galih yang paling dekat dengan Ica menangkap tubuh adiknya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2