Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Kau tak kan pernah sendiri, tunggulah aku pulang


__ADS_3

Malam hari benar benar mulai ramai, hotel dibanjiri oleh tamu undangan yang baru saja sampai dari Jakarta, bukan hanya teman sekolah semasa smp ataupun rekanan bisnis dan teman kantor saja. Rencana hanya private party akhirnya bocor, hingga Jihad mengundang rekanan bisnis ayah dan ibunya juga.


"Buseett, ini mah bukan private party bang. Ngundang orang sekampung !" bisik Galih pada Riski. Mereka sedang berada di beranda hotel, menikmati suasana malam hari Bali yang bertabur hamparan bintang sambil memperhatikan tetamu yang datang.


"Ga mungkin lah kalo cuma private party, keluarga Jihad keluarga yang penting, " Riski menghembuskan kepulan asap putih di udara.


****************


"Semalam ga tidur ya ?" tanya penuh selidik orang make up pada Ica yang hanya meringis dan mengangguk.


"Nakal, sentil juga nih..untung aja mata pandanya ga keliatan banget. Masih bisa lah di tutupin, " imbuhnya berseloroh. Ica hanya tertidur selama 4 jam saja, karena terpaksa ia harus segera terbangun untuk makan dan dirias.


Ceklek..


Ibu Ica, ka Novi, Kara, dan Ayu masuk ke dalam kamar Ica.


"Cie elahhh !!! siapa nih, cantiknya !!!" seru Ayu tersenyum senyum.


"Ra, Ayu !!!" Ica tampak senang melihat keduanya.


"Loe berdua kemana aja ?" tanya Ica bersemangat.


"Semalem baru nyampe Ca, ga bisa ganggu calon pengantin. Ntar dimarahin," kikik Kara.


"Mah, " terlihat Ica yang begitu gugup, ibunya mengusap kedua bahunya lembut, menyalurkan energi yang begitu besar untuk anak bungsunya ini.


"Hanya tinggal Galih, tugas mamah sama ayah selesai jadi orangtua," ka Novi sudah merangkul ibunya dari samping dan duduk melihat Ica yang tengah di rias.


Sejenak mereka jadi terdiam, hanya ada suara polesan alat make up di wajah Ica saja yang sesekali dibuka dan ditutup tempatnya oleh perias.


"Mamah sama ayah, tinggal menunggu masa tua berdua. Balik lagi hanya berdua...setelah kalian semua sukses bersama pasangan masing masing mamah sama ayah sudah bebas tugas, dan menunggu waktu sampai sang pemilik kehidupan berkata sudah waktunya untuk pulang.." Kara dan Ayu sampai mengusap sudut matanya yang berair.


"Jangan nangis ya neng, " pinta si perias mengusapkan tissue di sudut mata agar make up yang baru saja diaplikasikan tidak rusak. Ica mengangguk, tangannya terulur menggenggam tangan mamah.


"Makasih, " suara Ica bahkan hampir tidak keluar saking tercekatnya.


"Loe mau ngapain bang ?" Galih terkekeh melihat kegusaran Riski yang malah panik dan tak tentu arah.


"Loe mau cek kursi apa hidangan ?" kembali Galih tertawa, sontak dihadiahi tonjokan di bahunya.


"Udah relax aja, ayah aja dari tadi cuma diem sambil sesekali ngobrol sama om Riza," Galih menepuk pundak kakanya ini, keduanya terpaut umur 4 tahun sedangkan Galih dengan Ica ia terpaut usia 3 tahun.


Suasana khas garden party berbalut modern, nuansa bunga putih dengan aksen hiasan gold dan maroon tampak apik dengan cuaca Bali yang begitu membuat jiwa melayang di nirwana saking syahdunya. Kesakralan dan kekhusyuan sebuah pernikahan tetap saja menyelimuti tempat ini.


Jihad sudah duduk di kursi yang dibuat menjadi center of the place, di tengah tengah bersama ayah Ica dan om Braja sebagai saksinya.

__ADS_1


"Semangat dude, bulan lalu juga gue gitu !" Milo menepuk bahu Jihad sambil cengengesan. Semua kursi hampir terisi, Jihad tampak terlihat tegang, tapi lelaki itu selalu mampu mengendalikan suasana hatinya.


"Relax mennn !" kikik Jian, silih berganti seakan memberikan kekuatan untuk Jihad.


"Dulu papah pernah salah sekali waktu ijab, kalau bisa..kamu jangan, " ujar om Riza tertawa.


"Iya pah,"


"Tenang saja nak Ji, dulu Riski sampe keringetan malahan, Dante juga sama, tak usah melihat dulu sekitar, cukup fokus sama ayah saja dan penghulu."


Pembawa acara sudah mulai membacakan rangkaian acara. Penghulu pun sudah duduk di depan Jihad. Setelah sepatah dua patah kata dari papah Jihad dan pemuka agama yang sengaja diundang, acara dimulai.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Alvian Jihad Kurniawan bin Riza Kurniawan dengan anak kandung saya yang bernama Humaira Khairunisa binti Yusuf Haryadi dengan mas kawin emas seberat 29,02 gram, dan satu unit mobil dibayar tunai."


Genggaman tangan ayah Ica yang hangat seakan sumber energi tambahan di tengah tengah kegusaran hati.


"Saya terima nikah dan kawinnya Humaira Khairunisa binti Yusuf Haryadi dengan mas kawin tersebut diatas, tunai !"


Sejenak hening, hanya ada anggukan penghulu dan para saksi.


"Sah, "


Mata Jihad berbinar, jika bukan dihadapan teman bisnis mungkin Jihad sudah koprol/salto saat ini.


Semua yang hadir menangkupkan kedua tangannya di depan wajah lalu mengusapkan, aamiin.


"Ada gue," jawab Galih. Bukan ibu, atau para sahabat yang mengantar Ica, tapi Galih.


Ica bertumpu kuat di lengan Galih, mendadak kakinya seperti tak bertulang. Galih dan Ica menyusuri lorong lorong hotel yang tersorot cahaya matahari, bahkan sinarnya saja sampai mengintip, seakan ingin melihat kecantikan Ica pagi ini.


Kebaya versi gaun yang dipakai Ica adalah desain dari desainer ternama langganan tante Vivi. Diiringi lagu mengharu biru Ica berjalan, sesekali mengerutkan otot punggung saat angin pagi hari menyapa punggungnya. Hingga kini ambang pintu hotel tempat acara sudah ada di depan mata. Model kebaya yang membelah di samping sampai ke atas lutut menampilkan kaki jenjang Ica berbalut high heels mulus tanpa cacat. Penampilan Ica saat ini bak menyihir semua yang hadir untuk tetap memperhatikannya.


Tap...tap...tap....


"Gue bahagia banget, bisa liat loe bahagia Ca...nemenin adek gue sampe seseorang ngambil loe di depan sana, " gumam Galih lirih menatap adiknya, Ica bahkan sampai meremas lengan jas Galih, ia menunduk dalam. Hampir saja lelehan air mata itu jatuh ke pipi jika Galih tidak segera menahannya dengan tissue.


Tante Vivi, ibu Ica, ka Novi dan teh Mira bahkan sudah menangis.


"Loe mewek mulu ahh, " seloroh Galih terkekeh. Ica mendadak membatu di samping Jihad, sekejap dunianya serasa berhenti saat itu juga.


Kedua mata mereka bertemu, Jihad tampak tampan dengan jas yang ia pakai saat ini, bukan hanya Ica yang bersinar di pagi ini, lelaki ini meraih tangan Ica memasangkan cincin pernikahan mereka.


"Kamu cantik bakwan, " bisik Jihad saat bibir kenyal itu mengecup punggung tangannya, Jihad mengecup kening Ica yang sehalus sutra lama. Ica merona, untung saja pipinya memang di polesi blush on dan tak begitu kentara perbedaannya.


"Si Ica, ga nyangka gue !" bisik Amel.

__ADS_1


"Loe kapan Yu ?!" colek Vanya membuat Ayu tampak kikuk.


Sebuah mini film terputar di depan semuanya, menampilkan kisah perjalanan pertemuan mereka, mulai dari SMA saling mencibir, dan selalu menjadi teman bertengkar, bahkan ada video saat pertengkaran mereka yang ujungnya dijewer Kara dan Ayu, kebersamaan mereka hingga mereka yang terpisah jarak, ruang dan waktu selama 4 tahun, lalu kembali bersama dan melamarnya lewat drama penculikan.


"Fix itu film minta sama temen alumni, " Amel mengangguk angguk.


Jika memang sudah jodohnya, sejauh manapun seseorang itu pergi, maka ia akan kembali pada yang memang sudah Allah tentukan pasangannya. Sekuat apapun seseorang berusaha melupakan, Allah akan tetap memberikan jalannya untuk bersama.


Loving can hurt, Loving can hurt sometimes.


But it's only thing that i know


When it gets hard, you know it can get hard sometimes.


It is the only thing that makes us feel alive.


So you can keep me.


Inside the pocket of your ripped jeans.


Holding me close until our eyes meet.


You won't ever be alone, wait for me **to** come home.


(Mencintai bisa menyakitkan, mencintai terkadang bisa menyakitkan.


Tapi itulah satu satunya yang kutahu.


Saat keadaan terasa sulit, kau tahu keadaan bisa sulit.


Inilah satu satunya yang membuat kita merasa hidup.


Hingga kau bisa menyimpanku.


Di dalam saku celana robekmu.


Mendekapku erat hingga mata kita bertemu.


Kau tak kan pernah sendiri, tunggulah aku pulang.)


( Ed sheeran : Photograph).


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2